
"Oh ... ow!" Tan merasa sedang dalam masalah. Melihat bagaimana kini terlalu banyak musuh disekelilingnya. Tellopper nya sendiri kesulitan berputar karena iblis yang banyak seperti saling menumpuk dirinya agar Tan kesulitan memutar Tellopeper. Tidak ada ruang juga untuk dirinya bergerak lagi, "Mati aku!" Tan sudah pasrah pada apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ternyata benar ... Tellopper muncul kembali!" kata Seseorang yang tidak tahu siapa karena Tan masih menutup matanya.
"Apa aku sudah mati?!" Tan membuka sedikit matanya untuk melihat sekitar apa yang sedang terjadi. Kenapa tidak ada rasa sakit yang dirasakannya padahal tadi sedang dikerumuni dan siap untuk dibunuh.
"Kau mau mati?! pemilik Tellopper memang terkenal akan ahli menyembuhkan sih ... kau bisa menghidupkan dirimu kembali?! wah ... hebat sekali! sepertinya tidak salah aku ikut bergabung." kata Seseorang yang masih belum diketahui siapa bahkan setelah Tan membuka lebar matanya.
"Siapa Quiris eksentrik ini?!" tanya Tan dalam hati kemudian memperhatikan tubuh iblis yang tergeletak disekelilingnya yang ingin membunuhnya tadi, "Kau yang melakukan ini?! kau menyelamatkanku?!" tanya Tan.
"Bisa dibilang begitu ...." jawabnya sambil kebingungan juga, merasa tidak pasti apa benar begitu.
"Kau siapa?! kau terlihat seperti kaum iblis juga ...." kata Tan.
"Ow, aku sudah mendengar itu sering ... tapi bukan! aku ini Setengah Manusia Setengah Iblis. Campuran dari keturunan yang sangat buruk kan?! manusia sendiri kadang memiliki pikiran seperti monster dan iblis adalah monster itu sendiri. Intinya ... aku ini sangat-sangat buruk! tapi sangat bisa membantu juga!" kata Quiris berwajah seperti ikan itu tapi tubuhnya layaknya manusia. Memang sangat memiliki ciri khas seorang iblis, tidak salah jika Tan berpikir demikian.
Tan memperhatikan wajah Setengah Manusia dan Setengah Iblis yang membantunya itu berubah menjadi pria biasa normal layaknya Manusia, "Kau bisa merubah penampilanmu?!" tanya Tan takjub melihat perubahan itu.
"Tentu saja Yang Mulia, saya ini setengah iblis ... bisa merubah apapun bentuk saya sesuai apa yang saya inginkan. Ow ... perkenalkan nama saya Audrina Bancroft."
"Tiba-tiba saja kau berbicara formal?!" kata Tan jadi canggung.
"Saat memperkenalkan diri pada Alvauden harus dengan hormat dan sopan." kata Audrina.
"Nama yang cantik untuk laki-laki ...." kata Tan.
"Untuk yang kesekian kalinya ... Audrina adalah nama laki-laki. Aku sudah menjelaskannya seperti sudah ribuan kali pada semua orang dan Quris ... hahh ...." kata Audrina agak kesal tapi tetap dengan senyuman.
"Kenapa kau membantuku?!" tanya Tan.
"Pemimpin Alvauden mengatakan ada Alvauden yang memiliki Tellopper. Dan ...." kata Audrina.
"Dan?! tunggu dulu ... Cain?! maksudmu Cain?! Cain yang aku kenal?! kau bertemu dengannya?!" Tan baru memperluas jarak pandangannya untuk mencari keberadaan Cain.
"Dan ... itu membuatku tidak bisa menolak. Untuk berubah menjadi wajah manusia tidak berlangsung lama bagiku karena hanya Setengah Iblis. Tapi ... kalau seorang pemilik Telloper membuatkanku ramuan untuk membuat itu berlangsung lama. Rasanya tidak sia-sia aku menyelematkanmu." kata Audrina.
"Apa?! Cain mengatakan itu?! aku akan membunuhnya kalau ketemu! berani-beraninya dia menyombongkanku tanpa sepengetahuanku ...." Tan bahkan melupakan bagaimana Cain bisa berada disana padahal setahunya Cain masih dihukum. Karena terlalu senang mungkin, tapi Tan masih belum melihat dimana Cain, "Dimana dia? aku saja baru menguasai ramuan tingkat dasar, mana bisa membuat ramuan tingkat tinggi ...."
...****************...
Teo berusaha sekuat tenaga hanya dengan satu sayap melawan rombongan iblis yang jumlahnya puluhan itu, "Apapun yang terjadi ... aku harus melindungi mereka ... mereka harus menyebrang di jembatan Ruleorum dengan tubuh mereka sendiri." Teo memegang asap putih yang merupakan Zewhit yang dibunuh tadi dan seperti dikirim ke arah Felix. Asap itu terhisap masuk ke dalam tangan Felix lagi, "Maaf ... kalian harus berada di dalam tubuh Felix, setidaknya kalian harus hidup dulu ... dan maaf Felix, walau aku tahu ini hal buruk tapi aku menyukai ide gilamu ini."
"Waw, Zeki sepertinya mengajarimu tekhnik ini ...." kata dua Quiris yang muncul dari sisi kanan dan kirinya.
"Kalian kembar?!" tanya Teo lupa situasi menanyakan hal yang tidak penting.
"Ya, kami dengar kau juga! bahkan kembar tiga ... wah hebat sekali! bagaimana rasanya?! berbagi pikiran dengan dua orang sekaligus?! aku ... satu saja rasanya menyebalkan." kata Quiris diseblah kanan Teo.
"Diam Camellia! dia manusia, tidak seperti kita ... tidak berbagi otak yang sama." kata Quiris diseblah kiri Teo.
"Kalian apa?! berbagi otak?! bagaimana aku harus membayangkannya?!" Teo merasa dirinya akan muntah.
"Aku tahu Camelia! kau pikir aku bodoh! pengetahuanmu sama dengan pengetahuanku!" kata Camellia.
"Nama kalian sama?!" Teo mendapat hal mengejutkan yang tidak terduga lagi.
"Kalian ini kelihatan mirip salah satu pohon ...." kata Teo melihat rambut mereka berdua yang sangat tebal seperti brokoli kemudian ada akar gantung, sama seperti pohon beringin.
"Ya, kami Setengah Viviandem Setengah Plaevivindote." jawab keduanya kompak.
"Tentu saja, yang diharapkan dari seorang Calon Nusfordis Sapphire ... aku melihat kau dipenuhi aura alam yang banyak." kata Camellia.
Iblis menyerang saat Camellia masih sibuk berbicara hal yang bahkan Teo sudah tidak mendengarkan lagi. Tapi tidak ada iblis yang mendekat, akar gantung pada Camellia memanjang dan melilit para iblis yang akan mendekat kemudian Camelia maju menyerang iblis yang tidak bisa bergerak itu disaat Camellia masih sibuk berbicara.
"Apa yang membuat Setengah Quiris mau membantu kami?! bukankah ... kalian tidak harus melakukan ini ... kalian adalah Quiris bebas. Bisa hidup tanpa terikat penuh dengan Caelvita." kata Teo.
"Cain mengatakan akan menikahi salah satu dari kami kalau berhasil memenangkan peperangan ini." kata Camellia.
"Ap ... APA?!" Teo tidak percaya apa yang baru saja didengarnya.
"Dia juga bilang akan menjodohkan kami dengan salah satu Alvauden." kata Camellia.
"Ah, dasar Si Bodoh itu!" Teo terkena serangan panik, "Dimana dia?! tidak mungkin dia mengirim kalian saja kan tanpa datang sendiri juga?!"
"Tentu saja dia datang!" kata Camelia yang sedang membersihkan kedua pedangnya yang terkena darah iblis. Camelia berhasil membunuh puluhan iblis yang mengerumuni Teo itu.
"Dimana dia?! aku tidak peduli sedang ada perang atau apa yang jelas dia juga musuhku malam ini, akan aku bunuh dia kalau ketemu ..." kata Teo antara senang dan juga sebal akan bertemu Cain.
...****************...
Tom yang sedang terlihat kesulitan karena harus menyerang satu per satu dengan Sesemax nya yang berat, "Andai saja mereka bisa dikumpulkan jadi satu ...." keluh Tom.
"Begini?!" kata Quiris yang kini berada diatas iblis yang seperti diikat dalam satu kesatuan.
Tom tidak membuang kesempatan itu dan langsung menyerang iblis yang sedang meronta untuk melepaskan diri. Quiris yang ada diatas para iblis itu melompat jauh darisana karena melihat Tom mengayunkan Sesemax.
"Oh, dia memang memiliki jiwa pemimpin. Bukan karena dia memiliki Sesemax tapi karena ketidakraguannya dan juga intuisinya yang mempercayaiku begitu saja." kata Quiris dengan pakaian serba ungu bahkan rambutnya pun juga ungu.
Tom kehabisan napas setelah membunuh lebih dari 10 iblis sekaligus. Tom berhenti berhitung saat sudah membunuh 11. Hal yang tidak mungkin bisa dilakukan jika tanpa bantuan Quiris yang tiba-tiba muncul itu.
"Terimakasih?!" kata Tom menoleh kebelakang.
"Earl, Yang Mulia. Earl Marigold ...."
"Rambut ungu itu ...." kata Tom mengenal warna ungu yang tidak asing baginya itu.
"Ya, benar! Yang Mulia berjodoh dengan kuda dari Kerajaan Amethyst. Saya setengah Manusia dan Setengah Viviandem dari keturunan Amethyst." kata Earl.
"Bagaimana kau tahu soal itu?! bahkan jika kau darisana ... tetap saja tidak mungkin ada yang mengetahui itu, Ackerley sendiri tidak terlalu suka bersosialisasi dan lebih suka berada di dalam hutan daripada di kota." kata Tom.
"Pemimpin Alvauden yang memberitahu, katanya ada Alvauden yang memunculkan Senjata Sesemax dan berjodoh dengan kuda dari Kerajaan Amethyst. Kerajaan Amethyst terkenal akan tempat lahirnya semua pemimpin hebat. Dengan Alvauden yang memiliki Sesemax menandakan Yang Mulia merupakan pemimpin dari pemimpin, Amethyst rela mengabdikan hidup dan mati pada Yang Mulia. Bahkan untuk saya yang hanya Setengah Amethyst." kata Earl.
"Cain ...." Tom tidak terlalu mendengar secara jelas apa yang dikatakan Earl karena melihat sosok yang familiar tapi juga asing itu sedang membantu Felix berdiri.
"Kalian merindukanku?!" kata Cain lewat Jaringan Alvauden membuat semua yang mendengar tersenyum lebar padahal sedang dalam situasi yang tidak memungkinkan untuk itu.
...-BERSAMBUNG-...