
Bahkan hanya sebagai penonton saja tapi mereka sudah kesulitan bernapas dan beraktivitas. Maka dari itu Felix masih belum bisa mempercayai mereka untuk ikut latihan di dunia pikiran. Kegunaan masker matahari buatan Banks memang untuk melindungi dari terhirupnya Viriaer. Tapi itu juga seperti bumerang karena oksigen di dalam dunia Zewhit tidaklah banyak. Setengah oksigen dan setengah Viriaer adalah paduan udara yang bisa menjadi racun bagi manusia.
Tan, Teo dan Tom makan sebanyak mungkin untuk mengisi ulang tenaga, bahkan sampai tambah dua kali. Katanya ingin mengimbangi karena tidak makan pagi dan siang.
"Kalau kenyang begini, kita bisa muntah saat berlari ...." kata Tom merasa perutnya akan meletus saking kenyangnya.
"Aku tidak melihat mereka berdua ...." kata Tan baru bisa menengok seisi ruangan karena tadi hanya sibuk terus mengunyah.
"Hebat mereka berdua kalau sempat sarapan dan makan siang juga, padahal sudah mengalami malam yang berat." kata Teo benar-benar merasa salut.
"Aku sepertinya mau ke gedung kesehatan dulu!" kata Tom duluan berdiri dari meja makan.
"Aku juga!" kata Tan dan Teo bersamaan.
Mereka bertiga langsung menuju apotek untuk meminta obat dengan menyerahkan kartu siswa masing-masing. Perkiraan mereka akan meminta obat yang sama tapi ternyata semuanya berbeda. Tan meminta obat anti nyeri, Teo meminta balsem, Tom meminta obat untuk pencernaan yang sepertinya perutnya bermasalah karena makan terlalu banyak sekaligus.
"Hahaha ...." Tiga Kembar tertawa bersama setelah saling tatap.
"Kukira, kita akan meminta obat yang sama." kata Tom.
"Tapi, sepertinya kita membutuhkan semua itu memang. Kita bisa berbagi!" kata Tan yang kemudian saling tukar obat dengan yang lainnya.
"Apa ini yang sudah paling panas?!" tanya Teo yang tidak merasakan apa-apa sama sekali setelah mengoleskan balsem pada betisnya.
"Itu bahkan yang biasa orang dewasa pakai." jawab Apoteker.
"Coba minta yang itu! yang ada gambar cabe!" kata Teo.
"Kau yakin, dik?!" tanya Asisten Apoteker merasa ragu memberikan.
"200%!" sahut Teo yang betisnya terlalu sakit sampai-sampai balsem yang dioleskan tidak mempan sama sekali.
"Kita jadi bau kakek-kakek saja!" kata Tom tertawa.
Mereka juga meminta koyo yang akan ditempelkan nanti saat akan masuk ke dunia Zewhit.
"Bisa-bisa jumlah batas pengambilan obat kita habis hanya karena koyo ...." kata Tan sambil melihat isi kantongan obat kertas dengan banyak koyo didalamnya.
"Tunggu ...." kata Tom yang tanpa sengaja melirik ke sebuah kamar di gedung kesehatan.
"Itu Demelza, dia diinfus!" kata Tan kaget.
"Apa Osvald juga?!" Teo mulai berlari mencari keseluruh kamar dan mendapati Osvald juga sedang diinfus di kamar lain.
"Tidak heran sih ...." kata Tom setelah mendengar dari dokter umum sekolah yang mengatakan bahwa mereka berdua pingsan saat menuju ruang makan untuk sarapan.
"Berarti mereka akan memasuki dunia Zewhit lagi disaat sedang sakit begini?!" kata Tan tidak tega.
"Apa tidak bisa ditunda semalam saja? kan mereka juga disini sampai musim panas berakhir. Masih banyak waktu, masa hanya menunda satu malam saja tidak bisa. Setidaknya mereka sudah merasa agak baikan mungkin besok." kata Teo.
"Menunda gangguan bisa memperpanjang lamanya tersiksa. Mereka bisa saja menjadi target sampai musim panas berakhir kalau ada jeda dalam gangguan tahap akhir. Bagaimanapun juga mereka harus bertahan! tinggal dua malam lagi." kata Tom.
"Kita juga harus bertahan!" kata Tan memegang kedua bahu saudaranya melihat Osvald dari luar kamar.
Setelah melihat keadaan Osvald dan Demelza yang memprihatinkan. Mereka seperti habis meminum vitamin mahal dan berkualitas tinggi yang bahkan lebih ampuh dari segala obat yang baru saja dibelinya.
"Kita harus mencari Felix dulu!" kata Tom yang khawatir dengan keadaan para terget.
"Dia ada di perpustakaan!" kata Teo spontan.
"Darimana kau tahu?! kau terus bersama kami! bagaimana kau bisa lebih tahu daripada kami?!" Tom heran.
"Ah, kukira juga bagaiamana." kata Tom percaya saja.
***
Tiga Kembar sampai di perpustakaan dan melihat tirai jendela sedang diganti.
"Diganti lagi?! sudah yang berapa kali ini?!" kata Teo.
"Itu karena sedang musim panas jadi sering hujan dan tirai basah kalau jendela tidak ditutup." kata Petugas perpustakaan yang muncul entah darimana.
"Ah, eh begitu ya ...." kata Teo jadi canggung.
"Warna hitam?! bukankah bagusnya warna cerah ...." kata Tom.
"Bukankah lebih bagus kalau hitam, bisa menjaga privasi dan kalian bisa membaca dengan nyaman karena terlindung dari cahaya matahari." kata Petugas perpustakaan masih dengan baiknya menjawab pertanyaan mereka.
"Kakak tidak punya pekerjaan?!" tanya Teo merasa terganggu karena terus diikuti oleh Penjaga perpustaakaan itu.
"Disini ... semuanya adalah tempat kerja!" kata Petugas perpustakaan mengisyaratkan bahwa dia tidak mengikuti mereka melainkan sedang bekerja dengan melihat kondisi seluruh perpustakaan.
"Ah, kalau begitu ...." Tan mengubah arah dan berjalan berlawananan arah dari Petugas perpustakaan itu.
"Kalau dia masih mengikuti berarti dia memang orang aneh ...." kata Teo.
"Dia memang aneh, dari awal dia bekerja disini saat kita kelas dua kan ... dia sudah aneh!" kata Tom yang juga merasa tidak nyaman dengan Petugas perpustakaan itu.
"Felix!" sapa Teo sambil berbisik pada Felix yang sedang membaca buku.
"Dalam rangka apa kau jadi tiba-tiba membaca buku?!" tanya Tan karena biasanya Felix tidak pernah terlihat serius belajar tapi meskipun begitu selalu saja peringkat tertinggi.
"Ada apa?!" Felix tidak ingin berbasa-basi.
"Kau sudah tahu kalau Osvald dan Demelza sedang dirawat di gedung kesehatan sekolah?!" tanya Tan.
"Ya, kedua Zewhit itu sudah melapor." jawab Felix santai.
"Melapor?! apa-apaan?!" kata Tom sebal.
"Apa tidak apa-apa melanjutkan ini disaat mereka sedang sakit?! kalau terjadi apa-apa bagaimana?!" kata Teo khawatir.
"Hanya roh mereka saja, berbeda kalau tubuh yang bisa berakibat fatal." kata Felix.
"Tapi, mereka akan baik-baik saja kan?! bagaimana kalau mereka jadi tidak sadarkan diri beberapa hari atau malah koma?!" kata Teo memikirkan situasi terburuk.
"Itu tidak akan terjadi, jangan khawatir!" kata Felix.
"Apa tidak bisa menurunkan kesulitannya?! jadi seperti malam keempat?!" tanya Teo.
"Bisa, tapi tadi malam akan tereset dan semuanya dimulai lagi dari malam keempat." jawab Felix.
"Hahh ...." Teo mengehela napas kesal, "Sepertinya memang tidak ada jalan lain."
"Menjadi target adalah hal yang berat! kalian pikir diganggu oleh hantu adalah hal yang mudah?! beruntung mereka tidak diganggu oleh Malexpir atau hantu yang menyimpan dendam dengan manusia. Setidaknya Zewhit Badut dan Kurcaci diakui dan diberi penghargaan oleh Ruleorum sebagai Zewhit yang berkelakuan baik dan tidak pernah membunuh." kata Felix.
"Kedua Zewhit yang rasanya hampir membuat gila tadi malam tapi diberi penghargaan Zewhit berkelakuan baik ... jadi, bagaimana dengan Zewhit yang berkelakuan buruk?! tidak bisa kubayangkan ...." kata Tom.
"Kau akan sadar betapa baiknya mereka berdua nanti kalau bertemu Zewhit lainnya." kata Felix.
...-BERSAMBUNG-...