UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.99 - Peserta Petak Umpet Abadi



Setelah pelatihan mental, dilanjut dengan pelatihan fisik untuk melatih peserta agar siap jika berniat menjadi pengurus osis kelak karena saat ada kegiatan para pengurus tidak akan bisa tinggal duduk diam tapi terus melakukan sesuatu tanpa henti. Berputar-putar mengurus sana-sini dan kalau tidak terbiasa pasti akan langsung drop. Makanya latihan fisik sangat dibutuhkan, membiasakan diri untuk berolahraga rutin. Walau olahraga ringan yang penting tidak putus dan terus dilakukan hingga menjadi kebiasaan. Sengaja Pak Egan memilihkan olahraga yang mudah untuk dilakukan tiap hari.


Semua pelatihan ini bertujuan untuk menyiapkan para murid memasuki dunia organisasi. Bukan hanya itu sebagai latihan kepemimpinan untuk ditanamkan sejak dini. Meski ada sekolah lanjutan yang tersedia bagi mereka tapi yang ingin masuk SMP di sekolah lain. Latihan ini akan sangat berguna dan membuat alumni SD Gallagher menjadi sosok yang sudah siap memasuki dunia organisasi.


Dunia organisasi adalah dunia kecil untuk simulasi memasuki dunia pekerjaan. Sebisa mungkin Gallagher ingin agar semua murid atau alumni tahu, kenal, dekat, akrab dengan yang namanya organisasi. Jika setelah pelatihan ini ada yang tidak berniat memasuki osis, setidaknya mereka sudah dikenalkan. Untuk lebih dekat, terserah para murid nantinya. Menjadi sebuah gambaran untuk anak yang tertarik masuk organisasi atau memang murni fokus untuk akademis. Pelatihan ini bisa membuat anak-anak menyadari potensi dan bakat terpendam sehingga bisa memilih untuk menjadi seperti apa kedepannya.


Acara terakhir adalah permainan yang melatih kerjasama. Organisasi bukan hanya dijalankan oleh satu orang tapi banyak. Bagaimana menyatukan kepribadian yang berbeda-beda? bagaimana menyelesaikan masalah bersama? bagaimana cara memimpin dan dipimpin yang baik?! hal itu bisa dilihat dan dinilai dari cara kerjasama dalam permainan sederhana.


Permainan tetap berjalan dan Felix mau tidak mau harus mengatasi rasa penasarannya terhadap Dallas dan Parish. Bisa jadi bukan hanya dirinya yang tahu tentang dunia lain serta makhluk lain yang bukan manusia. Tapi rasa penasaran itu sebisa mungkin ditahan. Karena strategi yang dulu sudah menunjukkan pelaku adalah seseorang yang tidak suka diganggu itu diperlihatkan saat ia menggunakan kelinci sebagai ancaman peringatan.


Sepuluh orang dalam satu kelompok disebar keberbagai tempat di sekolah tanpa mengetahui permainan apa yang akan dilakukan dan lokasi teman kelompok lainnya ada dimana. Masing-masing mereka diberi jam tangan dengan hitungan mundur 1 menit. Dalam waktu itu mereka harus menebak waktu yang dipilih oleh teman kelompok lainnya kapan harus membunyikan lonceng secara bersamaan.


Mereka bahkan tidak diberi waktu untuk berpikir dan waktu sudah mulai berjalan mundur. Felix tahu betul kapan Cain, Tan, Teo dan Tom akan membunyikan lonceng tapi lima teman kelompok lainnya, Felix tidak tahu.


"Cain akan memilih yang termudah saat waktu berakhir, begitupun Tan yang pasti akan memikirkan Cain yang tidak suka ambil pusing dan selalu berpikir sederhana. Tapi Teo dan Tom berbeda lagi, Teo cenderung terlalu takut mengambil resiko sedangkan cara berpikir Tom terlalu rumit. Bisa jadi mereka berdua akan memilih 10 detik sebelum waktu berakhir untuk mencari aman jika ada misi lain dibalik hitung mundur itu."


Sedangkan lima lainnya lebih sulit lagi karena benar-benar tidak bisa ditebak. Bagi Felix yang bahkan tidak mengenal lima anak lainnya membuktikan betapa pentingnya komunikasi dalam sebuah kelompok. Jika saja Felix setidaknya berbicara sedikit saja dengan mereka pasti akan diketahui sedikit bagaimana kepribadian mereka.


Waktu berlalu dan Felix sudah memilih kapan akan membunyikan lonceng. Walau sangat beresiko tapi hanya itu yang bisa terpikirkan olehnya. Jam hitung mundur sudah di 0 detik dan Felix membunyikan lonceng dengan menutup mata.


Saat ia membuka mata tiba-tiba ada pengumuman untuk bertemu dengan teman kelompok lain di lapangan dalam waktu 5 menit. Itu tandanya misi pertama mereka berhasil dan maju ke misi selanjutnya.


Felix yang dekat dengan lapangan ketika sampai melihat ada bendera yang tertancap dengan warna berbeda sesuai kelompok. Untuk kelompoknya warna hijau, langsung saja Felix mencari bendera hijau karena dia yang duluan sampai.


Setelah itu Felix berdiri menunggu teman kelompoknya datang dengan 10 bendera ditangannya. Kelompok lain tidak ada yang seperti Felix dan anggota kelompok berpencar mencari membuatnya tidak efisien dan membuang-buang waktu.


Sembilan teman kelompoknya sudah datang dan Felix langsung memberikan mereka masing-masing bendera tanpa harus repot mencari dan kelompoknya berjalan santai ke garis finish.


"Aku berharap kau yang paling dekat dengan lapangan ternyata benar!" kata Cain dengan senyuman lega sambil berbaring di garis finish.


"Apa ini bisa disebut kerjasama? kan hanya Felix yang mencari sendiri ... kita tidak membantunya!" kata Teo.


"Ini juga adalah bentuk kerjasama. Felix ibaratkan pemimpin yang selangkah lebih cepat sampai dan tahu betul jika dibelakangnya ada anggota yang sedang berlari. Diwaktu yang lain, kita berlari sekuat tenaga berharap ada pemimpin yang bisa dipercaya untuk membantu kita meraih kemenangan. Permainan ini intinya adalah kepercayaan ...." kata Tan menjelaskan.


Permainan selanjutnya adalah tebak gambar. Sembilan orang akan diikat tali pada masing-masing pinggang yang dihubungkan dengan sebuah kuas besar dan kertas putih lebar dibawahnya untuk digambari. Cain yang akan ditutup mata dan telinganya dipasangi headphone dengan musik yang keras karena bisa saja dengan mendengar anggota kelompoknya saling memberi instruksi akan bisa ditebak gambar apa.


Suara Felix sudah serak karena berteriak tapi Teo dan Tom yang tidak bisa diatur karena terus tertawa melihat hasil gambar membuat Felix menyerah. Tan mengambil alih untuk memberikan instruksi menambahkan point penting dari gambar agar bisa ditebak tapi nyatanya tetap terlihat seperti coretan asal saja. Cain yang dipilih untuk menebak karena dia terkenal akan imajinasi yang tinggi. Tapi dengan gambar yang dibuat oleh mereka itu tidak bisa dibayangkan seperti apa.


"Jadi gambar apakah ini? silahkan ditebak!" kata Cornelia sebagai pembawa acara dengan menggunakan micropohone sangat bersemangat berkeliling memandu acara di lapangan.


Cain awalnya langsung menjatuhkan diri dan tidak berhenti tertawa melihat hasil gambar teman kelompoknya tapi setelah beberapa saat mulai ia perhatikan dengan mengelilingi kertas lebar itu untuk memeriksa tiap sudut pandang gambar.


Tan, Teo dan Tom serta lima anak lainnya yang kelelahan dan hanya duduk pasrah menerima kekalahan langsung berdiri memeluk Cain.


"Bagaimana kau bisa menebaknya?" tanya Tom terlihat sangat senang.


Cain hanya menatap Felix yang mengedipkan matanya. Mereka berpelukan dengan tali dan kuas yang masih terhubung tanpa mereka sadari karena saking senangnya.


Permainan terakhir adalah petak umpet. Seluruh tempat yang ada di sekolah semuanya dipergunakan tanpa terkecuali.


"Apa tadi disebut curang?" tanya Cain berjalan bersama Felix sambil mencari tempat persembunyian.


"Bukan curang! kita hanya menggunakan segala cara untuk menang!" jawab Felix membuat Cain jadi tertawa.


Sebenarnya tadi Felix memberitahu Cain itu gambar apa lewat pikiran.


"Lagipula, tidak ada peraturan yang mengatakan kita tidak boleh saling berbicara lewat pikiran!" tambah Felix.


"Tidak tahu malu sekali!" kata Cain sambil tertawa.


Felix menemukan sebuah kardus yang ada disebuah gudang dan mulai masuk ke sana sedangkan Cain di kardus lainnya. Walau berbeda tempat tapi karena jarak masih dekat, Felix dan Cain tetap bisa saling berkomunikasi.


Waktu berlalu dan permainan petak umpet selesai. Tan sebagai perwakilan yang bertugas mencari anggota kelompok lain sedangkan yang lain bertugas bersembunyi. Tan menemukan 16 anak dan kelompoknya tidak ada yang ketahuan sama sekali maka poin yang mereka dapat 26. Dengan berturut-turut menang disetiap misi dan terkahir dengan angka poin terbanyak, kelompok Felix menang dan berhasil menjadi juara pertama mendapat hadiah medali emas dengan ukiran 'Kelompok Dengan Kerjasama Emas' serta sertifikat.


"Peserta pelatihan ada yang kurang pak!" kata Loreen setelah mengabsen anak satu-satu sebelum pulang.


"Siapa?" tanya Pak Rodney.


"Gina, pak!" jawab Cornelia.


"Sudah pulang mungkin!" teriak anak-anak lainnya yang tahu betul kalau geng halle tidak suka permainan seperti ini.


"Tidak! dia ikut bermain petak umpet ... aku tahu karena aku teman sekelompoknya!" kata Mertie.


Ucapan Mertie dibenarkan oleh teman kelompoknya yang lain.


Seluruh murid dan guru berkeliling mencari Gina di seluruh sekolah tapi tidak ditemukan dan langitpun mulai gelap karena terlalu lama mencari. Ada anggapan kalau Gina keasikan bersembunyi dan tidak tahu kalau permainan sudah selesai tapi pengumuman sudah berulang kali disiarkan dan nama Gina tidak berhenti dipanggil di segala penjuru sekolah tapi tidak ada tanda-tanda juga. Rumah Gina dihubungi tapi katanya belum pulang karena kegiatan sekolah. Teman dekatnya, Geng Halle juga tidak mengetahui keberadaan Gina dan terdengar tidak khawatir sama sekali saat dihubungi. Gina adalah satu-satunya dari Geng Halle yang ikut pelatihan.


"Tahu rasa dia! semoga dia bersembunyi dan tidak ditemukan selamanya!" kebanyakan anak-anak benci dan pernah menjadi korban geng halle menyumpahi.


...-BERSAMBUNG-...