
"Apa hanya aku yang melihatnya?!" Mertie mulai panik antara takut ketahuan bisa melihat hantu sekaligus memang takut melihat sosok yang ada disamping Demelza itu.
Tapi ternyata bukan hanya Mertie yang melihat, Demelza yang berbalik langsung berteriak kencang. Berkat itu Mertie bisa tenang karena lega kalau itu bukanlah hantu sungguhan karena Demelza bisa melihatnya juga.
Teriakan semakin bertambah dan bersahut-sahutan di dalam air. Anak-anak yang ada di dalam air bergegas berenang ke pinggir sungai untuk melarikan diri dikarenakan begitu banyak sosok seperti zombie yang muncul di dalam air secara tiba-tiba.
"Aaaaaaaaaaa!" teriak Zombie disamping telinga Teo.
Awalnya Teo memang kaget karena tiba-tiba dikagetkan dan suasana yang sangat mendukung yakni malam dan sedang ada di air. Tapi setelah melihat Felix hanya duduk santai di pinggir sungai, akhirnya Teo sadar kalau itu tidaklah berbahaya dan pasti hanya akal-akalan dari guru saja.
"Ah, minggir!" kata Teo memerciki air pada zombie yang mengganggunya.
"Aaaaaaaaaaaa!" kembali Zombie lain mengganggu Teo.
Kali ini Teo menggunakan senter ditangannya untuk menyenteri wajah zombie.
"Wow, silau!" keluh Zombie yang disenteri itu.
"Memang ada ya zombie bisa bicara?!" kata Teo.
Di dalam air hanya tinggal Tan, Teo, Tom dan Mertie. Anak-anak lainnya lari ketakutan darisana kecuali Osvald dan Demelza yang bersembunyi dibelakang Felix.
"Mereka pegawai pengelola perkemahan ini ...." kata Felix menjelaskan karena risih dengan Osvald dan Demelza dibelakangnya.
"Benarkah?!" tanya Osvald.
"Iya! mereka hanya pakai makeup dan topeng." jawab Felix.
"Wah, jeli juga matamu anak muda." kata salah satu Zombie yang keluar dari dalam air.
"Kami disewa guru kalian!" kata Zombie lainnya.
"Kakak mau saja disuruh-suruh ...." kata Demelza.
"Sudah tugas kami sebagai pengelola perkemahan untuk melakukan acara apapun yang diminta. Terlebih lagi menyenangkan bisa membuat acara lebih seru sehingga memberi kesan dan kenangan yang susah untuk dilupakan."
"Sudah berapa lama kalian di dalam sana?!" tanya Demelza penasaran.
"Kami berenang dari bawah sana menggunakan masker oksigen, setelah dekat baru kami lepas dan berenang kesini. Semoga kalian menemukan harta karunnya!" para Zombie mulai pergi darisana tapi sebelum itu kembali berteriak menakuti untuk yang terakhir kalinya.
Teo, Mertie, Osvald, Demelza sempat kaget lagi. Tapi Felix tetap hanya dengan ekspresi yang sama sedangkan Tan dan Tom masih sibuk mencari di dalam air.
"Felix, katanya kau tahu dimana tempatnya ...." keluh Teo sudah gemetar kedinginan.
"Iya, katakan sebelum anak-anak lain sadar kalau zombie tadi hanya tipuan dan kembali lagi kesini." kata Tom.
"Sudah banyak petunjuk yang kuberikan, kali ini cari tahu sendiri tanpa bantuanku." kata Felix mulai meninggalkan tempatnya duduk yang dari awal datang tidak pernah berubah. Tentunya itu dikatakan lewat Jaringan Alvauden, karena kalau Osvald dan Demelza dengar pasti akan menimbulkan pertanyaan. Kenapa Felix tidak memberitahu kalau tahu padahal mereka satu kelompok. Tentunya karena Felix bisa mendengar dan membaca pikiran para guru bukanlah hal yang bisa dicegah. Sehingga Felix sebisa mungkin tidak memberitahu mereka agar tidak curang.
Felix memberitahu soal lokasi air terjun karena memang sudah ada anak-anak sampai disana duluan. Tapi kali ini Felix tidak bisa katakan karena mereka sebenarnya sudah bisa menemukan harta karun dengan petunjuk yang mereka miliki saat ini.
"Kalian tidak bisa menemukannya, tidak bisa menganalisa petunjuk dengan baik karena terus mengandalkanku untuk memberitahu kalian." kata Felix sebelum pergi darisana.
"Apa maksudnya?!" kata Teo sebal menyenteri batu dengan seksama karena dikira petunjuk.
"Mungkin memang benar begitu ...." kata Tan naik ke pinggir sungai.
"Mertie, ayo kerjasama!" kata Tom.
"Iya, dengan tambahan satu orang tidak akan mempengaruhi beasiswa yang didapatkan. Kalau lebih sepuluh orang baru ...." kata Osvald.
"Bagaimana kau bisa tahu lokasinya disini hanya dengan petunjuk ini ...." kata Teo heran melihat petunjuk Mertie yang hanya ada dua.
"Aku mengikuti anak-anak yang lainnya ...." kata Mertie santai.
Teo yang lupa pun akhirnya sadar kalau Mertie masih punya kamera terpasang di lokasi perkemahan.
"Sudah jelas kalau disinilah lokasinya. Tapi kalau hanya gambar pohon dan air terjun, bagaimana kita bisa menemukan harta karunnya. Kenapa tidak ada petunjuk kita harus mencari dimana?!" kata Tom.
"Ada apa ini, biasanya kalian tidak akan buntu kalau soal beginian." kata Mertie tertawa.
"Apa maksudmu?! kau dekat dengan mereka?!" tanya Demelza.
"Tidak, maksudku ... kelompok mereka kan terkenal pintar memecahkan teka-teki." kata Mertie mencoba mencari-cari alasan.
"Sepertinya benar, pikiran kita menjadi tumpul karena terus mengandalkan Felix." kata Tan mengeluarkan petunjuk yang banyak ditemukan oleh Felix di dalam hutan.
"Kenapa kau mengeluarkan itu?! kan itu sama semua." kata Osvald.
"Sepertinya kita terlalu berpikiran sempit." kata Tom.
"Ah!" seru Teo seperti ada lampu menyala di atas kepalanya karena mengetahui sesuatu, "Semua ini tidaklah sama ... petunjuk yang diberikan Felix yang pertama ini tidaklah sama. Coba pikirkan, kalau sama ... kenapa Felix repot-repot mengumpulkan semuanya. Kenapa tidak mengambil satu saja?!" Teo mulai menyusun petunjuk pertama yang banyak itu.
Gambar mulai terlihat terbentuk berkat Teo. Petunjuk yang sama, dua garis panjang yang putus-putus itu bisa menjadi batang pohon ternyata juga bisa disusun menjadi bagian atas pohon yakni bentuk daun pohon yang seperti brokoli itu.
"Hahh?!" mereka mulai terlihat takjub dengan gambar yang mulai terbentuk.
"Bagian atas pohon kita semua yang dapat, tapi kenapa kurang satu?!" kata Teo heran ada satu bagian yang kosong.
"Tunggu ... aku punya!" kata Tan baru ingat kalau diberi petunjuk oleh Tanaman Leaure saat melarikan diri. Petunjuk yang tidak pernah dibuka sama sekali oleh Tan itu karena dikira tidak berguna ternyata menjadi pentunjuk penting untuk mengisi bagian yang kosong.
"Tanda panah keatas!" kata Teo setelah menyatukan petunjuk terakhir dari Tan. Semuanya mendongak ke atas pohon.
"Bukan di dalam air, melainkan diatas pohon!" kata Tom menertawakan kebodohannya sudah mencari di dalam air yang hanya sia-sia itu.
"Felix pasti menertawai kita daritadi ...." kata Teo memukul kepalanya dengan senter.
"Bagaimana kita bisa memanjat pohon besar dan tinggi itu?!" tanya Osvald.
"Sebenarnya gampang kalau pakai Tellopper tapi karena bukan cuma kita yang ada disini ... jadi kita harus melakukannya dengan cara normal." kata Tan lewat Jaringan Alvauden.
"Tenang aku bawa tali!" kata Tom.
"Kau tidak bisa melempar sejauh itu!" kata Demelza melihat Tom akan melempar tali ke atas dahan pohon yang sangat tinggi, "Bisa ...." ucapan Demelza langsung terpatahkan setelah Tom mencoba dan berhasil hanya dengan sekali percobaan.
"Kau yakin ini aman?!" tanya Osvald menarik-narik tali yang berhasil dilemparkan oleh Tom dengan batu sebagai pemberat dan alat untuk menyangkutkan tali.
"Jangan khawatir, bukan kau juga yang akan naik." kata Teo menepuk-nepuk punggung Osvald.
"Kalaupun dia jatuh tidak akan terluka juga." kata Mertie.
"Kau pikir dia manusia super, tidak akan terluka kalau tidak terjatuh?!" kata Demelza.
Mertie hanya diam saja, "Kau tidak tahu saja mereka ini siapa ...." kata Mertie dalam hati.
...-BERSAMBUNG-...