UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.520 - UNLUCKY : Perang Besar Pertama Caelvita-119 Part 3



Jika di Mundclariss, IQ seseorang adalah tolak ukur kecerdasan yang menjadi kebanggaan. Sehingga tidak ada alasan untuk nilai IQ itu disembunyikan.


Sedangkan di Mundebris IQ lebih dikenal dengan Level Dunia Pikiran. Berbeda dengan Mundclariss yang suka memamerkan nilai IQ, di Mundebris lebih memilih untuk menyembunyikan Level Dunia Pikiran.


Kebanyakan hanya dibagi kepada Quiris yang memang sangat dekat saja, bahkan Quiris paling dekat sekalipun jarang dibagikan karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan bisa saja kawan menjadi lawan.


Di kelompok Efrain sendiri sudah mengetahui bahwa Ditte lah yang memiliki Level dunia pikiran paling tinggi yang ada disana. Tapi saat terjadi penggabungan seluruh dunia pikiran, Ditte mengkonfirmasi bahwa bukan dia pemilik dunia pikiran. Tapi setelah mengetahui itupun mereka tetap bersikap biasa saja memasang wajah datar.


"Jadi, siapa kalau bukan kau?!" tanya Efrain lewat pikiran.


Seperti halnya Caelvita dan Alvauden yang memiliki Jaringan Alvauden untuk berkomunikasi. Quiris lain juga punya hal serupa. Masing-masing kaum di Mundebris bisa berkomunikasi dengan kaum yang sama lewat pikiran karena terhubung oleh darah yang sama.


Makanya masing-masing kaum di Mundebris sering terjadi perselisihan antara satu kaum dengan kaum lainnya. Karena jika satu Quiris dari kaum tertentu diganggu oleh kaum lain, bisa saja itu memicu peperangan karena ikatan persaudaraan yang kuat. Kecuali Kaum Ruleorum yang tidak peduli dengan masalah diluar dan juga soal ikatan persaudaraan sesama kaum mereka juga tidak terlalu peduli. Bagi Ruleorum, tugas adalah nomor satu.


Banyak yang meminta untuk dibantu saat berperang tapi Ruleorum memilih untuk netral, tidak memihak kaum atau kerajaan manapun itu. Ruleorum terkenal sebagai kerajaan yang sangat membatasi diri untuk bersosialisasi dengan dunia luar selain tugas Ruleorum. Kaum Ruleorum lebih memilih untuk menjalankan apa yang menjadi tugas daripada harus ikut campur dengan permasalahan kerajaan lainnya.


"Senior Banks mungkin ... tapi dia tidak terlihat akan melakukan sesuatu." jawab Ditte.


"Dia Daemonimed, lebih mendahulukan merawat yang terluka daripada melukai." kata Efrain.


"Lebih baik, jangan ganggu dia dulu. Kalau memang dialah pemilik dunia pikiran ini, maka kita tidak boleh mengganggunya." kata Iblis beruang.


Begitulah, bagaimana kelompok Efrain memilih untuk tidak menyerang Banks yang sedang merawat Zeki dan Tan. Karena takut kalau diganggu, Banks akan meluluhlantakkan dunia pikiran disana. Tapi, saat Banks ikut bergabung membantu kelompok Felix yang sedang terdesak. Disitulah kelompok Efrain sadar kalau Banks bukanlah pemilik dunia pikiran gabungan itu.


Dengan susah payah melarikan diri dari iblis yang mengeroyokinya untuk datang ke tempat Tan dan Zeki. Tapi jika menjadi pemilik dunia pikiran, Banks bisa melukai dari jauh sekalipun tapi tidak dilakukan.


"Lalu siapa?!" tanya Ditte penasaran.


Suara gemuruh besar datang dari segala arah. Bulan palsu di dunia pikiran itu tertutupi awan gelap. Seketika dunia pikiran disana menjadi sangat gelap dan suasana menjadi sangat mencekam. Halilintar menyambar dari langit sampai ke tanah mengikuti setiap langkah yang diambil Felix dengan Pedang Caelvita nya. Mata hijau Felix terlihat bersinar terang dalam kegelapan bersama dengan kilatan petir disamping kiri dan kanannya yang datang bergantian.


"Caelvita-119 ternyata ... pemilik dunia pikiran ini." kata Ditte menjawab pertanyaannya sendiri, "Tidak kusangka, Mundebris mendapatkan Caelvita yang cerdas. Level dunia pikiran yang bahkan lebih tinggi dariku dan Senior Banks." Ditte tercengang sendiri karena Caelvita pemula dihadapannya itu mempunyai Level dunia pikiran lebih tinggi darinya.


"Bersiaplah untuk kemungkinan terburuk ...." kata Ditte memperingatkan. Para Iblis membuat pelindung untuk serangan yang mendekat itu.


"Jangan meremehkanku!" teriak Efrain.


Ditte menjadikan Zewhit yang menjadi tawanannya itu sebagai perisai mengelilingi kelompoknya.


"Dasar pengecut!" kata Teo melihat tindakan Ditte itu.


Sedangkan Tom, Verlin dan Banks masih terpana dengan penampilan Felix yang baru itu.


"Dia masih sangat muda, tapi sudah mempunyai kekuatan seperti ini ... bahkan untuk seorang Hyacifla aku tidak bisa memperdiksi bagaimana dia nantinya di masa depan." kata Verlin dalam hati.


Efrain maju menahan kemarahan Felix dengan diselimuti api diseluruh tubuhnya. Setiap langkah Efrain membuat api ikut menyala disana.


"Wah, tidak kusangka aku bisa melihat sesuatu yang seperti ini secara langsung." kata Teo merinding.


Tom menggeleng-gelengkan kepalanya malu sendiri dengan kelakukan Teo, sementara Tom sudah menancapkan kapaknya dalam-dalam di tanah agar bisa dipakai untuk berpegangan. Verlin sendiri hanya berdiri santai, tapi hewan Mundebris yang menahannya kelihatan muncul sebentar lalu menghilang kembali.


"Curang kau menggunakan mereka!" kata Teo protes.


"Aku Nusfordis Sapphire! bukan sepertimu yang masih calon ... makanya cepat lakukan kontrak kalau merasa tidak adil dan iri." kata Verlin.


Teo memanyunkan mulutnya mendengar perkataan Verlin yang tidak bisa dibantahnya itu.


"Kau mau menyerang kami dengan serangan besar saat mereka ada disini juga ... kalaupun kami terluka, itupun tidak akan membuat kami mati. Tapi Para Zewhit itu akan menghilang ... ah, atau kau sengaja melakukan ini agar mereka menghilang di dunia pikiran sehingga kau bisa melupakan mereka. Aku tidak tahu kau sepengecut itu hanya untuk menyembuhkan luka dan traumamu." kata Efrain yang sedang bertarung dengan Felix.


Felix sendiri tidak peduli lagi dengan apa yang dikatakan Efrain. Ekspresi wajahnya datar saja dan terus menyerang dengan sekuat tenaga.


"Bersiaplah!" Banks datang ke dekat Teo, Tom dan Verlin sambil membawa Tan dan Zeki.


"Apa?!" tanya Teo masih berbaring dengan tombak yang tertancap di tanah yang dijadikan sebagai pegangan.


"Untuk ini!" kata Banks saat debu menutupi apapun yang terlihat.


Batu serta kepingan tanah terus menerus menabrak pelindung yang dibuat secara mendadak oleh Verlin dan Banks.


"Wow!" Teo kaget saat melihat batu besar beruntun menabrak tepat dihadapannya, "Kalau tidak dalam pelindung ini ... aku pasti sudah jadi pizza."


"Apa yang terjadi diluar?! bagaimana dengan Felix?!" Tan mulai memaksakan dirinya untuk bangun duduk.


Ada sinar kilatan cahaya yang lokasinya dekat terlihat diluar pelindung menandakan Felix dan Efrain masih sedang bertarung diluar sana dengan keadaan seperti itu.


"Bagaimana mereka bisa bertarung dengan keadaan seperti ini?!" Teo tidak habis pikir.


"Latihan seperti apa yang dilakukan Felix sehingga bisa menjadi sekuat ini dalam waktu cepat ...." kata Tan dalam hati merasa bangga tapi juga merasa prihatin.


Saat dirasa getaran di tanah tidak terasa lagi dan tidak ada lagi yang melayang menabrak pelindung. Banks dan Verlin menghilangkan pelindung itu.


"Kau yakin?! rasanya belum selesai ...." Teo khawatir karena segalanya masih gelap, "Aw, mataku perih!" keluh Teo saat pelindung dihilangkan dan debu yang berterbangan memasuki matanya.


"Aaaaaaaaa!" teriakan dari Efrain yang menyerang Felix dari atas kemudian turun menghantamkan pedangnya pada Felix membuat debu menjauh karena angin besar dari serangan Efrain itu sekaligus membersihkan pandangan.


"Ternyata bukan kita ... tapi ...." Ditte mengulurkan tangannya menangkap benda yang jatuh dari langit. Seperti secarik kertas putih yang robek tapi saat digenggam berubah menjadi debu putih, "Dia menghancurkan dunia pikiran ini!"


Dari jauh masih terlihat ada ledakan dengan bermacam-macam warna. Sementara langit Dunia Pikiran kelihatan mulai hancur dan mulai digantikan oleh langit malam Mundclariss.


"Ayo kita bertarung di dunia nyata!" kata Felix.


"Kau akan menyesali hal itu!" kata Efrain menyeringai.


...-BERSAMBUNG-...