UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.268 - Hantu Polisi Tidur



"Mungkin juga itu hanyalah sebuah kesalahpahaman ...." kata Felix berusaha lari dari kenyataan, "Tapi jelas-jelas yang dikatakannya itu bukanlah kesalahpahaman ...." Felix tidak berani atau lebih tepatnya tidak ingin menyelidiki lebih lanjut. Dia tidaklah terlalu mengenal Parish tapi sahabatnya Tan sangatlah dekat dengan Parish, "Dia juga belum terbukti melakukan sesuatu yang buruk ...." Felix menyangkal bahwa ada murid Gallagher yang berpotensi menjadi musuh atau berada di pihak musuh yang tidak lain adalah Efrain, "Apa aku terlalu berlebihan ...." Felix mengintrospeksi dirinya.


Pagi harinya mereka bangun dengan mode panik, tidak seperti saat di asrama sekolah mereka bisa bersantai atau melakukan hal lain dulu saat bangun. Di panti mereka harus cepat bersiap-siap agar tidak ketinggalan bus atau harus menunggu bus selanjutnya yang jelas saat tiba pasti akan terlambat dan Pak Acton sudah sedia menunggu dengan wajah seramnya di depan gerbang sekolah.


"Alger?! aku tidak melihatmu kemarin ... kemana saja kau baru muncul sekarang?" kata Felix dengan tangan yang sibuk memakai seragamnya.


"Kak Felix ...." Alger memanggil.


"Iya? ada yang ingin kau katakan?" tanya Felix tidak ingin membiasakan diri membaca pikiran orang lain.


"Kakak Miller, Kak Idalina ...." kata Alger terbata-bata.


"Ada apa? oh iya ... aku juga tidak melihatnya dari kemarin saat datang ... padahal biasanya dia selalu mengawasi Miller kalau sedang bermain." kata Felix.


"Sudah setengah bulan Kak Idalina tidak kelihatan ... aku mencarinya kemana-mana karena permintaan Miller tapi tidak ada ditempat yang disebutkan oleh Miller ada Kak Idalina disana ... tapi setelah merasakan aura Kak Felix ada disini, akhirnya Alger kembali untuk mengatakan ini." kata Alger


"Sebelum menghilang, apa ada sesuatu yang aneh?" tanya Felix.


"Tidak ada ... Miller juga tidak menyadari, seperti biasa Miller berusaha untuk tidak melihat Kak Idalina agar tidak ketahuan kalau Miller bisa melihat hantu. Tapi ...." kata Alger tidak selesai.


"Setelah memperhatikan sekitar, Idalina menghilang tidak tahu kemana ... begitu?" kata Felix menyambung kalimat Alger.


Alger hanya mengangguk tanda mengiyakan perkataan Felix dan merasa bersalah karena tidak bisa menemukan Idalina.


"Jangan khawatir ... aku yang akan mencarinya sekarang. Kau jangan keluar-keluar lagi dari panti!" kata Felix.


"Baik!" kata Alger patuh.


"Felix!" teriak Tan, Teo dan Tom bersamaan dari luar.


"Aku datang!" sahut Felix, "Ingat, jangan pernah keluar-keluar lagi! katakan pada Miller aku yang akan mencari Idalina ...." Felix buru-buru mengambil tasnya dan kelaur dari kamar.


Felix dan Tiga Kembar berlari dan juga ada dua anak lainnya yang sudah masuk SD Gallagher juga.


Setelah perdebatan lama antara guru-guru yang tidak memperbolehkan tingkat SD masuk asrama, hanya tingkat SMP yang bisa akhirnya diperoleh kesimpulan bahwa anak tingkatan SD hanyalah kelas 4 keatas yang diperbolehkan masuk asrama.


Edrie dan Gary bergabung masuk kedalam pasukan lari pagi. Anak-anak lainnya juga mendaftar masuk ke Gallagher tapi hanya Edrie dan Gary yang lulus. Yang tidak lulus mendaftar di sekolah lain yang dekat dari panti asuhan tidak seperti Gallagher yang jauh.


Berhasil lulus tes masuk ke Gallagher bukanlah perjuangan yang terakhir tapi setiap harinya adalah perjuangan. Mereka harus bangun pagi buta, sarapan sambil berlari, seragam basah karena keringat, beruntung jika di dalam bus ada kursi kosong untuk duduk kalau tidak kaki yang lelah berlari harus dipakai untuk berdiri lagi.


"Bagaimana rasanya? tidak menyesal masuk Gallagher?" tanya Teo tertawa.


"Mana mungkin kak, kami sudah mati-matian belajar ...." jawab Edrie.


"Kau Gary?" tanya Teo.


"Saat ini menyesal tapi kalau sudah sampai di sekolah hanya bisa bangga ... sekolah di Gallagher adalah sebuah impian semua anak di Yardley." jawab Gary.


"Bahkan sebuah keberuntungan karena di panti ada 7 anak yang berhasil masuk ke Gallagher." kata Tom.


"6 kak!" kata Edrie.


"Hem? aku bilang berapa memangnya tadi?" tanya Tom.


"Tujuh ...." sahut Edrie.


"Ah, Cain ... aku masih selalu mengikutsertakannya kalau menghitung." kata Tom menertawakan dirinya sendiri.


"Untuk tingkat SMP dan SMA bahkan tidak ada yang berhasil masuk dari panti ... apa soalnya beda atau kriterianya kini berbeda ya? padahal kami memberi tips yang sama ...." kata Tan mengalihkan pembicaraan karena ada nama Cain disebut.


"Ya ... Gallagher mengkategorikan siswanya dengan kelebihannya dalam satu mata pelajaran. Makanya setiap kelas, selalu berubah-ubah tiap tahunnya katanya karena itu menunjukkan ada yang mulai meningkat atau menunjukkan adanya perubahan dengan kelebihan masing-masing dari tahun sebelumnya ... sehingga harus di gabungkan dengan murid lain untuk menyeimbangkan kelas ...." kata Tom.


"Ada yang gagal masuk tapi tahun ini katanya akan mendaftar ulang lagi ...." kata Edrie.


"Berarti dia akan lebih tua dari anak lainnya ...." kata Teo.


"Dia tidak peduli, katanya masuk Gallagher adalah tujuan utamanya." kata Edrie.


***


Mereka berenam memasuki gerbang sekolah dengan Pak Acton yang terlihat lebih menyeramkan dengan mata pandanya.


Ada anak perempuan yang melambai dengan riangnya di atas atap.


"Mertie!" kata Tom mendengus kesal setelah memfokuskan matanya melihat identitas anak yang melambai itu.


"Haha, dia terlihat bersemangat sekali ...." kata Teo memakasakan diri tertawa.


"Hari ini misi dimulai. Bukankah hari ini mendebarkan sekali?!" kata Mertie lewat pesan.


"Mau menangkap pembunuh membuat dia berdebar-debar katanya?!" kata Tom tidak habis pikir.


"Mau dikatakan berdebar karena takut tapi bukan ... sangat jelas kalau dia terlihat begitu senang." kata Tan.


"Aku bahkan ingin jauh-jauh dari hal seperti ini jika bisa tapi dia yang punya pilihan, memilih untuk membuat dirinya sendiri ikut campur dengan hal berbahaya dengan rela dan senang hati ...." kata Teo heran.


"Jarang ada yang seperti dia, sudah jelas kalau besar dia akan menjadi apa kelak ...." kata Felix.


"Kalau dia menjadi polisi, bisa-bisa tidak akan ada orang jahat di Mundclariss karenanya ...." kata Teo.


"Mendengar itu boleh juga ...." kata Tan tertawa.


"Ya, kita bisa hanya fokus di Mundebris." kata Tom.


"Andaikan ada Cain, dia pasti masih akan mengatakan hal buruk tentang Mertie ...." kata Teo.


"Aku bahkan tidak bosan mengatakan kalau aku merindukannya ...." kata Tan.


"Dia juga pasti merindukan kita kan?!" tanya Tom.


"Tentu saja ... dengan caranya sendiri!" kata Felix.


Balduino yang masih koma di rumah sakit terus membuat bahan gosip di sekolah. Banyak spekulasi dari anak-anak, ada yang berdasarkan medis dan ada juga berdasarkan hal misitis.


Dari penjelasan dokter mengatakan bahwa tidak ada cedera luar atau dari dalam tubuh yang bisa membuat Balduino tidak sadarkan diri. Penjelasan itu membuat anak-anak menyebarkan rumor kalau sekolah ada hantunya. Balduino yang suka tidur di kelas, akhirnya digosipkan kalau rohnya diambil oleh hantu yang tidak suka melihat murid tidur. Karena gosip itu, anak-anak tidak ada yang berani untuk tidur selama pelajaran berlangsung atau bahkan setelah pelajaran selesaipun.


"Gallagher selalu saja identik dengan hantu ...." keluh Teo.


"Dulu Hantu Merah Muda, sekarang ada Hantu Polisi Tidur. Ada-ada saja ...." kata Tom menggeleng-geleng.


"Tidak hanya Gallagher, tapi semua sekolah selalu saja dikaitkan dengan hal horor ...." kata Tan.


"Mungkin karena anak sekolah imajinasinya tinggi ...." kata Felix membuat Tiga Kembar tertawa.


...-BERSAMBUNG-...