UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.259 - Bukan Hanya Dia Tapi Semuanya Berubah



"Aku akan memberi kalian bukti!" kata Mertie dengan ekspresi sombong.


"Kau tidak melihat wajahmu sekarang bagaimana ... terlihat seperti kau akan membuat bukti jika memang tidak mendapatkan apa-apa." kata Tom.


"Aku bukan orang yang seperti itu!" kata Mertie.


"Kau berpotensi menjadi orang yang seperti itu!" kata Teo.


"Terserah saja ... jangan menyesal saja kalau kalian terlambat melakukan sesuatu dengan masalah ini!" kata Mertie.


"Kau menyumpahi kami?!" kata Felix ikut dalam obrolan setelah sekian lama karena merasa tersinggung.


"Syukurlah kalau terdengar begitu ...." kata Mertie.


Felix kesal mendengar itu dan mulai pergi darisana.


"Felix sebenarnya sudah ikut menyelidiki soal pembunuhan itu! bahkan dari sejak awal ...." kata Tan.


"Lalu kenapa dia tidak bertindak?" tanya Mertie.


"Masalah bukan hanya satu untuk diselesaikan oleh Felix ...." jawab Tan.


"Seperti apa saja, sok sibuk sekali!" kata Mertie.


"Kau selalu menyebut kami dukun, kan?! asal kau tahu saja dia itu rajanya dukun tahu!" kata Teo.


"Felix tidak akan tinggal diam jika mendengar ada masalah ... bahkan yang tidak dia dengar saja, akan dia coba cari sendiri." kata Tan.


"Maksudmu apa sebenarnya? jangan berputar-putar!" kata Mertie.


"Maksudku, Felix tidak tinggal diam dengan masalah ini! hanya saja ... dia belum bisa membuktikan apa-apa untuk bertindak!" kata Tom.


"Tidak ... bukan begitu! dia pasti sudah bertindak! hanya saja kita tidak tahu ...." kata Tan.


"Kalian saja tidak sependapat, jangan menebak-nebak padahal kalian tidak melihatnya sendiri!" kata Mertie.


"Tidak semuanya harus terlihat untuk diketahui, hanya perlu saling mengenal dengan baik ... bahkan tanpa diberitahu kita pasti sudah tahu!" kata Tan.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan?" kata Teo menatap Mertie, "Aku juga membenci caranya berbicara!"


***


Tan masih ragu dan masih curiga pada Balduino. Walau memang ingin membantu tapi menurut Tan itu sangatlah beresiko. Sedangkan Tom sama sekali tidak ingin membantu Balduino. Hanya Teo yang sudah mulai membuka hati untuk mempercayai Balduino.


Felix sendiri cukup mencengangkan masih dengan kepala yang utuh setelah mempunyai begitu banyak hal yang berkeliling di kepalanya meminta untuk diselesaikan. Tapi dirinya tergerak untuk segera menolong Balduino. Belum jelas alasannya apa, bahkan Felix tidak tahu mengapa. Seakan itu adalah pekerjaan yang memang harus ia lakukan.


"Teo?!" seru Felix.


"Em?" Teo menjawab dengan menggigit permen yang baru saja dibukanya.


"Setelah sekelas dengan Balduino, kau pasti mulai mengenalnya kan? setidaknya dibanding kami ...." kata Felix.


"Dia orangnya baik! tapi tetap saja, bahkan aku sendiri sekalipun harus tetap curiga ... karena sudah tugas Alvauden untuk selalu curiga pada setiap hal. Tidak mempercayai orang lain selain sesama Alvauden." kata Teo.


"Kau sedang memuji dirimu sendiri? bahkan kamu sekalipun? apa maksudnya? hahaha." kata Felix.


"Cain maksudmu? tentu saja! dialah yang paling menderita diantara kita ... akan aneh kalau dia tidak berubah." kata Felix mencoba membaca ekspresi Teo setelah membicarakan Cain yang berubah.


"Tapi Cain adalah Cain! mau dia berubah bagaimanapun, dia tetaplah Cain ...." kata Teo.


"Bagaimana kalau dia berubah dan menjadi musuh?" tanya Felix.


"Seorang Cain tidak bisa melakukan itu. Bahkan setelah dia didorong sampai terjatuh oleh Kak Zan, bukannya memusuhi tapi Cain malah mengajak untuk berteman. Kau juga pasti lihat sendiri bagaimana mereka sangat dekat sekarang kan ... seperti itulah Cain!" jawab Teo.


Felix berhenti menanggapi, bersyukur karena situasi yang membuatnya berhenti daripada harus terdiam karena perkataan Teo. Mereka berdua sampai di daerah Ruleorum untuk meminta melacak keberadaan Roh Balduino.


"Tuan Muda, saya sudah lelah melacak keberadaan Roh! kebanyakan yang Tuan Muda cari tidak bisa saya temukan. Itu membuat saya jadi merasa tidak berguna ...." kata Petugas kantor Ruleorum yang sedang tidak bekerja karena rekan kerja Viviandemnya belum dibangkitkan. Hanya dia satu-satunya petugas yang bukan Viviandem melainkan sebuah mesin yang dibuat jika di Mundclariss. Dengan kepala berbentuk seperti kipas angin dan tubuh katak. Hasil eksperimen ilmuwan Ruleorum yang menyatukan tanaman dengan hewan.


"Kali ini pasti bisa kau cari!" Felix membujuk.


"Baiklah ...." dengan malas petugas yang sedang dalam masa libur itu mulai mencari Roh dengan menggunakan air. Ruleorum terkenal dengan kekuatannya yang menggunakan air untuk segala hal. Ada yang sebagai senjata dengan dijadikan es dan untuk mencari keberadaan Roh memerlukan kekuatan Hyacifla. Mengendalikan air dan menjadikannya sebagai langit malam di atas kepala.


"Hah? ada! muncul bintang!" seru Felix akhirnya selama ini bisa melihat bintang muncul dari langit pencari roh yang biasanya hanya terlihat terus gelap itu.


"Dimana letak bintang ini?" tanya Teo.


"Di Neraka!" jawab Hyacifla eksperimen itu, "Menyerah saja Tuan Muda! biarkan saja Roh itu ...."


"Aku juga ingin begitu! tapi sepertinya aku akan menyesal jika tidak menolongnya ...." kata Felix menghentikan kalimat Hyacifla itu.


"Kalau kau membicarakan soal tanggung jawab ...." kata Teo tidak selesai.


"Bukan soal itu! tapi rasanya aku memang harus melakukan ini!" kata Felix.


"Kalau begitu ... tidak masalah! ayo kita selamatakan Balduino! aku tidak akan mengikutimu kalau kau mengatakan soal tanggung jawabmu yang menyebalkan itu. Tapi karena kau mengatakan hanya ingin menyelamatkannya saja tanpa alasan apapun ... aku harus mengikutimu!" kata Teo.


"Itulah kenapa aku menyukaimu!" kata Felix tersenyum.


Teo memelototkan matanya dan menendang kaki Felix dengan keras, "Jangan katakan hal menjijikkan seperti itu lagi!"


Mungkin karena kepribadian Teo dan Felix yang berbeda membuat mereka bisa akur satu sama lain dan saling melengkapi. Saat bersama Tan rasanya ada yang bisa diandalkan, saat bersama Tom rasanya Felix bersama dirinya sendiri dengan wajah yang berbeda. Tapi saat bersama Teo yang karakternya mirip Cain, tidaklah seperti saat bersama Cain tapi seperti sedang bersama dengan seseorang yang memiliki kepribadian yang didambakan Felix untuk dimiliki.


Felix berusaha untuk bisa menjadi seperti Teo tapi tetap saja tidak bisa. Saat berusaha bersikap baik, caranya dan cara Teo sangatlah berbeda. Begitupun dengan reaksi yang mendapat bantuan dari Teo dan Felix. Keduanya sama-sama melakukan sesuatu tapi Teo lebih terlihat tulus dibanding Felix.


***


Karena sudah pernah melakukan perjalanan ke Neraka sebelumnya bersama Verlin, Felix tahu harus lewat mana untuk kesana. Apalagi dengan mengggunakan bantuan Duarte, Felix tidak perlu khawatir tentang jalan dan juga bisa cepat sampai.


"Tuan Muda ... Neraka bukanlah tempat yang layak untuk didatangi!" kata Duarte berusaha menghentikan.


"Kau pikir aku kesini karena mau?!" kata Felix sarkastik.


"Neraka ... kenapa dia membawa Balduino kesana? biasanya kan hanya langsung dibawa ke kastil seperti Magdalene dan Gina ... bukan hanya itu, kenapa hanya Roh nya saja? kenapa bukan tubuhnya yang diambil?" kata Teo.


"Sejak kapan kau menganalisa dulu? biasanya kau hanya langsung memikirkan apa yang terlintas ...." kata Felix.


"Apa ini menandakan bahwa Balduino memang bukan orang jahat?" tanya Teo tidak menanggapi Felix yang sedang meledeknya.


...-BERSAMBUNG-...