
Verlin langsung menanyai Goldwin dimana keberadaan barang bawaan Franklin. Goldwin membuat garis dan muncullah semua barang bawaan Franklin yang telah disita. Verlin langsung mencari papan permainan yang digunakan untuk memonitori berlangsungnya permainan, "Kau benar berhasil menangkapnya ...." kata Verlin sambil membuka papan permainan itu.
"Kau menangkapnya di masa lalu eh, maksudku kemarin?!" kata Tom ingin tertawa karena takjub Cain berhasil menangkap penjahat di hari kemarin yang sudah berlalu. Padahal jelas-jelas Cain kemarin hanya berada di sekolah.
Felix memukul wajah Franklin yang tidak berhenti tersenyum menatapnya, "Apanya yang lucu? kau senang bertemu denganku, huh?!" Felix memukul lagi.
"Ini pertama kalinya aku bertemu dengan Caelvita! aku sudah hidup di dua generasi masa pemerintahan Caelvita tapi ini pertama kalinya Caelvita langsung muncul dihadapanku!" kata Franklin dengan wajah babak belur tapi senyuman tidak lepas dari wajahnya.
"Sejak pemerintahan Caelvita-47 memang tidak menganjurkan Caelvita untuk tidak bertemu lagi dengan Pembuat Permainan Tukar Kematian!" kata Zeki.
"Dengan alasan?" tanya Tan.
"Entahlah, tapi Iriana saat itu sudah resmi menjabat dan ketika Caelvita sudah resmi maka akan muncul catatan yang ditinggalkan Caelvita sebelumnya untuk dijadikan pedoman dalam menjalankan masa jabatan!" jawab Zeki.
Felix berusaha membaca pikiran Franklin tapi tidak bisa dan pandangannya kemudian teralihkan oleh papan permainan yang sedang dipegang oleh Verlin, "Bukankah itu batu safir!" kata Felix mulai mendekat untuk melihat papan permainan itu lebih jelas.
"Ini adalah benda pusaka milik Kerajaan Ruleorum! entah bagaimana tapi benda pusaka ini tidak bisa disimpan di dalam kerajaan dan terus menerus menghilang hingga menemukan seseorang untuk dijadikan sebagai pewaris papan permainan ini ...." kata Verlin.
"Aku sudah melakukan tiga set permainan dengan yang hari ini tapi tidak ada yang gagal sama sekali! kau tahu apa artinya itu?!" kata Franklin seperti menantang, "Ada alasan kenapa Caelvita dianjurkan agar tidak ikut campur dalam hal ini dan hanya menyuruh untuk menangkap pembuatnya ... tidakkah terlintas di pikiran kalian, para Alvauden?"
"Hahh ...." Cain menghela napas panjang, "Jauhkan dia dari pandanganku! jangan sampai aku membunuhnya tanpa kusadari!"
"Kau sudah tahu siapa saja korbannya, Verlin?" tanya Felix.
Verlin hanya mengangguk dan melepas papan permainan yang tidak bisa diapa-apakan lagi itu.
"Mari kita buat para korban agar bisa beristirahat dengan tenang!" kata Felix yang sepertinya sudah menyadari makna tersembunyi dari perkataan Franklin, "Biar aku yang membawanya ke penjara Aluias! kalian datangi para korban!"
"Perlu kuingatkan, kuatkan hati kalian! karena permainan ini bisa membuat kalian ikut tertekan ...." kata Zeki.
"Cain, kau temani mereka!" perintah Felix yang mulai membawa masuk Franklin ke Mundebris.
"Aku tidak mengerti! jika disebut permainan maka pasti ada cara untuk bisa mengubah permainan ini ...." kata Tom.
"Ayo kita pergi!" Verlin mulai menutup papan permainan itu.
***
"Anda pasti sudah mengerti kan?" tanya Franklin saat Duarte mendarat di depan kantor Aluias.
Felix hanya diam saja dan menyeret Franklin masuk ke dalam kantor kosong itu. Terlihat ada anjing yang menjaga di depan penjara, "Tuan Muda!"
"Kurung dia! jangan sampai lepas!" perintah Felix.
"Bahkan aku sudah muak melihat wajahnya!" kata salah satu anjing.
"Bahkan kantor belum buka pun kau sudah berbuat kejahatan!" sahut anjing yang lain mulai menutup pintu penjara. Franklin memang sudah bolak-balik masuk penjara beberapa kali. Memang sudah dicegah banyak kali setelah dua set permainannya dilakukan. Hingga di bawa ke penjara Neraka yang membuatnya bisa ditahan lama saat pemerintahan Caelvita-118 tapi ternyata bisa kabur juga disaat Viviandem belum dibangkitkan saat ini.
"Disini aman, kan?" tanya Felix.
"Tenang saja, Tuan Muda! kantor ini tetap berfungsi sebagaimana mestinya tanpa Viviandem!"
"Baiklah, aku mempercayai kalian!" kata Felix yang memang tidak merasa jika yang dikatakan anjing itu adalah bohong. Karena ada beberapa penjahat yang belum dipindahkan masih dikurung disana juga padahal penjara di kantor Aluias hanyalah penjara sementara. Penjahat yang dikurung disana harus menunggu Viviandem bangkit agar bisa diadili. Mungkin ada juga penjahat lainnya dikurung disana tapi jika itu Viviandem maka pastinya sekarang sedang menghilang. Tapi saat dibangkitkan otomatis akan tetap langsung terkurung disana karena memang Viandem menghilang dan dibangkitkan di tempat yang sama.
Para anjing penjaga disana juga tidak pernah meninggalkan tempat jaganya. Bahkan Felix baru tahu ada seseorang di dalam Kantor Aluias setelah masuk ke dalam memeriksa.
"Jangan dengarkan Tuan Muda, dia ini pencuri! kalau dilepaskan, otomatis semua harta Viviandem yang tidak sedang menjaga rumahnya akan langsung habis semua olehnya!" kata anjing penjaga.
"Jangan biarkan siapapun masuk ke kantor ini!" perintah Felix sebelum keluar.
"Memang tidak ada yang bisa masuk kesini kecuali Aluias, Caelvita, dan Alvauden ... Tuan Muda!" kata anjing penjaga.
Felix lega mendengar itu tapi tak lama mulai berpikir, "Tunggu ... Alvauden juga?" Felix mengingat bahwa musuhnya, Efrain adalah seorang Alvauden juga. Walau mantan Alvauden tapi tetap saja gelarnya itu tidak hilang, "Apa tidak bisa diatur ulang?" tanya Felix tidak jadi keluar kantor.
"Bisa saja Tuan Muda, tapi kami tidak tahu ... hanya Viviandem yang mengatur sistem seperti itu!"
"Dimana tempat untuk mengubah sistem itu?" tanya Felix.
"Di bawah tanah Tuan Muda, ada tempat untuk mengatur sistem secara keseluruhan kantor ini!"
"Antar aku kesana!" akhirnya Felix harus menunda untuk membantu yang lainnya di Mundclariss karena akan percuma juga jika Efrain datang melepaskan semua penjahat yang ada disini. Terlebih lagi sisi lain Mundclariss dari sini adalah panti asuhannya. Felix tidak bisa membiarkan jika para penjahat itu membuka gerbang dan keluar ke Mundclariss dan langsung tiba di panti asuhan.
***
"Wah, apa-apaan ini!" kata Teo dan Tom takjub melihat benang merah mengambang dan menghalangi jalan.
"Ini adalah tanda seorang pemain atau yang akan menjadi korban permainan ini!" kata Zeki.
"Kita sudah sampai, korban pertama!" kata Verlin menunjuk sebuah rumah.
"Apa kita hanya perlu menghancurkan item yang dibeli dari Franklin itu?" tanya Teo.
"Tidak dihancurkan juga akan hancur dengan sendirinya kalau tidak dihancurkan dalam hitungan 90 hari!" kata Zeki.
"Jadi nyawa para korban hanya berkisaran sekitar 90 hari?" tanya Tom heboh.
"Tidak semuanya, ada 10 korban makanya akan ada 5 orang yang mati dalam waktu 90 hari itu!" jawab Verlin.
"Tunggu dulu!" Cain duduk dan memegang kepalanya karena sakit, "Jangan katakan ...."
"Kita adalah salah satu pemain disini!" kata Zeki kagum karena Cain cepat menyadari.
"Apa?!" teriak Tiga Kembar bersamaan.
"Memang 5 orang korban akan mati dalam 90 hari tanpa kita melakukan apa-apa tapi yang akan mati sangatlah random ... kita disini sebagai penentu, memilih siapa yang harusnya mati dengan melakukan sesuatu!" kata Verlin.
"Hahh ...." Tan dan Teo menghela napas, "Maaf tapi sepertinya kami tidak bisa ikut campur dalam permainan ini!"
"Jadi bagaimana jika ada anak kecil yang baru lahir akan mati dalam 90 hari padahal kita bisa menukar kematiannya dengan orang tua yang sudah berumur?! apa kalian tidak mau mengambil resiko itu?!" kata Tom.
"Kematian seseorang bukan kita yang mengatur!" kata Tan membantah Tom
"Walau kita bisa melakukan sesuatu, kita tidak berhak menjadi penentu kematian seseorang!" kata Teo ikut membantah Tom.
"Itu terserah kalian! tapi aku dan Verlin akan bergabung dalam permainan ini! kalian bisa pergi ...." kata Zeki.
...-BERSAMBUNG-...