UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.181 - Menukar Kematian



"Ada maksud apa mereka membuatku membawa Kemp kesini? apa untuk membuatku melihat ini ... dua Kemp dari dunia yang berbeda ...." Felix berpikir sambil ditatap sambil tersenyum oleh kelabang yang menjemputnya tadi, "Tentu saja ada maksud tersembunyi ...." kata Felix membalas senyum penuh arti kelabang itu, "Namamu siapa?" tanya Felix.


"Africa!" sahut kelabang itu.


"Jadi kau pemimpinnya?" tanya Felix.


"Bukankah dari bentuk sudah kelihatan, Tuan Muda ... saya yang paling besar diantara mereka ...." sahut Africa dengan memperlihatkan giginya.


"Africa! apa aku boleh minta tolong?" kata Felix tidak memperdulikan candaan Africa.


"Apapun itu, Tuan Muda!" kata Africa memasang senyuman lucu tidak cocok dengan penampilannya yang menyeramkan.


"Aku pernah membaca soal gigitan kalian untuk membuat kontrak itu ... batu permata safir yang tumbuh di atas gigitan ...." kata Felix meneliti ekspresi Africa dan saudara-saudaranya untuk mengetahui apakah mereka setuju untuk melakukan kontrak karena kaum Ruleorum terkenal sulit untuk di ajak kontrak.


"Ah, kami sudah dengar soal kabar Alvauden kembar yang tengah mencoba melakukan kontrak ... tentu saja kami dengan senang hati akan turuti permintaan Tuan Muda ... hanya saja racun kami sangatlah menyakitkan ...." kata Africa.


"Kalian ahlinya soal menggali dan sepertinya aku mulai tahu tujuan kalian menerimaku dengan senang hati kemari ...." kata Felix sudah mengerti setelah lama berpikir, "Kalian sudah tahu kan soal ramalan mereka!" kata Felix langsung to the point.


"Apa terlalu kentara ya, Tuan Muda? hehe ...." kata Africa disusul tawa yang lainnya.


"Berpura-puralah bukan kalian yang meminta untuk melakukan kontrak ataupun menggunakan diriku sebagai alasan ... tunggu sampai mereka memanggil kalian sendiri ...." kata Felix.


"Baik, Tuan Muda!" kata Africa.


"Tidak apa-apa kan? yang akan aku coba lakukan sekarang adalah sesuatu yang melawan takdir menggunakan kalian ...." kata Felix meyakinkan sekali lagi.


"Kami juga akan berhutang budi di masa depan dengan mereka ... sudah ditakdirkan mereka memang untuk melawan takdir ...." kata Africa.


***


Kembali ke masa kini, FCT3 sudah bersiap untuk pergi melakukan hal yang sangat berat untuk dilakukan sayangnya langkah kaki harus ringan untuk berangkat..


"Ingat dua jam! apapun yang terjadi kita harus kembali setelah dua jam!" kata Felix sambil berlari setelah keluar dari Bemfapirav untuk leluasa keluar dari sekolah.


"Jadi bagaimana kita menukar kematian?" tanya Tom yang penasaran terlihat bersemangat sekali.


"Kau ini tidak punya perasaan sama sekali?!" sahut Teo sempat-sempatnya memukul Tom sambil berlari.


"Kita hampir sampai!" kata Tan mencoba mengatur napasnya.


"Astaga!" kata Teo dan diikuti yang lainnya panik melihat pemandangan yang ada di hadapan mereka sekarang. Begitu banyak hewan mati di jalanan dekat dari rumah Adelio.


Seseorang dengan berlumuran darah terlihat memasuki rumah Adelio, "Itu siapa?" tanya Cain tidak jelas bisa dilihat karena seseorang itu menggunakan topi.


"Adelio!" sahut Felix.


"Aku bisa memakluminya ... dia sedang di atas angin karena akan mewakili Yardley di kejuaraan matematika dunia ... bukan hanya karena untuk hidup semata tapi bagaimana mungkin dia rela melepaskan impiannya yang sudah hampir di depan mata ...." kata Tom.


Sebuah truk pengantar minuman singgah di depan rumah Adelio, "Sepertinya dia membunuh banyak hewan, makanya bisa mendapat hadiah dari Efrain ...." kata Cain.


Tom membuka smartphonenya untuk melihat berita terkini, "Ada yang sedang trending di internet!" kata Teo.


"Coba buka!" kata Teo meminta Tom mengklik video itu.


Dalam video itu terlihat ada yang sedang berjalan-jalan di taman dengan anjing peliharaannya dan muncullah seseorang yang langsung membunuh anjing dihadapan pemilik yang masih memegang tali anjing peliharannya. Setelah membunuh anjing itu, tidak membuatnya berhenti. Orang itu langsung mencari target baru dan membuat suasana taman itu langsung riuh oleh ketakutan warga yang sedang membawa hewan peliharaan, untuk segera di bawa pergi dari sana.


"Kau mengenal mereka?" tanya Tan pada Felix karena dalam video itu pelaku menggunakan penyamaran.


"Aku tidak akan menilai mereka dari sana! aku tidak akan membiarkan Efrain ikut memanipulasiku ...." kata Felix menyisir rambutnya kebelakang membuat pewarna hitam rambutnya menghilang dan muncullah Mahkota Ruleorum di atas rambut hijaunya. Felix mencari di belakang punggungnya dan mengeluarkan sabit panjang. Cain dan Tiga Kembar kaget melihat penampilan Felix, "Kau jadi seperti dewa kematian!" kata Cain.


"Kukira yang dibelakang punggungmu hanya peralatan Caelvita yang kebanyakan berhiaskan emerald itu ...." kata Tan yang memperhatikan sabit panjang yang dipegang Felix berhiaskan safir.


"Disaat memakai mahkota Ruleorum, yang ada di belakang punggungku juga berubah menjadi peralatan Ruleorum semua ...." kata Felix mulai menggores tangannya sendiri dan menggunakan darahnya untuk menulis nama Adelio di atas sabit.


"Cepat! sebelum dia berhasil mencabut bunga dengan nama Donahue di akarnya ...." kata Tom.


Felix membenturkan tongkat sabit Ruleorum ke tanah dan muncullah jam dengan nama dan foto Adelio. Felix menjulurkan tangannya ke atas dan benang merah yang terhubung dengan Adelio yang sedang melayang-layang itu turun ke tangan Felix.


Karena Felix terlihat ragu, "Apa yang harus dilakukan selanjutnya?" tanya Tan melihat Felix hanya terus menggenggam benang merah itu tidak melakukan apa-apa.


Dengan menghela napas panjang, Felix mulai melilitkan benang merah itu pada jarum jam Adelio. Felix mengangkat sabit Ruleorum panjang itu tapi ragu lagi, kemudian datanglah empat tangan memegang sabit itu. Cain, Tan, Teo dan Tom membantu Felix mengayunkan sabit itu seakan sudah tahu apa yang akan dilakukan.


"Disaat sabit ini menghancurkan jam Adelio ... itu tandanya kami resmi menjadi pembunuh juga!" kata Felix dalam hati memandang keempat sahabatnya yang sebelumnya ragu dan menentangnya dalam permainan ini malah dengan tegar membantunya mengayunkan sabit untuk menukar kematian.


Mereka semua memejamkan mata sambil meneteskan air mata menebas jam Adelio itu. Terdengar bunyi benda rusak dan mereka semua membuka mata. Jam Adelio terpotong menjadi dua bagian dan segera datang tengkorak dari dalam tanah membuka lebar mulutnya untuk menelan jam Adelio itu.


Terdengar langsung ada suara riuh tangis dari rumah Adelio. Haera sudah ada di depan rumah Adelio mengedipkan matanya pada Felix. Roh Adelio keluar dari rumah dan mengikuti Haera menghilang entah kemana.


Lutut Felix lemas dan langsung terjatuh, "Kukira dia kuat tapi nyatanya dia hanya berpura-pura kuat ...." kata Cain dalam hati melihat sahabatnya yang terlihat tidak memperdulikan perasaan orang lain, tidak perduli apa yang terjadi pada orang lain ternyata ragu dalam menukar kematian.


"Perjalanan kita masih panjang ...." kata Tan, Teo dan Tom mengulurkan tangannya ingin membantu Felix berdiri.


"Kalian tidak apa-apa?" Felix meraih empat tangan tangan yang menyambutnya dengan senyuman.


"Seharusnya aku yang bertanya begitu!" kata Tom.


"Tidak seharusnya seseorang yang memakai mahkota cengeng begini ...." kata Cain mengejek membuat Felix mulai tersenyum.


...-BERSAMBUNG-...