
"Tapi bagaimana sebenarnya ini dilakukan?! Cain, Banks dan Zeki tidak seperti seseorang yang asing. Mereka seperti apa yang aku kenal selama ini ... kalaupun mereka hanya buatan, kenapa senyata ini?!" kata Felix dalam hati.
"Seberapa jauh sebenarnya Bates mengawasi dan mempelajari kami. Sejak kapan, apa sebelum aku mengetahui identitasku sendiri?! padahal tidak ada gangguan sama sekali sebelum kebakaran terjadi. Aku tidak pernah melihat Zewhit atau mendapat pengalaman supernaturan lainnya. Itu tandanya auraku memang belum muncul sehingga tidak menarik perhatian Quiris maupun Zewhit, tidak mungkin juga dia tahu dan datang membakar panti asuhan karena aku ...." Felix masih terus berpikir, "Tidak mungkin, pasti hanya kebetulan saja bagaimana Arwah Zewhit yang diambil di panti. Sesuai dengan rencananya saja yang memang hanya ingin mengambil yang tidak beruntung, tidak mungkin dia tahu aku ada disana. Aku sudah membaca buku ingatan Ratu Sanguiber, tidak mungkin dia salah."
Felix merasa perlu harus mendiskusikannya dengan yang lain tapi takutnya karena itu Bates mengetahui rencananya. Tidak menutup kemungkinan semua yang ada selain Felix disana berpihak pada Bates atau lebih tepatnya mereka semua hanyalah karakter imajinasi buatan Bates. Tentunya mereka adalah pion Bates semua jika itu benar.
Sementara seseorang yang harusnya membimbing Felix sekarang sedang tersedia. Iriana sedang mengisi ulang jiwanya semenjak kedatangan Cain, Iriana perlahan pamit juga saat itu. Dan tidak tentu kapan lagi Iriana kembali. Karena selama ini Iriana hanya datang saat mau saja jadi Felix tidak bisa memprediksi dan menghitung seberapa lama sebenarnya waktu yang dibutuhkan Iriana untuk itu.
Felix merasa tidak perlu menanyakan hal itu karena akan membuat Iriana menganggap dirinya sangat dibutuhkan dan Felix tidak menyukai gagasan ide itu.
"Harga diri ternyata bisa membunuh seseorang ...." kata Felix dalam hati menyesal.
Penyesalan Felix itu berlanjut saat Bates menyerangnya yang sedang tidak fokus. Tangan Bates menembus sampai kebelakang punggung Felix.
"Felix?!" teriak Cain yang juga tiba-tiba diserang oleh Efrain dan sedang bertahan jadi tidak bisa mendekati Felix.
"Ini ... seperti ...." Felix memuntahkan darah dari mulutnya.
"Kau ingat?!" kata Bates.
"Tentu saja, aku tidak tahu kenapa ... saat itu kau tiba-tiba saja datang menyerang. Kukira kau hanya ingin mengetes kekuatan Cain saja saat itu. Atau ada maksud lainnya yang masih kutebak-tebak. Tapi ternyata kau memang selalu ada didekat kami selama ini." kata Felix.
"Tidak sia-sia ... semuanya untuk hari ini. Jika ada yang mengenal kalian dengan baik, itu adalah aku pastinya." kata Bates.
"Jadi, jika Bates yang melukaiku aku tidak akan terbangun. Tapi perlahan akan mati pada saat sedang tidur seperti sekarang ini. Aku sedang tertidur, apa tubuh asliku juga sedang terluka sama persis atau bagaimana?! memang sangat penting mengenal musuh sebelum bertarung. Dan salahnya aku ... tidak mengenal Bates." kata Felix dalam hati merasakan sakit begitu nyata sampai-sampai lupa kalau masih ada di dalam mimpi.
"Kau pasti mengira masih ada di dalam mimpi ya?! ini nyata ... kau sudah bangun!" kata Bates menarik tangannya yang masih mengeluarkan percikan listrik perlahan keluar dari dada Felix.
"Tentu saja ini mimpi, sesakit apapun ini ... tapi tidak membuatku kehilangan kesadaran seperti saat itu. Bahkan setelah kehilangan banyak darah begini aku masih bisa berdiri. Menurutmu itu wajar terjadi kalau bukan mimpi?!" kata Felix.
"Kau terlalu memandang rendah dirimu, dengan luka seperti itu sekarang tidak akan membunuhmu. Kau sudah hampir layak melewati gelar sebagai Caelvita pemula dan menjadi Caelvita Resmi." kata Bates.
"Aku mungkin tidak mengenal Bates dan kekuatannya tapi aku mengenal tubuhku sendiri ... aku tahu betul saat sedang terluka saat ini karena aku sudah sering terluka jadi aku tahu bagaimana tubuhku merespon saat itu terjadi dan bagaimana yang kurasakan saat proses itu. Dan ... ini bukan tubuh asliku. Bates mungkin bisa menipuku soal karakter lainnya yang ada disini tapi melukaiku adalah kesalahan besar. Dengan terluka seperti ini aku tahu betul sekarang sedang bermimpi. Untuk tidak bingung aku harus terus terkena serangan Bates. Tidak boleh terlalu kentara agar dia tidak curiga dan yang terpenting tidak boleh juga membahayakan nyawaku." kata Felix yang sudah mulai mendapat solusi.
Tapi luka yang ada pada dada Felix kelihatan mulai tertutup kembali, "Lihat ... penyembuhan dan pemulihanmu sudah berkembang pesat." kata Bates.
"Yang benar saja ... kau hanya meniru apa yang kau lihat. Jadi, Efrain melukai kakiku karena ingin melihat ini. Untuk memperlihatkannya pada Bates agar mimpi yang dibuatnya bisa sempurna. Tunggu ...." Felix menemukan sesuatu yang janggal saat sedang berpikir.
"Saat itu Cain yang menggantikan sepatuku dan dia mengatakan sudah melihat itu berulang kali. Apa itu tanda dari Cain?! apa Cain sengaja melakukan itu?! untuk seorang Cain yang sekarang, dia terlihat tidak menggunakan kekuatannya dengan baik. Iya ... semua gerakannya kelihatan sudah ketinggalan jaman. Seperti saat masih bersamaku dulu, padahal dia sudah berkembang pesat selama pergi." Felix kemudian tersenyum, "Itulah kenapa dia tertinggal soal informasi kekuatan Cain. Karena ketidakhadiran Cain, jadi informasinya tentang kekuatan Cain tidak diperbaharui. Pasti hanya memodifikasinya secara darurat saat melihat kedatangan Cain tadi ...."
"Aku tahu sekarang ...." kata Felix.
"Kau punya banyak informasi tapi tidak semuanya. Itu karena kau juga membuat Cain tidur saat ini kan?!" kata Felix.
Memang benar, Felix, Cain, Goldwin, Banks dan bahkan Zeki pun juga tertidur saat ini. Selain Felix, yang lainnya hanya dibuat tidur saja untuk menarik informasi. Bukannya meletakkan mereka semua dalam mimpi yang sama tapi hanya Felix dan Bates sebenarnya yang ada didalam mimpi itu.
"Walau kau mengawasi kami, pasti akan ada saja yang terlewatkan. Kau saat ini sedang menarik informasi saat mereka sedang tertidur kan?! tapi mereka punya segel pikiran yang kuat, walaupun kau menarik informasi dan terlihat begitu normal tapi tetap saja tidaklah sempurna." kata Felix.
"Sepertinya ketidakhadiran Cain memang lebih dari berguna. Memilih untuk bersembunyi dibanding berada disisiku. Padahal aku mengeluhkan soal itu ternyata ...." kata Felix dalam hati antara senang dan juga menyesal.
Akhirnya Bates menghilangkan apa yang ada disekeliling. Menyisakan dirinya saja dan Felix disebuah ruangan gelap dengan pencahayaan minim.
"Walau begitu, kau tetap tidak akan bisa keluar darisini." kata Bates kini duduk bersila, "Kalaupun kau membunuh dirimu sendiri berapa kalipun kau tidak akan pernah bangun. Aku hanya perlu menahanmu disini sampai pasukan Efrain unggul tanpa kehadiranmu dan Cain. Sehingga saat kau kembali, semua pasukanmu sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Tapi itupun jika aku membiarkanmu hidup untuk melihat itu."
"Felix! Cain! bangun!" teriak Teo terus menggoyang-goyangkan tubuh mereka berdua yang tidak kunjung bangun.
Goldwin, Banks dan Zeki juga sama. Mereka tertidur disaat pasukan Felix sepertinya sedang dalam krisis dan terus dipukul mundur. Tan, Teo dan Tom kini beralih tugas untuk melindungi mereka yang sedang tertidur. Tapi sayangnya lawan mereka adalah Efrain.
Luka dan rasa takut menyelimuti. Terutama melihat bagaimana para andalan atau pemain kunci berbaring tidak berdaya dan hanya terus dilindungi. Pasukan Felix kehilangan semangat dan Tan, Teo, Tom hanya mengerahkan segala apa yang ada untuk bertahan hidup dengan harapan agar yang mereka lindungi itu cepat bangun.
"Aku mohon bangun!" Teo meneteskan air matanya merasa inilah akhirnya. Pertahanan Tan dan Tom dikalahkan dan Efrain sudah ada di depan mata. Teo merasakan kaku diseluruh tubuhnya. Bagaimana Efrain tiba-tiba muncul dihadapannya adalah peristiwa paling menakutkan dalam hidupnya.
"Menjauhlah!" suara dari Seseorang yang terdengar teredam karena Teo sedang setengah sadar.
Suara baru kembali normal terdengar saat Efrain tiba-tiba menghilang dari hadapan Teo yang ternyata karena tendangan dari seseorang dari Pria berambut putih.
"Siapa dia?! aku tidak melihatnya tadi, apa dia baru datang?! sekuat apa dia sampai bisa menerbangkan Efrain dengan mudahnya begitu ...." kata Tom memaksakan diri bangun setelah terkena serangan Efrain.
Tidak hanya satu Quiris itu tapi kali ini ada lagi Quiris baru yang datang. Kali ini Perempuan dengan rambut berwarna merah.
"Minggir, aku akan membangunkannya!" kata Quiris berambut merah yang kelihatan punya kepribadian buruk hanya dengan didengar nada bicaranya.
"Kukira sekilas wajahnya memang sangat mirip dengan Felix ternyata sifatnya juga sama." kata Teo cepat menyingkir.
"Kau ... anda siapa?!" Teo terbata-bata dan merasa harus berbicara sopan dengan seseorang yang memakai mahkota mewah diatas kepalanya itu.
"Aku?! ibunya!"
...-BERSAMBUNG-...