UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.65 - Perlindungan Seorang Kakak



Setelah Cain terbawa suasana dengan nama yang sama dengan nama tengah dan belakangnya akhirnya Cain mencoba menyadarkan dirinya bahwa sedang melakukan hal lain bukannya mencari rahasia kedua orangtuanya. Cain mulai memotret dokumen yang dianggap penting dan bisa dijadikan bukti itu. Tapi tak lama kemudian saat masih menggeledah dokumen, perasaan Cain jadi tidak enak dan langkah sepatu terdengar mendekat. Digambarnya garis melingkar untuk menyembunyikan diri membuat orang yang mendekat itu tidak melihat Cain dan hanya berjalan disampingnya.


"Apa itu yang dinamakan aura? laki-laki itu dipenuhi dengan aura hitam ... ah, aku jadi menyesal tidak bertanya soal macam-macam warna aura dengan Goldwin."


Laki-laki yang berumur sekitaran 20an itu membuka kotak yang dibuka oleh Cain tadi dan diambilnya foto yang juga dilihat oleh Cain tadi, "Ternyata ketinggalan disini!" katanya.


"Jadi foto itu bukan merupakan bagian dari dokumen ... tapi tidak sengaja ditinggalkan?" tanya Cain dalam hati.


Cain memanggil Goldwin dan segeralah Cain menanyakan warna aura dari laki-laki itu, "Kau bisa melihat aura jika berada di dalam pelindung ini?" tanya Goldwin.


"Iya! aku juga bisa melihat aura emas darimu yang sangat terang ...."


"Apa? padahal aku sedang menyembunyikan auraku sekarang!" kata Goldwin kaget, "Atau hanya kau yang bisa melihatnya?"


"Lihat, sebelum laki-laki itu pergi!" Cain memutar kepala Goldwin mengarah ke laki-laki itu.


"Aura hitam berarti aura seseorang yang sudah membunuh baik itu manusia atau hewan ... mungkin dia orangnya yang membunuh anak kecil tadi!"


"Berarti belum pasti dong kalau dia orang jahatnya, bisa jadi dia hanya membunuh binatang kan?" kata Cain tapi langsung digigit oleh Goldwin membuatnya jadi tidak fokus dan garis pelindungnya menghilang, "Aw! sakit tau!"


"Kau pikir membunuh manusia adalah kejahatan dan membunuh hewan adalah hal biasa?" Goldwin jadi marah.


"Maaf ... maaf!" Cain mengelus-elus bekas gigitan Goldwin.


***


Cain dan Mertie keluar dari perusahaan dengan menggunakan jalan rahasia tadi. Mertie yang berjalan hampir terjatuh akibat menginjak sebuah pulpen tapi ditahan oleh Cain, "Awas ada pulpen!"


"Bagaimana kau bisa melihatnya?" tanya Mertie.


Cain hanya diam dan tidak bisa menjelaskan bahwa bulu emas Goldwin yang bersinar membuat jalanan terang benderang walau Mertie tidak bisa merasakan efek dari bulu Goldwin.


Mereka berdua memasuki toserba dan saling bertukar foto yang telah diambilnya tadi, "Kali ini kita lumayan cepat selesainya dibanding kemarin-kemarin ... baru jam 1 malam!" kata Cain menyeruput mie instantnya.


"Aku hanya sangat tidak menyangka mereka memberikan dana untuk para ******* ...." Mertie berhenti meminum yogurtnya, "Apa untungnya coba?" tanya Mertie.


"Perusahaan bisa mendapatkan dana kembali berlipat-lipat ganda setelah menyediakan dana aksi terorisme di sebuah negara karena ******* bukan dari negara ini maka mereka bekerja sama menyediakan tempat serta dana lainnya dan setelah selesai, pemimpin ******* akan memberikan pengembalian dana setelah aksinya berhasil dilakukan di negara tersebut dan dana itu bisa dipakai menutupi kerugian atau biaya perusahaan yang kurang dengan membuatnya seolah-olah dana itu berasal dari sumbangan donasi dari pihak tanpa nama ...." jawab Cain.


"Setelah ini akan aku print dan kirim ke kejaksaan ... bukti yang kita dapat."


"Tapi bukti yang kita dapat masih sedikit, apa cukup?" tanya Cain, "Lagipula bukti yang diambil secara ilegal begini tidak bisa dijadikan buktu!"


"Biarlah .. saat ini bukti yang kita dapat baru dari permukaan selanjutnya kita cari lebih teliti lagi lagipula bukti ini bukan untuk dijadikan sebagai alat untuk langsung menangkap tapi sebagai pemberitahuan bahwa perusahaan ini memiliki hal yang disembunyikan dan nantinya itu menjadi tugas dari kejaksaan untuk menyelidiki lebih lanjut ... kalau setelah kita mengirim bukti yang sangat jelas mana mungkin kejaksaan akan diam saja ... kitat disini hanya berperan sebagai pemicu ...."


"Tapi kita belum tahu alasan kenapa ayahmu dicari oleh Carlton Group ...." kata Cain.


Mertie hanya memasang wajah datar dan berdiri, "Aku pulang duluan!" katanya.


Cain hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan makanan.


"Kau juga cepat makan lalu pulang!" kata Goldwin yang duduk dimeja dekat makanannya.


"Iya ... iya!"


***


Cain yang berjalan berdua dengan Goldwin menuju halte bus dikagetkan ketika ada yang memanggil. Ternyata itu adalah Idalina, "Bagaimana? kau sudah mengetahui dimana adikmu berada?" tanya Cain.


"Dia ada di area pembangunan, apa kau bisa kesana menjemputnya?" tanya Idalina.


Diperjalanan Cain mencoba menanyakan apa yang terjadi dengan Idalina dan adiknya sampai tidak punya rumah dan tidak tinggal di panti asuhan.


"Adikku diadopsi oleh sepasang suami istri, tapi tiap hari aku datang melihatnya dari jauh dan adikku hanya diperlakukan sebagai pembantu dan sering dipukuli ... akhirnya aku memutuskan untuk mengeluarkan adikku dari rumah itu dan kembali ke panti asuhan tapi di panti asuhan tidak ada yang mempercayai jika orangtua angkat adikku melakukan hal kejam bahkan dengan luka-luka yang kuperlihatkan ... memang orangtua angkat adikku itu orang yang terpandang dan dihormati jadi tidak akan ada yang percaya ... jadi aku memutuskan untuk melarikan diri bersama adikku dan saat mencari makanan aku diculik oleh pembunuh itu dan akhirnya meninggal ...." cerita panjang lebar oleh Idalina yang membuat Cain merinding.


"Kau tidak perlu khawatir, mereka tidak akan menemukan adikmu jika tinggal di panti asuhan Arbor dan ada aku juga yang akan melindunginya ... walau mungkin tidak sebaik dirimu tapi aku akan berusaha sebaik mungkin."


"Terdengar sangat meyakinkan dan kau terlihat memang bisa diandalkan ...." kata Idalina tersenyum.


Sampai di area pembangunan sebuah apartemen baru, "Jadi ada dimana adikmu?" tanya Cain.


"Dia ada didalam sana, terakhir kulihat sedang berusaha menyalakan api untuk menghangatkan badannya."


Memang dari luar ada cahaya terlihat mungkin itu adalah api yang sedang menyala, mereka bertiga mulai berjalan kesana tapi saat sampai ditempat api itu tidak ada siapapun hanya ada alas tidur.


Idalina panik dan mulai berlari mencari sambil berteriak yang sebenarnya percuma tidak akan didengar, "Miller ... Miller!" teriak Idalina terus menerus hingga tiba-tiba ia berhenti disebuah papan dan langsung terduduk lemas.


"Ada apa?" tanya Cain menghampiri, "Carlton Group ... bangunan apartemen ini oleh Carlton group?!"


"Jangan bilang orang itu kesini dan menculik Miller juga?! tidak ... TIDAK!!!" teriak Idalina.


"Tenang! sekarang ayo kita ke peternakan sapi Carlton yang kau katakan itu secepat mungkin."


Idalina menguatkan dirinya dan mulai mengantarkan Cain kesana dengan perasaan tidak karuan.


"Semoga dia tidak ada disini ...." kata Cain mencoba menenangkan Idalina.


Idalina hanya langsung berlari diikuti Cain yang menuju sebuah gedung disamping tempat sapi yang mau dibilang sebagai tempat pakan tapi terlihat sangat tertutup.


"Disini ...." kata Idalina.


"Tapi kita tidak bisa melihat apa-apa dari luar sini ... tidak ada lubang kecil untuk mengintip dan pintunya memakai keamanan."


"Aku akan masuk duluan memeriksa!" Idalina masuk menembus dinding.


Cain ikut duduk dekat Goldwin untuk menunggu.


"Cain! CAIN!" teriak Idalina bahkan sebelum keluar dari dalam gedung itu.


"Ada apa?" Cain langsung berdiri kaget.


Idalina sudah terlihat menangis, "Miller ada didalam ... tolong ... tolong bantu dia ... aku mohon! Idalina berlutut dihadapan Cain.


"Baiklah ...." kata Cain mulai menutup matanya dan memasuki Bemfapirav kemudian melangkah maju sesuai perkiraannya dan kembali lagi ke Mundclariss tapi sudah didalam gedung itu.


"Bagaimana caranya kau melakukan itu?" tanya Idalina.


"Bukan waktunya untuk penasaran ... sekarang dimana adikmu itu?" kata Cain karena didalam gedung itu kosong tidak ada apa-apa.


"Disini! ini pintu masuk ke ruangan bawah tanah yang kedap suara sehingga tidak akan terdengar suara saat dia menyiksa seseorang!" kata Idalina menunjuk sebuah lantai.


"Jadi seperti jalan rahasia yang ada di perusahaan ya?!"


"Tunggu ... pakai garis pelindung!" kata Goldwin menahannya menarik lantai palsu itu.


"Oiya, pembunuh itu juga ada didalam kan?!" kata Cain santai.


...-BERSAMBUNG-...