UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.63 - Orang itu!



"Bahkan disampingmu sekarang juga ...." Goldwin awalnya tidak berniat mengatakan tapi dikatakan juga.


Cain langsung menghindar dari dinding, "Sebenarnya perusahaan apa ini?" setelah mendengar perkataan Goldwin membuat suasana lebih mencekam lagi, "Tapi kenapa aku tidak bisa melihat Zewhit yang berkeliaran?"


"Disini hanya tubuhnya saja ... roh mereka ada ditempat lain!" jawab Goldwin yang sebenarnya ragu mengatakan karena tahu Cain adalah tipe yang cepat mengerti.


"Jangan bilang iblis tadi yang datang mengambil para arwah yang ada disini?" tanya Cain sesuai perkiraan Goldwin.


"Sepertinya manusia yang disini bekerjasama dengan iblis."


"Manusia bekerjasama dengan iblis? mana mungkin ada hal seperti itu?" Cain mulai merasa Goldwin bicara asal-asalan.


"Terkadang manusia punya hasrat membunuh yang tinggi dan karena itu mereka bisa membuat perjanjian dengan iblis secara resmi atau secara tidak sengaja ... manusia membunuh untuk memuaskan keinginannya, iblis bisa mendapat keuntungan dari itu dan memakai roh manusia yang dibunuh."


"Memangnya roh manusia biasa dipakai untuk apa? berguna sebagai apa bagi iblis?" Cain mulai melanjutkan pekerjaannya lagi memasang benda kecil itu sambil menunggu jawaban Goldwin.


"Sepertinya kau sudah tahu ...."


"Malexpir?!" sahut Cain.


"Ya ... prajurit sekali pakai, Malexpir. Mereka sangat berguna dan kekuatannya lebih besar dari roh yang sudah lama karena roh baru biasanya masih memiliki sisa energi kehidupan tapi dengan terus menerus melakukan kejahatan mereka tidak akan bertahan lama dan akan segera menghilang.


"Mereka kan bisa menolak, pasti tidak semua arwah itu adalah orang jahat!" kata Cain mulai merangkak menghindari cctv.


"Kau tidak mengenal iblis, seperti Leaure yang mempunyai kekuatan melindungi ... iblis juga punya kekuatan kebanggan yakni membujuk. Baik itu menyulut sebuah perang atau menghipnotis seseorang untuk mengikuti keinginannya tapi disisi lain mereka adalah prajurit terkuat di dunia ini ... maka dari itu Para Jenderal Mundebris kebanyakan dari kaum iblis."


"Berarti tidak semua iblis itu jahat?" tanya Cain yang sudah semakin lihai memasang benda kecil itu.


"Sama seperti manusia, ada yang baik dan ada yang jahat."


"Tapi ada yang ingin aku tanyakan?" Cain berhenti dan mulai menatap Goldwin serius.


Goldwin menunggu pertanyaan Cain, "Hem, tidak jadi!" kata Cain


***


Hampir jam 5 subuh baru mereka selesai memasang benda kecil itu. Cain melihat Mertie memasang peralatan terakhirnya di parkiran bawah tanah.


"Tidak ada yang ketinggalan kan?" tanya Mertie menghampiri Cain.


"Kalau kau tidak percaya coba periksa untuk memastikan."


Mertie mengeluarkan laptopnya dan memeriksa jumlah peralatan yang dipasang tadi, "Sudah kuduga ... kau memang cukup bisa diandalkan!" Mertie memuji Cain.


"Cukup?!" Cain tersinggung dengan pujian tidak tulus itu.


"Pekerjaan malam ini selesai, selanjutnya kuserahkan padamu ...." kata Mertie.


"Pekerjaan selanjutnya tidak akan mudah ... apa kau bisa? bahkan tidak pernah tidur semalaman ...."


"Kau mengkhawatirkanku?" tanya Mertie.


"Mana mungkin!" sahut Cain cepat.


"Baiklah ... ayo kita keluar dari sini secepatnya dan langsung berangkat ke sekolah!" Mertie mulai memimpin jalan sambil berjalan bersembunyi di balik mobil agar tak masuk cctv.


Mertie mengeluarkan remote mobil yang diambilnya dari seseorang yang baru saja datang di lantai enam, "Kau yakin orang ini akan segera pulang?" tanya Cain masuk garasi belakang mobil saat Mertie menyimpan remote mobil di depan seolah yang menyetir lupa bawa remote mobilnya dan Mertie segera ikut ke tempat Cain berada.


"Yakin!" sahut Mertie.


"Seberapa yakin?"


"200%!" jawab Mertie kemudian langsung datang orang yang membuka pintu, "Ternyata aku lupa ya? haha dasar bodoh!"


"Iya ... dasar bodoh!" kata Goldwin membuat Cain menahan tawa.


Orang itupun mulai mengendarai mobilnya keluar perusahaan dan sesaat kemudian mobil berhenti tapi mesin masih menyala, Cain dan Mertie mengintip tapi ternyata orang tersebut singgah membeli minuman di toserba. Kesempatan emas itu langsung digunakan untuk keluar dari mobil.


"Bus menuju sekolah bukan ini!" kata Mertie saat Cain hendak menaiki bus yang datang.


"Aku ingin melihat Felix sebentar!" jawab Cain membuat Mertie tidak melanjutkan lagi pertanyaannya dan sadar jika tidak berhak melarang-larang Cain.


Sesampai di depan kamar Felix, Goldwin membukakan pintu kamar tapi Cain malah menutupnya kembali, "Heh?!" kata Goldwin bingung, "Bukankah kau ingin masuk melihat Tuan Muda?" tanya Goldwin.


"Kau datang?" tanya suara yang familiar bagi Cain.


Cain tidak menjawab dan hanya mulai pergi dari sana bahkan tidak bersedia melihat wajah bibinya lagi.


"Aku bisa melihat aura perempuan itu yang jelas adalah setengah Leaure tapi kenapa aku tidak bisa melihat aura anak ini?!" tanya Goldwin dalam hati, "Apa mungkin? hahh ... tidak mungkin!" Goldwin menggeleng-geleng.


***


Tiga hari sebelum Felix bangun. Diperjalanan menuju sekolah ada Zewhit anak perempuan dengan rambut putih panjang yang duduk dijalanan melamun. Goldwin datang menyapanya dan memanggil Cain, "Bisa kau beri anak ini energi kehidupan?" tanya Goldwin, "Dia Zewhit baru jadi belum ingat kejadian saat meninggal tapi kalau kau beri energi kehidupan, aku bisa memulihkan ingatannya dengan cepat."


Cain tanpa ragu langsung memegang tangan anak perempuan yang sama tinggi dengan Felix itu lalu Goldwin menaruh kaki depannya diatas tangan Cain.


"Bagaimana? kau sudah ingat sesuatu?" tanya Goldwin.


"Bisa kau ceri ... ta ... aduu ... uuh pus ... ing!" Cain berbaring menjatuhkan dirinya.


"Makanya kenapa aku selalu menyuruhmu memakan buah darah karena buah darah adalah makanan wajib bagi Leaure ... apalagi disaat seperti ini ... kau akan dan seerusnya nanti banyak membantu para Zewhit di masa depan jadi mau tidak mau kau harus memaksakan diri memakan buah darah!" omelan panjang Goldwin yang sudah tidak dipedulikan oleh Cain karena terlalu pusing.


"Aku dibunuh oleh seseorang!" kata anak perempuan itu tiba-tiba, "Bukan hanya aku ... ada banyak anak lainnya ...." anak perempuan itu mulai berdiri dan melihat poster pencarian anak hilang yang tertempel, "Aku melihat sebagian dari mereka!"


"Apa mereka masih hidup?" tanya Goldwin.


"Tubuh mereka pasti sudah dimakan oleh seseorang sekarang!"


"Apa maksudnya?" tanya Cain.


"Termasuk aku juga ... aku melihat tubuhku sendiri dipotong-potong oleh orang itu!"


Cain merasakan kemarahan terpendam dari anak perempuan itu dan mulai menatap Goldwin, "Tidak apa-apa, aku sudah sekalian tadi meredam emosinya ... dia tidak akan membuat masalah setelah mengingat kejadian yang dilupakannya," jawab Goldwin.


"Kau berguna sekali!" Cain tersenyum senang lewat pikiran Goldwin, "Tempat kau dibunuh di pabrik daging Carlton?" tanya Cain mulai serius.


"Aku sudah meninggal saat dibawa kesana!"


"Jadi dimana kau ... emm m..." Cain merasa tidak enak menyebutnya.


"Aku dibunuh di peternakan sapi Carlton! ternyata ... aku bertemu dengan orang yang tepat! kau tahu sesuatu kan tentang perusahaan itu?"


"Iya .... " jawab Cain merasa bersalah.


"Orang itu menikmati saat menyiksa anak kecil dengan mencabut kuku kami satu per satu ... semakin kami menangis ... semakin dia tidak berhenti tertawa senang ... rasa sakitnya masih aku ingat dengan jelas ...." anak perempuan itu mulai meneteskan air mata tanpa ia sadari.


"Aku minta maaf!" kata Cain.


"Jangan mengasihaniku ... walau bagaimanapun juga aku akan mati kedinginan, aku tidak punya rumah tapi kasihan adikku sendirian, dimana dia sekarang? apa dia bisa bertahan hidup?"


"Kenapa kau tidak pergi di panti asuhan?" tanya Cain.


"Aku sudah muak dengan negeri ini dan berniat ingin pergi ... dimana saja asal bukan di Yardley lagi ... pergi bersama adikku tapi ternyata aku ... bahkan sampai mati pun negeri terkutuk ini sepertinya tidak bisa melepaskanku ...."


"Kau bisa mencarinya? aku akan membawanya ke panti asuhan!" kata Cain.


"Memangnya kau tahu apa tentang panti asuhan?"


"Aku juga tinggal di panti asuhan!" jawab Cain yang membuat anak perempuan itu kini menatapnya dengan tatapan berbeda, "Aku pikir kau adalah anak orang kaya yang tidak tahu penderitaan sepertiku!"


"Terkadang, kita tidak perlu melarikan diri jika membenci sesuatu ... hidup berdampingan dengan yang dibenci tidaklah seburuk itu kok!"


"Rasanya aku lega jika menitipkan adikku bersamamu!" anak perempuan itu tersenyum puas.


"Namamu?" tanya Cain.


"Idalina, kau?"


"Cain!"


"Aku akan mencarimu lagi Cain setelah menemukan dimana adikku berada ...."


"Aku tunggu!"


...-BERSAMBUNG-...