UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.519 - UNLUCKY : Perang Besar Pertama Caelvita-119 Part 2



"Tapi ada yang aneh ... kenapa Ditte tidak melakukan sesuatu?!" kata Verlin saat Teo dan Tom kembali mundur didekat Verlin dan Felix berada.


"Apa maksudmu?!" tanya Teo sedang bersenang-senang melihat bagaimana ciptaannya itu cukup menyulitkan kelompok Efrain. Dua iblis yang sedang berada di dalam gelembung air kelihatan sudah tidak terlalu aktif bergerak lagi.


"Dia yang menjadi pemilik dunia pikiran ini, maksudku ... diantara kita semua. Ditte lah yang paling lama menjadi Zewhit, sudah pasti level dunia pikirannya lah yang paling tinggi dan paling kuat. Maka dari itu, hanya dia pasti yang memiliki dunia pikiran ini. Tapi dia tidak melakukan apa-apa, kalau aku pemilik dunia pikiran ini ... pasti sudah kuhancurkan dunia ini dengan membuat bencana besar." kata Verlin.


"Ah, maaf soal itu Felix ...." kata Teo melihat bagaimana Para Zewhit yang terus ditarik kesana-kemari secara paksa oleh Ditte dengan rantai karena mencoba menghindar dari serangan gunung berair yang Teo ciptakan.


"Mungkin dia sedang menunggu ... ataupun merasa tidak perlu melakukan itu karena hanya perlu menjatuhkan mental pemimpin kita ... Felix." kata Tom saat melihat Felix masih kelihatan melamun, entah pikirannya sedang ada dimana.


"Bisa jadi ... kalau begitu, kita harus bersyukur. Karena sebenarnya kita sangat mudah dibunuh di dalam dunia pikiran yang menjadi sangat besar ini. Banks yang seharusnya menjadi kandidat besar sebagai pemilik dunia pikiran tapi ternyata bukan juga." kata Verlin.


"Apa bukan Zeki?!" tanya Teo.


"Jelas bukan Zeki, dia sedang terluka dan dunia ini kelihatan baik-baik saja. Kalau pemilik dunia pikiran terluka atau sakit maka dunia pikiran juga akan ikut terlihat kacau atau akan ada penyimpangan yang terlihat tapi tidak ada." jawab Verlin.


Tom dengan gerakan cepat berpikir, membuat tanah yang mereka pijaki naik melambung tinggi. Karena Efrain menghancurkan gunung berair yang diciptakan oleh Teo tadi mengakibatkan gelombang air yang deras menghantam dibawah sana sudah membentuk seperti lautan saja.


Banks juga melakukan hal yang sama seperti Tom sambil masih sibuk merawat luka Zeki. Air lebih banyak dari yang diperkirakan, bahkan tanah yang dipijaki dan ditarik keatas itu tetap terkena air.


"Sebenarnya seberapa banyak air yang kau bayangkan ...." kata Tom.


"Aku hanya memikirkan menaruh air sebanyak pantai Shirley." kata Teo polos.


"Pantai Shirley kau pikir, pantai yang kecil?!" teriak Tom melihat air masih terus naik.


"Hebat juga kau bisa membuat sesuatu tanpa menghitung secara tepat. Biasanya tidak akan tercipta kalau kita tidak memikirkan sesuatu secara tepat ukuran dan berapa jumlah yang dibutuhkan. Sepertinya kau memang memiliki bakat pada dunia pikiran ...." kata Verlin.


"Bukan saatnya untuk memujinya!" kata Tom pada Verlin dengan menyipitkan mata, "Ayo cepat hilangkan air ini Teo!"


"Kenapa harus aku?! merekalah yang kesulitan dengan air, kalaupun ada yang ingin menghilangkan air ini ... merekalah yang paling harus melakukannya. Kenapa harus aku yang repot?!" kata Teo santai.


Dan benar saja air mulai terlihat surut dengan Ditte yang sedang menutup mata sambil berpikir.


"Lihat, bukan kita yang paling putus asa disini dengan air." kata Teo.


"Kepribadian Teo lah yang mungkin menjadikannya berbakat dalam hal ini." kata Verlin dalam hati tersenyum.


Tom menurunkan kembali tanah yang menjadi pijakan mereka, sementara Banks masih terlihat seperti berada diatas menara bersama Tan dan Zeki. Banks merasa lebih aman berada diatas ketinggian karena sedang merawat Zeki dan Tan masih kelihatan lemah dan pucat, menjauhkannya dari medan pertempuran adalah hal yang bijaksana.


Tanpa peringatan anak buah Efrain maju menyerang Felix, hanya Verlin yang sempat melindungi Felix dengan kecepatan serangan itu. Teo dan Tom baru sadar setelah musuh sudah berada didepan mata.


"Dia lemah difisik, tapi kuat dipikiran rupanya ...." kata Ditte mengamati Teo, "Kita harus melawannya dengan bertarung secara fisik! jangan biarkan dia sempat berpikir!" kata Ditte memerintahkan setelah menganalisa Teo.


Felix hanya berdiri mematung dibelakang Verlin menatap Zewhit yang sedang dalam kendali penuh Ditte. Sementara Verlin kesulitan menghadapi lawannya sambil terus melindungi Felix yang masih melamun.


Banks terpaksa meninggalkan Zeki yang masih belum sepenuhnya selesai dirawat lukanya karena melihat situasi kelompok Felix sedang dalam keadaan terdesak. Banks bergabung dalam pertempuran barulah kelihatan ada perbedaan besar, juga bisa memukul mundur sebagian iblis.


"Banks, Tan!" teriak Teo melihat ada iblis yang sedang berlari ke arah Tan dan Zeki berada.


Semuanya sedang sibuk dengan lawan masing-masing, jadi tidak ada yang bisa menyusul kesana dengan cepat.


"Aku akan tercatat dalam sejarah sebagai pembunuh Alvauden ...." tawa keras Iblis yang sudah siap menghunuskan pedangnya pada Tan yang sedang terbaring.


"Tan!" teriak Teo dan Tom panik.


Banks menggunakan seluruh tenaganya untuk bisa melarikan diri dan menyelamatkan Tan.


"Kau pikir semudah itu tercatat dalam sejarah?!" kata Tan yang kini wajahnya dipenuhi darah iblis.


Banks lega karena Tan ternyata bisa melindungi dirinya sendiri.


"Pemilik Tellopper tidak perlu bergerak, karena Tellopper sendirilah yang bebas bergerak ...." kata Tan menarik paksa tubuh iblis itu dengan menggunakan Tellopper agar terjatuh ke bawah setelah Tellopper menusuk dada iblis itu.


Banks langsung menghabisi iblis yang hendak membunuh Tan tadi setelah terjatuh dari ketinggian. Roh iblis itu keluar dan langsung diserang lagi sementara masih kelihatan kebingungan karena baru saja meninggal.


"Beraninya kau mau membunuh muridku?!" kata Banks tidak memberi ampun sama sekali, "Iblis muda sepertimu ...." Banks masih dalam mode kesal.


Akhirnya Efrain kelihatan mulai maju disamping Ditte, mengambil alih tali kekang pada semua Zewhit dari Panti asuhan Helianthus.


"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, tidak akan ada lagi Caelvita setelah Iriana dan tidak akan ada lagi seseorang yang tidak beruntung di seluruh dunia. Akan kumulai dari mereka ini ...." Efrain mencekik salah satu Zewhit yang merupakan petugas panti. Zewhit itu kelihatan tidak bergerak sama sekali, tidak ada yang menolak atau melawan. Perlahan petugas panti itu menghilang bersamaan dengan genggaman tangan Efrain yang mulai kosong dan hanya diisi oleh asap.


"Felix ...." Tom gelisah melihat tatapan Felix yang sangat marah itu.


"Mereka ditangkap bukan untuk digunakan seperti Zewhit lainnya, tapi untuk dibunuh lagi dihadapan Felix ...." kata Verlin dalam hati.


Efrain mulai berjalan lagi mencari target selanjutnya. Kali ini bukan petugas panti tapi seseorang yang kelihatan seumuran dengan Felix walau dengan tubuh fisik yang sudah tidak bertumbuh lagi selama tiga tahun terakhir.


"Tidak ... jangan dia!" Felix akhirnya mulai mengeluarkan kalimat lagi setelah lama diam.


"Majulah dan selamatkan dia, kalau begitu." Efrain menantang.


Suara gemuruh mulai terdengar dari kejauhan bersamaan dengan air mata Felix yang jatuh ke tanah.


"Ah, ternyata bukan Ditte ... tapi Felix! Felix lah pemilik dunia pikiran ini ternyata ...." Verlin tersenyum lebar melihat apa yang mulai mendekat itu.


...-BERSAMBUNG-...