
Setelah Felix pergi, Tiga Kembar dan Mertie datang kembali ke tempat Kayle berada.
"Jadi daftar 66 orang ini maksudnya apa?" tanya Teo.
"Jumlah orang yang sudah aku persempit ... mereka tidak ada di desa tadi malam." kata Kayle.
"Bagaimana dengan 11 orang yang terikat di dalam hutan dekat penggalian sumur?" tanya Tan.
"Jadi benar kalian mengikat beberapa orang disana. Tidak ... mereka tidak ada di desa. Yang ada di desa hanyalah 22 orang yang berhasil selamat." kata Kayle.
"Mereka bisa berada dimana saja sekarang. 66 orang adalah jumlah yang sangat banyak ... mereka bisa membunuh banyak orang jika tidak dihentikan." kata Tom.
"Jadi bisa kau ingat wajah 11 orang yang kau ikat itu?" tanya Kayle.
"Ya, tentu saja." jawab Tan percaya diri.
Kayle menunjukkan beberapa foto kemudian Tan serta Teo menunjuk 11 orang itu.
"Setidaknya sekarang sudah bisa dipersempit lagi setelah mengurangi 11 orang jadi tinggal 55 orang. Ditemukan juga 3 korban yang sepertinya sudah lama meninggal. Jadi tinggal 52 orang. 36 dikonfirmasi merupakan siswa dan mahasiswa yang tidaklah kembali tadi malam ke desa. Jadi sisa 16 orang, 11 yang kalian ikat berarti 5 orang lainnya adalah mereka!" Kayle menunjukkan foto, "Kami hanya perlu mencari 16 orang ini! kemungkinan besar mereka dirasuki. Jadi aku kesini meminta ramuan atau apalah yang kalian berikan pada orang yang dirasuki tadi malam, kulihat itu sangat efektif."
"Aku akan menyiapkannya!" kata Tan.
"Baiklah, kalau begitu urusanku dengan kalian hari ini sudah selesai." kata Kayle.
"Disitu bukan pintu keluar!" kata Teo.
"Aku mau menemui salah satu murid disini." kata Kayle.
"Tsabitah?" tanya Tom.
"Ya, dia adalah putri dari salah satu 16 orang yang menghilang dari desa." kata Kayle, "Bagaimana responnya seharian ini? apa dia bersikeras untuk pulang ke desanya?" tanya Kayle.
"Tidak ... dia santai saja!" kata Teo mengingat-ingat.
"Berarti dia berhubungan dengan keluarganya. Dia tahu kalau mereka baik-baik saja. Orang yang dirasuki ini apa akan terus menyerang seperti tadi malam? atau akan ada saatnya dia bisa kembali normal?" kata Kayle menyeringai.
"Tidak, di siang hari iblis yang ada di dalam tubuh manusia akan tertidur. Saat malam tiba baru terbangun kembali ...." kata Tan.
"Jadi, akan terjadi sesuatu malam ini ...." kata Kayle mulai berlari, "Kalian beristirahat saja! biar aku yang melakukan ini!"
"Sudah jelas dia itu sosiopat, kenapa bersikap baik begitu ...." kata Tom.
"Darimana kau tahu kalau dia sosiopat?" tanya Mertie.
"Sosiopat mengenali Sosiopat lainnya!" kata Teo membuat Tom menginjak kakinya, "Aw! belum sembuh tahu!"
"Dia menyuruh kita beristirahat tapi meninggalkan ini." kata Tan memegangi foto dan informasi 66 orang dari desa Quinlan.
"Itu pasti kode untukmu!" kata Tom pada Mertie.
"Memangnya kau bisa menemukan 16 orang ini?" tanya Teo.
"Mungkin ...." kata Mertie mengambil semua informasi itu.
Tiga Kembar dan Mertie mengikuti Kayle yang sedang mewawancarai Tsabitah di ruang makan sekolah dengan berpura-pura ikut makan juga tapi duduk dekat dengan mereka saling membelakangi.
"Kalian tidak mandi dulu baru makan malam?" tanya Petugas dapur.
"Capek pulang balik asrama bu, jadi langsung makan saja." jawab Mertie.
"Jadi, apa ayah dan ibumu menghubungimu?" tanya Kayle pada Tsabitah.
"Siapa dia, kenapa dia berbicara pada Tsabitah? apa dia terjangkit penyakit itu juga? kan ... sudah kubilang kita harus jauh-jauh darinya!" kata Siswi yang tidak jadi makan karena melihat itu. Ruang makan jadi sepi, tidak ada yang ingin makan makanan yang katanya bisa terkontaminasi itu.
"Makanan akan banyak sisa ...." kata Petugas dapur menyayangkan.
"Tidak, mereka tidak menghubungiku sama sekali." kata Tsabitah.
Tsabitah jadi keringatan dan menjatuhkan sendoknya karena gemetaran, "Me ... mereka menghubungiku! tadi pagi!" Tsabitah akhrinya jujur juga.
"Apa yang mereka katakan?" tanya Kayle.
"Katanya jangan mempercayai apa yang muncul di berita. Semua itu bohong ... mereka baik-baik saja." jawab Tsabitah.
"Lalu apa lagi?" tanya Kayle.
"Tidak ada lagi, itu saja!" jawab Tsabitah.
"Ohya? dengan informasi seperti itu bukanlah sesuatu yang layak untuk disembunyikan dan membuat seseorang ketakutan untuk katakan." kata Kayle.
"Ow, boleh juga dia ...." kata Teo yang mendengar dari meja sebelah.
"Sebenarnya ... mereka mengirimkanku banyak uang dan menyuruhku untuk tidak menghubunginya sementara waktu." kata Tsabitah gemetaran.
"Jadi, menurutmu apa maksud dari perkataan orangtuamu itu?" tanya Kayle.
"Menurutku ada yang aneh, mereka seperti akan pergi jauh karena mengirimiku uang yang banyak ...." jawab Tsabitah.
"Benarkan? bahkan kaupun tahu kalau ada yang aneh dengan mereka ...." kata Kayle mulai tersenyum, "Dengar, Tsabitah ... orangtuamu sekarang sedang sakit. Mereka bisa saja melakukan sesuatu yang bisa membahayakan dirinya dan orang lain jadi aku perlu mengetahui nomor yang dia pakai menghubungimu. Aku harus mencarinya secepatnya sebelum terjadi sesuatu!"
Tsabitah mulai mengeluarkan handphone 3g nya yang tidak bisa dihack oleh Y.B.I karena bukan smartphone, "Aku mohon selamatkan dia!" kata Tsabitah.
"Sebenarnya akan lebih baik jika kau memberikannya daritadi ...." kata Kayle.
"Eh? jadi ... apa sudah terlambat?" tanya Tsabitah mulai terisak.
"Entahlah ...." kata Kayle mengembalikan handphone Tsabitah setelah selesai mengambil apa yang dibutuhkanya dan kemudian pergi begitu saja.
"Benar, dia sosiopat!" kata Mertie yang disetujui oleh Tan dan Teo.
"Kan ... sudah kubilang!" kata Tom.
***
Tiga Kembar kembali ke asrama dan langsung masuk ke dalam kamar mereka.
"Kamar kita bersih sekali karena tidak pernah ditempati." kata Tan tertawa.
"Ini apa?" tanya Teo mengambil sesuatu yang diletakkan di meja, "Ada catatan ...."
Tom merebut catatan itu dari tangan Teo, "Kalung ini akan menunjukkan warna sesuai dengan aura yang ada didekat kita."
"Ini tulisan Felix kan?" tanya Teo.
"Jadi alat ini sudah ada, akhirnya ...." kata Tan begitu lega langsung memakai kalung itu.
"Kukira liontin kalung ini sangat sulit ditemukan, hanya dibuat sebanyak 20 di Mundebris. Bagaimana bisa Felix mendapatkannya? dia tidak mencurinya kan?" kata Tom meraba liontin berbentuk seperti dadu persegi empat kecil yang transparan seperti kaca yang kosong tanpa isi dan juga variasi.
"Kenapa ditaruh disini? bukanya diberikan langsung pada kita ...." kata Teo.
Tan dan Tom saling menatap kemudian berlari ke luar kamar.
"Mau kemana kalian?" teriak Teo yang sedang memakai kalung terpaksa ikut lari juga.
"Tidak ada, dia tidak ada!" kata Tom masuk ke kamar Felix.
"Dia mungkin sedang makan malam." kata Teo.
"Felix pasti sedang mencari 16 orang itu sendirian lagi ...." kata Tan mencoba menghubungi lewat Jaringan Alvauden tapi tidak bisa.
...-BERSAMBUNG-...