
"Hormatku pada Caelvita dan Alvauden 119!" sapa Iblis berwajah mammoth dan tentunya bertubuh lebih besar daripada gajah yang pernah mereka lihat sebelum-sebelumnya hanya saja bukan dengan empat kaki tapi hanya dua.
"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan salah satu dari 10 Daemonimed terkuat yang ada di Mundebris." kata Tan juga menyapa.
"Dia ada di urutan keberapa memangnya?!" tanya Teo tidak sopan.
"6!" sahut Tan sambil berbisik.
"Wah, kita dalam masalah kalau begitu!" kata Tom.
"Kalau Banks memangnya ada diurutan berapa?!" tanya Teo lagi.
"Banks di urutan 1!" jawab Tan.
"Apa?! dia sehebat itu rupanya?!" Teo jadi heboh sendiri tidak mengetahui gurunya selama ini adalah Daemonimed terkuat di Mundebris.
"Kau! bisa diam tidak?!" kata Tan menggertakkan giginya.
"Tentu saja, tidak ada yang bisa mengalahkan kehebatan Senior Banks!" kata Iblis Mammoth.
"Namamu siapa?!" tanya Felix.
"Wadi, Yang Mulia ...."
"Wadi ... jujur, aku tidak terlalu tertarik melawan Daemonimed. Bagaimanapun juga Daemonimed sudah menyelamatkan banyak nyawa yang ada di Mundebris. Tapi tugas adalah tugas ... kalau kau tidak mundur, kami tidak punya pilihan lain selain melawanmu." kata Felix.
"Saya juga bukan Anti Caelvita tapi bagaimanapun juga saya adalah kaum iblis ... harus menuruti perintah dari kerajaan." kata Wadi.
"Sepertinya banyak sekali yang bukan musuh kita tapi selalu mengatakan tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah Efrain. Menurutku itu lucu ... kenapa kalian takut sekali dengan Efrain?! harusnya kau bisa memilih sendiri apa yang kau inginkan." kata Teo yang terlihat tidak takut sama sekali.
"Dia tidak tahu saja sedang berhadapan dengan siapa ...." kata Tan dalam hati sambil tersenyum kecut mendengar Teo seberani itu.
"Banks terlahir jauh dimasa sebelum Yang Mulia Efrain lahir, jadi punya pilihan untuk tidak harus patuh pada kerajaan yang sekarang Yang Mulia Efrain adalah raja. Tapi, saya ... tidak punya pilihan lain ...." kata Wadi.
"Baiklah, kalau itu maumu! ayo kita mulai saja!" kata Felix mengeluarkan pedangnya diikuti dengan yang lainnya. Tan yang masih takut tidak punya pilihan lain. Padahal Tan sudah memohon pada Felix melalui tatapan supaya mundur saja.
"Kita tidak akan mundur! lebih baik kalah daripada harus mundur tanpa mencoba." kata Felix melalui pikiran pada Tan.
"Tellopper ...." kata Wadi kagum melihat senjata Alvauden Tan.
"Ah, ini ... bukan hal yang istimewa." kata Tan malu sendiri sedang dipuji oleh idolanya.
"Pemilik Tellopper adalah ahli penyembuh terhebat di Mundebris. Bahkan senior Banks tidak ada apa-apanya dibanding pemilik Tellopper ...." kata Wadi membuat wajah Tan memerah karena tersipu.
"Apa-apaan senyum itu?!" kata Teo terlihat jijik melihat Tan.
"Masih belum ...." kata Tom membuat suasana hati Tan jadi berubah suram.
"Ck!" Tan hanya bisa berdecak kesal dengan saudaranya yang tidak tahu apa-apa dengan dunia Daemonimed.
"Saya berharap lebih dengan Tuan Muda kedepannya ...." kata Wadi.
"Berhenti fanmeeting nya! ayo kita berkelahi!" kata Teo membuat Tom tertawa.
Felix juga harus ikut bertarung karena Wadi berdiri melindungi tempat batu permata tertanam. Tanpa aba-aba sama sekali, Felix hanya perlu berlari duluan sudah menjadi kode untuk mulai menyerang.
"Hebat juga ... sepertinya Yang Mulia tidak lama lagi akan resmi." kata Wadi terkejut Felix bisa bertahan dengan serangannya, "Perlu Yang Mulia ketahui ... ini bukanlah masalah pribadi!" Wadi tersenyum dan mulai menyerang Felix sampai terpukul mundur ke sebuah pohon.
Felix merasa sesak napas punggungnya tertabrak keras, "Benarkah?! rasanya seperti pribadi, menurutku." kata Felix.
"Daemonimed adalah Quiris yang sangat kuat terlepas dari gelar Daemonimed itu sendiri. Bahkan tanpa menggunakan kekuatan Daemonimednya, kita tidak punya banyak peluang menang." kata Tan lewat Jaringan Alvauden.
"Sejak kapan memangnya kita punya peluang menang?! selalu saja kita tidak punya peluang. Kita hanya beruntung saja selama ini ...." kata Tom.
"Apa tujuanmu mengatakan itu?!" tanya Teo.
"Hanya ... jangan terlalu berharap bahwa kita akan menang." kata Tan.
"Apa maksudmu?! sejak kapan kita menang?! toh ... kita selalu ada dipihak yang kalah!" kata Teo.
Bukan satu atau dua kali mereka gagal. Tapi berkat itu juga kekecewaan akan kegagalan sudah hilang. Gagal bagi mereka sudah menjadi kebiasaan dan sudah menjadi hal yang wajar dan sangat normal. Bukan lagi hal yang menyakitkan dan melukai harga diri. Setelah sudah terbiasa gagal, gagal bukanlah perkara besar lagi.
***
"Bisa dibilang mereka mengalami pemerintahan yang keras ... bahkan belum resmi tapi sudah mendapat masalah besar seperti ini." kata Verlin.
"Apa maksudmu?! Iriana juga mengalami hal yang sama ... harus mengikuti perang saat belum menjadi Caelvita resmi." kata Zeki.
Verlin dan Zeki berjaga di sekolah menggantikan Felix dan Tiga Kembar yang sedang keluar sekolah.
"Permainan tukar kematian, gerbang neraka dan juga akan perang melawan Efrain ... hal besar sekaligus itu bukanlah perkara kecil. Hebat, Felix bisa tetap bertahan ...." kata Verlin.
"Kuakui soal itu ... Felix sepertinya sial sekali mendapat masalah besar di eranya ini. Biasanya Caelvita hanya mendapat satu masalah besar tapi dia .... tapi rasanya dia tidak bisa dianggap remeh ... bahkan dengan masalah itu, dia terlihat biasa saja." kata Zeki.
"Masalah yang datang pada Caelvita tentunya Caelvita itu bisa menyelesaikannya. Tidak mungkin masalah datang tapi Caelvita tidak sanggup ... pasti ada alasan kenapa dia terpilih untuk itu. Terpilih untuk menerima beban banyak seperti ini ...." kata Verlin.
"Kalau Iriana pasti akan mencoba menyelamatkan semua korban yang akan menjadi korban gerbang neraka itu ... tapi, Felix ... bisa menahan perasaanya itu. Dia ... apa ya sebutannya?! dia ... sangat kuat." kata Zeki lama menyambung kalimatnya untuk memilih kata.
Sementara itu Felix dan Tiga Kembar sudah terlihat lusuh walau baru beberapa menit bertarung dengan Wadi. Felix bahkan tidak bisa mendekati batu permata itu.
"Apa kita mundur saja?!" tanya Teo.
"Siapa tadi yang bersemangat sekali?!" kata Tan menatap tajam Teo yang ingin menyerah.
"Dia terlalu kuat, bahkan kita tidak bisa menahan serangannya. Mana bisa Felix menjadi korban pengganti?! tanpa Felix bertarung ... kita akan mati!" kata Tom.
Tan, Teo dan Tom menatap Felix bersamaan untuk meminta solusi.
"Kita tidak akan menyerah dan mundur semudah ini!" kata Felix menggenggam erat pedangnya.
"Luar biasa tekad Caelvita ini ...." kata Wadi dalam hati, "Perasaan apa ini? apa aku takut?" Wadi merasakan getaran pada tangannya, "Bahkan masih muda seperti ini, hanya dengan tatapan dan suaranya seakan bisa membuat lawan ketakutan. Yang Mulia Efrain sepertinya sial memilih lawan." sambungnya dalam hati.
Tanaman merambat berduri keluar dari tanah tempat Wadi berada. Wadi dililit oleh tanaman berduri itu dan Felix berlari menuju arah Wadi kemudian melompat tinggi di atas kepala Wadi.
Tiga Kembar tidak tahu Felix akan melakukan itu kaget sekaligus bersemangat, "Maju, Felix!" teriak mereka bersamaan melihat Wadi saat ini tidak bisa bergerak karena sedang dililiti oleh tanaman berduri yang menusuk sampai ke dalam kulit Wadi.
"Bahkan dia sudah punya kekuatan ini ...." kata Wadi yang hanya santai melihat Felix akan mengayunkan pedang pada lehernya.
...-BERSAMBUNG-...