
FT3 dan Cairo kembali ke Mundclariss tepatnya di bukit yang ada di sebelah paling kanan desa. Mereka kembali saat kejadian baru terjadi beberapa jam yang lalu, jadi masih tergeletak banyak korban di desa. Sudah ada yang mulai bekerja menangani para korban dan membersihkan desa tapi masih dengan anggota yang sedikit karena masih pagi buta.
Cairo langsung berbalik membelakangi desa karena masih belum bisa melihat dengan jelas bagaimana pemandangan di desa itu.
"Apa yang kita lakukan disini?" tanya Teo.
"Rentangkan tanganmu!" kata Felix mengatur tangan Teo, "Kau juga!" Felix menarik Tom untuk mengaitkan tangannya dengan Teo begitupun dirinya dan Tan.
"Untuk apa ini?" Teo protes.
"Tunggu sebentar ...." kata Felix melihat jamnya dan beberapa detik kemudian seseorang jatuh tepat diatas tangan mereka berempat.
"Aaaaaaaa!" teriak Tiga Kembar dan Mertie bersamaan.
"Bagaimana kau bisa tahu aku ada disini?" tanya Mertie.
"Gelang yang kau pakai! kulihat kau jatuh dari pohon dan lenganmu patah." jawab Felix.
"Jadi gelang ini berfungsi untuk itu juga ...." kata Mertie.
"Bilang terimakasih kek!" kata Teo.
"Kalau mau menolong yang benar! bagaimana bisa kau selemah itu ...." kata Mertie meledek karena Teo tadi ikut terjatuh saat Mertie mendarat.
"Kakiku sakit tahu dan kau tidak tahu saja apa yang sudah kami alami ...." kata Teo marah-marah.
"Aku tahu ...." kata Mertie yang membuat Teo terdiam begitupun yang lainnya yang kemudian menoleh ke bawah dimana desa seperti sengaja di cat dengan warna merah semua dalam semalam.
***
FT3 dan Mertie kembali menuju sekolah dengan wajah pucat dan tubuh yang kesakitan. Cairo kembali ke penginapannya untuk beristirahat sebentar kemudian setelah baikan akan kembali ke kuil untuk melapor.
Berita tentang Desa Quinlan sudah mulai tersebar saat makan siang. Tiga Kembar menyaksikan bagaimana berita itu membuat panik seluruh sekolah. Kebanyakan murid langsung memakai masker dan memasang jarak dengan murid lainnya terutama dengan yang berasal dari desa yang dekat dengan Desa Quinlan berada.
Mertie hanya terdiam sambil memakan makan siangnya. Bagaimanapun juga dia menjadi saksi dari kejadian mengerikan itu. Dia juga yang mengirimkan video untuk meyakinkan bala bantuan agar secepatnya datang. Tapi pengalihan isu pemerintah membuat Mertie tercengang, "Walau ini kebohongan tapi setidaknya aku paham ... bagaimana pemerintah tidak menginginkan hal mengerikan itu diketahui."
"Tsabitah, anak kelas 1 SMP itu kan dari Desa Quinlan ... kita harus jauh-jauh darinya!" kata Geng Halle yang kini hanya beranggotakan 3 orang itu lewat dekat Tiga Kembar yang sedang duduk.
"Aku harap kita menyelamtkan keluarganya ...." kata Teo kesulitan menelan makanannya.
"Aku bahkan tidak tahu kalau ada satu sekolahan kita yang berasal dari desa itu." kata Tom.
"Andaikan saja kita tahu ...." kata Teo.
"Andaikan apa? kalau kau tahu memangnya kenapa? kau mau mengutamakan keluarganya untuk diselamatkan dan tidak memperdulikan yang lainnya?! begitu? lebih baik tidak tahu dan kalian bisa bersemangat menyelamatkan semuanya." kata Seseorang yang tiba-tiba datang dihadapan Tiga Kembar membuat Tiga Kembar berteriak sehingga seluruh kantin juga ikut berteriak.
"Ada apa?!" tanya Petugas kantin.
"Tadi, kami kira lihat hantu bu ... maaf!" jawab Teo.
Karena suasana sedang sensitif, teriakan mereka itu menular ke semua orang yang ada disana. Padahal sebenarnya tidak terjadi apa-apa.
"Verlin, apa yang kau lakukan disini?" Tom dengan cara berbisik.
"Di Mundebris sedang ramai membicarakan tentang Pembalasan Dendam Iblis dari Klan Ular yang membantai ratusan manusia. Jadi aku kesini melihat keadaan kalian karena pasti kalian mencoba menghentikannya. Tapi kalian terlihat baik-baik saja ...." kata Verlin.
"Mau bagaimanapun sangat keterlaluan kalau mau dibilang balas dendam." kata Tan.
"Keterlaluan? untuk pembalasan dendam itu masih dibawah standar. Di masa Sang Caldway sendiri terjadi pembantaian hingga satu kota berubah menjadi kota mati yang tidak dihuni lagi sampai sekarang. Yang terjadi semalam itu terbilang balas dendam yang paling baik hati." kata Verlin.
"Apa?!" Tiga Kembar serempak.
"Apa lagi? kalian jangan selalu begitu! jantung kami serasa mau copot." kata Petugas Kantin yang sedang sensitif mendengar suara teriakan.
"Maaf bu!"
"Kota Syua kah? padahal di berita mengatakan kalau kota itu terkena bom ...." kata Tan.
"Ternyata hal seperti ini sudah terjadi sejak dulu ...." kata Teo.
"Iblis dan dendamnya, apa yang bisa kita lakukan dengan itu? musuh kita adalah iblis dan saat kita membunuh iblis, akan ada yang datang membalas dendam. Seharusnya kalau begitu, mereka melawan kita saja ... akhirnya manusia yang tidak bersalah menjadi sasaran balas dendam karena perbuatan kita. Kami kira kalau membunuh iblis adalah untuk menyelamatkan mereka, nyatanya sebaliknya ...." kata Tan.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, dendam iblis adalah sesuatu yang wajar terjadi. Tidak ada yang bisa menghentikan iblis yang mencoba membalas dendam, kekuatan mereka juga akan berkali-kali lipat meningkat jika akan balas dendam. Lagipula apa yang kalian coba cegah itu adalah hal yang besar, tidak boleh goyah hanya karena perasaan bersalah. Gerbang Neraka adalah gerbang menuju kiamat untuk kaum manusia ... jadi kalian harus menguatkan diri kalian, aku dan Zeki juga akan membantu sebisa mungkin ...." kata Verlin.
"Sudah bertemu Felix?" tanya Tom.
"Dia ada di atap sekolah, katanya sedang bersembunyi dari anak bernama Dea." kata Verlin.
"Aku dengar Felix tidak ingin berpapasan atau dekat dengan Dea. Katanya dia tidak mau secara tidak sengaja membaca pikiran Dea ...." kata Teo.
"Dipikiran Dea itu hanya dipenuhi dengan Felix, siapa yang tidak risih ...." kata Tom.
"Katanya tadi di Mundebris mendengar berita ini, di Mundebris bagian mana? setahuku Mundebris sepi-sepi saja saat ini ...." kata Tan.
"Ada tempat khusus di Mundebris yang selalu ramai ...." kata Verlin.
"Dimana?" tanya Teo.
"Felix tidak akan suka jika aku mengatakannya, jadi jangan katakan kalian mendengar ini dari aku ... Berenice!" kata Verlin.
"Berenice?" tanya Tiga Kembar bersamaan.
"Tempat itu kebanyakan yang menempati adalah penjahat, bahkan iblis yang sudah kalian lawan juga sering kesana." jawab Verlin.
"Ada tempat seperti itu di Mundebris?" tanya Tom.
"Masih ada tempat lainnya tapi Berenice adalah tempat yang paling besar. Disana informasi banyak bisa didapatkan dan dengan mudah membayar penjahat untuk menyuruhnya membunuh seseorang yang kita mau ...." jawab Verlin.
(Saat ini di Berenice)
"Hanya ratusan saja ... sepertinya Val itu lemah!" kata Beruang besar dengan air memenuhi seluruh bulunya tapi tertahan tidak menetes, beruang itu sambil bermain catur ala Mundebris dengan seseorang.
"Sepertinya dia masih mengira dirinya Alvauden ...." kata lawan main beruang air itu.
"Dia Alvauden? mana mungkin ... Alvauden masa pemerintahan kapan?" tanya Beruang air.
"Memangnya kalau diberitahu kau tahu? memangnya kau hafal Alvauden 5 pemerintahan terakhir? kau saja selalu gagal dalam ujianmu karena tidak hafal nama-nama Alvauden." kata Pelayan memukul kepala Beruang air itu, mengakibatkan air dari bulu beruang itu muncrat mengenai lawan mainnya seperti air yang muncul dari pancuran air saat akan menyiram bunga.
"Ah, maaf! biar aku ambil kembali airku!" kata Beruang air itu menarik setiap tetes yang mengenai lawan mainnya itu hingga pakaian orang itu kering, "Dia selalu saja begitu, memukul seseorang tanpa lihat situasi." Beruang air itu memaki pelayan dari jauh, "Tapi bagaimana kau tahu kalau dia itu Alvauden?"
"Karena Alvauden mengenali jika melihat Alvauden lainnya ..." kata Lawan main beruang air itu dalam hati yang terus menunduk dengan memakai tudung kepala, "Jadi, bagaimana cerita selanjutnya tentang pembalasan dendam itu?" Lawan main beruang air itu memajukan bidak caturnya.
"Katanya Caelvita baru dan Alvauden nya berusaha menghentikannya ... cari mati saja menurutku mencoba menghentikan balas dendam dari iblis." kata Beruang air.
"Jadi mereka terluka parah?" tanya Lawan main beruang air.
"Yang kudengar mereka baik-baik saja, aku baru saja bertemu dengan Verlin ... sekarang menjadi Alexavier yang menjadi Secrevanques Sang Caldway ...." jawab Beruang air.
"Begitu ya ...." kata Lawan main beruang air.
"Tapi kau siapa sebenarnya, menanyakan tentang mereka? kau penggemar Caelvita-119?" tanya Beruang air.
"Sebut saja begitu." jawab Lawan main beruang air, "Untunglah ... kalian baik-baik saja! tapi memang bodoh sekali melawan iblis yang balas dendam, dasar Felix!" gerutu Cain dalam hati.
(Kembali di Mundclariss)
"Aku jadi ingin kesana ...." kata Teo tersenyum.
"Percayalah, kau tidak tahu apa yang sedang kau katakan ...." kata Verlin.
...-BERSAMBUNG-...