UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.102 - Disengaja! Bukan Kebetulan.



Felix berlari ke arah kamarnya kemudian dikejar oleh Cain, Tan, Teo dan Tom. Tapi tidak ditemukan keberadaan Felix yang tiba-tiba menghilang saat sedang dikejar.


"Kemana dia?" tanya Teo.


Tom bergegas ke kamar Felix dan Cain tapi tidak ditemukan juga keberadaan Felix. Cain tahu betul Felix saat ini sedang masuk Bemfapirav tapi tidak bisa mengatakannya pada tiga kembar. Walau mereka khawatir tapi Cain tidak bisa mengatakan apa-apa dan hanya mulai mengatakan lelucon payahnya untuk mengalihkan perhatian.


"Biarkan saja dia sendiri dulu menenangkan diri! nanti setelah tenang baru ajak dia untuk makan!" kata Tan pada Cain.


"Tapi Felix bukan seseorang yang bisa menenangkan diri sendiri!" kata Cain dalam hati.


Mau tidak mau Cain dan tiga kembar makan siang tanpa Felix yang tidak bisa ditemukan dimanapun.


"Aku duluan ya!" kata Cain mengangkat nampan makanannya yang hampir tidak disentuh sama sekali dan pergi mengisi nampan makan baru untuk Felix.


Cain berjalan menaiki tangga dan memperkirakan tempat Felix menghilang dan mulai masuk ke Bemfapirav sambil terus berjalan.


Terlihat Felix sedang duduk sambil menyandarkan punggungnya di dinding sedang berpikir.


"Kau tepat berada disini!" kata Cain melihat Felix yang ada tepat di tempat ia menghilang tanpa harus capek-capek mencari.


"Aku sudah mengira kau akan datang!" kata Felix kemudian meminta nampan makanan yang ada ditangan Cain.


"Kau berharap sekali! bagaimana kalau aku tidak datang?!" kata Cain menyerahkan nampan makanan.


"Kau sudah datang, apa yang perlu diperdebatkan lagi?!" kata Felix mulai duduk bersila menikmati makanannya, "Kau kan sudah makan!" Felix kesal saat ingin menyuap makanan dan tangannya yang memegang sendok malah dipegang oleh Cain dan diarahkan ke mulut Cain sendiri.


"Dasar tidak tahu terimakasih!" kata Cain jengkel.


"Memang! bukannya tidak tahu ya tapi memang tidak suka!" balas Felix.


"Ya ... bagus sekali! bangga kau ya dengan prestasi itu?!" balas Cain mengejek.


Begitu seterusnya Cain hampir memakan setengah dari makanan yang dibawanya untuk Felix itu.


"Kenapa kau begitu peduli dengan Kak Luna?" tanya Cain tiba-tiba.


"Dia orang yang menyebalkan!" jawab Felix.


"Heh?"


"Dia orang pertama yang suka mencampuri urusan orang lain dan terus mengganggu, jarang membuatku sendirian ... sepertimu!" kata Felix.


"Jadi begitu ...." kata Cain dalam hati sambil tersenyum.


"Ayo kita ke Mundebris malam ini!" kata Felix mulai berdiri.


"Ke Istana Sanguiber?" tanya Cain.


Felix hanya mengangguk dan mulai menghilang membuat Cain kesal karena ia ditinggalkan dengan nampan makanan.


"Setidaknya dia bilang terimakasih ... atau setidaknya bilang tolong ini dikembalikan ...." Cain mengomel.


***


"Dia sudah punya banyak teman ya!" kata Cain melihat Miller begitu bahagia berlarian saling mengejar dengan anak lain di koridor.


Idalina yang melihat itu juga ikut bahagia dan tersenyum sambil menatap Cain dan mulai pergi setelah melihat Miller asyik bermain.


Miller yang berlarian tiba-tiba berhenti dan wajah bahagianya berubah menjadi suram tidak lama setelah Idalina pergi.


"Kenapa tidak melanjutkan bermain lagi?" tanya Cain.


"Kalian bermain tanpaku saja!" kata Miller kepada anak lain.


"Ada apa?" tanya Cain.


"Felix!" Cain ingin menghentikan.


"Kau pernah menyelamatkannya dengan membawanya ke Bemfapirav kan? berarti dia juga bisa melihat hantu seperti Mertie ... dan berusaha membuat kakaknya yang hantu agar bahagia melihatnya bahagia tapi sebaliknya kau merasa bersalah kan karena dia selalu ada disampingmu!" kata Felix.


"Salah!" teriak Miller, "Aku hanya ingin memperlihatkan bahwa aku baik-baik saja tanpanya!"


"Kalau begitu langsung bilang saja!" kata Felix.


"Dasar tidak peka!" Cain dalam hati sambil menatap tajam Felix.


"Jika dia tahu aku bisa melihatnya ...." Miller mulai terisak.


"Apa kau tidak sengsara jika hantu kakakmu itu selalu bersamamu?" tanya Felix.


"Tidak!" jawab Miller tegas.


"Kakakmu selama hidupnya mengabdikan diri untuk menjagamu dan saat menjadi hantupun dia tetap melindungumu dan terus berada disampingmu ... apa kau tidak merasa bersalah?!" kata Felix menusuk.


"Apa dengan aku yang menginginkan kakak terus disisiku adalah egois?" tanya Miller.


"Bukan egois! tapi memang seharusnya kakak melakukan hal itu!" sahut Cain cepat sebelum Felix menjawab.


"Biarkan dia menjalani hidupnya sendiri saat ini! kau tidak kasihan dengannya yang tidak pernah menikmati hidup dengan benar karenamu?!" kata Felix semakin membuat Miller sedih.


"Hentikan Felix!" kata Cain.


"Kau yang hentikan! mau sampai kapan dia terus begini ...." Felix kesal mengalihkan pandangannya pada Cain tapi Miller tiba-tiba berlari pergi.


"Kau bisa tidak kasihan sedikit saja?!" kata Cain tidak habis pikir.


"Dengan hantu kakaknya yang terus bersamanya, mau tidak mau dia hanya terus memaksakan bahagia dan melakukan hal yang disukai hantu kakaknya ... tanpa benar merasakan bahagia dan melakukan sesuatu yang ia suka ... aku hanya ingin dia menjalani hidup baru dengan benar tanpa bayang-bayang kakaknya ...." kata Felix.


"Jadi begitu ... bisa tidak kau katakan dengan lembut? tidak perlu menyakitinya seperti itu ...." kata Cain baru mengerti ternyata Felix melakukan itu untuk kebaikan Miller juga.


"Dia perlu disadarkan dengan cara seperti itu!" kata Felix dingin.


***


Cain memutar radio dengan menggunakan smartphone nya yang dihubungkan dengan earphone tapi ditekan tombol speaker sehingga Felix juga bisa mendengarnya.


"Kejadian kebakaran panti asuhan membuat penjagaan panti asuhan semakin diperketat untuk menanggulangi terjadinya kejadian yang sama dan semua petugas agar dihimbau berhati-hati dan anak yang ada di panti dalam pengawasan ketat dalam menggunakan api ...." berita yang disampaikan lewat radio.


Felix tersenyum lebar mendengar itu, "Tidak kuduga bisa berhasil juga!" katanya dalam hati.


"Setelah banyaknya panti yang kebakaran baru ditindaki sekarang? apa-apaan?!" Cain kesal.


"Memang mereka perlu diperingati dengan cara yang benar! kalau tidak pasti akan diam saja tanpa melakukan apa-apa dan menunggu tempat mereka menjadi salah satu target lagi ...." kata Felix dalam hati.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Cain melihat Felix sudah selesai memakai baju.


"Ayo!" Felix mulai memanggil gerbang emeraldnya di dalam kamarnya tanpa harus menyelinap keluar panti. Tapi karena gerbang emerald ukurannya besar, itu terlihat menembus panti jika dilihat dari luar. Tentunya manusia biasa tidak bisa melihat.


"Memangnya kau tahu sisi lain Mundebris disini apa?" tanya Cain yang tidak tahu tempat apa di Mundebris sisi lain dari panti yang ditempatinya.


"Kukira saat ngambek waktu itu kau kesini?!" kata Felix yang jelas-jelas Cain tahu bahwa itu adalah ejekan. Akhirnya Cain hanya diam menahan rasa penasarannya, lagipula tidak lama lagi akan dia ketahui sendiri saat sampai nantinya.


"Kantor Aluias? ibarat kantor polisi kan?" tanya Cain.


"Ya!" jawab Felix sambil tersenyum, "Entah bagaimana tapi lokasi panti asuhan arbor bisa dikatakan sangatlah aman ... jika terjadi sesuatu, Aluias akan cepat ke panti menyelesaikan masalah. Tapi itu juga berlaku saat nanti viviandem dibangkitkan ...."


"Tapi bagaimanapun juga ini seperti disengaja ... bukan kebetulan semata!" kata Cain tidak percaya.


...-BERSAMBUNG-...