UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.104 - Ratu Kerajaan Sanguiber



"Jangan bilang kalau di dalam istana terdapat sebuah petunjuk besar?" tanya Felix sambil menyeringai.


"Bukan begitu Tuan Muda ...." Duarte terlihat gugup.


"Kalau begitu, kami boleh masuk dong ...." Felix memberi isyarat pada Cain.


"Bukan begitu Tuan Muda, hanya saja perpustakaan ada dibawah tanah dan jalan untuk kesana harus lewat sini ... nanti kalau dari perpustakaan, kalau Tuan Muda mau ... bisa kedalam sepuasnya melihat atau bahkan menginap ...." kata Duarte yang sudah mulai tenang menjelaskan.


Duarte menjadi petunjuk jalan untuk turun ke lantai bawah tanah. Pemandangan menakjubkan oleh permata ruby yang memenuhi jalan dan dinding ruangan membuat Felix tiba-tiba diam bahkan Cain yang cerewet jadi sangat pendiam.


Sampai di pintu masuk Duarte memerintahkan Felix dan Cain memasang sebuah tali untuk diikatkan disalah satu kaki masing-masing.


"Untuk apa ini?" tanya Cain.


"Tuan Muda akan tahu sendiri nanti!" jawab Duarte mulai membuka pintu perpustakaan.


Felix dan Cain berjalan santai masuk, "Tidak ada buku sama sekali!" protes Cain.


"Dia tidak sabaran sekali!" kata Duarte dalam hati sudah lelah dengan pertanyaan Cain daritadi.


Tak lama berjalan dari pintu masuk mereka langsung terjatuh dan mulai berteriak kencang. Berkat tali tadi mereka bisa selamat tapi kini mereka berdua tergantung dengan satu kaki.


"Aw pusing! rasanya semua darahku kini mengalir ke pipiku semua ...." keluh Cain.


Tapi kini mereka berdua sudah berada ditengah-tengah perpustakaan yang begitu banyak buku tersusun di rak dinding berjejer kebawah.


"Baru kali ini aku melihat perpustakaan ... bukannya rak makin keatas, eh ini malah makin ke bawah ...." Cain tidak berhenti mengomel.


"Bagaimana kami bisa membaca dengan keadaan seperti ini?" tanya Felix.


Duarte tidak menjawab tapi langsung saja tali tadi yang menggantung mulai memanjang dan membuat mereka mengambang dan sudah dalam keadaan tidak terbalik lagi.


"Apa harus ya mau baca buku sesusah dan seribet ini?" keluh Cain tapi terlihat menikmati seperti terbang menuju dari rak buku satu ke lainnya dengan wajah berseri-seri.


"Abaikan dia! kalau sudah ketemu buku ... dia jadi lupa diri!" kata Felix.


"Arah sini, Tuan Muda!" Duarte menunjukkan jalan.


Sampailah Felix disebuah jajaran buku yang berputar jungkir-balik kemudian terbuka seperti pintu karena Duarte bersiul. Di dalam ruangan itu hanya terdapat satu buku besar yang lebih lebar dari dirinya itu.


"Bagaimana cara membukanya?" tanya Felix ketika ingin membuka buku besar itu tapi tidak bisa.


"Ketuk dulu, Tuan Muda!" kata Duarte.


Felix mengetuk sampul buku itu dan tiba-tiba muncul dari sampul buku sebuah boneka yang memiliki tangan berbentuk jarum. Felix mengulurkan jarinya dan ditusuk oleh tangan boneka yang terhubung dengan sampul buku itu. Darah Felix yang ada di ujung jarum diteteskan di ujung atas kiri buku kemudian mulai mengalir membentuk sebuah simbol seperti gambar garis gelombang sampai ke ujung bawah kanan buku. Lalu buku itu membuka dirinya sendiri tapi sebelum itu boneka sampul itu membuat bentuk botol kecil dari sampul didekatnya dan menyuruh Felix untuk meneteskan darahnya kesana. Hingga semua yang terbentuk disampul buku itu menghilang masuk ke dalam sampul tanpa jejak sama sekali.


"Buku apa ini sebenarnya?" tanya Felix mulai membuka lembaran demi lembaran.


"Ringkasan lengkap tentang Sanguiber mulai dari sejarah dari awal mula sampai sekarang!" jawab Duarte.


"Siapa yang membuatnya?" Felix melirik Duarte menunggu jawaban, "Baiklah ... kalau tidak bisa dijawab ...." Felix pasrah saja, "Tapi, bukannya aku ini mau mengeluh atau bagaimana ya ... aku tidak mengerti bahasa dari buku ini sama sekali!"


"Tuan Muda hanya perlu terus membuka lembaran demi lembaran sampai habis dan memperhatikan setiap halaman!"


"Mana mungkin saya berani Tuan Muda!"


Felix hanya menuruti perkataan Duarte yang seperti mempermainkannya itu tapi tetap dilakukan sampai lembaran terakhir buku.


"Jadi aku dapat apa setelah pusing melihat bahasa aneh ini?" Felix menutup buku besar itu, "Heh?!" Felix mulai merasakan semua yang ada di buku itu masuk ke dalam pikirannya dan sedang diterjemahkan.


"Buku ini adalah buku ingatan!" kata Duarte, "Kalau di Mundclariss disebut buku harian ...."


Lama Felix hanya terdiam menutup matanya saat bahasa itu perlahan diterjemahkan oleh pikirannya, "Kalau ini buku harian berarti ditulis oleh seseorang kan?"


"Semua hal penting yang perlu diketahui tentang Sanguiber sudah ada dalam buku ini!" Duarte tidak nyambung.


Felix mulai keluar dari ruangan itu dan menuju tempat Cain berada, "Ayo kita keatas!" Mereka berhenti mengambang dan langsung tergantung terbalik lagi dan tali yang mengikat kaki mereka berdua pun langsung menarik kembali ke atas.


"Kau sudah mendapatkan yang kau butuhkan itu?" tanya Cain.


"Jangan ajak aku bicara dulu! aku sedang sibuk!" jawab Felix.


"Sibuk? kau tidak melakukan apa-apa!" kata Cain marah.


Felix tidak memperdulikan Cain dan melepas tali yang terikat di kakinya dan langsung keluar dari sana. Cain juga ikut dibelakang tidak berhenti mengoceh tapi Felix tidak pernah membalasnya.


"Tuan Muda sedang menerjemahkan sebuah buku yang jumlah katanya mulai dari bumi ini lahir sampai sekarang ...."


"Apa? apa-apaan?" Cain tertawa keras, "Tapi bagaimana aku bisa membaca buku dengan mudahnya tanpa harus diterjemahkan ...."


"Buku di Mundebris seharusnya ketika dipegang oleh seseorang langsung menerjemahkan sendiri untuk menyesuaikan dengan bahasa yang dipakai oleh yang memegang buku ... tapi buku yang dibaca oleh Tuan Muda tadi adalah buku ingatan yang merupakan buku paling rahasia yang ada di Mundebris. Seharusnya hanya pemilik buku yang bisa membaca!"


"Kau berbicara seakan buku itu hidup?" tanya Cain.


"Semua benda yang pada umumnya di Mundclariss hanya benda mati tapi di Mundebris, benda mati pun memiliki jiwa tersendiri ...."


Cain antara tidak percaya tapi takjub mendengar itu. Sebagai pecinta buku yang mengetahui buku memiliki jiwa masing-masing membuat Cain begitu berdebar.


Felix yang masih sedang duduk sendirian di tempat duduk yang ada di halaman tidak ingin diganggu. Bahkan salju yang turun pun terlihat menghindari Felix. Cain jadi bosan menunggu dan mulai mengajak rumput untuk mengobrol. Tapi rumput yang diajak mengobrol itu lama kelamaan malah tertidur karena Cain tidak habis bahan untuk dijadikan bahan obrolan.


"Kau ini tipe yang tidak suka mengobrol ya?" tanya Cain pada rumput, "Padahal rumput di Rumah Verlin cerewet sekali!"


Rumput itu hanya tersenyum malu-malu dan tiba-tiba warna rumput yang berwarna hijau itu berubah menjadi merah muda. Disaat Cain ingin menunjukkan perubahan warna rumput yang ada pada seluruh halaman istana itu pada Felix, dilihatnya Felix sedang menangis. Untuk pertama kalinya Cain melihat Felix menangis seperti itu. Mau dikatakan sedih tapi terlihat bahagia juga.


"Apa ada hal lain yang ditulis oleh ibu, Tuan Muda?"


"Ibu?" tanya Cain.


"Sepertinya Ratu menulis bukan hanya pengetahuan tentang Sanguiber tapi hal lainnya juga ya?" tanya Duarte.


"Ratu?" tanya Cain lagi.


"Ibu Tuan Muda adalah Ratu Kerajaan Sanguiber!" jawab Duarte.


...-BERSAMBUNG-...