UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.334 - Bank Ide



"Apa yang akan kau lakukan? kalau mau membuat garam seakan menjadi pupuk itu akan menjadikan orang-orang lebih curiga lagi. Disini dilarang berkebun, jadi tanaman yang ada disini itu bukan milik warga desa. Tanaman sayuran ini hanyalah tanaman liar yang tumbuh bukan karena ada yang sengaja menanamnya. Mungkin saja ada yang sengaja ... Tapi ... Sudahlah ... Sumur itu juga bukan milik warga desa tapi milik pemerintah untuk digunakan saat musim panas hanya digunakan untuk menyiram pepohonan disini." kata Tom.


"Maka dari itu, hanya warga desa yang bertugas merawat hutan ini yang diperbolehkan masuk kan? kulihat tadi ada yang memakai rompi bertuliskan Penjaga Hutan Desa Quinlan." kata Teo.


"Maka dari itu? kau tidak mengerti apa maksudku bahkan setelah panjang lebar menjelaskan ...." kata Tom heran sekaligus kesal.


"Jadi bagaimana cara penggunaan garam ini untuk mencari tahu kelembaban tanah? tidak mungkin langsung disebar saja, pasti tidak akan kelihatan kalau garamnya sudah mencair." kata Teo.


"Biasanya ditumpuk kemudian ditutupi dengan gelas ukur atau semacamnya yang mempunyai ukuran untuk mempermudah pengukuran kelembaban tanah. Kemudian ditunggu dan diamati bagaimana garam yang tadinya penuh itu perlahan menyusut." kata Tan.


"Ok!" kata Teo begitu bersemangat dan mulai berjalan entah kemana.


"Apa yang sebenarnya dipikirkannya?" tanya Tom.


Tan menjawab dengan menggerakkan bahunya saja cukup menjelaskan kalau itu adalah ekspresi yang menyatakan, "Entahlah ...."


Teo kembali dengan beberapa rongsokan kaleng di tangannya, "Minggir!" Teo melemparkan kaleng-kaleng itu ke tanah.


"Jadi ... tepatnya dimana korban itu berada?" tanya Teo.


"Dibawah kakimu." sahut Felix.


"Apa ada sumber air di bawah sini?" tanya Teo.


"Tidak ada!" sahut Felix membuat Teo tersenyum kecut.


"Apa yang akan kau lakukan? mau buat mie instant?!" Tom tertawa melihat Teo yang seperti sedang bermain masak-masakan.


Teo tidak perduli dan hanya terus melanjutkan apa yang dilakukannya. Menjadikan kaleng besar menjadi kompor dan memasukkan kayu kecil disana dan benar menyalakan api. Ditaruhnya lagi kaleng di atas kaleng kompor itu dengan diisi air dan diberi daun-daunan seperti sedang memasak sayur.


"Kau sudah gila ya?!" Tom mulai memandang Teo dengan tatapan aneh.


"Kaleng itu, bukan kau yang melobanginya kan? dan terlihat sudah hitam seperti sudah digunakan sebelumnya ...." kata Tan.


"Bukankah tadi sudah kubilang kalau aku melihat seragam penjaga hutan ...." kata Teo.


"Lalu? ada apa memangnya dengan itu?" tanya Tom.


"Dia punya anak perempuan dan saat sampai disini aku melihat ini sudah ada disana. Itu tandanya anak penjaga hutan itu sering bermain disini karena hanya diperbolehkan bermain disini yang tidak ada pepohonan." jawab Teo.


"Anak itu akan bilang kalau dia tidak melakukannya disini ... tapi disana!" kata Tom mulai mengerti apa yang dilakukan Teo.


"Hanya berjarak beberapa meter, tidak akan ada yang percaya perkataan anak kecil. Pastinya orangtuanya hanya akan bilang kalau dia lupa saja." kata Teo mulai mengisi sebuah kaleng dengan garam tapi tidak sampai penuh. Hanya dibuat seperti penuh saja dengan menempelkan garam secara menyeluruh. Setelah itu kaleng berisi garam itu dibuat terbalik menghadap ke tanah.


"Oke, kalau begitu kita tinggal hancurkan sumur itu!" kata Tom tersenyum bangga dengan ide cemerlang Teo itu walau tidak diungkapkan dengan kata-kata.


Tom dengan mudah menghancurkan sumur itu dengan Sesemaxnya. Membuat sumur itu betul-betul tertimbun dan tidak bisa dipakai lagi.


"Meski begitu, ini sama saja dengan permainan keberuntungan." kata Tan.


"Setidaknya keberuntungan kita bertambah beberapa persen berkat Teo." kata Felix.


"Apa garamnya tidak terlalu banyak? kalau jumlahnya akan tetap begini saat ditemukan bagaimana?" tanya Tan ingin mengurangi jumlah garam yang ada disana.


"Kata ramalan cuaca akan hujan gerimis malam ini jadi pasti tanah yang tidak ada sumber airnya ini akan membuat jumlah garam yang ada disini menyusut juga." kata Teo mematikan api.


"Kau bahkan membaca ramalan cuaca?!" Tom heran.


"Kau tahu kenapa muncul pepatah Sedia payung sebelum hujan? ada yang mengatakan kalau itu dibuat oleh peramal agar bisa mempunyai banyak uang dan di zaman ini aplikasi ramalan cuaca di handphone lah yang sangat banyak digunakan. Jadi berterimakasihlah padaku karena menyiapkan kalian semua jas hujan." kata Tan.


"Omong kosong apaan itu?!" kata Tom.


"Katanya hanya gerimis, tidak usah pakai jas hujan segala ...." kata Tan.


"Begini cara kalian berterimakasih?" tanya Teo tidak habis pikir.


Felix mengambil batu dan menaruhnya diatas kaleng yang berisi garam itu agar tidak bergerak. Kemudian mulai meninggalakan Tiga Kembar yang masih beradu mulut.


"Setidaknya bisa melindungi hutan ini." kata Tan mengambil sisi baiknya saja.


"Eh, kemana Felix?" tanya Teo melihat sekitar, "Tadi, dia masih ada disini ...."


"Dia sudah ke kuburan selanjutnya pastinya ... ayo kita juga kesana!" kata Tan.


"Dimana ya? aku sudah lupa karena malam itu gelap sekali." kata Teo.


"Aku masih ingat!" kata Tan memimpin jalan.


Tiga Kembar menemukan Felix yang sedang ada di atas bebatuan besar di pinggir sungai.


"Jangan bilang ...." kata Teo dengan wajah memelas.


"Mau kita berlatih bagaimanapun tidak akan sekuat iblis sehingga bisa dengan mudah mengangkat batu besar ini ...." kata Tan.


"Tangan kita akan patah kalau mengangkat batu ini." kata Teo.


"Adik Efrain ini bisa dibilang kurang kerjaan sekali. Memindahkan batu besar ini kemudian menggali tanah yang ada di bawah batu ini dan mengubur korban. Kemudian mengembalikan batu-batu tadi ke tempat semula ... hahaha." kata Tom tercengang.


"Meminimalkan korban ditemukan dalam waktu dekat, menurutku dia cerdas sekali!" kata Tan.


Teo memercikkan air dari sungai pada Tan, "Sekali lagi kau memujinya, akan aku tenggelamkan kau disini!"


"Jadi apa kau punya ide untuk ini?" tanya Felix menatap Teo yang sedang membasuh wajahnya.


"Em ...." Teo mengelap wajahnya dan saat membuka mata semua mata tertuju padanya, "Kenapa kalian menatapku seperti itu?!" Teo kaget.


"Bukankah kau yang selalu punya ide cemerlang." kata Tom.


"Tapi ini ...." Teo terbatuk-batuk merasa terbebani sebagai Bank Ide Tak Terduga.


"Tom bisa menghancurkan batu disini dengan mudah memakai kapaknya, tapi batu yang tiba-tiba hancur tanpa alasan yang jelas terutama air sungai setenang ini akan menimbulkan kecurigaan ada yang sengaja memecahkannya. Tan juga punya ramuan untuk menghancurkan batu ini. Tapi yang kita butuhkan adalah cara yang sederhana. Harus terlihat alamiah, ditemukan dengan cara tidak sengaja ... tapi bagaimana cara kita memancing seseorang kesini?" kata Felix.


Tan, Tom dan Felix terus menatap Teo, "Jadi? apa solusimu?" tanya Tom.


"Tidak tahu!" jawab Teo yang kemudian dihadiahi cemoohan dari Tom dan Tan.


"Sudah kuduga, yang tadi itu hanya kebetulan saja terlintas dipikirannya yang sempit itu ...." kata Tom.


"Tidak selamanya aku terus punya ide tahu!" Teo membela dirinya, "Tunggu ... pohon yang ada di atas tebing itu pohon pinus kan?" tanya Teo.


"Iya!" sahut Tan setelah memperhatikan baik-baik dengan mendongakkan kepalanya.


"Kira-kira berapa harganya?" tanya Teo.


"Dengan bentuk yang seperti itu bisa ratusan atau bahkan miliaran mungkin ...." kata Tom.


"Jadi, mahal kan?" Teo mulai menyeringai.


...-BERSAMBUNG-...


Mohon bantuannya untuk vote di Aula Kehormatan Novel 2021 (Battle Karya Populer) periode : 23 desember - 3 januari.




Unlucky masih ada di urutan 10 untuk saat ini tapi setelah kalian baca ini pasti udah dibawah banget lagi😢😅 karena cuma saya sendirian yang vote🤧


Gak berharap untuk juara 1, cuma ingin selalu di urutan 10 besar supaya bisa dilihat banyak orang dan akhirnya ada yang tertarik untuk baca🥰


Mohon bantuannya ya!😉💞