UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.483 - Kerja Sama



"Pilihan yang bijak Yang Mulia Trayvon!" kata Tan sarkastik.


"Tidak kusangka saudaraku adalah orang yang sangat murah hati suka berbagi ...." kata Tom menggertakkan giginya untuk memaksakan tersenyum.


"Terimakasih sudah mau memanggil kami bergabung ...." kata Dallas.


"Tapi, kalau dilihat ... bagaimanapun juga tanpa bantuan kami, kalian tidak akan mendapatkan kotak itu." kata Parish menyadarkan akan kenyataan.


"Ini juga perburuan harta karun kita di masa SD, ayo kita akhiri bersama-sama ...." kata Dallas dengan wajah begitu bahagia.


"Ck, tidak tau berterimakasih!" Demelza menatap tajam Parish, "Kau mengharapkan kami terharu dengan perkataanmu itu?! jangan harap!" kali ini giliran Dallas yang dipelototi.


"Karena sudah ada banyak bantuan, jadi ... banyak strategi yang bisa kita lakukan sekarang. Tapi kita pilih yang paling mudah saja." kata Tan mulai meminta anak-anak lainnya untuk bergerak sesuai rencana.


"Memangnya kalian tidak mau mendengar ideku?!" tanya Teo.


"Sudah banyak orang juga ... idemu tidak diperlukan lagi! kami tadi hanya membutuhkanmu untuk menemukan ide tanpa bantuan mereka ... tapi sekarang kan mereka semua ada disini. Idemu tidak dibutuhkan lagi!" kata Tom dengan tatapan merendahkan.


Teo hanya bisa tercengang dan mematung disaat yang lainnya sudah bergerak untuk mengatur strategi tanpa dirinya diikutkan.


"Jadi, sebelumnya ... dan yang paling utama adalah ... kalian semua pintar berenang kan?!" tanya Tom.


"Semua murid Gallagher mana ada yang tidak tahu berenang?!" kata Osvald.


"Walau begitu, aku tahu ada diantara kalian yang tidak terlalu mahir ... katakan sekarang! sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan hanya karena tidak mau jujur." kata Tom.


"Semahir apapun kemampuan berenang, kalau di arus deras seperti ini ... tidak ada yang bisa bertahan." kata Mertie.


"Walau begitu ... yang pintar berenang akan berbeda daripada yang memang tidak punya dasar." kata Tom.


"Pada akhirnya semuanya hanya berdasarkan keberuntungan. Kalaupun mahir berenang tapi kalau sial ... tetap saja tidak akan membantu." kata Demelza.


"Benar yang dikatakan Tom, kalau terjadi yang tidak diinginkan ... setidaknya yang pintar berenang itulah yang memiliki keberuntungan untuk bisa bertahan selamat kalau ada apa-apa." kata Tan.


"Cih." Demelza memanyunkan bibirnya.


"Angkat tangan yang merasa kalau kemampuan berenangnya masih dibawa rata-rata!" kata Tom.


Teo mengangkat tangan tapi langsung ditatap tajam oleh Tom.


"Kau! jangan berani-berani mau lari dari ini ...." Tom tahu betul kalau Teo hanya ingin bermalas-malasan saja.


Akhirnya ada tiga orang yang mengangkat tangan, termasuk diantaranya ada Demelza. Rupanya Demelza menentang karena tidak ingin ketahuan sehingga harga dirinya bisa terluka.


"Jadi ini alasanmu kenapa menentang ...." kata Tom tidak melanjutkan lagi.


"Kalian bertiga juga tetap bisa membantu walau tidak masuk ke dalam air. Bahkan kalianlah yang berperang penting supaya kita yang ada di dalam air bisa selamat." kata Tan tidak mau ada yang merasa rendah diri.


"Kalau begitu, seharusnya lebih banyak lagi yang di pinggir sungai kalau begitu ...." kata Teo.


"Mereka bertiga sudah cukup, jangan mencari alasan untuk lari." kata Tom.


Mereka semua bergerak menjalankan strategi untuk mengambil kotak harta karun di ujung puncak air terjun berada dengan jebakan dan aliran air yang deras sebagai hambatan.


"Terkadang aku bertanya-tanya kenapa kalian selalu membawa tas besar dan tidak pernah terlihat tidak penuh ...." kata Parish tertawa.


"Semuanya untuk kejadian yang tidak terduga seperti ini ...." kata Teo senang mengeluarkan isi tasnya.


"Kau baru sadar kan, betapa bergunanya membawa barang-barang yang tidak perlu ...." Tom menambahkan.


"Tapi ... lucu juga kalian! mencari harta karun hanya dengan tangan kosong. Kalau tidak ada kami, kalian akan bagaimana coba?!" kata Teo.


"Ya, kembali ke perkemahan mengambil alat." kata Parish santai.


"Dan membangunkan semua anak-anak, sekalian satu angkatan bekerjasama begitu?!" kata Teo disambut tawa oleh Tom dan Parish.


"Ide yang bagus." kata Dallas yang tiba-tiba datang dibelakang mereka.


"Kau ini terkena penyakit apa sih?! selalu mau membuat suasana menjadi aneh ...." kata Tom heran.


"Aneh katamu?! namanya adalah kenangan! harusnya terharu bukannya disebut penyakit!" kata Dallas sebal.


Persiapan sudah selesai, tinggal untuk masuk ke dalam air dan menjalankan strategi. Sebenarnya sangat sederhana, hanya saja jumlah air semakin bertambah sehingga membuat nyali mereka ciut untuk masuk ke dalam air saat itu juga.


Tan menahan dirinya untuk tidak melihat kesana-kemari. Mengetahui bahwa ada kamera yang mengawasi mereka saat itu membuat kepala dan mata agak susah untuk dikendalikan agar tidak sadar kamera. Tingkah laku juga tidak bisa dikendalikan seperti biasanya. Tapi Teo dan Tom biasa saja walau juga tahu kalau guru-guru sedang menonton mereka saat ini.


"Mereka kelihatannya saja tidak terlalu tertarik tapi sebenarnya sangat bersemangat, sampai-sampai lupa kalau ada kamera yang mengawasi." kata Tan dalam hati sambil tersenyum.


"Kami dengar tahu!" kata Teo menyiptikan mata.


"Kau sendiri juga sama! sampai-sampai tidak tahu membedakan berbicara sendiri dengan berbicara lewat Jaringan Alvauden." kata Tom.


"Begitukah?!" Tan tertawa sendiri tidak menyadari hal itu.


"Ah, aku rindu Cain ...." kata Teo tiba-tiba saja berteriak.


"Mulai lagi dia ...." Osvald malu sendiri melihat tingkah laku Teo yang tiba-tiba itu.


"Zaman sudah modern begini juga, walau di luar negeri kan kita sudah terbantu dengan teknologi." kata Parish.


"Memangnya kau tahu apa soal rindu?! tidak akan bisa disembuhkan bahkan oleh teknologi sekalipun!" kata Teo menepuk bahu Parish.


"Andaikan saja begitu ... Cain hanya pergi ke luar negeri, tapi nyatanya tidak. Kalau di luar negeri, setidaknya ada cara untuk menjangkau dan menjenguknya. Tapi dia ada di dunia yang tidak diketahui dimana dan tidak dapat didatangi." kata Tan dalam hati, kali ini tidak membuat kesalahan lagi dengan tidak sadar memakai Jaringan Alvauden.


Dua kayu besar sudah siap untuk dibawa ikut masuk ke dalam air. Tentunya ada juga kayu lainnya yang dibawa walau ukurannya lebih kecil tapi setidaknya untuk jaga-jaga kalau terjadi sesuatu dan butuh kayu lebih banyak lagi.


"Tangan kita bisa ikut hancur kalau terlambat ditarik, kau benar tidak masalah mau menariknya dengan tangan kosong?" tanya Dallas.


"Kenapa?! kau mau menggantikanku kalau begitu?!" kata Tom.


"Tidak!" sahut Dallas cepat.


"Tidak usah khawatir, tidak ... kau tidak khwatir sih kelihatannya! ck ... ck ... padahal siapa tadi yang mengatakan soal kebersamaan dan kenangan. Ini tanganku, bukan tanganmu juga." kata Tom.


Mereka kemudian membagi diri menjadi dua kelompok. Bagian kiri dan bagian kanan sungai. Kelompok bagian kiri untuk mengambil kotak sedangkan kelompok bagian kanan untuk menahan perangkap.


Masing-masing tali yang terikat di perut mereka diikat pada pohon. Untuk jaga-jaga kalau mereka terseret arus. Demelza dan anak lainnya berjaga di daratan kalau terjadi sesuatu dengan tali atau yang ada di dalam air butuh sesuatu.


Kedua kelompok itu mulai turun ke dalam air, tapi langsung tersapu oleh air. Kedalaman air juga lebih dari perkiraan, jumlah air bertambah lagi semenjak terakhir kali diperiksa. Untungnya ada Demelza dan dua anak lainnya yang menarik tali pada mereka yang sedang kelihatan kesusahan di dalam air.


"Mundur!" teriak Kelompok bagian kanan.


"Apa?!" teriak Tom protes dan air terus menerpa wajahnya, tidak terhitung lagi jumlah air yang sudah tertelan.


"Semua kayu terbawa arus!" teriak Dallas.


...-BERSAMBUNG-...