UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.44 - Nucusno



Sebenarnya masih banyak yang ingin Felix pelajari walau sudah bersama Verlin seharian, bukan ... yang hanya setengah jam itu. Dari mulai dasar pengetahuan tentang seorang Caelvita, kenapa hanya hantu yang bisa hidup tanpa Caelvita dan apa maksudnya Aloysius itu termasuk kategori apa? Zewhit kah? Viviandem kah? tidak mungkin juga setengah manusia.


Pertanyaan tentang setengah Viviandem dan setengah Manusia, Tanaman di Mundebris bisa memanggil Iriana tanpa embel-embel Sang Caldway ... dan kini beban dipundaknya semakin terasa berat bahkan kini ia mungkin bisa bungkuk seperti kakek-kakek, "Bisa gila aku!" ditempat yang lain, diwaktu yang sama juga Cain terus mengatakan hal itu, "Bisa gila aku ...."


Cain mencoba mencari akal agar dijauhi oleh hantu dengan pergi di lapangan dan berada di bawah sinar matahari tapi kini dilapangan yang luas itu dipenuhi oleh segala macam hantu. Bahkan ada hantu yang tidak berwajah manusia.


Serasa mau pingsan saja Cain dengan lutut seperti sedang menari-nari dan akhirnya tumbang juga. Cain kehilangan kesadarannya saat satu tangan hantu memegang kakinya disaat semua hantu itu saling berpegangan tangan membuat seisi rohnya seperti terhisap.


"Eh, kenapa aku ada disini?" Felix berada diantara Cain dan tangan hantu yang sedang memegangi kaki Cain, "Apa-apaan kalian ini?" seluruh hantu kini terlempar seperti kertas, ada yang ingin segera kabur, "Kalau tidak ada yang menjelaskan apa yang terjadi ... akan aku buru kalian satu per satu!" semua hantu kini berbaris memenuhi seluruh lapangan dan langsung berlutut bersamaan.


Walau sebenarnya Felix bingung kenapa mereka bisa menyentuh Cain padahal sedang memakai gelang Alexandrite.


"Jadi siapa yang mau duluan bicara?" tapi para hantu hanya diam, ada juga yang saling menatap dan menyenggol hantu disampingnya.


"Aa ... anu ... sebelumnya saya ucapkan selamat datang kepada Caelvita yang ke-119!" hantu itu maju selangkah dari barisan, "Kami tidak tahu juga kenapa bisa sampai ada disini ...." perkataannya dibenarkan oleh hantu yang lain dan mundur lagi kebarisan.


"Apa maksud kalian? jangan berbicara berbarengan begini, satu-satu ...."


"Sepertinya dia Viviandem yang itu ... keturunan Leaure!"


"Apa lagi itu?"


"Keturunan dari kerajaan Leaure ... Sang Singa Emas, biasanya dari keturunan Leaure akan seperti magnet untuk hantu, hanya itu yang bisa menjelaskan semua ini ... tapi rambut anak itu tidak terlalu berwarna dan bersinar seperti emas ...." sambil menunjuk rambut pirang Cain.


"Jadi apa yang kalian lakukan terhadap Cain, kenapa dia bisa pingsan?!" Felix tidak memedulikan penjelasan yang tidak bisa dipahaminya.


"Sepertinya kami menarik terlalu banyak energi kehidupannya se ... kali ... gus ...." hantu yang berwajah hewan itu menunduk sampai-sampai kepalanya menyentuh tanah.


"Ada yang ingin aku tanyakan ...." Felix duduk dihadapan makhluk berwajah ... semut itu.


"Apapun itu ...." kini ia membungkuk lagi dan membenturkan kepalanya membuat tanah seperti berguncang.


"Kau kenal Aloysius?" wajah makhluk yang berwajah hewan semuanya kini berubah cerah, "Beliau adalah Prajurit terbaik Sang Caldway! Jenderal perang yang terkuat ditakuti dan dihormati oleh semua yang ada di Mundebris ...."


"Jadi kau sama jenisnya dengan dia? mendengar kau begitu membangga-banggakannya ...." Felix menatap dengan tatapan menghina.


Mereka yang berwajah hewan kini semua terlihat menggenggam tangannya erat-erat dan menahan emosi, "Kalian ingin memukulku?!" Felix menarik tongkat dari belakang punggungnya dan membenturkannya membuat gelombang udara yang menjadikan pohon yang akan mati dan seperti kekeringan itu kembali seperti pohon yang sehat dan dahan yang patah tiba-tiba menempel seperti semula lagi. Sebisa mungkin Felix tidak ingin diremehkan oleh hantu.


"Aku peringatkan! tidak ... aku umumkan, sampaikan ini kepada hantu yang kalian temui ... jika berani membuat Cain terluka lagi tidak akan aku ampuni! kalian mengerti?!"


"Mengerti!" jawab mereka semua serentak dan mulai pamit untuk pergi.


"Kau!" panggil Felix pada makhluk berwajah semut itu.


"Iya, Pak ... Tu ... tuan ... Yang Mulia ...." membungkuk lagi dan membenturkan kepalanya ke tanah membuat gempa lagi.


"Kau ini jenis makhluk apa?" Felix bertanya sambil mulai mengangkat kepala Cain untuk didudukkan.


"Iblis!" kata makhluk berwajah semut berwarna coklat agak kemerahan seperti semut yang sering menggigitinya.


Felix langsung menjatuhkan Cain mendengar kata Iblis, "Aw!"


"Kau baik-baik saja?"


"Felix?" Cain terbangun saat dijatuhkan Felix tapi tidak bangun saat gempa tadi. -_-


"Kau kenapa jadi seperti kerupuk kentang yang sudah tak berbentuk dan jadi remahan begini ...."


"Ck, memangnya kau yang seperti kucing suka ngambek dan kabur dari rumah ... kau ini darimana saja?"


"Dia harusnya makan Sup Buah Darah setelah pingsan terhisap energi kehidupannya ...."


"Ah, maaf ... wajah saya memang mudah disalah pahami ...." katanya murung.


"Sup Darah?" Cain mulai merasa mual dan ingin muntah.


"Hanya namanya saja yang aneh tapi terbuat dari Buah Darah jadi dinamakan Sup Buah Darah." katanya sambil tersenyum membuat matanya jadi tidak kelihatan.


"Jadi ... Iblis, Zewhit, Setengah Manusia Setengah Viviandem, Malexpir bisa hidup tanpa ada Caelvita?" Felix menghentikan pembahasan soal tanaman aneh lagi.


"Hanya Viviandem murni yang terikat kehidupannya oleh Sang Caelvita, sama dengan manusia yang tidak bisa hidup tanpa oksigen ...."


"Apa itu tandanya selain Viviandem adalah musuhku?"


"Tid ... tidak ... bukan ... be ... begi ... ttu Yang Mulia!" Kali ini dia membenturkan kepalanya berkali-kali membuat anak-anak di dalam kelas panik keluar gedung sekolah, "Malahan mereka adalah teman pertama seorang Caelvita baru ketika muncul disaat Viviandem menghilang dan tentu saja mereka adalah penduduk Mundebris dan ... dan ... Sang Caelvita mencakup Dunia Mundebris, makanya ... jadi ...." panik menjelaskan.


"Siapa namamu?" Felix memotong penjelasan tidak jelas makhluk berwajah semut itu.


"Banks, seorang Daemonimed!"


"Apa itu sejenis makanan?" tanya Cain.


"Di dunia manusia disebut sebagai Dokter, di dunia Viviandem disebut Daemonimed ...."


"Sekarang apa pekerjaanmu? Alexavier?"


"Nucusno, Yang Mulia! seorang iblis yang menjadi Zewhit tidak bisa menjadi Alexavier ... jenis kami hanya bisa menjadi Nucusno atau yang disebut Penjaga Pohon."


Tan, Teo dan Tom yang juga ikut dikerumunan anak-anak yang lari keluar itu melihat Felix dan Cain dilapangan dan berlari mendekatinya.


"Banks, catat alamat ini!" Felix melihat Tiga Kembar menuju ke arahnya dan menyebutkan alamat rumah Daisy yang langsung tertulis ditangan Banks, "Datanglah malam ini!"


"Baik Yang Mulia!" Banks berbalik melihat arah pandangan Felix dan diulurkan tangannya ke rambut Felix, seketika langsung berubah menjadi hitam, "Ini hanya berlaku sebentar, bisa saja semenit langsung hilang ... jadi secepa ...."


"Terimakasih, pergilah!"


Banks pergi dengan cara turun menembus tanah seperti ingin menyelam masuk kedalam air.


"Dia itu tipe yang unik juga ...." kata Cain masih mual karena memikirkan Sup Darah itu, "Pusing sekali ...."


"Kau darimana saja Felix? untung saja kita menginap di rumah Bu Daisy dan Ibu tidak pulang ke rumah. Jadi tidak ada yang mengetahui kau tidak pulang semalam ...." Teo dan Tom saling sambung kalimat.


"Kau masih memakai baju yang kemarin?" tanya Tan.


"Apa aku pulang saja?!" tanya Felix.


"Coba saja kalau berani!" Cain menendang Felix.


"Aku tidak pakai seragam dan sudah tidak hadir 3 mata pelajaran!"


"Urusan dibelakang itu, lagipula aku membawakan seragammu!" Cain mengalihkan pandangan matanya malu.


Felix memberi senyuman yang tidak seperti senyuman tapi Cain menjulurkan tangannya sebagai tanda ia ingin dibantu berdiri.


"Kalian lupa yah? sudah bertengkar?!" Teo menyindir.


"Bertengkar? kata apa itu?" kata Felix dan Cain bersamaan.


...-BERSAMBUNG-...