
Felix lama terdiam, "Hah? kau melihatnya dimana?"
"Tadi sebenarnya aku menyuruh Goldwin segera setelah aku menyadari kau mengirim kelinci itu ke Bemfapirav ...." jawab Cain.
Felix jadi mencengkeram rambut Cain, "Kenapa kau tidak bilang daritadi?!"
Cain balik mencengkeram rambut Felix juga, "Kau tidak bertanya juga!"
"Hahh ... sudahlah ... lagipula saat ini bukan masalah utama sekarang!" kata Felix mulai kembali ke Mundclariss, "Tapi aku tidak pernah melihat Goldwin datang tadi?"
"Leaure dan Unimaris ibaratkan sudah satu tubuh, tapi itu juga pertama kalinya aku mencoba berkomunikasi lewat pikiran seperti tadi ... kukira tidak berhasil karena selama ini aku coba tapi kata Goldwin dia hanya seperti mendengar aku berbicara tidak jelas dan tadi di Rumah Bu Sissy langsung ada yang mencariku dan berterimakasih ...."
"Siapa yang mencarimu?" tanya Felix.
"Seekor kelinci yang sangat besar, aku sampai kaget tadi melihatnya ... kukira mimpi hahaha ... lalu setelah melihatmu tidak ada, kutanya Kak Lia katanya kau ke sekolah jadi aku bergegas kesini juga ...." jawab Cain mulai sibuk dengan smartphonenya melihat langit mulai cerah.
"Kelinci besar itu apa?"
"Aku juga tidak tahu, katanya Goldwin yang mengantar kelinci tadi kepadanya jadi dia datang berterimakasih langsung denganku. .. padahal aku hanya menyuruh saja tidak melakukan apa-apa ...." kata Cain sambil menggaruk kepalanya, "Ayo sembunyi di dalam sekolah sambil menunggu Tan membawakan seragam kita!"
"Kau tidak apa-apa?" tanya Felix.
"Eng?"
"Bukannya kau lelah dan mengantuk sekali tadi?" tanya Felix.
"Lelah dan ngantuk langsung hilang kalau mendengar ada yang selamat karena kita tolong terlebih lagi kalau langsung mendengar kata terimakasih ...." jawab Cain dengan wajah serius tapi lama kelamaan jadi tertawa juga, "Bukankah aku tadi terdengar seperti orangtua saja?"
Felix jadi merasa tenang setelah tertawa juga, "Sebenarnya ada masalah besar yang sedang menggangguku!"
"Setengah Sanguiber tadi kan?"
"Kau tahu sesuatu tentang mereka?" tanya Felix mencoba menatap mata Cain.
"Ow ho ...." Cain menutup matanya, "Aku akan bilang sendiri ... jangan baca pikiranku! tidak sopan!"
Felix hanya menyeringai, "Baiklah ... katakan!"
Cain mulai menceritakan, "Hanya itu saja ... tidak banyak juga yang aku tahu, tapi Banks adalah salah satu korban dalam peperangan melawan setengah Sanguiber saat pemerintahan Sang Caldway ...."
"Tapi kalau memang benar begitu, apa disisi lain Mundebris disini juga adalah perkebunan buah darah?"
"Bisa jadi ... untuk lebih jelasnya ayo kita periksa!" kata Cain mulai mengajak Felix.
Felix ingin segera membuka gerbang tapi dilarang dan Marsden jadi tersentak kaget langsung menutup pintu kembali, "Kenapa?" tanya Felix.
"Kita pakai gerbangku saja! perasaanku tidak enak!" Cain merinding saat baru sedikit saja pintu gerbang terbuka tadi.
Felix yang melihat gerbang kecil Cain tidak berhenti tertawa tapi saat mulai masuk melalui lorong ia berhenti tertawa dan mulai kesal. Bukan hanya sempit tapi lorong untuk bisa sampai terasa sangat panjang. Tak lama kemudian Cain menggambar garis pelindung bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi berdua dengan Felix.
"Jadi apa dengan menggunakan gerbangmu ini tidak akan nampak gerbang ditempat yang kita tuju?"
"Yup! dan kalau gerbang Caelvita muncul tiba-tiba di tempat persembunyian orang jahat kan jadi runyam ... bisa-bisa mereka jadi pergi ...." kata Cain setelah sampai di Mundebris, "Eh, tidak ada apa-apa?" Cain melihat sekitar dan hanya ada pepohonan yang banyak berwarna-warni.
Cain yang awalnya ingin membalas ejekan Felix tidak jadi, "Apa maksudmu ini pohon palsu?"
"Dia tidak bisa berbicara!" jawab Felix.
"Tentu saja kan pohon!" kata Cain jadi tertawa.
"Beda dengan Mundclariss, di Mundebris semua tanaman hidup dan bisa berbicara ... tapi pohon ini bahkan tidak punya perasaan sama sekali, hanya seperti hiasan saja!" kata Felix.
"Tapi yang kudengar dari Goldwin, memang ada tanaman yang seperti ini di Mundebris ... hanya sebagai hiasan saja ...."
"Seharusnya tidak boleh ada tanaman seperti ini ...." kata Felix membuat Cain jadi bingung.
Cain memanggil Goldwin seperti biasa dengan menepuk pergelangan tangan bagian dalam dengan dua jari. Goldwin langsung terlihat keluar seperti dari nadi Cain.
"Sejak kapan tanaman hiasan ditanam di Mundebris?" tanya Felix pada Goldwin.
"Setelah Nona Muda Iriana menghilang, banyak yang mulai menanam pohon hiasan yang katanya bisa sebagai penghasil Viriaer." jawab Goldwin.
"Tidak! tanaman hiasan seperti ini tidak berfungsi sebagai penghasil Viriaer sama sekali!"
Goldwin jadi terbengong, "Tapi Nona Muda Iriana pernah bilang begitu!"
"Kapan dia pernah bilang begitu?" tanya Felix.
"Beberapa hari sebelum menghilang Nona Muda Iriana menyuruh satu desa untuk menanam tanaman hias di depan rumah masing-masing." sahut Goldwin.
"Tanaman hias yang tidak hidup seperti pohon palsu ini berfungsi menyembunyikan sesuatu bukannya penghasil Viriaer!" Felix mulai menarik sebuah pedang yang bahkan hampir sama tinggi dengan dirinya dari belakang punggungnya dan menebang pohon itu.
Setelah pohon itu tumbang muncullah sebuah cela yang bisa terlihat ada sebuah bangunan yang tersembunyi. Felix menaruh kembali pedangnya dengan susah payah dan mulai berjalan masuk diatas pohon yang sudah ditebang tadi dan mulai mengintip. Terlihat banyak iblis yang menjaga kastil itu.
Felix menatap Cain dan Cain hanya mengangguk saja menandakan ia setuju saja ikut. Dengan menggunakan garis pelindung yang dibuat Cain, mereka berdua dengan bebas berjalan masuk tanpa ketahuan.
"Pelindung ada yang rusak, bagi yang tidak bertugas ... hendak memeriksa dan segera melapor!" asal suara dari rumput yang diinjak.
Felix dan Cain kaget mendengar perkataan Rumput yang diinjaknya itu.
Segeralah beberapa dari mereka bergegas menuju asal pelindung yang rusak dengan rumput yang menjadi petunjuk jalan.
Terhalang oleh gerbang yang terkunci rapat tidak bisa dibuka dan iblis yang tetap berdiri tegap menjaga disana. Felix dan Cain akhirnya berjalan memutar tapi tak lama kemudian Felix merasa kepalanya akan pecah dan tersungkur ke tanah membuat Cain panik begitupun Goldwin.
"Pergi darisana!" teriak Iriana.
Felix masih mengeluh kesakitan, "Me ... mang ... nya a ... da ap ... pa?
"Sulit mengatakannya tapi dengan kau yang sekarang ... kau bukan tandingannya sama sekali! cepat keluar ke Mundclariss atau ke Bemfapirav ... keluar darisini secepatnya!" perintah Iriana.
Cain segera membuka gerbangnya, Felix yang masih kesakitan berusaha untuk keluar darisana secepatnya. Saat Felix mulai memasuki lorong terdengar sebuah suara berat laki-laki, "Aura ini? Iriana? tidak mungkin ... Caelvita baru?" kata orang itu.
Felix segera berbalik tapi sudah tidak bisa melihat karena sudah ada didalam lorong, "Siapa yang bisa memanggil nama Iriana dengan mudahnya seperti itu? bukankah jika ada yang mengatakan nama Iriana seperti itu akan langsung mati? bagaimana bisa? siapa dia?"
...-BERSAMBUNG-...