UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.315 - Mengesampingkan Perasaan



"Membahas yang lain? bukankah harusnya kau menyangkalnya dulu?!" kata Felix mulai ingin membaca pikiran Dea kembali.


"Felix?!" tiba-tiba Mertie berlari ke arah Felix.


"Apa-apaan kau mengganggu saja?! pergi sana!" teriak Dea.


"Kau harus cepat melihat ini!" kata Mertie begitu terburu-buru.


"Jangan sok dekat dengan Felix, ya!" Dea mendorong Mertie agar tidak mendekati Felix.


"Katakan apa kau ada disana saat kebakaran panti ... malam itu apa yang kau lakukan disana?!" Felix tidak bisa terlalu fokus membaca pikiran Dea karena terlalu terbawa emosi.


Dea hanya tersenyum manis, "Apa yang aku lakukan disana malam-malam?!"


"Kau ada di sana ...." Felix dengan jelas melihat sudut pandang Dea yang menatap panti kebakaran dari jarak yang cukup dekat, "Itu yang aku ingin tanyakan! apa yang kau lakukan disana malam-malam?! hahh?! jawab!" teriak Felix.


"Felix!" Mertie menaruh layar handphonenya di depan wajah Felix.


Perasaan Felix jadi kacau karena melihat ingatan Dea itu. Felix jadi sulit menenangkan dirinya untuk berpikir jernih.


"Felix?!" Mertie menggoyang-goyangkan Felix yang berdiri hanya mematung dengan tangan yang digenggam menahan emosi. Sedangkan Dea menarik rambut Mertie karena berani menyentuh Felix seperti itu. Akhirnya terjadi pertengkaran antara Mertie dan Dea.


Tapi karena pertengkaran itu, Felix jadi bisa teralihkan sebentar. Felix mulai mengehela napas panjang dan berusaha menenangkan dirinya. Felix maju mendekati pertengkaran antara kedua anak perempuan itu.


"Jangan mendekat Felix! akan aku cabut semua rambutnya terlebih dahulu!" kata Dea.


"Aku akan membuatmu botak terlebih dahulu!" balas Mertie.


Tapi Felix tidak ada niat sedikitpun untuk melerai mereka, hanya mendekati mereka berdua karena ingin mengambil handphone Mertie yang ada di saku jaket seragamnya. Setelah itu Felix hanya pergi tanpa menoleh sedikitpun.


"Hahh?!" Mertie dan Dea heran melihat Felix yang bahkan tidak tertarik untuk melerai mereka. Akhirnya keduanya berhenti bertengkar karena merasa semuanya sia-sia saja.


"Jangan berani-berani kau sok dekat lagi dengan Felix! tidak ... bahkan jangan dekat-dekat 5 meter dari Felix mulai sekarang atau bukan hanya rambutmu tapi kini kepalamu yang akan rontok!" kata Dea menginjak-injak rambut yang berserakan di lantai dan mulai pergi.


"Haha ... padahal bukan hanya rambutku disini, rambutnmu lebih banyak lagi tahu." kata Mertie mendengus tertawa, "Oh iya ... Felix!" karena teralihkan Mertie jadi lupa kalau ada hal lain yang lebih penting.


***


Suara gedoran pintu dari luar kamar Felix terdengar dan itu adalah Mertie.


"Bagaimana kau bisa ke asrama anak laki-laki?" tanya Teo membukakan pintu.


"Kalian lupa kalau kalian yang menjadikanku ketua tim pelatihan osis?! kini banyak alasan yang bisa membuatku dengan mudah masuk kesini!" kata Mertie.


"Kami akan berangkat! kau tinggal saja memonitori kami!" kata Tan dari dalam kamar.


Mertie menarik pintu yang hanya dibuka setengah oleh Teo dan mulai menerobos masuk ke dalam kamar Felix itu.


"Aku ikut! wah ... kamarmu bersih sekali!" kata Mertie setelah masuk ke dalam kamar.


"Apa-apaan?!" Teo heran dengan ekspresi Mertie itu.


"Kukira kamar anak laki-laki akan sangat berantakan ...." kata Mertie.


"Memangnya kami anak laki-laki tidak punya tangan seperti anak perempuan?! kami juga bisa bersih-bersih tau!" kata Tom merasa tersinggung.


"Yang jelas aku mau ikut!" kata Mertie bersikeras.


"Sampai kapan kalian baru akan sadar kalau aku ini sangat membantu?! kalian juga bisa mengawasi dari jauh berkat aku juga!" kata Mertie.


"Aku menghargai apa yang kau lakukan tapi hari ini aku sedang tidak dalam suasana hati yang baik." kata Felix memakai ranselnya.


"Memangnya sejak kapan suasana hatimu baik?!" kata Mertie sarkastik.


"Aku bisa saja tidak bisa melindungimu jika terjadi sesuatu!" kata Felix mulai meninggikan suaranya.


"Kalau begitu kenapa mereka pergi?! kau yakin bisa melindungi mereka?!" kata Mertie tidak takut dengan suara tinggi Felix itu. Cukup mencengangkan, karena Tiga Kembar saja masih sering terkejut dengan suara keras Felix.


"Walau aku tidak bisa melindungi mereka ... kini mereka bisa melindungi diri mereka masing-masing! memangnya kau bisa?! kau bisa bela diri? kau tahu cara menggunakan senjata? kau punya senjata untuk melindungi diri? tidak kan?! jadi tinggal saja duduk santai kalau tidak mau terbunuh diluar sana atau lebih buruknya malah menyusahkan orang lain." kata Felix mulai berjalan keluar kamarnya.


"Yang dikatakan Felix benar, kau bisa saja terluka ...." kata Tom mengikuti Felix.


"Membantu kami tidak perlu ikut bersama kami, bahkan dari jauh kau juga bisa membantu!" kata Tan menepuk bahu Mertie kemudian pergi juga.


"Jangan lupa tutup pintu kamar dengan baik saat keluar!" kata Teo.


Mertie ditinggal sendirian di dalam kamar Felix dan tidak berhenti tertawa tidak habis pikir karena diperlakukan seperti tadi oleh mereka, "Suatu saat akan aku buktikan kalau aku bisa melindungi diriku sendiri!" Mertie keluar dari kamar Felix dengan membanting pintu kamar Felix kasar, "Aku yakin tertutup rapat kalau begini, kan?!" Mertie melampiaskan amarahnya pada pintu tapi juga sekaligus menuruti permintaan Teo.


Suasana hati Felix sedang tidak baik karena melihat ingatan Dea tadi. Jika menuruti kata hatinya, Felix sudah pasti ingin segera membaca semua ingatan Dea saat ini juga. Tapi rasa penasaran dan perasaannya itu dikesampingkan dulu. Korban kebakaran Panti Helianthus pasti akan senang jika pelakunya tertangkap tapi bagaimanapun juga para korban sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Tapi saat ini di Desa Parama, desa yang tidak jauh dari Desa Kimber berada sedang terjadi sesuatu dan penduduk disana masih bisa diselamatkan dan bisa dicegah adanya korban.


Rekaman kamera pengawas Mertie memperlihatkan lagi ada seseorang yang memasuki Desa Parama dengan sebuah alat di punggungnya yang terbungkus kain sama seperti Antonia dulu.


"Siapa sebenarnya yang memberi mereka informasi tentang kejadian ini? bagaimana bisa mereka selangkah lebih dulu dari kita? seharusnya kan kita harus lebih tahu!" kata Teo.


"Bagaimanapun juga kita harus menyelidiki pemburu iblis ini! dimana mereka tinggal dan darimana mereka mendapat informasi ini." kata Tan.


"Jangan keluar disini!" kata Felix menghentikan mereka untuk keluar Bemfapirav.


"Ini sudah malam, tidak apa-apa." kata Teo.


"Disini ada dua produser tv itu!" kata Felix.


Tom memakai kacamata pemberian Banks, "Iya, benar ada mobil mereka!"


"Mereka tidak bosan apa selalu mengawasi kita?!" kata Teo sebal.


"Kau juga sudah bisa melihat dunia lain tanpa memasukinya? bahkan tanpa memakai kacamata pemberian Banks?!" tanya Tan kagum pada Felix yang tiap hari terus menunjukkan kekuatannya meningkat.


"Ayo!" kata Felix mulai menghilang masuk Mundclariss setelah berjalan sedikit menjauh.


Mereka langsung menghentikan taksi untuk dinaiki ke stasiun kereta dan menggunakan bus terakhir yang beroperasi malam itu untuk ke Desa Parama.


"Bersiaplah! bisa saja kejadian seperti malam itu terjadi lagi!" kata Felix menyerahkan botol air minum.


"Tapi kali ini tidak akan sama! tidak akan ada korban ...." kata Teo.


"Jaga diri kalian baik-baik!" kata Felix mulai memimpin jalan masuk ke desa itu.


Tan membawa kotak mainan yang bisa memunculkan wajah iblis tapi masih diam saja tidak menunjukkan pergerakan sama sekali. Mereka berempat berjalan di desa itu malam-malam dengan lampu rumah semuanya sudah mati dan tidak terdengar suara apapun selain suara serangga.


"Siapa kalian?!" tanya seseorang.


...-BERSAMBUNG-...