UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.40 - Bertemu Orangtua Mertie



Cain yang datang dari 19 tahun yang akan datang meminta agar tidak perlu diselamatkan membuat Felix bahagia karena itu menandakan ia berhasil, jika memang gagal pasti Felix dari masa depan akan datang untuk memberitahu cara agar bisa berhasil.


Sungguh hari ini Felix mengalami hari yang berat bagi seseorang yang dulunya tidak percaya sebuah dongeng sebelum tidur. Makhluk yang jelas-jelas adalah binatang tapi berpostur seperti manusia dan terlebih lagi bisa berbicara serta seseorang yang dari masa depan ... kini Felix tertawa sambil mengeringkan rambut hijaunya membuat Cain jadi memandangnya dengan tatapan aneh.


Walau fungsi gelang Felix dan mereka sepertinya berbeda tapi melihat kegunaannya tadi saat membuat Aloysius yang tingginya lima meter jadi tidak bisa bergerak membuatnya yakin pasti Iriana membuat gelang itu untuk melindungi mereka dari masa depan yang sama dilihatnya. Tapi jika gelang itu untuk menyelamatkan mereka, apa yang terjadi dengan mata Felix yang dilihatnya dari dirinya 19 tahun yang akan datang, "Apa itu dari kejadian yang lain?" Felix harusnya sudah tenang karena adanya gelang yang dapat melindungi mereka tapi tetap saja masih khawatir.


Felix memanggil nama Iriana dalam semalam sudah tidak bisa dihitung lagi tapi terus diabaikan. Alger yang masuk ke dalam lukisan membuat gambar serigala kesukaan Cain jadi bergerak-gerak matanya. Felix membalikkan lukisan itu tapi Cain yang bangun untuk minum air putih membalikkannya lagi.


***


Mertie dihari liburnya hendak bertemu orangtuanya yang sudah lama tidak ia lihat kini sedang bersama dengan lima orang anak yang terlihat sangat familiar, "Bagi seorang anak yang ingin bertemu orangtuanya kau ini terlambat sekali yah ...." kata Cain.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Mertie heran melihat lima orang anak itu sudah terlihat akrab dengan ayah ibunya.


"Kau tidak lihat kami sedang makan ...." Felix sambil menyuap nasinya.


"Wah ... tante, masakannya luar biasa enak sekali ... memang masakan ibu lah yang terbaik," Teo menyeruput air sup sampai habis dari mangkoknya membuat Ibu Mertie segera memberinya sup yang baru.


"Dulu tidak percaya kalau masakan ibu itu katanya walau gosong akan tetap enak tapi hari ini percaya ... pake banget!" Tom melanjutkan.


"Untung masakan tante gak gosong yah ...." kata Ibu Mertie.


Mereka yang duduk di sebuah tempat duduk papan lebar seperti meja itu terlihat bahagia makan bersama walau lauk seadanya.


"Kami boleh mampir kesini lagi?" tanya Cain penuh harap.


"Maaf Cain, bukannya tante melarang tapi besok tante akan pindah lagi ...." kata Ibu Mertie sambil memandang kardus di depan pintu masuk yang akan digunakan untuk pindahan.


"Bagaimana kalian menemukan orangtuaku?" tanya Mertie yang daritadi hanya makan sedikit.


"Bukannya kau yang memberitahu mereka untuk datang?" Ibu Mertie jadi bingung.


"Kalau begitu kami akan bantu menyiapkan barang untuk pindahan ...." kata Tan.


"Iya, kalau soal pindahan kami sudah ahlinya ...." Teo dan Tom saling menyambung kalimat.


"Kalian tidak dengar aku bertanya bagaimana kalian bisa sampai disini?!" Mertie dengan marahnya.


"Mertie!!!" Ayah Mertie dengan suara beratnya.


"Kalau mereka saja bisa menemukan Ayah dan Ibu semudah ini itu artinya orang-orang yang mencari Ayah dan Ibu selama ini akan lebih mudah lagi!!!" Mertie tidak bisa menahan emosinya.


"Kalau saja emosi seperti itu dia pakai untuk melawan para pembully ...." Felix dalam hati sambil tersenyum miring.


"Tenang saja, kami mendapat petunjuk dari seseorang yang sangat dipercaya jadi kau tidak perlu khawatir ...." kata Cain santai.


"Siapa? siapa dia? katakan?!" Mertie memaksa.


"Kau sendiri!" Felix menunjuk memakai garpu.


"Aku?"


"Iya, kamu!"


"Yang benar saja ... kapan aku pernah memberitahu kalian?!"


"Saat aku memberimu roti dan susu, ada kertas kecil berisikan alamat didalam tasmu ... jadi jika bukan kau yang memberitahu sendiri orang yang katanya mencari-cari itu tidak akan bisa ketemu kok ...." Cain dengan nada jenakanya.


"Maaf tante, om ... kami kemari sebenarnya tanpa sepengetahuan Mertie karena buru-buru ingin mengerjakan tugas sekolah ...." kata Tan mengada-ada yang bahkan tidak sekelas dengan Mertie.


"Tunggu ... kau memberi Mertie roti dan susu?" tanya Teo pada Cain, baru sadar.


"Dalam rangka apa?" sambung Tom.


"Kalian kalau ngasih kucing makanan di belakang sekolah dalam rangka apa?" tanya Cain pada Teo dan Tom.


"Karena kasihan, mereka belum makan ... pasti lapar ...." jawab Teo dan Tom dengan polosnya.


Mertie yang hendak makan langsung tersinggung mendengarnya, "Jadi kau kira aku ini kucing?"


"Aku tidak pernah bilang begitu ...." Cain menahan tawanya.


"Ibu tidak tahu kau bisa punya teman juga Mertie, ibu senang sekali ...."


"Bagaimana ibu bisa yakin kalau mereka ini temanku?"


"Sebenarnya tidak yakin sih dengan kepribadianmu yang seperti itu bisa punya teman ...."


Ayah dan Ibu Mertie melihat kedatangan lima orang anak tadi yang menanyakan Mertie dan mengajaknya untuk belajar bersama ... tidak percaya jika benar adalah teman Mertie melainkan anak-anak yang disewa untuk menyelidikinya. Tapi tiba-tiba berubah pikiran setelah melihat sosok Felix.


"Kalau boleh tahu nama lengkap Felix?" tanya Ayah Mertie.


"Felix ... Fane Farrel ...." walau ragu mengatakan nama lengkapnya setelah bertemu Ayah Iriana, rasanya tidak apa-apa jika ia memberitahu orangtua Mertie, siapa tahu bisa dapat petunjuk tentang orangtuanya.


"Far ... rel?" Ibu Mertie kaget.


"Ibu tahu sesuatu? apa perusahaan yang ayah tempati bekerja merupakan perusahaan keluarga Farrel?" tanya Mertie.


"Bukan ... tapi ibu dulu bekerja sebagai juru masak di rumah Tuan Fraser."


"Fraser Fitzgerald Farrel?" tanya Felix.


"Bagaimana kau bisa tahu nama lengkapnya?" tanya Tan.


"Felix memang sangat mirip sekali dengan Tuan Fraser tapi setahu ibu, beliau belum menikah ...."


"Bukankah sekarang dia menghilang?" tanya Felix membuat Cain dan Tiga Kembar heran darimana ia tahu semua itu.


"I ... yya, tepatnya saat tante cuti melahirkan Mertie, dan setelah ingin kembali bekerja ... rumah disana kosong dan semua pekerja juga satu persatu pergi, sampai saat ini rumah Tuan Fraser tetap kosong dan keberadaannya tidak diketahui."


"Apa ada hubungannya dengan ibu dan ayah yang selama ini selalu dicari-cari oleh orang jahat itu?"


"Tidak, bukan ... itu dari perusahaan ayahmu bekerja ...." Ibu Mertie berbicara lalu menatap lima anak yang seharusnya tidak mendengar apa yang dikatakannya.


"Jadi selama ini kau menyelidiki orangtuamu Felix?" Cain mencoba membuat obrolan baru.


"Orangtua? nama keluarga Farrel bukan hanya satu, belum tentu dia adalah orangtuaku ...."


"Tapi bagaimana kau bisa tahu sebanyak itu?" tanya Tan.


"Saat bertemu paman kemarin, putra dari Nenek Alviani ... dan memperkenalkan diri, dia juga menanyakan nama belakangku."


"Farrel memang nama yang kini dimiliki oleh banyak orang, mungkin kalian tidak tahu ini tapi Tuan Fraser adalah orang yang sangat penting di negara ini ... beliau sudah membantu banyak rumah sakit, panti asuhan dan sarana lain yang akan ditutup dan saat itu ia sangat dikagumi dan dihormati membuat banyak orangtua memberi nama anak mereka dari nama Tuan Fraser, bisa jadi orangtua Felix juga merupakan salah satu pengagumnya."


...-BERSAMBUNG-...