
Daisy terpaksa harus sendirian menyelidiki Pabrik Daging Carlton Group yang sudah tidak terpakai lagi itu karena tidak ada pihak polisi yang mempercayainya. Bahkan rekannya Hubert yang selalu menemaninya saat menyelidiki tidak bisa ikut membantu karena melakukan penyelidikan di tempat lain.
Terlebih lagi penculikan anak di bawah umur, semua personil kepolisian dikerahkan untuk mencari secara teliti bukan hanya berdasarkan informasi yang tidak jelas. Informasi tanpa nama itu tidaklah bisa dikatakan akurat maka dari itu Daisy tidak bisa menyalahkan jika memang tidak dipercayai.
Dengan berbekalkan tekad, Daisy masuk ke dalam pabrik daging yang sudah tutup itu untuk mencari keberadaan Cain. Penjagaan super ketat dari preman sangat jelas kalau ada sesuatu di dalam sana yang disembunyikan, "Mereka ini ... bodoh atau bagaimana? menjaga pabrik daging yang sudah tutup apa maksudnya?" kata Daisy tidak habis pikir.
Sudah berulang kali Daisy melewati bahaya dan bisa hidup sampai sekarang merupakan simbol dari keberanian dan kerasnya dalam bertahan hidup menjadi seorang jurnalis. Dengan percaya diri Daisy masuk melewati penjagaan preman dengan memakai penyamaran sebagai staf dari Carlton Group yang bertanggung jawab merawat pabrik daging yang tutup itu.
"Gedung sudah tidak beroperasi lagi, untuk apa dirawat?" tanya salah satu Preman menghadang Daisy.
"Kalian menyewa gedung ini sudah menjadi jawaban. Karena gedung ini sudah tidak bisa beroperasi seperti dulu lagi menjadi pabrik daging ... maka dari itu hanya bisa dijadikan tempat untuk orang seperti kalian bersembunyi atau menyembunyikan sesuatu! sudah ... beri aku jalan atau aku akan menghubungi atasanku yang tentunya atasan kalian juga ... dan kalian harus angkat kaki darisini!" jawab Daisy tanpa rasa takut sedikitpun, "Kalian bisa dengan bebas menggunakan tempat ini sesuai bayaran kalian. Bebas untuk membunuh dan meninggalkan bekas darah di lantai tapi jika ada kerusakan sedikit saja di dalam gedung, kalian tidak akan aku ampuni!"
Dengan menggunakan tanda nama pengenal staf Cartlon Group sebagai penyamaran identitas yang memang sudah lama dibuatnya, Daisy bisa mengelabui preman itu. Pengawasannya tentang Carlton Group selama ini membuahkan hasil, Daisy tahu bahwa memang ada yang selalu datang untuk memeriksa keadaan semua gedung perusahaan bahkan setelah tutup. Digunakan sebagai tempat untuk penjualan atau penukaran barang ilegal.
Segera setelah masuk, Daisy bersikap sebiasa mungkin padahal kakinya sudah ingin berlari langsung mencari keberadaan Cain. Daisy takut jika sudah terjadi sesuatu dengan Cain, terlebih lagi tidak ada bantuan dari pihak polisi. Satu-satunya cara untuk memanggil polisi adalah dengan mendapatkan bukti keberadaan Cain disana.
***
"Lihat, siapa yang datang!" kata Efrain dengan suara kerasnya yang menggema, "Bukankah saat ini masih sedang Neumbell ... walau begitu, sekarang adalah satu hari sebelum permainan berakhir ... tidaklah bijak melakukan rapat ulang padahal besok kita sudah saling berperang."
"Apa dia sedang akting atau memang tidak mengetahui keberadaan Cain ...." kata Felix dalam hati, "Kedatanganku kesini ... untuk menanyakan keberadaan Cain!" kata Felix tidak berniat berbasa-basi.
"Cain?! kenapa mencari dia disini?" tanya Efrain.
"Dia kelihatannya tidak sedang berpura-pura ...." kata Felix dalam hati meneliti ekspresi Efrain.
"Bukankah lancang membawa senjata kalian saat masih masa Neumbell?!" kata Efrain.
"Apa benar kau tidak mengetahui keberadaan Cain? atau kau hanya berpura-pura?" tanya Dokter Mari sudah tidak berniat bersopan-santun seperti dulu lagi.
"Berani sekali seorang Setengah Viviandem berbicara informal padaku! walau kau seorang Leaure tapi tidak ada pengecualian jika kau tidak tahu cara menghormati ...." kata Efrain.
"Ini bukan lagi masa pemerintahan Caelvita 118!" kata Dokter Mari tegas.
Efrain mengatupkan giginya dengan amarah yang ditahan, "Iriana akan menjadi Caelvita terakhir dan tidak akan pernah tergantikan!"
"Sadarlah! Iriana sudah tidak ada lagi di dunia ini ...." kata Felix ingin memicu emosi Efrain sehingga bisa mengetahui apa Cain memang sedang ditahan oleh Efrain atau tidak.
"Terserah kau mau bilang bagaimana ... nikmati saja saat-saat terakhirmu menjadi Caelvita. Tidak lama lagi Iriana akan hidup kembali ...." kata Efrain.
"Felix adalah Sang Caldway dan Sang Caldway adalah Felix. Caelvita terlahir dari reinkarnasi Caelvita sebelumnya yang meninggal. Caelvita merupakan satu jiwa yang sama yang terus terlahir kembali menjadi sosok yang lain!" kata Dokter Mari.
"Ya, begitulah anggapan dari semua Quiris yang ada di Mundebris tapi sebenarnya itu adalah kebohongan. Iriana bukanlah seseorang yang terlahir dari reinkarnasi Caelvita sebelumnya dan Felix bukanlah reinkarnasi dari Iriana. Felix adalah Felix dan Iriana adalah Iriana. Hidup dan takdir mereka terpisah ...." kata Efrain.
"Tentu saja, karena dulunya akulah yang menghukum jika ada yang memiliki pemikiran seperti itu ... tapi kini akhirnya aku mengetahui kebenarannya!" kata Efrain.
"Jadi, Cain ada disini atau tidak? katakan yang sebenarnya?!" tanya Felix sudah lama menahan kesabarannya.
"Sudah kubilang, aku tidak akan menyentuh dan melukai kalian saat Nemumbell berlangsung!" jawab Efrain.
"Lalu kemana anak itu?!" tanya Felix dalam hati kesal.
"Kalian datang kesini bukan untuk menghentikan Neumbell kan? atau kita percepat saja dan mulai saling membunuh ...." kata Efrain menyeringai, "Kudengar Cain sedang diculik oleh keluarga pemain, bukankah seharusnya kalian pergi kesana! bukannya kesini ... lagipula, Cain itu tidaklah sebodoh itu sehingga membiarkan dirinya diculik ... atau dia memang bodoh?!"
"Kalau Efrain tidak terlibat dengan menghilangnya Roh Cain, lalu dimana sebenarnya Roh Cain berada?" tanya Felix dalam hati terus berusaha membaca pikiran iblis yang ada disana tapi percuma karena segel pikiran mereka sangatlah kuat.
"Tuan Muda, sebaiknya pergi darisini!" bisik Rumput di sela sepatu Felix.
"Diam kau! berpihak pada musuh sudah membuatku jengkel ... jangan buat aku lebih membencimu lagi!" kata Felix.
"Ini pesan dari Tiga Anak Manusia yang melakukan kontrak dengan kaum kami!" kata Rumput.
"Teo, Tan dan Tom?" tanya Felix.
"Dia mencari informasi dari saudara kami yang jauh di seberang sana!" jawab Rumput.
"Mereka masih di sana?" tanya Felix ingin memastikan apa mereka masih ada di Mundebris atau tidak.
"Sekarang mereka sudah pergi!" jawab Rumput.
"Syukurlah ... sepertinya ada gunanya juga kontrak itu! tapi kalian juga tetap tidak bisa dipercaya ...." kata Felix.
"Apa yang bisa membuat kami percaya kalau Cain memang benar tidak ada di dalam sana?" tanya Dokter Mari.
"Cain yang sekarang memang tidak bisa menandingi kekuatanku tapi saat ini sedang menjadi pewaris dan menjelang hari akhir permainan ... Sang Pewaris akan menjadi sangat kuat, walau tidak bisa mengalahkanku ... setidaknya dia tidak mungkin bisa kutangkap." jawab Efrain yang terdengar masuk akal.
"Jadi kemana anak itu?!" Felix memaki dalam hati.
"Besok dengan senang hati akan aku ladeni kalian semua. Kalian bisa berharap lebih untuk apa yang akan aku lakukan besok ... persiapkan diri kalian untuk bisa mati dengan cara yang tidak menyakitkan!" kata Efrain.
"Datanglah! aku akan menyambutmu dengan senang hati ...." Felix menantang dengan mata yang bersinar biru padahal mata Felix berwarna hijau.
"Iriana?" Efrain melihat mata Felix itu, "Tunggu sebentar lagi ... tidak lama lagi aku akan membawamu kembali!"
...-BERSAMBUNG-...