UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.452 - Kembali Ke Perkemahan



Bisnis besar di Kota Pippa Pusat kebanyakan sudah pindah keluar kota. Sehingga bisnis kecil bisa mendapat pelanggan lebih banyak dari biasanya walau tetap tidak sebanyak seperti yang diharapkan.


"Disisi lain situasi ini menjadi kesempatan besar bagi pebisnis kecil yang kurang terkenal. Karena hanya tinggal mereka yang tinggal." kata Tan tidak tahu lagi perasaannya harus diapakan karena selalu berubah-ubah seiring berita yang muncul.


"Ini sudah takdir ... tidak usah memikirkannya lagi!" kata Felix.


"Sangat tidak adil rasanya! bagi manusia ... takdir adalah sesuatu yang tidak bisa diubah. Meskipun diubah akan tetap terjadi dan kembali seperti semula. Walau sudah dibuatkan jalur berbeda pasti akan berjalan berbalik menuju jalan yang sudah ditakdirkan. Tidak seperti Quiris yang bisa mengubah takdir. Jika tahu hal buruk akan terjadi, bisa dicegah untuk tidak harus terjadi." kata Teo.


Kali ini Felix kehilangan kata-kata, semua yang dikatakan oleh Teo adalah benar. Bagi Felix takdir Tan, Teo dan Tom adalah mimpi buruk yang selalu menghantui selama hampir tiga tahun ini.


"Aku ikut bus ini! kali ini aku mau istirahat di perjalanan ...." kata Tom setelah mendapat bus yang penumpangnya tidak penuh.


"Bus mana?! aku kesana juga!" tanya Teo.


"Aku ikut di bus para guru saja!" kata Tan.


"Kau dimana Felix?!" tanya Teo setelah sampai di bus yang ditempati Tom tapi Felix tidak memberitahu akan naik di bus mana.


"Entahlah ... aku dimana." Felix malas mencari tahu dan malas mengobrol lagi.


"Andaikan ada Cain, pasti dialah yang ada di posisi Mertie saat ini." kata Tan melihat Mertie membagikan jadwal pada para guru.


"Tentu saja, semua orang di sekolah menyukainya." kata Tom.


"Pasti banyak juga permainan baru yang akan diciptakannya." kata Tan tertawa hanya dengan membayangkan saja.


"Untuk pertama kalinya pasti anak-anak akan mengeluh karena terus bermain saja." Tom juga tertawa membayangkan tapi berhenti tertawa setelah menoleh pada Teo hanya diam saja tidak ikut membicarakan tentang Cain, "Kau tidur?" tanya Tom.


"Tidak!" sahut Teo.


"Tumben kau diam saja ...." kata Tom.


"Ya, untuk orang cerewet seperti dirimu sangat mencurigakan kalau tiba-tiba jadi pendiam." kata Tan.


"Hahh ... akan ada saatnya untuk orang sepertiku, yang cerewet ini ... juga menjadi pendiam." kata Teo.


"Kau baik-baik saja kan?!" tanya Tom memeriksa apakah Teo demam tapi tidak.


"Hahh ... biarkan aku sendiri! aku mau tidur dengan tenang!" kata Teo tiba-tiba turun dari bus dan naik ke bus lainnya.


"Ada apa dengannya?!" Tom keheranan.


"Biarkan saja!" kata Felix.


Teo hanya bisa mendengus kesal mendengar itu setelah duduk di dalam bus lain. Teo telah mengetahui bahwa Cain sudah bebas dan Felix meminta untuk hal itu dirahasiakan. Untuk pertama kalinya Teo merasa seperti berkhianat dengan kedua saudaranya.


"Aku tidak bisa melakukan ini lebih lama lagi ...." kata Teo yang ternyata menaiki bus yang sama dengan Felix dan duduk berdampingan.


"Tahan sebentar lagi ... segel pikiranmu menjadi lebih tinggi daripada mereka berdua. Sepertinya karena Moshas, jadi aman untukmu menyimpan rahasia itu. Tapi jika Tan dan Tom berhadapan dengan Efrain ada kemungkinan pikirannya bisa terbaca." kata Felix membujuk.


"Sebenarnya apa yang kalian rencanakan?! setidaknya beritahu aku! jangan membuatku menjadi pengkhianat setengah-setengah. Beritahu aku juga! biar aku menjadi pengkhianat sepenuhnya!" kata Teo.


"Apa maksudmu yang pengkhianat?!" Felix kesal dengan penggunaan kata dan nada bicara Teo itu.


"Menyembunyikan, merahasiakan sesuatu pada sahabat adalah pengkhianatan apalagi dalam hal ini saudaraku!" kata Teo masih dengan nada yang sama.


"Jadi maksudmu selama ini aku adalah pengkhianat?!" tanya Felix.


"Sudahlah ... kalau tidak mau menceritakan, tidak usah mengalihkan pembicaraan seakan kau adalah korbannya." kata Teo.


"Hahh ...." Teo menghela napas panjang dan berdiri ingin berpindah bus lagi tapi sebelum turun ia kembali lagi ke dekat Felix.


"Apa?!" tanya Felix menantang.


Teo hanya langsung membalas Felix dengan tendangan yang lebih keras dan lari turun ke bus lainnya.


"Awas saja kau nanti!" kata Felix.


"Ada apa?!" tanya Tan dan Tom yang tidak tahu apa yang terjadi dan hanya bisa mendengar lagi setelah Felix menggunakan Jaringan Alvauden untuk berbicara melalui pikiran pada Teo.


"Teo, naik ke busku hanya untuk mengganggu lalu pergi lagi ke bus lainnya." jawab Felix.


"Sudah berapa kali anak itu ganti bus?!" kata Tom.


"Sepertinya dia benar ada masalah ...." kata Tan dalam hati tahu kalau Teo tidak akan seperti itu jika baik-baik saja.


***


Tiba di lokasi Perkamahan Incia mereka disambut oleh para pegawai pengelola perkemahan yang membagi-bagikan bingkisan cemilan selamat datang.


"Ow, ini kan ... cemilan favorit Felix semua!" kata Tom.


"Hem, sayang ... kau tidak bisa memakannya!" Teo meledek.


"Simpankan untukku!" kata Felix pada Mertie lewat pikiran.


Mertie kaget karena suara Felix yang tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya, "Ini makanan kesukaanmu atau apa?! tidak seperti biasanya saja kau begini!" Mertie heran, "Baiklah ... sebagai hadiah karena kau juga mau datang kesini. Pak, saya bisa ambil 5 tidak?!" kata Mertie pada pegawai bernama Ed.


"Tentu saja! mau lebih dari itu juga boleh. Ada banyak yang kami siapkan." kata Ed dengan senyuman.


"Ini hari keberuntunganmu Felix!" kata Mertie, "Ah, haha ... saya kebiasaan memang sering bicara sendiri." Mertie jadi canggung karena berbicara sendiri saat mengumpulkan bingkisan cemilan.


Tapi Ed hanya merespon biasa saja dan menambahkan lagi bingkisan cemilan pada tas Mertie saat akan pergi.


"Sudah banyak, terimakasih pak!" kata Mertie memasuki area perkemahan dengan suasana hati yang bahagia, "Tidak salah aku memilih perkemahan ini ...."


"Apa maksudmu? aku yang memilihnya!" kata Felix.


"Auh, rasanya tidak enak sekali suaramu masuk ke dalam pikiranku! jadi hentikan!" kata Mertie seperti mulai sakit kepala.


Felix berkeliling area perkemahan dengan memakan cemilan yang sudah diambil dari Mertie. Tiga Kembar naik ke atas pohon masing-masing yang telah ditandai sebagai area pengawasan terbaik.


Tan tertawa sendiri melihat Felix tidak berhenti mengunyah saat lewat di bawahnya. Tidak bisa juga ditegur, karena Tan jarang bisa melihat Felix yang begitu. Hanya jika bertemu dengan cemilan yang disukainya. Sayangnya di sekolah sudah jarang menjual cemilan itu, jadi Felix dikira tidak suka mengemil oleh anak-anak lain padahal sebenarnya yang disukai Felix saja yang tidak ada di sekolah makanya begitu.


"Veneormi masih terlihat ada, tapi Felix yang cepat pulih jika terluka dan napsu makannya juga sudah naik. Benar-benar sudah dekat ... kita akan melihat bagaimana Felix menjadi Caelvita Resmi dan Pemerintahan Caelvita-119 yang pertama resmi akan dimulai serta Viviandem juga akan kembali bangkit. Aku tidak sabar untuk melihat itu terjadi ...." kata Tan dalam hati.


"Ini bukan Cain yang mengatur kan?!" tanya Teo saat Felix melewati bawah pohon yang ditempatinya.


"Kau ini! mau mulai lagi?!" Felix sebal dengan Teo yang masih saja tidak berhenti menyinggung soal Cain, "Apa?! kau mau bilang lagi ini soal pengkhianatan atau apa lagi?! kalau memang Cain yang melakukan ini pasti dia akan lebih memilih cemilan kesukaan kalian daripada aku."


"Kenapa kau jadi heboh begitu?! aku kan hanya bilang saja ...." kata Teo.


"Cain tidak ada hubungannya dengan apa yang ada disini!" Felix menekankan.


"Memangnya aku bilang sesuatu?!" kata Teo


...-BERSAMBUNG-...