
Polisi sudah meminta bala bantuan daritadi tapi belum datang-datang juga. Awalnya dari pihak kepolisian pusat tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh polisi yang meminta bantuan untuk didatangkannya pasukan khusus anti ******* dan juga meminta Y.B.I ke sebuah desa tapi setelah mendapat rekaman video amatir dari seseorang, semua unit khusus kini menuju desa itu.
"Kalau mereka tidak datang juga akan aku bekukan sistem mereka nanti!" kata Mertie merasa tidak nyaman karena sedang berada di atas pohon. Mertie tidak menggunakan nama Hantu Merah Muda karena bagi Mertie nama itu hanya untuk meruntuhkan perusahaan atau pemerintahan yang korup atau melakukan hal lainnya yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. Sebuah rahasia yang tidak diselidiki oleh manusia melainkan hanya diketahui oleh seseorang yang seperti hantu. Ada tapi tidak ada, "Nama Hantu Merah Muda bukanlah digunakan untuk mengungkap dunia hantu yang sebenarnya ...." kata Mertie dalam hati sambil tersenyum.
Alat elektronik biasanya tidak bisa bekerja jika ada iblis tapi untungnya ada Kayle yang masih menyimpan alat buatan Mertie. Kayle adalah salah satu polisi yang datang ke desa itu untuk menyelidiki. Tapi tidak menyangka kejadian aneh mulai terjadi lagi.
"Malam ini tidak akan berakhir sampai ada korban yang meninggal atau bisa saja semua yang ada disini termasuk kita akan mati." kata Kayle sedang bersembunyi dari wartawan yang sudah bukan lagi diri mereka sendiri sekarang sedang mengejar-ngejar anggota kepolisian, "Kemana anak-anak itu?! seharusnya mereka datang saat situasi seperti ini ...." kata Kayle dalam hati.
Wartawan yang tadinya memegangi kamera untuk merekam apa yang terjadi malah langsung melempar kamera berharganya setelah seekor ular masuk ke dalam mulutnya. Wartawan yang telah dirasuki itu menghancurkan kameranya sendiri. Hal yang mustahil dilakukan dan pasti didalam, wartawan itu lebih menangisi kameranya dibanding kenyataan bahwa saat ini sedang dikendalikan.
"Bagaimana bisa handphone mu bisa berfungsi? sementara kami tidak?" tanya Rekan Kayle.
"Mungkin hanya keberuntungan saja." jawab Kayle seadanya, "Kejadian malam itu tidak ada apa-apanya dibanding saat ini yang terjadi. Bisa saja desa ini akan dipenuhi oleh mayat besok." kata Kayle dalam hati.
"Aku tidak percaya sedang berada disini ...." kata Mertie ingin turun dari atas pohon tapi takut jika masih ada ular yang lewat dibawah sana. Tidak ada memang yang menyakitinya karena semua ular hanya terlihat terburu-buru pergi. Tapi Mertie yang panik melihat rombongan ular itu hanya bisa memanjat pohon sampai ke puncaknya untuk menyelamatkan diri. Berkat itu juga dia bisa merekam kejadian di desa dan mengirimnya.
"Hahh ... tunggu! kita istirahat sebentar." kata Teo langsung melemparkan dirinya untuk berbaring di tanah.
"Kita tidak punya waktu untuk istriahat, ayo cepat bangun!" kata Tan mengikat orang terakhir yang kerasukan di pohon. Bahkan anak kecil 5 tahun itu juga terpaksa diikat karena terus menyerang juga bahkan sudah menggigit dan mengoyak daging pada bahu Teo.
Cara untuk mengeluarkan ular yang masuk ke dalam tubuh manusia hanyalah dengan memberi air dari danau yang ada di Kerajaan Ruleorum. Ular akan keluar sendiri dan langsung menghilang dengan sendirinya tapi itu tidak menjamin bahwa mereka yang sudah meminum air danau Ruleorum itu tidak akan dirasuki kembali. Makanya terpaksa Tan dan Teo harus mengikat mereka semua dulu sebelum ditinggalkan. 11 orang itu sedang tertidur setelah ular yang ada di dalam diri mereka keluar.
"Kau masih punya air danau Ruleorum kan?" tanya Teo sudah mulai bangkit walau dengan memaksakan diri.
Tan hanya diam saja, "Sudah habis ya?" Teo menyadari diamnya Tan itu.
"Banyak yang tumpah begitu saja saat kita mencoba meminumkannya pada mereka ...." kata Tan.
Tidak bisa dipungkiri bagaimana perjuangan Tan dan Teo untuk memaksa mereka meminum air danau Ruleorum itu. Sebuah keberuntungan bahwa mereka berhasil mengeluarkan semua ular yang memasuki orang disana. Tapi jika hal itu terjadi ditempat Tom dan Cairo saat ini, Tan dan Teo khawatir apa yang harus dilakukan untuk orang-orang yang ada di desa.
"Garam Ruleorum hanya mempan untuk melindungi dari jiwa iblis, kalau dalam bentuk ular seperti ini yang merupakan bagian tubuh dari iblis itu sendiri hanya bisa dikeluarkan dengan air danau Ruleorum saja." kata Tan melihat Teo memeriksa persediaan garam di tasnya.
"Setidaknya tadi, kulihat mereka terlihat kesakitan saat dilempari garam ini." kata Teo sudah menyimpan banyak di sakunya untuk jaga-jaga.
"Baiklah, setidaknya kita bisa membuat mereka berhenti menyerang walau sebentar." kata Tan setuju pada ide Teo.
Tan dan Teo keluar dari dalam hutan dan melihat pemandangan di desa yang dipenuhi cairan merah pada jalanan dan juga pada rumah-rumah. Ratusan ular terlihat tergeletak disana dan teriakan demi teriakan terus terdengar. Terlihat Felix sedang berusaha mengeluarkan pedang besar yang bersarang di tubuhnya itu.
"Felix!" teriak Tan dan Teo berlari menuju tempat Felix berada.
"Bagaimana yang disana?" tanya Felix.
"Kau punya botol ramuan kosong kan?" tanya Felix.
"Ya, ada apa?" tanya Tan.
"Isi dengan darahku, itu bisa bekerja seperti air danau Ruleorum." jawab Felix.
"Kau yakin?" tanya Teo melihat Felix akan mencabut pedang besar itu dan otomatis akan membuat Felix mengalami pendarahan hebat.
"Setelah ini aku akan ke Mundebris, tapi kalian tetap disini untuk mengeluarkan semua ular yang merasuki orang disini. Ular itu kalau tidak dikeluarkan, selamanya akan tetap tinggal seperti parasit seumur hidup di dalam tubuh manusia. Kau mengerti akan hal itu kan, Tan? jangan sisakan satu orang pun!" kata Felix.
"Baiklah, aku akan menyusulmu setelah selesai disini." kata Tan.
Teo tidak tega melihat Felix mencabuti pedang di dadanya itu. Tapi Felix tanpa keluhan sedikitpun hanya terus menarik pedang itu.
"Teo, bantu aku!" Tan sudah mengeluarkan banyak botol ramuan meminta Teo membantunya memegang botol lainnya.
Pedang itu berhasil tercabut, Tan dan Teo yang tadinya menahan napas bisa bernapas lega. Darah Felix terus mengalir keluar dan masuk ke dalam botol yang dipegangi oleh Teo dan Tan.
"Buat yang ada disini lupa apa yang terjadi! bala bantuan polisi akan segera sampai." kata Felix sambil memanggil Marsden, "Bisa bantu aku berdiri?" Tan dan Teo langsung membantu Felix berdiri, "Sudah pasti kalau dia berhasil melakukan misinya, jadi kita hanya perlu membuat kemenangannya ini menjadi kemenangan kosong ... dengan mereset kemenangannya dengan aku yang sudah terlanjur terluka ini akan ke tempat batu permata ditanam." kata Felix menahan darahnya menetes.
"Kau bisa saja mati saat menjadi korban pengganti dengan keadaan seperti ini." kata Teo.
"Lagipula, sudah terlanjur. Darah ini harus sebaik-baiknya digunakan." kata Felix mulai berjalan.
"Aku tidak melihat ada roh ...." kata Tan melihat sekeliling yang seharusnya saat ini desa itu dipenuhi banyak arwah tapi tidak terlihat sama sekali.
"Ular yang merasuki manusia itu juga memakan jiwa yang meninggal." kata Felix.
Tan dan Teo hanya bisa menahan emosinya karena melihat keadaan Felix sekarang saja sudah sangat memprihatinkan. Terlebih lagi Felix akan langsung membawa dirinya untuk meneteskan darahnya pada batu permata sehingga batu permata yang pastinya saat ini sudah bersinar terang tanda sudah berhasil itu dicabut.
"Ayo ...." kata Tan menarik Teo.
"Apa tidak apa-apa dia sendirian? iblis yang ada disini pasti akan langsung ke tempat Felix berada saat tahu bahwa batu permata akan ditarik." kata Teo.
"Kita harus menyelesaikan apa yang diperintahkan Felix disini dulu." kata Tan memegang erat botol berisi darah hijau Felix.
...-BERSAMBUNG-...