
Cain melihat Mertie saat masuk ke kelas dengan wajah seperti terkejut, "Sepertinya dia baru saja mendengar sesuatu yang mengejutkan dari alat yang dipasang di salah satu gedung perusahaan Carlton."
Geng Halle yang datang menabrak Cain karena berdiri di jalan masuk, "Minggir!" seru Era.
Banyak buku yang mengenai wajah Mertie saat ini karena dilempari, "Tugasku belum kau kerjakan dasar anak miskin tidak berguna!" teriak Era menarik rambut Mertie.
Anak-anak yang ada di kelas segera meninggalkan kelas kecuali Dea yang hanya tersenyum melihat kejadian itu terjadi dan Cain yang terpaksa menonton di dekat pintu kelas karena antara ingin masuk ke kelas atau harus pergi meninggalkan kelas padahal tidak tahu harus ke mana.
Mertie dipaksa berdiri oleh 10 tangan yang menariknya tanpa rasa kasihan sama sekali, "Kenapa kau hanya diam saja? apa ini? kau sedang mendengarkan apa?" tanya Sunniva setelah melihat earphone bluetooth yang dipakai Mertie.
"Kembalikan!" perintah Mertie meninggikan suaranya.
"Berani-beraninya kau meninggikan suara!" Era mengambil earphone mertie dan menginjaknya sampai hancur.
Mertie sebisa mungkin menahan emosinya tapi perlakuan kejam mereka berlima tidak ada habisnya kini Alma menampar Mertie bergantian dengan Cydney. Era berniat melempari Mertie dengan penghapus papan tulis tapi tanpa sadar Mertie menghindar, "Hah?" kata Era melongo, "Selama ini aku tidak pernah meleset melemparnya!"
Selama ini memang Mertie menerima segala perlakuan Geng Halle tanpa menghindar atau melawan tapi entah kenapa tanpa disadari untuk pertama kali tubuhnya menolak menerima lemparan Era itu.
"Apa yang membuatnya tidak fokus dikerjai begitu?" tanya Cain dalam hati sambil menonton kejadian itu, "Bisa-bisa akting sebagai korbannya terbongkar ... hahh dasar!" Cain mulai pergi dari sana.
Era mulai melempar dengan menggunakan kotak pensil yang ada di meja seseorang, "Kali ini tidak akan meleset lagi!"
"Ck ... bahan kotak pensil itu pasti sakit kalau kena, tapi yasudah lah ... kemarilah kotak pensil buat kepalaku luka!" kata Mertie dalam hati, "Aku tidak boleh lagi membuat kesalahan!" Mertie memasang wajah sedih seperti biasanya dan berusaha melindungi dirinya dari lemparan itu tapi setelah kotak pensil itu mendekat tangan untuk melindungi wajahnya dijauhkan agar bisa mengenainya.
Kotak pensil itu pas mengenai dahi Mertie membuat Geng Halle tertawa senang mendengar suara tabrakan kotak pensil dan dahi Mertie, "Sekarang kerjakan tugas kami sebelum kelas dimulai!" perintah Gina.
Mertie mulai berusaha berdiri dan kembali ke mejanya mengerjakan tugas kelima orang itu, "Memang harus ya melihatku terluka dulu baru mereka bisa tenang meninggalkanku ... hufff. ..." Mertie menghela napas kesal.
Terkadang berpura-pura menjadi korban rundungan memang tiap hari seperti neraka tapi Mertie dengan sabar menerima itu untuk akhir yang lebih manis dari sebuah balas dendam.
***
"Ada apa dengan matamu? kenapa merah begitu? dan kantung matamu juga ...." kata Tan khawatir melihat Cain yang terlihat baik-baik saja tapi tubuhnya tidak berbohong bahwa ia sedang lelah terbukti dari tangannya yang gemetaran memegang sendok.
"Kau menginap diluar lagi?" tanya Teo.
"Apa kau menginap di rumah sakit bersama Felix?" tanya Tom.
Cain hanya diam tidak berniat menjawab dan segera menghabiskan makanannya lalu pergi meninggalkan tiga kembar.
"Apa ini yang namanya masa pubertas?" tanya Teo melongo.
"Dia sudah mulai menginjak masa remaja ya?!" tambah Tom.
"Sepertinya dia ada masalah dan sedang menyembunyikan sesuatu ...." kata Tan dalam hati.
***
Cain kembali ke dalam kelas dan duduk di bangkunya kemudian membuka tasnya dan dilihatnya Mertie yang seperti membaca tapi sebenarnya sedang mendengarkan.
"Dana Gelap Perusahaan Carlton?" Cain melihat catatan yang ditulis Mertie yang disimpan di dalam tasnya, "Anak itu tidak mengantuk ya? tidak tidur semalaman dan sibuk mendengarkan seluruh alat bergantian yang telah dipasang ... hebat juga sudah mendapatkan informasi sebanyak ini tapi ini hanya masalah perusahaan saja, tidak ada yang menyebutkan soal rahasia pembunuhan ... dan kenapa ayahnya dicari-cari ...."
Pulang sekolah Cain dan Mertie langsung melanjutkan misinya kembali tapi kini sudah mudah karena benda kecil yang dipasang itu selain berguna sebagai alat penyadap suara juga dilengkapi kamera untuk melihat dimana tempat yang tidak ada orang disana.
Malam itu mereka berdua berhasil masuk lewat jalan rahasia yang berhasil ditemukan oleh Mertie saat memasang alat kemarin, "Kau yakin lewat disini aman?" tanya Cain melihat Mertie memanjat sebuah pagar rumah dibelakang perusahaan.
"Tidak ada cctv di sini!" sahut Mertie.
"Memangnya ini rumah siapa? kenapa bisa terhubung dengan perusahaan yang jauh disana?" dan bagaimana kau bisa tahu jalan masuk ke perusahaan dari sini?"
"Kau ini cerewet sekali!" Mertie menendang lutut Cain.
"Aw, untuk apa itu!"
"Itu untuk anak yang suka sekali bertanya!" Mertie menarik paksa Cain yang masih mengeluh kesakitan.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah itu dengan menggunakan ulangtahun Era sebagai kata sandi pintu, "Ini seperti tempat pertemuan para pemimpin korup yang ada di tv," kata Cain membuat Mertie tertawa kecil.
"Kau sudah tidak ketakutan dan panik lagi?" tanya Cain melihat Mertie sudah mulai santai.
"Sudah mulai terbiasa ...." sahut Mertie membuka lantai yang merupakan pintu menuju jalan bawah tanah.
"Ini menuju kemana?" Cain menyalakan senter.
Mertie menutup senter Cain, "Jangan pakai senter, aku sudah ingat jalannya!"
Saat lama berjalan dengan Mertie yang memimpin jalan akhirnya mereka tiba di pintu masuk untuk naik, "Parkiran?" tanya Cain saat melihat sekitar, "Siapa yang akan mengira jalanan ini pintu?" Cain heran melihat pintu masuk yang jika ditutup tidak terlihat seperti pintu dan sangat menyatu dengan jalanan aspal seperti biasanya.
"Ayo kita mulai!" kata Mertie menepuk bahu Cain.
Karena tubuh mereka berdua yang kecil gampang sekali berjalan dan bersembunyi menghindari cctv. Mertie menuju ruangan CEO dan Cain menuju ruangan Direktur. Mereka berdua mulai mencari file dokumen baik berupa soft file maupun hard file, mulai dari isu pencucian uang dari hasil kejahatan lintas negara, pembiayaan terorisme, pencurian aset negara, suap-menyuap, hingga penggelapan dan penghindaran pajak yang dilakukan oleh Carlton Group. Saat ini hanya ada bukti suara yang didapat oleh Mertie dan itu tidak cukup jadi perlu bukti lainnya.
"Apa ini? bukti kerjasama antara Yayasan Fraser Fitzgerald Farrel dan Carlton Group?" Cain kaget membaca dokumen yang didapat di ruangan arsip, "Belum tentu orang ini adalah ayah Felix dan kerjasama dengan Carlton Group tidak membuktikan bahwa mereka melakukan kejahatan bersama."
Cain mencoba membuka dokumen lainnya dan matanya menangkap sebuah nama yang tidak asing baginya, "Jorell Vale Wilmer!" tulisan dibelakang sebuah foto laki-laki yang memakai pakaian tentara sedang berbicara dengan Fraser Fitzgerald Farrel yang memakai setelan jas, "Apa dia ayahku? dan apa yang dilakukan dengan yang bisa jadi adalah ayah Felix?!"
"Mereka berdua saling kenal?"
...-BERSAMBUNG-...