UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.270 - Bukan Misi Biasa



"Mungkin sebaiknya aku membawa kalian sebagai tersangka ke kantor polisi dibanding melakukan ini ...." kata Teo.


"Fokus, Teo!" kata Tom.


"Mataku sudah perih daritadi menahan untuk tidak berkedip, tahu?!" kata Teo melebih-lebihkan.


"Jangan bercanda!" kata Tom.


"Seharusnya kau tertawa kalau begitu ...." kata Teo.


Sementara itu Felix masuk ke Mundebris untuk mencari keberadaan Idalina. Kebanyakan yang dicari Felix selama ini selalu saja sulit untuk ditemukan tapi Idalina pasti mudah untuk ditemukan, begitulah pemikiran Felix. Karena Roh Balduino sendiri bisa dengan mudah dilacak walau memang belum ditemukan.


"Seharusnya metode pencarian ini bisa secara detail menunjukkan keberadaan seseorang. Bukan secara luas ...." Felix mengeluhkan karena harus mencari seluruh neraka untuk menemukan Balduino. Harusnya tempat Balduino disembunyikan secara detail dijelaskan dalam pelacakan itu sehingga memudahkan pencarian, "Seperti, di sel nomor berapa ... atau setidaknya beritahu di neraka bagian mana ...."


"Ow, tidak ada!" seru Jefford, Si Hyacifla Eksperimen.


Felix juga masih mencari bintang bersinar di langit malam buatan Jefford itu tapi tidak ada cahaya kecil sama sekali.


"Bagaimana bisa?" Felix tidak mempercayai apa yang dilihatnya.


"Yang Mulia tahu kan, kalau roh yang dicari tidak ditemukan di langit pencari Hyacifla itu menunjukkan bahwa roh yang dicari itu menghilang dengan cara mati untuk kedua kalinya, atau sedang berada di Jembatan Ruleorum, atau selesai menjalani hukuman di neraka ...." kata Jefford.


"Bisa jadi juga disembunyikan!" kata Felix.


"Disembunyikan? apa yang membuat Yang Mulia berpikir demikian?" tanya Jefford.


"Kau mungkin tidak tahu ... tapi di dunia lain, di Mundclariss ... arwah di tangkap untuk dijadikan Malexpir." jawab Felix.


"Jika ada yang seperti itu terjadi ... pasti akan ada tindakan dari kerajaan terkait masalah itu. Menjadikan arwah sebagai pasukan adalah kejahatan nomor dua yang sangat dilarang oleh kaum Ruleorum." kata Jefford berbicara seperti pria tua yang kuno.


"Saat ini belum ada Viviandem, bagaimana bisa ada yang menindak?!" kata Felix.


"Sang Penghukum Yang Mulia ...." kata Jefford.


"Aku juga tidak bisa membantah ...." kata Felix pasrah tidak bisa membuktikan tuduhannya pada Efrain. Bagi Felix, seorang Efrain lebih dari mampu menyembunyikan dan menggunakan arwah untuk keuntungan pribadi dengan tanpa ketahuan oleh Sang Penghukum, "Tunggu ... kejahatan nomor dua? jadi yang pertama apa?"


"Bermain-main atau memanipulasi takdir didasarkan oleh perasaan." jawab Jefford.


"Kukira menghidupkan kembali orang mati ...." kata Felix tertawa, "Mengingat Ruleorum kan Malaikat Kematian."


"Yang itu termasuk di nomor satu Yang Mulia." kata Jefford.


"Tadi katamu berdasarkan perasaan, jadi kalau berdasarkan pemikiran atau pilihan yang tidak menyangkutpautkan perasaan ... hal itu tidak akan termasuk dalam nomor satu kan?" kata Felix.


"Hal itu tidak ada akan pernah terjadi kalau begitu Yang Mulia, tidak mungkin menghidupkan seseorang tanpa adanya pengaruh perasaan ... menghidupkan orang asing? untuk apa?" kata Jefford.


Felix terdiam karena perkataannya sendiri yang menjadi boomerang untuknya.


"Bahkan untukku?" tanya Felix setelah lama diam.


"Belum pernah ada Caelvita yang melakukan itu, jadi saya tidak tahu Yang Mulia. Kalaupun ada informasi soal itu, pasti tidak akan pernah sampai kepada saya atau kepada siapapun yang ada di Mundebris ...." jawab Jefford.


"Seharusnya aku bertanya pada Kemp ...." kata Felix menyesalkan dalam hati.


Felix kembali ke Mundclariss setelah Mertie dan Tiga Kembar selesai mengamati, mencari di keramaian pelaku yang bisa saja memang tidak pernah ada itu.


"Jadi? apa yang kau dapatkan?" tanya Tom mendengar Felix membuka pintu kamar. Tan dan Teo juga ada disana, mereka sepakat untuk tidur di kamar Felix.


"Jangan bilang kau pulang dengan tangan kosong ...." kata Teo berbicara seperti mengigau.


"Bisa tidak kalian membiarkan aku duduk dulu sebelum menghujaniku dengan pertanyaan. Aku tidak punya payung untuk menghalangi ...." kata Felix duduk di sofa.


"Kau memang tidak biasanya bercanda tapi kuakui leluconmu itu sangatlah buruk." kata Tom.


"Kalau dikatakan pulang dengan tangan kosong ... tidak! setidaknya aku tahu kalau Idalina tidak bisa dilacak." kata Felix.


"Apa?!" Tan, Teo dan Tom bangun bersamaan.


"Jangan-jangan seperti yang kupikirkan ...." kata Teo.


"Tapi tidak baik juga tidak mencurigai, tidak akan ada yang didapatkan tanpa itu ...." kata Tom.


"Heh?!" Teo menatap Tom.


"Bukannya aku setuju denganmu!" kata Tom mengerti tatapan Teo.


"Dia tidak menghilang kan? maksudku meninggal untuk yang kedua kalinya ...." kata Tan.


"Entahlah ... bagaimana dengan kalian?" tanya Felix berbalik memojokkan mereka.


Tan, Teo dan Tom kembali tidur bersamaan dengan menutupi diri dengan selimut.


"Kalianlah yang pulang dengan tangan kosong! setidaknya aku mendapat satu fakta tapi kalian ... mengetahui bahwa memang ada penghipnotis atau tidak, kalian tidak tahu kan?!" kata Felix.


"Kami sudah memasang kamera pengawas dari Mertie, anggap saja memang hari ini hanyalah persiapan." kata Teo.


"Kalian melihat Zewhit atau Iblis?" tanya Felix.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan Felix itu, semuanya hanya diam di dalam selimut dengan mata terbuka lebar.


"Hahh?! seharusnya aku tidak kecewa. Apa aku terlalu berharap? tidak! aku menyetujui Mertie melakukan ini semata-mata karena menghargai kerja kerasnya tapi jika ini hanyalah misi konyol yang mengalihkan pekerjaan utama kita, aku akan memukul diriku sendiri!" kata Felix menyalahkan dirinya sendiri.


"Masih terlalu dini untuk kecewa atau menyerah ... baru sehari, apa yang kau harapkan?!" kata Tan berpikiran positif.


"Kalau ternyata tidak ada alasan spesial seperti yang kita bayangkan ... kalau ternyata ini hanyalah pembunuhan biasa, sepertinya aku akan menjatuhkan diriku sendiri di Jembatan Ruleorum." kata Felix memukul kepalanya.


"Ya, kalau mau menjatuhkan diri ... sendirian saja! jangan ikutkan kami ...." kata Teo.


"Hahh ... sudahlah ... ayo bangun, matahari sudah terbit." kata Felix menunjuk cahaya yang bersikeras memunculkan dirinya dibalik tirai hitam jendela kamar Felix.


"Bukankah kita seharusnya bersyukur kalau ini hanyalah misi bodoh yang kita lakukan ... seharusnya kita bersyukur kalau yang kita pikirkan itu hanyalah imajinasi kita saja." kata Tan.


"Setidaknya kau mengakui kalau ini adalah misi bodoh." kata Felix.


"Aku yakin, ini bukanlah misi bodoh. Bahkan ini mungkin bisa jadi berada di atas imajinasi kita ...." kata Teo.


"Seharusnya kau mulai menulis novel, Teo!" kata Felix.


Sudah ada empat lokasi yang telah di amati dan tidak ada yang mencurigakan. Kamera yang dipasang juga tidak bisa mencakup semua tempat karena terlalu luas dan kamera harus dihemat untuk keperluan tidak terduga.


"Hari ini kita pergi ke lokasi berikutnya! dan kau Felix, harus ikut agar hari ini kita bisa selesai ke lima lokasi yang tersisa." kata Mertie.


"Aaaaa!" teriak Felix.


"Ada apa?! kau tidak mau?!" Mertie membalas teriakan Felix itu.


"Koinku ditelan dan minuman yang kupilih tidak keluar." kata Felix.


"Kau itu dukun yang tidak berguna!" kata Mertie mengambil koin dari dompet kecilnya, "Aaaaaa! koinku juga tertelan." Mertie memukul-mukul mesin minuman itu.


"Kau kan hantu, gunakan kekuatanmu untuk mengambilnya!" Felix mengejek balik.


"Tidak tahu berterimakasih!" teriak Mertie saat Felix mulai menjauh.


"Memang!" balas Felix.


Misi hari kedua mereka dimulai kembali, kali ini ada Felix yang bergabung. Tapi dengan menggunakan Idibalte level tiga karena aura keberadaannya sangatlah kuat. Level yang baru ia dapatkan itu setelah menyelesaikan permainan tukar kematian, karena level dua masih bisa dirasakan oleh Efrain.


Tapi masih belum jelas, kapan Efrain tidak bisa merasakan keberadaan Felix. Belum bisa dipastikan pada Idibalte level berapa. Felix duduk di kursi mengawasi tapi terkadang ada orang yang ikut duduk di dekatnya atau malahan duduk tepat ditempatnya duduk. Jika itu terjadi, Felix cepat-cepat menghindar karena tidak ingin menjadi seperti Zewhit yang bisa ditembus atau merasakan penderitaan Zewhit yang keberadaan fisik tidak ada lagi, atau tidak dianggap ada lagi oleh Mundclariss.


"Ada sesuatu yang aneh!" kata Mertie.


"Apa itu? kau melihat ada orang yang dihipnotis?" tanya Teo heboh.


"Tidak, bukan dengan orang tapi benda. Semua kamera yang kita pasang mati." jawab Mertie.


...-BERSAMBUNG-...