UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.73 - Pahlawan



Semua orang dimanapun itu tidak berhenti berbicara tentang Carlton Group dan Ted si pewaris yang ternyata seorang pembunuh berdarah dingin. Terlebih lagi korban yang disembunyikan dibalik tembok Perusahaan Carlton dan daging manusia korban Ted dijual bersama daging lainnya membuat banyak orang tidak sadar bahwa sedang memakan daging manusia. Banyak yang mengatakan bahwa tidak pernah makan daging dari perusahaan Carlton untuk menghindar dari tuduhan menjadi seorang kanibal padahal perusahaan Carlton adalah yang terbesar soal pendistribusian daging.


Hantu Merah Muda yang kini dipuji oleh tindakan terpujinya mengungkap kebenaran sedangkan Era yang tidak berhenti dicemooh oleh semua siswa/siswi Gallagher bahkan orangtua murid yang ingin mengajukan protes pada orangtua Era tapi kini menjadikan Era sebagai pelampiasan. Sekolah jadi tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa karena Era tapi pihak sekolah tidak bisa mengeluarkan Era juga karena tidak memiliki kesalahan untuk bisa dikeluarkan akhirnya Era keluar sendiri.


Geng Halle yang merupakan teman dekat Era tidak membantu atau bahkan menghiburpun tidak sama sekali. Mereka kini menjauhi Era seakan jijik.


Banyak orang yang mencari identitas asli Hantu Merah Muda, pahlawan yang membuat sebuah perusahaan hancur dalam sekejap dan mengguncang negeri. Tapi hanya Felix dan kawan-kawan yang mengetahui siapa si Hantu Merah Muda itu.


"Apa dia terlalu bahagia dipuji-puji makanya tidak perlu sekolah lagi begitu?" tanya Teo.


"Mungkin sedang liburan dengan orangtuanya!" kata Tom.


Mertie yang menghilang dan tidak pernah masuk sekolah, tidak terpikirkan bahwa Mertie saat ini sedang berduka diatas kemenangannya. Kedua orangtua Mertie yang berdasarkan hasil penyelidikan polisi mengatakan bahwa mereka berdua dibunuh oleh pencuri amatiran membuat Mertie marah besar dan tidak habis pikir, "Bapak ... coba pikir baik-baik, apa yang bisa membuat seorang pencuri tertarik masuk ke dalam sebuah rumah kumuh dan tidak ada yang bisa dicuri sama sekali dari ...." Mertie merasakan dadanya begitu sesak.


"Kau tidak apa-apa nak? apa tidak perlu ke rumah sakit?" tanya polisi yang sedang memegang sebuah catatan kecil dan pulpen.


"Tolong pergi darisini! PERGI!" Mertie melempar barang-barang untuk mengusir detektif itu.


Mertie yang kini duduk dihadapan foto kedua orangtuanya yang dipajang tanpa menyalakan lampu ruangan Mertie menangis sekencang-kencangnya. Tak ada seorang pun yang datang melayat ke pemakaman kedua orangtua Mertie, "Sekarang aku jadi yatim piatu? sebenarnya aku harus menderita menjadi tidak beruntung bagaimana lagi untuk bisa bahagia?"


Mertie berjalan di trotoar jalan dengan pikiran campur aduk, "Aku sekarang sendiri? aku sudah tidak punya tujuan hidup lagi ... apa aku mati saja?!" Mertie mulai melangkahkan kakinya ke tengah jalan raya. Banyak mobil yang berkecepatan tinggi semuanya panik tiba-tiba melihat Mertie berdiri pasrah menutup mata sambil menitikkan air mata, "Tunggu aku Ibu ... Ayah ... aku segera menyusul kalian!" karena kecepatan mobil jadi menginjak rem pun tetap akan berakhir mengenai Mertie


Tak lama suara mobil saling bertabarakan membuat Mertie membuka matanya, "Apa aku sudah mati?" tanya Mertie.


Tapi semua mobil berhenti tepat sebelum Mertie dan mobil lain hanya saling bertabarakan tanpa melukai Mertie sedikitpun. Terlihat banyak sekali orang yang berjejer saling berpegangan tangan menahan mobil agar tidak melukai Mertie.


Mertie yang tadinya bertekad untuk mati sekarang lututnya serasa lemas dan mulai duduk gemetaran, "Dasar pengecut! bahkan untuk mati saja tidak berani?" kata Mertie mulai duduk di tengah jalan sambil menangis.


Sebuah tangan kemudian terulur ingin membantunya berdiri, "Kau tidak apa-apa adik kecil?" tanya seseorang.


"Aku ...." Mertie berhenti ketika melihat wajah perempuan yang kini mengulurkan tangannya, "Viola?"


"Iya ... benar! semua hantu yang menghentikan mobil adalah korban dari Ted!" kata Viola menunjuk semua hantu yang berbaris menahan mobil melindungi Mertie.


"Kenapa kalian melindungiku?" tanya Mertie.


Semua hantu kemudian berbalik memandang Mertie, "Terimakasih!" kata semua hantu serentak sambil menunduk diikuti Viola juga yang ikut menunduk.


Mertie jadi tercengang dengan pemandangan yang terjadi di depan matanya saat itu.


Mertie jadi tidak tahu harus bagaimana dan mulai menatap Viola, "Kau tidak perlu merasa bersalah, aku mati bukan karena melindungimu ... itu sudah takdirku! tapi mati karena melindungimu pun adalah hal luar biasa bagiku ... kau adalah seseorang yang layak untuk dilindungi ...." kata Viola membuat perasaan Mertie tiba-tiba menjadi sangat tenang.


"Berkatmu ... jasad kami bisa dikuburkan dengan layak!" kata hantu lainnya.


"Jika aku tidak melindungimu saat itu ... Carlton Group masih berjaya sekarang, jasad kami akan tidak ditemukan, perdagangan daging manusia akan tetap berjalan, Ted akan membunuh lebih banyak korban lagi ... kau sudah sangat bekerja keras!" kata Viola lagi.


"Aku janji! aku tidak akan mencoba bunuh diri lagi! demi kalian aku akan berumur panjang dari kalian semua ... siapa yang tertua diantara kalian?" tanya Mertie membuat para hantu tertawa.


Seorang bapak-bapak mengangkat tangannya, "62 tahun!" katanya.


"Baiklah ... setidaknya akan aku usahakan hidup sampai umur 63 tahun!" Mertie membuat hantu tersenyum.


"Kau berjanji?" tanya Viola.


"Janji!" jawab Mertie mulai berdiri.


Semua hantu kemudian tersenyum puas dan mulai terbang pergi meninggalkan Mertie yang masih berdiri ditengah jalan. Pengemudi yang ada di dalam mobil pun sudah ada yang sadar, adapula yang tidak pingsan tapi tidak bisa membuka pintu mobil untuk keluar memaki Mertie.


"Maaf, Ibu .. Ayah ... kalian harus menunggu lebih lama lagi!" kata Mertie mulai pergi darisana karena suara sirene polisi dan ambulance mulai mendekat.


"Saat kau ingin menghancurkan orang lain, kau harus menyiapkan diri ... karena tanpa kau sadari, kau juga akan ikut hancur. Tidak ada yang namanya balas dendam yang manis ... ujung-ujungnya kau akan kehilangan satu per satu hal berharga saat sibuk ingin membalaskan dendam. Buka hatimu memaafkan orang lain dan jalani hidup yang tenang tanpa ada rasa benci sedikitpun ... selama kau hidup, akan ada saja hal baik yang terjadi, selamat malam para pendengar setia radio Hope!" Mertie mendengar radio dalam bus yang ditumpanginya.


"Terimakasih pada pahlawan kita, Hantu Merah Muda ... mungkin sedang ikut mendengar siaran malam ini ... semoga Hantu Merah Muda tetap diberi kesehatan dan umur panjang dan tidak berhenti melakukan hal baik lagi kedepannya ... tidak akan berhenti menjadi pahlawan yang kami banggakan ... terimakasih ... semoga seluruh kebahagiaan yang ada di dunia ini berkumpul dan memeluk pahlawan hebat kita ... Hantu Merah Muda ...." kata penyiar radio itu lagi membuat Mertie menangis tersedu-sedu karena sudah jelas saat ini dia merasa sangat sedih tapi perasaan bahagia serasa mengelilinginya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya seseorang memberikan permen pada Mertie.


Mertie melihat wajah yang memberikan permen itu dan mulai tertawa, "Bagaimana kau bisa ada disini Cain?"


"Memangnya ada larangan untukku tidak kesini dan bus ini hanya untuk kau seorang? begitu?" kata Cain mulai ikut duduk disamping Mertie, "Aku turut berduka cita atas meninggalnya kedua orangtuamu ...."


"Bagaimana kau bisa tahu itu?" tanya Mertie.


"Ah ... itu ... aku ada kucing peliharaan yang bisa mencari orang dengan cepat ...." jawab Cain membuat Goldwin kesal.


...-BERSAMBUNG-...