
Tan yang hanya lari sekencang-kencangnya untuk meloloskan diri bahkan tidak sadar sudah sampai di dekat hutan dan meninggalkan lokasi perkemahan, "Tidak apa-apa ... yang penting lolos saja dulu." kata Tan memikirkan cara untuk kembali ke perkemahan mencari petunjuk.
"Ada apa kau memanggilku?!" tanya Tan pada Tanaman Leaure yang terus memanggilnya daritadi.
"Ini ... ini!" Tanaman Leaure itu begitu riang melambaikan kertas petunjuk.
"Ah, ada yang menyembunyikan disini juga. Sepertinya Felix melewatkan petunjuk yang ada padamu. Apa yang menaruh petunjuk tidak curiga melihat tanaman sepertimu?!" kata Tan.
Tanaman Leaure itu hanya menggeleng-geleng dan menyerahkan kertas petunjuk itu.
"Terimakasih, berkatmu ... setidaknya aku bisa menemukan satu petunjuk." kata Tan pada Tanaman Leaure, "Tapi tetap saja ini melukai harga diriku, karena bukan aku sendiri yang menemukannya." sambungnya dalam hati.
"Tapi petunjuk di dalam hutan sama semua ...." Tan ingin menolak petunjuk itu tapi merasa tidak enak juga karena Tanaman Leaure itu begitu kelihatan senang memberikan petunjuk itu. Tan hanya langsung menaruh kertas petunjuk itu kedalam sakunya dan kembali ke perkemahan untuk mencari petunjuk.
Peserta yang bersembunyi semakin sedikit, jadi guru yang mencari bisa dibilang antara kesulitan dan juga beruntung. Kesulitan karena anak-anak yang belum tertangkap adalah yang hebat-hebat bersembunyi. Beruntung karena gerakan dan suara sedikitpun dapat dilihat dan didengar dengan jelas.
"Tidak kusangka kalau anak-anak akan sangat antusias begini ... sampai-sampai mengorbankan waktu makan siangnya." kata Pak Egan mengira kalau strateginya memakai waktu makan siang adalah ide yang bagus tapi anak-anak kelihatan tidak mudah menyerah dan tergoda dengan godaan makanan di dalam tenda.
"Mereka terlalu kompetitif untuk seorang anak SD." kata Pak Rodney.
"Anak-anak di Gallagher harus ditambahkan 10 tahun untuk setiap tingkatan. Karena semuanya lebih istimewa dibanding anak-anak lainnya di sekolah lain. Kalau kelas 1 SD yang baru 8 tahun harus dianggap sudah berusia 18 tahun. Apalagi yang kelas 6 SD, yang sudah 13 tahun maka harus dianggap sudah 23 tahun. Sistem ini sudah diterapkan sejak lama untuk memberikan pelajaran dan sistem pembelajaran yang lebih berat tanpa harus merasa bersalah karena mereka masih sangat muda." kata Bu Janet.
"Bukankah itu sangatlah kejam ...." kata Pak Rodney dalam hati tapi wajahnya menjelaskan semuanya.
"Bagaimana anak-anak menyampaikan tadi malam soal pengalaman belajar di Gallagher ... ada yang memang mengeluh tapi tetap mengagumi Gallagher ... ada yang mengkritik tapi tetap menghormati Gallagher. Karena yang berhasil masuk memang yang punya otak diatas rata-rata." kata Bu Janet.
Jam 4 sore, baru semuanya bisa tertangkap. Itupun kebanyakan anak-anak memilih menyerahkan diri karena sudah kelelahan. Termasuk Tan dan Tom yang sudah tidak melihat adanya petunjuk lagi. Sedangkan Felix sudah bergabung daritadi dengan anak-anak yang tertangkap di depan panggung, padahal belum tertangkap. Felix berada dibagian paling belakang sehingga Teo sendiri yang duluan tertangkap juga tidak melihatnya datang.
"Ini sih bukan makan siang lagi, tapi makan sore pak!" protes Anak-anak memasuki tenda makan.
"Sebagai bonus, kalian bebas mengambil apapun di kafe yang ada di lobby kantor pengelola perkemahan. Gratis!" kata Pak Egan.
"Bebas?! bapak tahu kan kalau kami tahu betul apa yang disebut bebas itu ...." kata Dallas menyeringai.
"Makanan, minuman ... hanya itu! jangan mengambil hal lainnya!" kata Pak Egan disambut tawa oleh anak-anak lain.
"Bercanda Pak!" kata Dallas.
Setelah makan siang diwaktu sore itu, semuanya terlihat sibuk mengantri di kafe. Padahal jika ada yang kelihatan hanya sendirian atau berkelompok mendiskusikan sesuatu, Tiga Kembar berniat untuk mengajak mereka bekerjasama.
"Apa-apaan mereka ini ... benar-benar akan menyembunyikannya sampai akhir begitu?! apa mereka tidak perlu petunjuk lain ... sehingga lebih memilih bekerja sendiri-sendiri ...." kata Teo mengomel tapi tetap ikut dalam antrian juga.
Mereka belum sempat untuk menyatukan semua petunjuk yang telah mereka dapatkan. Untuk ikut dalam sandiwara anak-anak yang lain hanya tenang tanpa terlihat bersemangat atau terburu-buru menemukan harta karun.
"Bisa jadi, mereka belum mendapatkan petunjuk yang jelas makanya diam saja begini." kata Tom.
"Mencari petunjuk kan tetap bisa dilakukan saat permainan petak umpet selesai. Hanya saja saat permainan, anak-anak bebas melakukan apapun tanpa harus terlihat bersikap aneh saat mencari dan menemukan petunjuk." kata Tan.
"Makanya mereka mencoba mengulur waktu selama mungkin untuk mencari petunjuk. Karena mencari petunjuk saat permainan selesai ... saat ini ... sama saja mencari musuh." kata Tan.
Teo hanya diam dan menatap kedua saudaranya yang sibuk berdebat itu dengan tatapan bosan. Osvald dan Demelza juga bersikap biasa saja. Tapi mereka telah melapor kalau mendapat masing-masing dua petunjuk.
"Kontribusi mereka sangat membantu." kata Tom.
"Apa jadinya kalau kita tidak bekerjasama dengannya ...." kata Tan.
Kemudian Tan, Teo dan Tom menatap ke arah Felix yang hanya duduk diam di depan tenda. Tidak mau ikut mengantri, lebih memilih istirahat katanya.
"Dia kalau soal begini ... sangat membosankan!" kata Teo.
"Dia bersemangat juga dulunya ... kalian ingat kan saat perkemahan kelas tiga?!" kata Tan tersenyum, "Setelah yang dialami selama dua tahun terakhir ... wajar jika dia seperti itu! kita maklum saja."
"Kalau ada Cain apa dia akan tetap seperti itu?!" tanya Teo.
"Tentu saja, tapi yang berbeda adalah pasti Cain akan menariknya dengan paksa juga kesini untuk bergabung." kata Tom membuat Tan dan Teo tertawa padahal hanya sekedar membayangkan saja.
Setelah mendapatkan cemilan dan minuman ringan di kafe, semua anak-anak terlihat berada di depan tenda masing-masing menikmati makanan dan minuman sambil bermain.
"Mereka pandai sekali bersandiwara ...." kata Bu Latoya membuat Pak Egan dan Pak Rodney memuntahkan kopinya.
"Nanti malam mereka semua baru bergerak." kata Bu Janet.
"Hem ... tidak akan semudah itu!" kata Pak Egan menyeringai.
Kelihatannya anak-anak asyik sibuk makan dan bermain tapi nyatanya mereka sudah tidak tahan untuk menyatukan petunjuk yang mereka telah temukan. Osvald dan Demelza sudah terang-terangan bergabung dengan Felix dan Tiga Kembar. Anak-anak agak terganggu soal itu tapi tetap memasang wajah tenang. Lain dengan Dea yang terus memelototi Demelza karena iri.
"Hei!" Dea menegur Mertie dengan cara kasar dari tenda sebelah.
Mertie hanya diam menikmati minumannya di depan tenda bersama teman setendanya tanpa menghiraukan Dea.
"Kau tidak iri melihat Rubah Licik itu bersama dengan Felix?!" tanya Dea.
"Namanya Demelza, kalau ada yang disebut rubah disini ... itu juga pasti dirimu sendiri!" kata Mertie.
"Apa kau bilang?!" Dea berteriak.
"Apa?! kalian mau pulang?! biar ibu siapkan mobil!" kata Bu Janet mengancam, "Tidak ada pertengkaran lagi di perkemahan ini! mengerti?!"
"Ayo, kita buat api unggun!" kata Bu Janet yang baru mau mengumumkan lewat speaker tapi harus singgah karena mendengar teriakan Dea. Akhirnya tanpa menggunakan speaker, suara marah Bu Janet sudah lebih dari cukup untuk membuat anak-anak cepat bergerak.
...-BERSAMBUNG-...