
Haera menatap Cain dengan wajah seperti malu sendiri mendengar perkataan Cain barusan. Air sungai itu kemudian membuat lubang yang tidak terlihat ujungnya. Cain menyimpan pedangnya dan langsung melompat, cara melompatnya tidak biasa tapi dengan jungkir balik, "Dasar tukang pamer!" kata Haera mengikuti Cain ikut melompat juga.
Butuh waktu lama untuk bisa sampai ke dasar, saat sampai pun langsung disambut oleh suhu dingin dari es yang mengelilingi. Karena tahan dingin, Cain bisa dengan santainya berada di sana, "Sampai juga di kerajaan es!" kata Cain menatap Haera dengan ejekan.
"Ian berlatih saja dulu! biar Haera masuk rumah dan makan dulu ...." kata Haera yang berbicara dengan mulut, tidak melalui pikiran karena di rumahnya itu tidak terhubung dengan dunia luar. Sehingga tidak akan mempengaruhi jika Haera mengatakan sesuatu.
Baik itu Tan, Teo dan Tom maupun Felix tidak tahu apa yang dilakukan oleh Cain dan Haera jika pergi bersama.
"Franklin yang merupakan Setengah Aluias apa bisa bertahan lama disini?" tanya Cain tapi Haera sudah masuk ke dalam rumahnya yang warnanya sangat mencolok itu. Seperti kepribadian Haera yang sangat unik. Rumah yang seperti menara miring dengan cat warna-warni.
Cain sampai di sebuah lapangan es yang luas yang perlahan sudah ada yang tanpa batu es yang menjulang tinggi tapi sebagian juga masih ada, "Baru segini ... aku harus banyak berlatih lagi!" kata Cain mengeluarkan pedangnya yang berhiaskan safir tadi lagi. Cain mulai menebas batu es lainnya, "Akan aku buat semua batu es disini hancur!" teriak Cain memukulkan pedangnya tapi batu es itu tidak bergeming sama sekali. Padahal seharusnya Pedang Ruleorum lebih kuat dari Pedang Alvaudennya yang masih untuk Alvauden pemula itu.
Haera datang meluncur duduk dengan mangkuk yang berisi makanannya, "Menghancurkan es itu saja Ian tidak bisa, apalagi melakukan misi akhir ...."
"Kau diam saja dan makan!" kata Cain sebal.
"3 hari lagi, Ian yakin sudah siap?" tanya Haera sambil menyuap makanan dengan sendok yang tidak dikeluarkan dari dalam mulutnya.
"Kau lihat lapangan yang luas ini? bukankah ini sudah menandakan tekadku yang besar?!" jawab Cain mengingatkan Haera telah menghancurkan banyak batu es.
"Tekad memang penting tapi pada akhirnya semuanya juga tentang menggunakan kekuatan!" kata Haera.
"Aku pasti bisa!" kata Cain masih berusaha menghancurkan batu es yang setinggi 5x lipat dari tingginya itu.
"Batu es yang ada disini adalah batu es yang sangat keras, bahkan merupakan benda atau bahan terkeras dari semua yang ada di dunia ini ... setidaknya itu menandakan Ian sudah mulai berkembang, tidak seperti pertama kali kesini yang tidak bisa melakukan apapun!" kata Haera.
Selama ini Cain selalu ikut latihan bersama Banks dan Tiga Kembar. Tidak pernah terpikirkan bahwa Cain juga ternyata latihan saat bersama dengan Haera.
"Katakan saja jika Ian butuh bantuan ...." kata Haera.
"Kau fokus saja melakukan misi akhirmu, begitupun juga aku! kita harus saling mempercayai satu sama lain. Aku percaya kau bisa melakukan misi akhir dengan baik, sebaliknya kaupun juga harus begitu! kau harus percaya aku juga bisa melakukan misi akhir dengan baik, bahkan jika aku meminta bantuan ... jangan datang menolongku!" kata Cain.
"Apa sebaiknya kita memberitahu Lix tentang ini?" tanya Haera.
"Tidak, di hari terakhir ... Felix akan sibuk terus disamping Kiana, saat itulah kita bisa melakukannya!" jawab Cain.
Haera tiba-tiba bersin mengakibatkan hujan salju lebat, "Sudah kubilang tahan kalau mau bersin!" kata Cain jengkel.
"Bersin, tidak bisa ditahan!" kata Haera.
"Auuuuw dinginnya!" suhu dingin yang ada disana memang bisa ditahan Cain tapi jika Haera bersin mengakibatkan salju turun dan akan membuat suhu berlipat ganda semakin dingin. Bahkan Cain yang tahan dingin akan merasakan dingin yang menusuk itu.
"Kau bangga dengan itu?!" kata Cain sebal.
"Efrain ikut campur dalam permainan ini, bukan hanya untuk mengacaukan mental Caelvita dan Alvauden tapi untuk tujuan yang lebih besar lagi ... apapun yang terjadi kita harus menghentikan Efrain!" kata Haera kembali serius.
"Semuanya akan baik-baik saja!" kata Cain kembali menghantamkan pedangnya pada batu es yang langsung terbelah dua membuat Haera diam-diam memasang senyuman melihat itu.
Felix terus mondar-mandir mengintip ke jendela melihat apa Cain sudah datang tapi tidak ada tanda-tanda sama sekali. Tan, Teo dan Tom yang menegur Felix untuk berhenti menunggu Cain dan tidur saja karena sudah tengah malam sudah bosan dan akhirnya tidur duluan.
Cain mengirim pesan bahwa terjadi hal aneh dengan permainan. Kematian terjadi cepat dari saat mereka menukar kematian, itu tandanya ada yang berubah. Tapi Cain melarang mereka untuk memeriksa dengan alasan yang sudah dirincikan.
Bahwa ternyata Ibu dari Hauda dan Ibu dari Erasma telah melakukan kesepakatan. Yang dimana Ibu Hauda merelakan putrinya untuk menyelamatkan Erasma. Sebenarnya memang tidak ada yang berubah karena memang Hauda lah yang tidak dipilih tapi kini dengan cara yang berbeda.
"Apa sebenarnya yang Cain lakukan jika pergi bersama Haera?" tanya Felix dalam hati menggiggiti kukunya, "Hahh!" Felix panik menangkap potongan kukunya yang hampir jatuh. Karena jika jatuh akan membuat pohon tumbuh di lantai kamarnya, "Perasaanku mengatakan kalau Cain melakukan sesuatu tapi apa? semoga hanya belajar saja dari Haera dan tidak melakukan hal aneh ...."
H-2 Permainan Tukar Kematian, Felix kaget saat bangun melihat Cain sudah di atas kasurnya tidur bersama Haera. Seperti biasa mereka melakukan aktivitas pada umumnya, bahkan Kiana terlihat lahap saat menyantap sarapannya, "Seperti suasana tenang sebelum badai datang!" kata Teo.
"Tapi yang tidak bisa kubayangkan bagaimana bisa Ibu Hauda merelakan putri kandungnya sendiri ...." kata Tan.
"Memang tidak ada yang berubah dengan pemain tapi caranya berbeda ... apa itu tidak akan mengubah apapun nantinya?" tanya Tom.
"Kau ini selalu saja mengkhawatirkan segala sesuatu!" gerutu Teo.
"Dalam matematika, walau sedikit tapi setiap Variabel yang berubah pasti hasilnya juga ikut berubah ...." kata Tom.
"Jangan khawatir, permainan ini tidaklah berdasarkan pengetahuan apapun! tidak bisa dijelaskan dengan sains dan apapun itu ...." kata Cain, "Maksudku ... semuanya akan baik-baik saja!" kata Cain memperjelas.
"Memang permainan ini tidaklah bisa dijelaskan oleh pengetahuan Mundclariss. Tapi sebuah perubahan ini pasti akan membuat sebuah perubahan besar di masa depan!" kata Tan menyetujui perkataan Tom.
"Aku mengerti kekhawatiran kalian yang menyangkut soal keluarga pemain yang melakukan kesepakatan kemarin itu tapi untuk saat ini kita fokus saja dengan masalah yang ada di depan mata kita ...." kata Cain.
"Rasanya aku ingin menghentikan waktu agar lusa tidak datang ...." kata Teo.
"Lusa akan menjadi hari yang panjang ...." kata Felix.
Cain dan Haera saling menatap, "Lusa, Felix akan terus bersama Tan, Teo dan Tom untuk mencegah hal buruk terjadi, termasuk disibukkan oleh Kiana juga ... saat itulah kita beraksi!" kata Cain dalam hati yang ingin disampaikan pada Haera tapi mengingat Felix akan mendengar komunikasi dua arah itu, Cain memutuskan untuk tidak melakukannya. Lagipula pasti Haera juga sudah mengerti.
...-BERSAMBUNG-...