UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.217 - Dua Sosok Setengah Ruleorum Yang Mencurigakan



"Setengah Ruleorum harus memakai setidaknya dua permata safir untuk benar-benar terlindungi ... kalau hanya kalung ini, hanya berfungsi sebagai penyembunyian aura!" kata Balduino.


"Felix, jangan terlalu dekat dengannya! berbahaya!" kata Cain lewat pikiran.


Felix yang mendengar itu hanya mengabaikan.


"Tapi tadi kalian menyebutkan sebuah nama ... Ef ... rain kalau tidak salah dengar ... siapa dia?" tanya Balduino.


"Kau tidak mengenalnya?" tanya Tom dengan tatapan curiga.


"Tidak ... mendengar nama itu saja baru pertama kali! apa dia orang jahat?" kata Balduino yang terlihat polos benar-benar seperti tidak tahu apa-apa.


"Kami tidak bisa terlalu dekat denganmu karena bisa saja kau adalah musuh tapi setidaknya tidak akan ada arwah yang mendekatimu di sekolah ini karena aura keberadaan Felix!" kata Tan memperjelas batasan diantara mereka.


"Itu sudah cukup bagiku!" kata Balduino tersenyum, "Tapi mendengar kalian mempunyai musuh, berarti ada orang jahat dari Mundebris? yang hidup sekarang hanyalah Setengah Viviandem, Hantu dan Iblis ... yang mana dari mereka yang jahat?" tanya Balduino.


"Yang namanya Efrain itu adalah iblis, dia adalah seorang pemimpin dari aliansi Anti Caelvita-119!" jawab Tom.


"Ah ... begitu! tapi kukira aku tidak akan bertemu dengan hantu lagi di sekolah ini, kenapa tadi masih ada yang mendatangiku?" tanya Balduino.


"Kau melihat siapa yang membawa jari kelingking itu?" tanya Teo heboh.


"Iya tentu saja!" sahut Balduino membuat mereka semua langsung menatap Balduino, "Kenapa kalian menatapku begitu?"


"Bagaimana rupanya?" tanya Tom.


"Sangat tinggi, dia memasuki kelas dengan kesulitan karena harus menunduk ... tidak mempunyai mata tapi hidung yang banyak ...." jawab Balduino.


"Iiiiiiiih ...." Teo dan Tom ngeri mendengar penjelasan Balduino yang seram itu.


"Apa itu hewan?" tanya Tan mengira itu adalah iblis yang biasanya berwajah hewan.


"Bukan! tapi tidak bisa juga disebut manusia karena dikepalanya hanya dipenuhi oleh hidung ...." jawab Balduino membuat merinding.


"Kau tidak takut?" tanya Teo.


"Tentu saja takut! dari sekian banyaknya hantu yang sudah kulihat ... yang tadi itu paling menyeramkan ...." jawab Balduino.


"Bisa kau memberiku alamatmu? aku ingin menemui ibumu, mungkin ... aku juga bisa membuatkan perisai di rumahmu!" kata Felix membujuk dan memberi pertukaran yang bisa membuat Balduino tertarik.


"Memangnya ada yang seperti itu? terimakasih banyak! anda bisa datang kapanpun ...." Balduino dengan cepat menuliskan alamatnya.


Jam makan siang berakhir, FCT3 kembali ke kelas sedangkan Balduino menuju ruang belajar mandiri kelas 4-5 karena kelasnya masih tidak boleh dimasuki karena masih dalam tahap penyelidikan.


"Kita tidak boleh terlalu mempercayainya! bisa saja dia adalah mata-mata yang dikirim oleh Efrain ...." kata Tom.


"Kau ini curigaan sekali! coba bayangkan kalau kau diposisinya ...." kata Teo kasihan dengan Balduino yang pasti kesulitan selama ini.


"Jangan ada yang terlalu dekat dengannya!" kata Cain.


"Siapa yang menyapanya duluan?!" kata Teo sarkastik karena Cain sudah kenal duluan tapi tidak tahu apa-apa.


"Memang kita tidak boleh terlalu dekat dengannya!" kata Felix setuju dengan Tom dan Cain.


"Kau mengetahui sesuatu?" tanya Tan.


"Aku tidak bisa membaca atau mendengar pikirannya!" jawab Felix.


"Bukankah itu karena kalungnya?" tanya Teo.


"Batu permata safir tidak bisa menghalangiku membaca atau mendengar pikiran ... makanya aku juga dengan mudahnya bisa melihat auranya! tapi aku tidak bisa masuk ke dalam pikirannya ... yang bisa melakukan itu seharusnya mempunyai segel pikiran yang kuat!" jawab Felix.


"Terlebih lagi, kenapa yang meninggalkan jari kelingking Magdelene dulunya kini meninggalkan jari kelingking seseorang di meja Balduino ... banyak hal yang membuat kita seharusnya tidak mempercayainya!" kata Cain.


"Kau tidak dengar, dia itu mempunyai kekuatan untuk menarik hantu ... bukankah itu sudah jelas karena dia memang keturunan malaikat kematian, pasti hawa keberadannya begitu kuat menarik para hantu berdatangan!" kata Teo.


"Tapi kenapa harus dia? dari sekian banyaknya anak-anak lain ... hantu yang melukai Magdalene adalah anak buah Efrain, bisa saja jari kelingking itu adalah sebuah pesan ...." kata Tom.


"Sekarang kita mempunyai sesuatu yang harus diwaspadai di sekolah dan diluar sekolah ada para pemain yang dimanpulasi oleh Efrain dan di sekolah ada Balduino ... bukankah menurutmu ini sebuah kebetulan yang sangat luar biasa?" kata Cain.


"Jika aku adalah Efrain, aku akan mengirim seseorang untuk ke sekolah ini agar bisa membuat kalian sibuk dan tidak memperdulikan apa yang terjadi diluar ...." kata Tom yang memang masuk akal.


"Itu adalah hal yang buruk! jika kita tidak memperdulikan apa yang dilakukan pemain, bisa jadi diluar sana akan terjadi kejadian buruk dan bencana besar!" kata Cain.


"Balduino bisa saja dikirim oleh Efrain sebagai pengalihan perhatian!" kata Tan.


"Untuk saat ini, kita hanya perlu terus waspada!" kata Tom.


"Bahkan, kita harus waspada juga di dalam sekolah ...." kata Teo merasa tidak nyaman.


Sepulang sekolah mereka mengikuti Balduino dengan menggunakan garis pelindung Cain agar tidak terlihat. Tapi sebelumnya mereka harus mengelabui Kramer dan Linn dulu agar tidak diikuti dan tidak dilihat saat akan menggunakan garis pelindung.


"Aku benci kedua produser tv itu!" kata Teo.


Mereka harus berlari mondar-mandir mengikuti Balduino yang ketakutan karena dikejar hantu. Balduino harus bersembunyi kemudian berlari lagi dengan cepat.


"Susah juga hidupnya Balduino ...." kata Tan yang hampir kehabisan napas.


"Kupikir kalung sudah lebih dari cukup untuk melindunginya dari hantu ... kenapa hantu masih saja bisa mendatanginya?!" kata Cain masih tetap curiga.


"Memang keturunan dari Ruleorum sangat kuat menarik para hantu bahkan dengan menggunakan batu permata safir sekalipun kecuali untuk keturunan Viviandem lain akan lebih efektif ...." kata Felix.


Balduino sampai di rumahnya yang tinggal di atap gedung bertingkat tiga. Sederhana tapi terlihat nyaman untuk ditempati terutama bisa melihat pemandangan langit malam.


"Hah?! apa yang kalian lakukan disini?" kata Balduino kaget melihat kedatang FCT3 yang tiba-tiba setelah melepas garis pelindung dan Felix melepas Idibalte.


"Bukankah kau mengundang kami datang kapanpun?" tanya Cain menyeringai.


"Tapi aku tidak melihat kalian daritadi dan tidak mendengar suara langkah kaki kalian ...." kata Balduino.


"Kami ini seperti ninja dan menguasai bela diri kung fu, jadi suara langkah kaki kami memang tidak terdengar!" kata Teo yang susah payah bagi yang lainnya untuk menahan tawa.


"Ah, haha ... begitu ya?!" kata Balduino canggung.


"Jadi dimana ibumu?" tanya Tom.


"Hari ini, hari pertamanya bekerja!" jawab Balduino mempersilahkan masuk ke dalam rumahnya, "Maaf, rumah saya sederhana begini ...."


"Ini sih mewah bagi kami!" kata Teo, "Kau tidak tahu ya? kami semua dari panti asuhan ...."


"Ah, maaf ... aku tidak tahu!" kata Balduino merasa bersalah.


Lama mereka hanya diam di dalam rumah itu tidak ada yang berbicara. Cain dan Tom berkeliling di dalam rumah memeriksa apa yang ada disana. Bisa saja ada yang bisa menjadi petunjuk. Cain dan Tom tidak merasa harus bersikap sopan disana.


"Ibu pulang ...." kata Seseorang yang membuka pintu.


"Ibu, perkenalkan ... Caelvita Fe ... Felix!" Balduino takut-takut menyebutkan nama Felix, "Alvauden Setengah Leaure Cain dan Tan, Teo, Tom!" sambungnya.


"Hormat saya pada Caelvita yang ke-119 dan Alvauden baru!" kata Ibu Balduino.


"Bagaimana tante bisa tahu soal sapaan itu?" tanya Tan.


"Saya pernah ikut masuk dengan suami saya, Ayah Balduino ke Mundebris!" jawab Ibu Balduino, "Terimakasih karena sudah datang menemui kami! saya mohon bantuan kedepannya untuk putra saya ...."


Mereka pulang setelah Cain memasang perisai sesuai janji.


"Tidak ada yang mencurigakan kan?!" kata Teo.


"Tidak mencurigakan bukan berarti tidak ada yang perlu dicurigai!" kata Tom.


"Perempuan itu! dia Setengah Ruleorum juga, ada apa ini? bukankah katanya ibunya manusia ...." kata Felix dalam hati.


...-BERSAMBUNG-...