
Felix memilih diam dan tidak memberitahu apapun tentang mimpi anehnya itu yang bisa saja ditertawai mereka.
"Aku merindukanmu ... Alene!" suara pikiran Kelsey yang tiba-tiba didengar Felix saat mengunyah makanan.
Felix berbalik melihat Kelsey yang hanya mengaduk-aduk sup hangatnya yang masih penuh. Bagi orang terdekat Magdalene, pastinya masih berharap kalau Magdalene masihlah hidup di suatu tempat walau tidak diketahui dimana. Tapi kenyataannya Magdalene sudah meninggal. Tubuh Magdalene sekarang ada di kastil tempat Perkumpulan Iblis Anti Caelvita 119. Pergi kesana sama saja mencari mati dan merupakan tindakan bodoh.
Efrain yang saat ini tidak melakukan apa-apa atau seperti itulah yang diketahui karena tidak ada tanda-tanda kemunculan Efrain di Mundclariss. Hanya anak buahnya saja yang pernah dilihat berkeliaran.
Pergi mengambil tubuh Magdalene untuk dikembalikan pada keluarganya adalah salah satu yang masuk daftar yang harus dilakukan oleh Felix. Tapi mengusik disaat Efrain sedang tenang-tenangnya begini bukanlah ide yang bagus. Sudah bersyukur hanya anak buahnya yang turun tangan kalau Efrain sendiri yang maju akan membuat kewalahan lagi.
Tapi janji adalah janji, Felix telah berjanji pada Magdalene untuk mengembalikan tubuh Magdalene pada orangtuanya, janji itu sebelum Magdalene berubah menjadi Penyihir Salju. Felix menyesal sudah hampir dua tahun berlalu tapi masih belum bisa melakukan apa-apa. Tapi itu akan menjadi janji sampai mati bagi Felix. Meski terlambat tapi sebelum meninggal, Felix berjanji akan melakukan apapun untuk menepati janjinya itu.
"Ternyata memang benar ada yang namanya sahabat sejati ...." kata Felix.
"Em? kenapa tiba-tiba?" tanya Tan.
"Kelsey, sahabat Magdalene ... bahkan sampai saat ini dia masih mengingat Magdalene." jawab Felix.
"Apa maksudmu yang benar ada namanya sahabat sejati?" tanya Teo dengan menyipitkan mata.
"Tidak seperti kita yang memiliki ikatan yang lebih dari sahabat karena melalui banyak kejadian baik dan buruk bersama-sama ... tidak seperti mereka berdua yang hanya terikat oleh persahabatan biasa melalui kegiatan sehari-hari dengan hal biasa dan normal tapi ikatan mereka bisa sedalam ini ...." kata Felix.
"Yah ... memang kalau dipikir-pikir kita sudah melalui kejadian dimana hidup kita dipertaruhkan tidak seperti mereka berdua. Tapi itu tidak menandakan bahwa ikatan persahabatan mereka itu tidak sebanding dengan kita ... bisa saja ikatan mereka lebih kuat dari kita." kata Tom.
"Tentu saja ... ikatan persahabatan itu bukan hanya berdasarkan kenangan tapi kepercayaan. Kenangan bisa dengan mudah hilang ketika terjadi sebuah kesalahpahaman tapi jika kita saling percaya, akan menarik kenangan itu kembali membuat ikatan semakin kuat ...." kata Tan.
Felix terdiam sejenak, "Seharusnya aku berbicara dengan kalian lebih awal ...."
"Apalagi maksudnya itu?!" tanya Teo.
"Seharusnya aku percaya pada Cain ... bahkan setelah Cain dari masa depan datang menemuiku dua kali, aku jadi lupa karena terlalu dipenuhi kekecewaan ... jelas-jelas Cain selalu disisiku hingga masa depan yang bahkan belum aku lalui itu." kata Felix dalam hati mulai tersenyum.
"Kau tersenyum? hehh?! apa ada yang aneh dengan makanannya?" tanya Teo heboh mencoba makanan Felix.
"Aku hanya senang punya kalian ...." kata Felix.
"Oh tidak! makanan sepertinya memang ada sesuatu yang aneh di dalamnya ...." kata Tom geli mendengar perkataan Felix.
***
Selama seharian, Felix sebisa mungkin memperhatikan sekitarnya untuk menghindari berpapasan oleh aura buruk atau mendapatkan mimpi buruk dari ingatan Zewhit yang ada di Bemfapirav. Felix ingin mengecilkan kemungkinan mimpi aneh muncul lagi.
"Jika aku masih bermimpi aneh, itu menandakan mimpi itu bukanlah mimpi aneh melainkan sebuah petunjuk!" kata Felix.
Iriana juga tidak muncul saat Felix menanyakan hal itu, tapi memang saat ini adalah waktu untuk Iriana mengisi ulang energi jiwanya. Jadi Felix juga tidak mau terlalu curiga tentang mimpinya itu ada hubungannya dengan Mundebris atau dengan identitasnya yang sebagai Caelvita.
Felix memasuki alam mimpinya lagi, kali ini sudah ia rencanakan untuk memimpikan apa yang dibaca Balduino saat duduk di bangku taman sekolah. Felix melihatnya dari lantai tiga sekolah jadi tidak jelas melihat apa yang dibaca Balduino. Felix ingin dengan jelas melihat apa yang dilewatkannya tadi.
Tapi ternyata dia memimpikan hal yang sama lagi, masih di dalam tubuh hewan besar itu dan berada di tempat yang tidak diketahui.
"Hahh?!" Felix memukul dinding yang tidak jelas terbuat dari apa karena terlalu gelap, "Aku disini lagi?!"
Bahkan dengan hantaman keras dari tangan hewan besar itu tidak ada guncangan atau runtuhan yang jatuh, "Tempat ini? jangan bilang kalau kau terkurung disini? itukah sebabnya aku tertarik kesini? kau ingin aku menolongmu keluar?" tanya Felix pada hewan besar yang tentu saja tidak menjawab karena dirinya sendiri yang sekarang ada di dalam sana.
Felix memperhatikan baik-baik dinding, atap, lantai yang ada disana. Memang terlihat banyak bekas hantaman, menunjukkan hewan besar itu sudah melakukan apa yang dia bisa untuk keluar dari tempat gelap itu.
"Bahkan kau sendiri tidak bisa keluar, aku yang tidak tahu bagaimana menggunakan tubuhmu mana mungkin tahu cara menggunakan kekuatanmu dan mengeluarkanmu darisini?!" kata Felix berbicara sendiri dengan suara berat khas hewan itu.
"Apa aku sekarang memang benar ada di dalam seekor dinosaurus? tapi apa ini hal normal? maksudku, jika ada yang membutuhkan pertolongan seharusnya aku dengan tubuhku sendiri yang datang kesini membantu, bukannya jiwaku yang malah masuk kesini ... tanpa menggunakan kekuatanku mana mungkin aku bisa menolong hewan ini. Padahal jika menggunakan Pedang Emerald pasti dengan mudah aku bisa keluar dari sini." kata Felix.
Kali ini Felix menggunakan seluruh badan hewan itu untuk dihantamkan ke semua penjuru tempat, "Pasti ada titik lemah dari tempat ini!" Felix tidak merasa kesakitan atau lelah sama sekali bahkan setelah menggunakan tubuh sebagai palu dimana-mana. Ketahanan hewan itu sungguh luar biasa. Hanya saja kini Felix yang sudah mulai bosan. Dia istirahat, bukannya karena lelah atau terluka tapi karena sudah bosan dan muak tidak mendapatkan hasil yang diinginkan.
"Aku mengerti bagaiamana perasaan hewan ini ... pasti dia sudah lama kesepian di tempat ini." Hanya dengan pencahayaan yang minim dari sebuah batu kristal yang bisa membuat Felix melihat tangan hewan besar itu.
"Kristal ini? mirip Kristal Air Mata Bahagia tapi kristal itu tidaklah bersinar dalam gelap. Apa ini batu permata? sekilas memang seperti kristal tapi jika ini batu permata berarti aku tahu aku sedang ada dimana ... haha ... ternyata begini ... baiklah aku akan melepaskanmu sekarang, hewan besar!" kata Felix mulai bangun dari mimpinya.
Segera setelah bangun Felix secepat mungkin langsung berlari dan memanggil gerbangnya untuk cepat-cepat masuk ke Mundebris.
"Jadi kau sudah bangun ya?! seharusnya kau bilang!" kata Felix dengan wajah begitu bahagia.
...-BERSAMBUNG-...