
Tan, Teo dan Tom sudah berangkat menuju ke Desa Quinlan. Bagaimanapun juga rumah anak 5 tahun yang hilang dan sedang dicari itu ada disana. Besar kemungkinan kalau anak itu ada disana. Sekaligus mereka juga bisa memeriksa keadaan disana. Saat ini Desa Quinlan masih ditutup dan dijaga oleh Agen Y.B.I. Semua warga yang berhasil selamat telah diberi fasilitas dan tunjangan dari pemerintah berupa rumah dan ganti rugi sehingga tidak perlu kembali ke Desa Quinlan lagi.
"Satu desa jadi ditutup karena ulah iblis ...." kata Tan menyayangkan.
"Setidaknya hanya desa, kau kan biasanya selalu mengatakan ambil positifnya saja ...." kata Teo menyindir.
"Kau mau mengajak berkelahi atau apa?!" kata Tan agak sebal.
Kayle telah diberi oleh Tan banyak botol ramuan yang ada darah Felix. Tapi Kayle tidak tahu bahwa itu adalah darah Felix. 15 orang yang berhasil ditangkap itu bisa kembali sadar dan bagian iblis ular bisa keluar. Fenomena itu disaksikan oleh Agen lainnya sehingga mereka jadi memandang Kayle berbeda. Pada awalnya Agen Y.B.I menganggap bahwa Kayle itu gila dengan penjelasannya yang tidak masuk akal tapi setelah melihat secara langsung, pandangan mereka pada Kayle menjadi berbeda.
Kasus pembunuhan lupa ingatan itu juga ingin diambil alih Kayle dengan Agen Y.B.I yang mendukung Kayle sepenuhnya. Tinggal menunggu bagaimana konfirmasi dari kejaksaan dan kepolisian untuk kerjasama.
15 orang yang sudah terbebas dari bagian iblis ular tidak bisa mengingat apa yang terjadi setelah ular masuk ke dalam tubuhnya. Ingatan mereka terhenti di waktu itu jadi Tan merasa lega tidak terlalu perlu untuk menghapus ingatan mereka.
Agen Y.B.I menggunakan keahlian mereka dalam memanipulasi ingatan mereka yang terhenti itu. Mengatakan bahwa itu hanyalah ilusinasi karena habis terkena wabah penyakit. Semuanya bisa kembali normal jika saja anak 5 tahun itu juga kembali. Misi Felix dan Tiga Kembar serta misi Cairo sebagai pemburu iblis seharusnya bisa dikatakan lumayan karena bisa menghentikan penyebaran dari kerusakan 15 orang yang keluar dari desa. Tinggal mencari keberadaan anak kecil itu maka setidaknya mereka bisa sedikit lega dan harga diri mereka bisa sedikit naik lagi.
"Desa jadi bersih sekali ...." kata Tom.
"Padahal dalam ingatan terakhirku, disini masih lautan darah dan lautan ular ...." kata Teo.
"Ini rumahnya!" kata Tan melihat informasi yang diberikan oleh Kayle.
"Tidak mungkin ada disini." kata Tom dengan wajah datar.
"Mereka bodoh atau apa?! bahkan aku tidak akan melakukan hal bodoh begini ...." Teo heran karena rumah anak itu kini dipenuhi oleh Agen Y.B.I, "Mana mungkin dia akan kembali kesini ...."
"Kalau begitu, kita ke titik gerbang neraka lainnya saja." kata Tom.
"4 desa dari sini ... lumayan jauh." kata Tan memeriksa rute lewat aplikasi Yardley map.
***
Felix yang bertugas pertama menjaga Zewhit Badut dan Zewhit Kurcaci di sekolah mau tidak mau terus harus ikut berkeliling mengikuti kedua hantu yang tidak bisa diam itu dan menyaksikan tingkah laku konyol mereka.
"Beruntunglah ... mereka bertiga berada di urutan bawah." kata Felix melihat kedua hantu itu. Alasan Felix membuat Tiga Kembar untuk tidak takut adalah karena kedua hantu tersebut punya hal lain yang diketahui Felix. Sesuatu yang hanya dia seorang yang bisa melihat.
Zewhit yang hanya menghisap rasa takut adalah Zewhit yang sudah berusia lama atau memang punya bakat. Tapi dibalik bakat itu tersembunyi keburukan. Memang tidak akan merugikan saat masih hidup tapi saat meninggal nanti akan tercap sebagai target yang mempunyai rasa takut tinggi, roh dari yang tercap itu akan menjadi peliharaan mereka berdua.
Felix terus memperhatikan list mereka yang terus berubah, "Mereka akan baik-baik saja kan besok ...." Felix sebenarnya masih belum bisa mempercayai mereka untuk berjaga.
"Kalau ada Cain, dia pasti akan main bola dulu baru keluar melakukan misi ...." kata Felix melihat teman-teman Cain dari grup sepak bola. Felix juga sering ikut bermain saat ada Cain tapi semenjak sudah sibuk hanya sesekali saja dan saat tidak ada Cain, Felix bahkan tidak tertarik lagi untuk bermain.
Walau Felix tahu kalau Demelza dan Osvald tidak tidur sendirian malam ini, karena kedua hantu itu pasti sedang menemani mereka. Tapi Felix tidak bisa berbuat apa-apa, melarang mereka melakukan apa yang diinginkan bisa membuat mereka berpindah tempat dan itu akan lebih menyusahkan lagi.
Felix berada di atas atap sekolah tingkat SMP yang paling tinggi dan yang berada ditengah-tengah sekolah. Felix bisa melihat seluruh sekolah dari ketinggian itu dan bisa dengan mudah melihat jika ada musuh datang.
"Aneh, saat penyatuan Memoriasepirav tadi seharusnya mereka merasakan aura Zewhit yang kuat ... kenapa belum ada yang datang." kata Felix yang sedang duduk di bagian pembatas atap sekolah tanpa takut sama sekali, "Atau mereka menyerah? tidak mungkin! kedua Zewhit itu sangat menggiurkan untuk direkrut ...."
Lama Felix masih terus tinggal disana dan perlahan mulai mengantuk. Angin malam yang dingin bahkan seperti merayu mata Felix untuk tidur. Tanpa disadari Felix tertidur dan terjatuh dari atap, "FELIX!" teriakan Iriana itu membangunkan Felix dan Felix bisa merespon cepat untuk meraih pembatas jendela kelas.
"Hahh ... hampir saja!" kata Felix yang tergantung di lantai dua mulai membuka jendela kelas dan masuk ke dalam kelas yang gelap itu.
"Kau hampir saja menyia-nyiakan nyawamu karena hal konyol!" kata Iriana.
"Tanpa kau beritahu, aku juga tahu betul apa yang akan terjadi! tidak usah mencermahiku! Lagipula ini bukan hal konyol tapi bermanfaat, sejak kapan tidur jadi hal konyol?!" kata Felix keluar dari kelas itu dan kembali menuju atap.
"Makanya kau jangan jadi orang yang suka diceramahi. Karena kelakukan bodohmu juga, aku begini! Dan tentu saja konyol! Kalau mau mati, silahkan mati di peperangan! Jangan karena mengantuk!" kata Iriana.
"Sepertinya aku sudah mulai mencapai batasku ... aku perlu tidur normal!" kata Felix sudah kembali berada diatas atap, "Ow ... suara ini!" Felix kembali buru-buru turun tangga setelah mendengar sebuah suara.
Felix sampai di depan pintu gerbang sekolah dengan penjaga keamanan yang tidak melihat keberadaanya. Suara yang didengar Felix itu adalah anak kecil 5 tahun yang kerasukan itu sedang berada di seberang jalan dari sekolah. Tak lama kemudian anak itu tertawa dan mulai melambai pada Felix kemudian berlari.
"Ah, jadi begitu rencananya ...." Felix mengerti bagaimana situasi saat ini. Jika Felix mengejar anak itu maka otomatis dia akan meninggalkan sekolah dan itu akan memberikan akses pada anak buah Efrain menangkap kedua hantu yang ada di sekolah saat ini.
"Aku harus memilih ... tapi saat memilih mengejar anak itu aku akan kehilangan dua hantu itu. Jika aku memilih kedua hantu itu aku akan kehilangan anak 5 tahun yang masih hidup itu." Felix dilema harus memilih yang mana.
Anak kecil tadi yang berlari kembali lagi memanggil Felix untuk mengejarnya dengan nada ceria.
"Apa aku harus memilih hantu daripada orang hidup?!" Felix menoleh ke arah sekolah. Merasa sangat menyayangkan jika kehilangan kedua hantu itu. Disatu sisi Felix merasa hati nuraninya juga mulai rusak karena perasaanya menginginkan untuk memilih kedua hantu yang bisa sangat berguna itu, "Apa aku sudah gila lebih memilih hantu?!"
"Apa aku tidak bisa memilih semuanya ...." Felix masih berpikir, "Tapi jika aku memilih mengejar anak itu apakah ada jaminan bahwa aku bisa benar-benar menangkapnya?! astaga Felix! bagaiman mungkin aku memikirkan hal seperti ini ... mana aku tahu tanpa mencoba ... baiklah ... sudah kuputuskan!" Felix akhirnya membulatkan tekadnya memilih yang mana. Dengan berat hati Felix berlari ke arah anak itu, "Ya, ini keputusan benar! aku harus mengutamakan yang hidup." Felix memilih untuk mengejar anak hilang dari Desa Quinlan itu dan meninggalkan kedua hantu yang tidak lama pasti akan ditangkap oleh anak buah Efrain.
Sebenarnya Felix tidak menyangka kalau Iblis Ular memberikan akses pada Efrain untuk menggunakan manusia yang dirasuki itu sebagai strategi untuk melawannya. Dipikirnya kalau Iblis Ular murni hanya ingin membalas dendam saja, tapi ternyata lebih dari itu Iblis Ular lebih setia dari yang dibayangkan.
"Ataukah ... Efrain bisa melakukan sesuatu tanpa harus menggunakan bantuan Iblis Ular untuk mengendalikan?!" Felix masih terus berharap kalau tidak semua Iblis setia pada Efrain.
...-BERSAMBUNG-...