UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.42 - Caelvita : Sang Penguasa Mundebris dan Oksigen Bagi Viviandem



"Sudah kubilang cara orang berbeda-beda ...."


"Jangan banyak alasan! kau yang selalu bersama Iriana tapi tidak tahu?!"


Verlin kaget mendengar nama yang sudah lama tidak ia dengar dan ucapkan, "Baiklah ... aku sering melihatnya tapi entah apa ini sudah benar ...." Verlin membuka kaos tangan Felix memperlihatkan kukunya yang bersinar hijau dan mengarahkan kedua tangan Felix kebelakang punggungnya, "Coba kau tarik tangan kananmu ...." tapi tidak ada yang terjadi.


"Hem, coba ulang lagi tapi kini pakai tangan kirimu!" kemudian terdengarlah sebuah suara metal yang saling bergesekan, "Bilang dong kalau kamu pengguna tangan kiri ...." Verlin kesal sekaligus penasaran.


Felix mencoba menarik tangan kirinya yang ia silangkan dibelakang punggungnya tapi terasa berat sekali.


Karena Verlin melihatnya kesusahan, "Jangan tarik yang berat, coba cari yang ringan ...."


"Maksudmu?"


"Haha ... ada banyak alat dan senjata yang tersembunyi dibelakang punggung seorang Caelvita, biasanya Sang Caldway ada tepat di area itu ... coba naikkan silangan tanganmu ...." Felix menaikkan silangan tangannya sampai di tengah punggungnya dan mencoba menarik lagi menggunakan tangan kirinya ... kemudian langsung keluar sebuah tongkat berwarna hijau yang ditutupi oleh batu Emerald dan diatas tongkat ada lambang bulan sabit dan pohon.


"Hormatku kepada Caelvita yang ke-119!" Verlin berlutut.


"Hentikan ... berdirilah!"


Verlin berdiri sesuai perintah.


"Bulan sabit dan pohon?"


"Tongkat yang paling ringan yah yang keluar, ah ... iya maaf, lambang seorang Caelvita adalah bulan yang menandakan penguasa malam atau dunia kegelapan yakni Mundebris dan Pohon yang merupakan penghasil oksigen untuk bisa bernapas bagi manusia, lambang pohon dari Caelvita tidak jauh berbeda bagi Viviandem ...."


"Jadi maksudnya aku yang dari inti dari Mundebris ...."


"Anda adalah oksigen atau merupakan sumber kehidupan bagi seluruh Viviandem yang ada di Mundebris ...."


"Jadi semua orang yang menghilang itu karena ...."


"Tepat sekali! menghilangnya orang-orang dari 10 tahun lalu menandakan mereka merupakan Viviandem dan mereka akan menghilang jika seorang Caelvita meninggal dunia."


"Apa ada cara untuk mengembalikan mereka?"


"Setelah seorang Caelvita sempurna, Viviandem yang menghilang akan muncul kembali dengan sendirinya ...."


"Kau tidak bisa menceritakan soal Iriana tapi bisa menjelaskan banyak begini ...."


"Karena saya masih terikat peraturan dari masa Sang Caldway tapi saat ini saya menjelaskan pada Caelvita generasi baru yang belum memiliki peraturan ... hehe."


"Iriana adalah Caelvita tapi julukannya adalah Sang Caldway?"


"No comment!"


"Tadi bicaranya sopan sekali ... sekarang ...." Felix kesal dan membenturkan tongkatnya membuat mata hijaunya bersinar serta rambut hitam hasil spray berubah menjadi hijau seutuhnya serta muncullah sebuah gerbang besar dikelilingi permata Emerald yang besinya terlihat seperti makhluk hidup, tangannya yang saling mengait dan melihat Felix langsung dibukanya kedua tangannya kemudian muncullah kabut berwarna hijau.


"Ayo kita masuk ...." ajak Verlin seperti yang membuka pintu ke Mundebris adalah dirinya membuat Felix tertawa kesal.


"Apa tidak ada sarana lain Viviandem bisa hidup menggunakan oksigen buatan seperti manusia tanpa harus ada Caelvita?"


"Tidak ada ...."


"Jawaban apa itu?!"


"Tidak seperti manusia yang bebas menebang pohon yang merupakan sumber oksigen bagi mereka sendiri, bagi Viviandem ... Caelvita adalah segala-galanya ...."


"Sekarang melihat pohon ditebang pasti akan membuatku tersinggung ...." Felix menggaruk-garuk kepalanya.


"Kau sudah datang Verlin ... eh, Felix ...." sapa Nenek Alviani membuka gerbang.


"Nenek Alviani?"


"Selamat datang Caelvita ke-119!" kata Nenek Alviani sambil menyilangkan lengan kanannya.


"Nenek tidak perlu seperti itu ...." Felix merasa tidak enak.


"Itu sudah sebuah keharusan menyapa seorang Caelvita ... oh iya kau bisa menaruh kembali tongkat itu ...." kata Verlin.


"Bagaimana Nenek Alviani bisa tahu?" Felix mendorong masuk tongkat itu kembali dibelakang punggungya seperti sudah terbiasa.


"Seluruh makhluk Mundebris mulai dari Viviandem, Zewhit dan lainnya akan langsung tahu sedang berhadapan dengan seorang Caelvita."


"Oh ... batu safir ini apa tidak bisa untuk membuatkan Cain gelang baru?" Felix menyentuh batu safir yang ada pada gerbang.


"Itu hanya perhiasan, tidak memiliki kekuatan apa-apa ...."


Felix kesal dan langsung berhenti menyentuhnya, "Jadi dimana kerajaan Roleorum? hah? aku mengingat nama kerajaan yang baru satu kali aku dengar itu ...."


"Itu karena ... hahh ... no comment lagi ...." Verlin membenturkan kepalanya ke pintu gerbang rumahnya sendiri.


Felix merasa kasihan juga dengan Verlin yang seorang Hyacifla suka bercerita tapi bicaranya dibatasi.


"Apa ada orang di dalam?" tanya Verlin merapikan rambutnya.


"Zeki?" tanya Felix.


"Alvauden Sang Caldway?" sahut Verlin.


"Jangan bilang anak laki-laki kecil berambut panjang yang dikuncir?"


"Binggo!"


"Jadi dia yang memberikan alamat ini ke Lia?" tanya Felix dalam hati.


"Selama 10 tahun dia mungkin sudah mengelilingi seluruh penjuru dunia mencari Caelvita ...."


"Tapi kenapa dia tidak menemuiku lagi setelah hari itu ...."


"Dia itu Alexavier, sibuk menjaga rumah ... aku saja jarang bertemu dia!" kata Verlin.


"Tapi dia bebas bisa pergi kesini ... dan katanya tadi mengelilingi seluruh dunia itu apa maksudnya ... hah?"


"Apa yang dia sampaikan saat bertemu?" tanya Verlin.


"Menyuruhku mencari informasi dan memberitahu pesan dari Iriana agar bisa melakukan pekerjaan lebih cepat, tapi tidak ada yang mau memberi informasi soal Sang Caldway ... bagaimana bisa melakukan pekerjaan lebih cepat?"


"Jadi dia hanya ingin memberitahu pesan Sang Caldway dan memberikan alamat rumah ini supaya bisa bertemu denganku ... jadi intinya dia tidak perlu menemuimu lagi ...."


"Mulai sekarang kau bicara formal kepadaku -_- ...." Felix kesal dengan jawaban menyebalkan Verlin.


"Belum ada peraturan juga ... hahh bisa tidak sekarang aku hanya pusing dengan peraturan dari ... hahh ...." Verlin memukul kepalanya kesal.


Felix ingin tertawa tapi kasihan juga, "Jadi bagaimana aku bisa ke Kerajaan Ruleorum?"


"Sudah lama sekali ... aku lupa jalan kesana ...."


"Ini minum Efi dulu ...." Nenek Alviani membawakan dua cangkir minuman yang berwarna putih abu-abu.


"Minuman apa ini?" tanya Felix.


"Itu teh di Mundebris ...." sahut Verlin.


Felix mencium aromanya, "Harum sekali ...." gumamnya dalam hati, aroma yang belum pernah ia cium sama sekali sebelumnya, "Terbuat dari apa?"


"Dari tanaman Daun Bulan ...."


"Daun bulan? tunggu ... tadi kau bilang lupa jalan kesana? jangan bercanda ...." Felix menaruh cangkir Efinya dengan kasar.


"Sangat jauh dari sini, tapi saat Caelvita sempurna akan bisa dengan mudah membuat pintu masuk ke sana ...."


"Apa tidak ada kendaraan untuk bisa kesana?" tanya Felix.


"Semua Viviandem sekarang hilang dan aku tidak tahu cara memakai ... Curis ...." awalnya Verlin tidak mau mengatakan hal memalukan baginya itu. Nenek Alviani tertawa kecil mendengarnya.


"Apa hanya perasaanku saja atau terdengar kau memang tidak ingin kesana ...." kata Felix.


"Aku sudah lama dibuang oleh keluargaku ...." kata Verlin.


"Tapi bisa membangun rumah besar seperti ini?" Dipandanginya sekeliling ruangan yang megah, dinding dan lantai berwarna putih dengan perabotan serba biru yang selalu saja ada permata Safir yang menempel.


"Viviandem keturunan kerajaan bisa membangun rumah dimana saja menggunakan kekuatan batu permata dari masing-masing keluarga kerajaan, tapi setelah membangun rumah ... kita tidak akan diterima lagi oleh kerajaan."


"Kenapa juga kau membangun rumah?!" Felix tidak habis pikir jika Verlin tahu hal itu kenapa dilakukan.


"Aku dipaksa ... membangun rumah sendiri merupakan tindakan pengkhianatan dan akan dihapus dari anggota keluarga ... saat itu kekuatanku tidak juga muncul saat berumur 10 tahun jadi aku dibuang ... eh tidak, aku yang membuang mereka ...." Verlin dengan wajah kesal.


"Jadi tidak ada cara agar aku bisa kesana dengan cepat selain menyempurnakan kekuatanku ...."


"Ada cara lagi ... Verlin, kau kan bisa belajar mulai dari sekarang menggunakan Curis ...." kata Nenek Alviani.


Verlin hanya memasang wajah cemberut.


"Atau aku saja yang belajar mengendarainya ...." Felix mengajukan diri.


"Lagipula kita tidak bisa menemukan bahan bakar untuk Curis ...." kata Verlin.


"Memangnya Curis ini apa sih?" Felix tidak tahu menahu dan hanya mengajukan diri.


Verlin keluar dan menunjukkan sebuah kendaraan yang sama seperti mobil tapi tidak memiliki ban dan hanya mengambang di udara, "Jadi mobil yah ...." Felix tersenyum malu juga karena mobil normal saja dia tidak tahu cara memakainya, "Sepertinya tidak bisa, disini pasti ada peraturan anak 10 tahun tidak boleh mengendarai Curis kan?" Felix membuat-buat alasan.


"Kau Caelvita, siapa yang berani menghukum ...."


Perkataan Verlin membuat Felix menggigit bibirnya, "Felix bodoh!" sambil memukul kepalanya.


...-BERSAMBUNG-...