
Bunyi langkah kaki Tim 001 yang tidak berhenti berlari sangatlah berisik. Terdengar lebih berat dari suara langkah kaki kuda, awalnya sangat tidak nyaman didengar tapi lama kelaman juga mulai terbiasa.
"Nama Unimarisku Goldwin, hampir sama dengan Goodwin ...." kata Cain mengajak mengobrol.
"Goldwin? sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya ...." kata Goodwin.
"Tapi dia itu tidak seterkenal itu hehe ...." kata Cain tahu betul jika Goldwin jarang keluar istana sebelum bertemu dengannya.
"Dia singa kan?" tanya Goodwin.
"Iya!" sahut Cain.
"Berarti benar, dia itu kan salah satu Unimaris yang diberkati terlahir menjadi singa seperti simbol dari Leaure sendiri! sudah lama dia menunggu untuk mendapat rekan Leaure tapi jika itu dengan Tuan Muda maka nanti harus lebih berhati-hati setelah para Viviandem bangkit ...." kata Goodwin.
"Memangnya ada apa dengan itu?" tanya Cain.
"Tidak banyak Unimaris yang bisa terlahir sama dengan simbol dari kerajaan dan yang menjadi partnernya sudah pasti adalah seseorang yang istimewa!" jawab Goodwin.
"Apa semua Viviandem mengetahui tentang ini?" tanya Cain yang mulai berpikir.
"Tentu saja pastinya! tidak hanya Leaure tapi semua Unimaris spesial selalu dibicarakan akan mendapat rekan seperti apa ... 'Pasti dia adalah seseorang yang hebat!' semuanya pasti mengatakan hal yang sama seperti itu!" jawab Goodwin.
Cain berhenti berbicara dan mulai diam berpikir, Goodwin tersenyum melihat itu.
"Tapi tidak perlu khawatir, biasanya yang menjadi rekan Unimaris spesial itu akan diberi perlindungan lebih dari kerajaan ... Raja Leaure tidak akan membiarkan partner emas itu dalam bahaya!" kata Goodwin.
"Kau sedang menghiburku kan? tapi entah kenapa malah lebih membuatku takut! kau berbicara seakan yang menjadi partner Unimaris spesial akan menjadi incaran para penjahat ...." kata Cain
"Jangan terlalu dipikirkan, lagipula ... Tuan Muda kan bukan Leaure sejati yang baru satu kali muncul itu ... rasanya akan lama baru terlahir lagi yang memiliki waktu itu!" kata Goodwin.
Cain hanya bisa memaksakan tertawa karena dia itu adalah generasi kedua Leaure sejati yang dimaksud. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa setelah keadaan kembali normal dia akan menjadi incaran para penjahat. Leaure sejati pertama bahkan tidak bisa menetap di satu tempat dan terus bersembunyi. Memiliki waktu sama saja dengan memiliki segala-galanya untuk membuat dunia yang lebih baik. Dan itu adalah hal yang tidak bisa diterima oleh sebagian orang. Bagi orang lain, keberadaan Leaure sejati adalah ancaman.
Tidak mungkin juga penjahat berusaha membuat Leaure sejati dipihaknya karena Leaure tidak akan pernah menjadi penjahat dengan hati yang terlalu baik. Jadi jalan satu-satunya hanyalah dengan melenyapkan.
Tanpa istirahat sedikitpun, Tim 001 itu terus berlari menuju alamat yang diberikan.
"Kau sudah pernah kesana?" tanya Tan.
"Dulu saat pemerintahan Nona Muda Iriana, hampir tiap hari kami kesana menjemput penjahat yang ditangkap oleh Alvauden yang tidak sempat dibawa ke kantor!" jawab Edvard.
"Kalau begitu, pasti banyak penjahat yang ingin menyerang tempat perkumpulan Alvauden itu?" tanya Tan.
"Rumah Verlin tidak bisa ditemukan oleh seseorang yang mencari tapi jika tahu pasti akan ditemukan!" jawab Edvard.
"Hem ... apa maksudnya?!" Tan tidak percaya sedang diberi teka-teki oleh anjing dan tidak bisa ia mengerti.
"Jika dicari tidak akan ditemukan tapi jika kita sudah tahu akan kemana pasti bisa ditemukan!" kata Edvard.
"Berarti hanya seseorang yang sudah pernah kesana yang bisa?" tanya Tan.
"Tepat sekali!" sahut Edvard.
"Eh, kalau begitu penjahat yang pernah dibawa kesana ...." kata Tan menganalisa.
"Penjahat yang dibawa kesana tidak ada yang sadar jadi tidak berpengaruh!" kata Edvard.
"Tidak lama lagi kita sampai!" kata Caleb.
"Oh, itu!" Cale berhenti berlari setelah melihat ke langit.
Duarte segera mendarat di hadapan mereka, "Ada apa?" tanya Cain turun dari kursi penumpang Goodwin.
"Verlin dan Zeki diserang! aku sudah menjemput Banks untuk merawat mereka ...." jawab Felix.
"Apa?!" Teo dan Tom tidak percaya dengan apa yang barusaja didengarnya.
"Coba kalian hubungi kantor Aluias! suruh mereka mengecek keberadaan Franklin!" kata Felix.
Amory langsung melolong menghadap ke arah kantor Aluias berada. Lolongan anjing Aluias bisa dipakai berkomunikasi dengan anjing lainnya. Bahkan bisa juga dengan suara yang hanya difokuskan lurus ke arah tujuan.
Tak lama para anjing itu terlihat kaget, "Apa? kenapa? sudah ada balasan?" tanya Tom.
"Franklin menghilang!" sahut Amory.
"Bagaimana bisa?" Goodwin tidak habis pikir ada yang bisa melarikan diri darisana, walau memang hanya penjara sementara tapi keamanannya tidak kalah hebat dengan penjara sesungguhnya.
"Tidak mungkin!" kata Cale.
"Dia sudah masuk penjara berkali-kali. Bukan tidak mungkin dia sudah punya cara bagaimana melarikan diri tanpa diketahui!" kata Felix.
"Kenyataan bahwa dia setengah Aluias saja sudah membuat sangat malu kaum Aluias. Viviandem lain tidak berhenti mencemooh karena penjahat berasal dari kaum yang seharusnya menangkap penjahat ...." kata Amory.
"Pemikiran Mundebris yang selalu saja memisahkan keturunan yang satu dengan yang lain harus dihilangkan. Tidak selamanya terlahir sebagai Aluias, harus menjadi penangkap penjahat. Semua Viviandem seharusnya bisa bebas melakukan apapun itu tidak harus terikat!" kata Felix.
"Jadi apa yang akan kita lakukan?" tanya Teo mengkhawatirkan bagaimana nasib Kiana.
"Kata Verlin dan Zeki, bukan hanya 10 korban tapi lebih dari itu ... sepertinya Franklin sudah merencanakan semuanya dari awal. Mulai dari jumlah korban yang hanya dibatasi 10 merupakan pengalihan. Sebenarnya kali ini adalah permainan yang sesungguhnya dengan skala yang lebih besar. Bahkan Verlin dan Zeki baru menemukan 21 korban tapi masih banyak benang lain yang terhubung. Aku menanyainya soal Kiana, tapi mereka berdua belum sampai disana ...." kata Felix.
"Apa ada kenalan kalian yang menjadi salah satu pemain?" tanya Caleb.
"Iya, saudari perempuan kami!" jawab Teo, "Bukankah kita hanya perlu menghancurkan item yang dibeli dari Franklin!" lanjutnya.
"Iya, item itu kan ibaratkan kontrak awal ... jadi jika dihancurkan berarti otomatis pemain akan berhenti ikut dalam permainan itu!" kata Tom yang masih memikirkan hal itu memungkinkan untuk dilakukan.
"Tidak semudah itu! bagaimanapun juga kita tidak boleh berpatokan dari permainan sebelumnya. Kita harus mencari tahu dari awal, karena permainan yang dulu dilakukan Franklin hanyalah tipuan semata untuk permainan sesungguhnya kali ini!" kata Felix.
"Benar juga, tidak mungkin pemain diberi item yang akan menyelamatkan nyawa mereka sendiri ...." kata Tan berpikir.
"Papan permainannya?" tanya Cain.
"Hilang! Verlin dan Zeki sudah sekuat tenaga melawan untuk mempertahankan papan permainan itu tapi gagal dan akhirnya terluka ...." jawab Felix.
"Siapa yang menyerang mereka?" tanya Cain.
"Efrain!" sahut Felix.
Wajah Cain langsung berubah merah, "Berarti yang melepaskan Franklin dari Neraka adalah Efrain?! mereka sudah merencanakan semua ini dari awal!"
"Ini juga salahku! kupikir dikarenakan sistem keamanan yang mulai tidak berfungsi maka para tahanan di Neraka bisa melarikan diri tapi setelah dari Kantor Aluias yang sistem keamanannya tidak pernah longgar sedikitpun walau karena lama tidak ada Viviandem yang mengurus ... seharusnya setelah menyadari itu aku bisa memprediksi ini akan terjadi tapi ... aku benar-benar termakan tipuan mereka!" kata Felix menyalahkan dirinya sendiri.
"Tidak masalah!" kata Tan dengan senyuman.
"Bagaimanapun sulitnya permainan ...." kata Teo.
"Permainan diciptakan untuk bisa dimainkan dan sekuat apapun lawan dalam permainan pasti akan dikalahkan juga!" sambung Tom.
...-BERSAMBUNG-...