
Felix melihat banyak yang terkapar di lantai dengan kulit sudah meleleh. Dengan dipenuhi amarah Felix melangkahkan kakinya melangkahi orang-orang yang sudah terlihat tidak bernapas lagi. Felix melirik ke bawah memeriksa mungkin saja masih bisa diselamatkan tapi sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Dengan berat hati Felix melangkahkan kaki dengan memantapkan hatinya untuk rela melepas kematian orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang terjadi itu. Felix fokus untuk mencari kedua sahabatnya.
Sampai di depan sebuah pintu, Felix langsung membuka pintu dengan memegang gagang yang begitu panas. Tapi itu tidak melukai tangan Felix sedikitpun. Terlihat Tan dan Teo berada di atas tumpukan lemari yang sengaja disusun untuk menyelamatkan diri.
"Felix ...." seru Tan dan Teo begitu senang melihat kedatangan Felix.
Teo mencoba memegang api hijau yang dibuat Felix tapi nyatanya tidak panas melainkan sedingin es.
"Berarti ini tidak akan melukai?" tanya Tan.
"Kita harus segera keluar darisini!" kata Felix tidak ada waktu untuk menjelaskan, "Ya ... aku hanya perlu mengeluarkan kalian darisini sekarang!" lanjut Felix dalam hati.
"Kita harus mencari orang-orang yang bisa diselamatkan!" kata Teo.
"Setelah kalian keluar darisini!" teriak Felix.
"Bukankah niat awal kita melakukan ini untuk menyelamatkan ...." teriak Teo menghentikan aktivitas Felix.
"Itu kalau ada yang bisa diselamatkan!" balas Felix memperlihatkan keadaan yang ada diluar dipenuhi orang-orang yang sudah tidak bisa diselamatkan.
"Pasti ada yang masih selamat!" kata Tan.
Felix memegang bahu Tan dan Teo, "Aku mohon! aku butuh kalian selamat dulu ... baru aku bisa dengan tenang menyelamatkan yang lain ...." kata Felix.
"Apa kami memang hanya beban bagimu Felix? apa kami tidak bisa berguna untuk ikut membantumu?" kata Tan merasa kecewa.
"Jangan katakan hal seperti itu ... kalian adalah hidupku! kalau terjadi sesuatu dengan kalian, menyelamatkan orang lain pun aku tidak akan bersemangat lagi!" kata Felix berusaha meyakinkan.
Felix menarik paksa Tan dan Teo untuk pergi dari lantai itu tapi ternyata api sudah menyebar dengan cepat ke lantai lainnya.
"Bagaimana dengan Tom dan Cain?" tanya Teo.
Felix mulai panik karena kini dikelilingi oleh api, bahkan api hijaunya sudah mulai menipis dan perlahan api merah mulai melukai mereka, "Aw!" teriak Teo ketika terkena percikan api. Melihat itu Felix mulai berlari ke lantai bawah dengan masih menarik Tan dan Teo. Bermodalkan perisai api hijau Felix yang sudah tipis mereka berusaha turun ke lantai bawah.
"Kalian selamat!" teriak Tom begitu senang menyambut di lantai satu.
"Apa yang terjadi? kenapa kalian tidak keluar?" tanya Felix melihat dinding kaca dan pintu kaca sudah hancur.
"Kita tidak bisa keluar!" sahut Cain.
"Apa maksudmu?" tanya Teo.
"Sepertinya Efrain memasang perisai, membuat kita tidak bisa keluar darisini!" jawab Cain.
"Apa?!" Felix segera berlari untuk keluar tapi terpental kebelakang.
"Dari awal gedung ini digunakan untuk mengurung kita!" kata Cain membantu Felix berdiri.
Diluar juga terlihat seperti saat mereka melompati waktu, mobil pemadam kebakaran banyak yang terbalik. Banyak yang berkumpul di depan gedung perusahaan tapi tidak bisa berbuat banyak karena api sudah begitu besar.
"Goldwin dimana?" tanya Tan.
"Hanya Goldwin yang bisa bergerak bebas, sekarang dia sedang membawa orang-orang yang masih bisa diselamatkan keluar gedung dengan kekuatan teleportasinya!" jawab Cain.
"Kutebak ... dia tidak bisa membawa kita?" tanya Teo.
"Goldwin membuang banyak waktu untuk mencoba mengeluarkan aku dan Tom tapi hanya bisa sampai di lantai satu ini, tidak lebih ... makanya aku menyuruhnya untuk menolong orang lain saja dulu!" jawab Cain.
"Yang mencium asap dari serbuk yang yang kutiup tadi akan kehilangan ingatan tentang kejadian ini ... takutnya ada yang sadar saat diselamatkan Goldwin!" kata Tan.
"Goldwin membawa ramuan dari Banks, tenang saja!" kata Cain.
Atap lantai satu mulai bergoyang dan turun serpihan dan serbuk dari lantai atas yang menandakan tidak lama lagi mereka akan tertimbun reruntuhan.
"Kita tidak bisa ke Bemfapirav ataupun Mundebris!" kata Teo menyerahkan kacamata hadiah ulangtahunnya pada Felix yang menunjukkan bahwa di Bemfapirav saat ini juga ada kebakaran begitupun di Mundebris. Efrain menutup segala macam jalan keluar mereka.
Felix, Cain, Tan dan Teo mengeluarkan senjata mereka dan memukul perisai dengan segenap kekuatan tapi berkali-kali mereka hanya terpental. Bahkan Felix sudah menarik semua alat yang ada dipunggungnya tapi tidak ada yang cukup kuat bisa menghancurkan. Hingga akhirnya muncullah Tom dari belakang menyeret suatu benda berat dan mulai mengayunkan tangannya. Dengan sekali pukulan, perisai yang dibuat Efrain hancur oleh kapak bermata dua Tom.
"Sesemax!" seru Felix yang tidak bisa menyembunyikan betapa bahagianya bisa melihat senjata Tom muncul. Padahal selama ini ia berharap Tom tidak segera memunculkan senjata Alvaudennya, "Tidak kusangka kau akan mendapatkan senjata penghancur itu!" kata Felix saat mereka berhasil keluar.
Goldwin datang dan langsung membawa mereka ke halaman istana Leaure.
"Siapa yang memiliki ini dulunya? Zeki kah?" tanya Tom.
"Bukan! Zeki dulunya memunculkan Moshas milik Teo." jawab Felix akhirnya jujur.
"Cepat juga kau bilang! selama ini kau sudah tahu kan?! tapi menyembunyikannya!" kata Teo.
"Lalu siapa?" tanya Tom tidak ingin berakhir seperti Teo yang lama baru tahu siapa pemilik senjata Alavuden sebelumnya yang sekarang miliknya.
"Salah satu Alvauden Iriana dulunya ...." jawab Felix.
"Bukankah itu sudah jelas!" kata Tom tidak habis pikir dengan jawaban Felix.
Felix tidak merespon lagi, "Kalau aku beritahu, pasti kalian akan mencari mereka untuk berlatih. Tapi bagaimanapun mereka adalah sahabat Efrain, Alvauden Iriana. Aku tidak bisa mempercayai mereka sepenuhnya bahkan Zeki sekalipun." kata Felix dalam hati.
Cain masuk kedalam istana meninggalkan Felix dan Tiga Kembar di halaman istana, "Kenapa dia?" tanya Tan.
"Jangan hiraukan! dia hanya kesal karena masih tidak bisa mengalahkan permainan Efrain ...." jawab Goldwin mulai masuk juga ke dalam istana untuk mengejar Cain.
"Aku sudah mencari tahu semua tentang senjata Alvauden dan bertanya-tanya kau akan mendapatkan senjata yang mana ternyata ...." kata Felix membaringkan dirinya.
"Wah, berat sekali!" kata Tan kesusahan mencoba mengangkat Sesemax sedangkan Tellopper miliknya begitu ringan.
"Jangan bilang kau bisa dengan mudah mengangkatnya?" tanya Teo mengira kalau Pemilik Sesemax mendapat pengecualian.
"Tidak! aku merasakan beratnya sama seperti kalian ... tadi aku hanya terdesak makanya bisa mengangkat dan mengayunkannya dengan mudah tapi sekarang ... bahkan untuk menggerakkannya sedikit seperti ini susah!" kata Tom menertawakan dirinya yang tadi sungguh terdesak sehingga bisa mengangkat senjata super berat itu.
"Kita sudah dilengkapi senjata semua!" kata Teo.
"Itu bukanlah pertanda baik! itu tandanya kita sudah benar-benar terpojok oleh kelakuan Efrain!" kata Felix.
"Tapi setidaknya kami sudah bisa melindungi diri sendiri!" kata Tan.
"Senjata hanya bisa melindungi jika diketahui bagaimana menggunakannya dengan baik, bagaimana kita mengenalnya dengan baik ... kalau tidak, malah akan berbalik melukai!" kata Felix.
"Maksudmu, kami harus berlatih kan?!" tanya Tom tertawa.
"Maksudku ... em ... ya memang begitu!" jawab Felix yang dihadiahi pukulan oleh Tan, Teo dan Tom.
Sementara itu Cain langsung mengurung diri di kamarnya, "Aku masih saja kalah olehnya!" kata Cain memukul kepalanya, "Sangat memalukan! selanjutnya tidak akan lagi ...."
...-BERSAMBUNG-...