
Akhirnya tiba juga waktunya bagi Tan, Teo, Tom, Osvald dan Demelza mengeluarkan petunjuk yang didapatkan masing-masing untuk dianalisa. Sudah daritadi mereka ingin mencari tahu dan mengumpulkan petunjuk yang ada tapi takut kalau kena curiga anak-anak yang lainnya. Baik yang tahu kalau ada perburuan harta karun atapun yang tidak tahu apa-apa.
"Aw, kepalaku!" keluh Osvald kena sundulan kepala Tom karena terlalu dekat.
"Sorry!" balas Tom santai saja tanpa merasa bersalah padahal Osvald benar-benar kesakitan.
"Kepalamu ini batu, ya?!" kata Osvald.
"Mana ada?!" Tom membantah dengan keras.
"Sssssst!" Tan menyuruh diam.
"Hahh ... ini apa sebenarnya?!" Demelza sendiri sudah lelah membolak-balikkan petunjuk tapi tidak mendapatkan gambar atau pola yang diinginkan.
"Bisa tidak petunjuknya mudah saja! peta harta karun dengan lokasi yang akurat ... nanti kalau aku menjadi guru, akan aku buat petunjuk yang mudah ... silahkan menikmati harta karunnya dan gunakan sebijaksana mungkin, begitulah yang akan aku tulis dan lokasi yang jelas tentunya. Kalau perlu dengan titik kordinat." kata Teo.
"Sangat kau sekali ...." kata Tom menatap Teo.
"Jangan menatapku begitu?! aku tahu tatapanmu itu berarti apa." kata Teo.
"Apa?!" tanya Tom.
"Mengagumiku, hahaha ...." kata Teo yang langsung dihadiahi tamparan di dahinya oleh Tom, "Tidak usah malu!" Teo tidak jera mencari masalah bahkan setelah dahinya sudah terlihat memerah karena tamparan.
"Felix ...." Tiga Kembar bersamaan merengek pada Felix meminta bantuan.
"Kenapa kalian meminta bantuan padanya?! kita saja yang daritadi menyusun petunjuk tidak tahu apa-apa. Apalagi dia yang tidak melihat sama sekali." kata Demelza.
"Pohon dan air terjun." Felix terpaksa menjawab.
"Hem?!" setelah mendapat petunjuk dari Felix pun mereka tetap bingung.
"Oooooow ...." Teo mulai berteriak membuat lingkaran yang menutupi senter terbuka sehingga tenda menjadi terang seketika.
"Apa?! kau tahu sesuatu?!" tanya Tan begitu bersemangat.
"Cepat katakan!" kata Tom tahu kalau Teo bisa melihat sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda.
"Perhatikan!" Teo mulai menyusun semua petunjuk yang didapatkan dan terbentuklah batang pohon yang merupakan dua garis panjang yang dikira adalah jalanan itu. Kemudian dua garis panjang lagi tapi tidak sama rata adalah kemungkinan besar air terjun.
"Wah ...." hanya takjub beberapa detik dan langsung berdiri untuk bersiap-siap ke tempat yang dimaksudkan.
"Aku belum pernah kesana!" kata Demelza.
"Kau pikir kami sudah?!" kata Osvald.
Tan, Teo dan Tom hanya saling melirik karena sudah berkali-kali kesana saat berjaga.
Mereka berjalan dengan hati-hati agar tidak membangunkan yang lainnya. Terlebih lagi untuk yang tidak mengetahui keberadaan petunjuk harta karun tidak boleh melihat mereka bergerak. Menambah saingan akan sangat menyusahkan.
Jalan menuju air terjun cukup sulit ditempuh tapi bagi Tiga Kembar itu sudah biasa dan mudah saja serasa hanya berjalan biasa. Karena sudah pernah bolak-balik tak terhitung berapa kali oleh ulah Mertie yang parnoan.
"Bagaimana kalian bisa sehebat ini?! kalian sering mendaki atau apa?!" tanya Osvald.
"Tidak ...." sahut Teo blak-blakan lupa situasi.
"Hanya memikirkan harta karun saja bukankah menghilangkan rasa capek." kata Tan menutupi ucapan Teo.
"Apa?!" Osvald mendengus tertawa mendengar ucapan Tan yang tidak masuk akal itu. Walau terpikirkan harta karun tapi rasa lelah akan lebih mendominasi.
Suara air terjun semakin keras terdengar seiring mereka melangkahkan kaki menandakan mereka sudah semakin dekat. Mereka sampai di pinggir sungai dekat air terjun yang begitu derasnya turun.
"Aaaaaaaa!" teriak Tiga Kembar, Osvald dan Demelza saat melihat banyak kepala yang muncul dari dalam air bersamaan.
"Ow, kalian ... cepat turun kesini! semakin banyak yang mencari semakin bagus." kata Dallas dan anak-anak lainnya yang ternyata sudah sampai duluan.
"Katanya tidak akan ada yang menakutimu lagi?!" kata Tom mengejek Teo.
"Ternyata memang benar bekerja efektif cerita seram Pak Egan." kata Tan menertawakan dirinya sendiri.
"Sejak kapan kalian disini?!" tanya Tom.
"Sudah hampir setengah jam yang lalu ...." sahut Parish.
"Dan ... kalian belum membeku padahal sudah di dalam air selama itu ... wah ... hal yang mengherankan!" kata Teo.
"Cepat masuk kesini!" Dallas memerciki air.
"Wah ... bagaimana kalian bisa bertahan dengan air sedingin ini?!" kata Tan yang ditarik kakinya oleh Parish.
"Tidak kusangka ... sudah sebanyak ini yang tiba disini." kata Demelza seperti tidak percaya.
"Memangnya harta karunnya di dalam air?!" tanya Teo.
"Entahlah ... petunjuknya hanya pohon besar itu!" Parish menunjuk, "Dan air terjun!" sambungnya.
"Kalian kan waktu kelas tiga dulu menang." kata Dallas.
"Memangnya ada apa dengan itu?!" tanya Tom masih malas untuk masuk ke dalam air.
"Kalian sendiri yang bercerita kalau menemukan petunjuk di dalam air saat bermain labirin air dan dari semua apa yang terjadi hari ini ... sangat mirip waktu itu." kata Dallas.
Osvald pun memberanikan diri masuk ke dalam air, tapi kembali mencoba naik saat merasakan air yang menusuk seperti jarum itu. Sayangnya Parish menariknya kembali turun ke dalam air dengan cara yang ekstrem sehingga seluruh badan Osvald tercebur.
"Bagaimana?! kalau sudah lama dan terbiasa akan jadi hangat juga kan?!" kata Parish saat Osvald kembali ke permukaan.
Osvald hanya bisa tersenyum pahit kemudian memiting kepala Parish dan dibuat tenggelam untuk balas dendam, "Hangat?! hangat?! rasakan ini kalau begitu!" teriak Osvald begitu frustasi.
Disaat Tan, Teo, Tom, Demelza dan Felix masih berada di pinggir sungai dengan baju kering. Anak-anak lainnya terlihat terus menyelam mencari petunjuk dengan menggunakan senter anti air.
Akhirnya Tan, Tom dan Demelza ikut turun mencari. Bukan soal ambisi mendapatkan harta karun. Tapi kini soal harga diri karena banyaknya yang berpartisipasi.
"Ya ... beginilah, sensasi perburuan harta karun. Bukan perburuan harta karun namanya kalau hanya sendirian tanpa pesaing." kata Tan pasrah merasakan dinginnya air.
"Kau tidak ikut turun?!" tanya Felix pada Teo.
"Auh, tidak! lebih baik aku tidak mendapatkan harta karun daripada harus masuk ke dalam air." kata Teo.
"Aku akan menuntunmu kalau sudah ada di dalam air!" kata Felix membujuk.
"Kau tahu dimana petunjuk selanjutnya atau harta karun ada di dalam air?!" tanya Teo mulai terlihat akan termakan bujukan.
"Em!" Felix hanya mengangguk.
"Bilang saja pada mereka yang sudah di dalam air." kata Teo masih tidak mau juga masuk ke dalam air walau sudah diiming-imingi Felix akan diarahkan kemana.
"Ck!" Felix kesal sendiri karena bujukannya gagal akhirnya Felix menendang Teo masuk ke dalam air.
"Aaaaaaaaaa!" teriakan Teo itu bahkan menandingi suara air terjun. Anak-anak lainnya hanya bisa tertawa dengan reaksi berlebihan Teo itu. Kini tinggal Felix sendiri di permukaan, yang lainnya sudah ada di dalam air mencari.
"Hey! jangan iseng dong!" kata Demelza saat kembali ke permukaan.
"Apanya?!" tanya Mertie yang berada di dekat Demelza.
"Kau menarik kakiku, tadi kan?!" tanya Demelza.
"Apa?! aku barus saja turun ke sungai setelah membuka sepatuku." kata Mertie yang diiyakan oleh anak-anak lain yang menjadi saksi.
Demelza melihat kesana kemari tapi hanya Demelza yang ada didekatnya, "Jangan bercanda! kalau begitu siapa yang menarik kakiku?!"
Mertie yang kesal dituduh ingin protes tapi Mertie melihat disamping Demelza ada yang muncul dari dalam air secara perlahan, "It ... ittuuuu ... ZOMBIE!"
...-BERSAMBUNG-...