
Semua murid kelas 6 SD tidak ada yang absen untuk mengikuti perkemahan. Katanya acara perkemahan terakhir sebagai murid SD sebelum naik SMP tidak akan dilewatkan. Sangat terasa istimewa bagi semua murid acara perkemahan ini, maka dari itu Teo dan Tom tidak begitu bersemangat karena Cain tidak ada bersama mereka. Tan juga menyayangkan kenangan perkemahan akhir sebagai siswa SD tidak bersama Cain. Tapi, kalau ada yang sangat sedih pasti itu adalah Felix.
Bagi Felix, perkemahan saat kelas 3 adalah kenangan terindahnya selama masa sekolah. Saat itu dia masih belum mengetahui identitasnya yang sebenarnya, masih menjadi seorang manusia biasa walau terus dijuluki sebagai pembawa sial tapi ada Cain dan Tiga Kembar yang membantu melalui masa berat itu. Cain, Tan, Teo dan Tom juga masih seorang manusia biasa yang menjalani kehidupan normal walau dijuluki tidak beruntung juga karena merupakan anak panti asuhan.
Semua kenangan biasa-biasa itu adalah kenangan berharga bagi Felix. Saat Felix berada dititik terendahnya sebagai seorang manusia, ternyata itu juga merupakan akhir dari kenangannya menjadi seorang manusia biasa. Semua perlahan berubah setelah perkemahan itu.
"Semuanya sudah lebih 2 tahun yang lalu ... tapi rasanya sudah lama sekali. Setiap detiknya terasa sangat menyiksa ...." kata Felix bersandar di jendela bus.
"Mertie kah?!" Tan terus memperhatikan Daisy yang melihat sekitar dan sepertinya Mertie lah yang diperhatikan, "Tapi, kenapa?!" tanya Tan dalam hati.
"Sepertinya sudah mau berangkat, cepatlah naik!" kata Bu Corliss menepuk tas ransel Tan.
"Ini, makanan kalau kalian lapar di jalan dan cemilan kalau kalian sudah sampai." Daisy menyerahkan dua goodie bag.
"Bukan ibu yang masak kan?!" Tan merasa khawatir.
"Beli!" sahut Daisy dengan nada tinggi.
"Syukurlah ...." kata Tan membuat Daisy tambah sebal tapi Daisy tidak bisa menyangkal juga, "Ibu, jangan melakukan hal berbahaya!" Tan berbalik setelah berjalan beberapa langkah.
"Pekerjaan ibu memang berbahaya ... mau bagaiamana lagi?! melarang melakukan hal berbahaya sama saja kau mau ibu berhenti bekerja! dasar! padahal kalian selalu memakai kartu ibu! jangan kira ibu tidak tahu ya ...." Daisy yang terlihat sudah mulai emosi dan tidak akan berhenti mengomel membuat Tan buru-buru kabur darisana.
"Lagipula kau juga tidak tahu cara menghabiskan uang ...." kata Bu Corliss.
"Kaupun sama Liss!" balas Daisy.
***
Rasanya aneh bagi Felix dan Tiga Kembar berada di dalam bus, bisa dilihat oleh anak-anak lain dan diajak bicara. Karena selama ini mereka tidak terlihat dan hanya seperti hantu.
"Jendela itu tidak bisa dibuka!" kata Teo memberi tahu Dallas yang ingin membuka jendelanya.
"Hem?! bagaimana kau tahu?!" tanya Dallas.
"Tahu saja!" sahut Teo.
Dallas mengira Teo hanya mengerjainya tapi ternyata benar tidak bisa dibuka, "Apa-apaan?! seperti kau sudah menaiki bus ini beberapa kali saja ... ini kan juga pertama kalinya bagimu!" kata Dallas.
"Aku sudah menaiki bus ini tiga kali!" kata Teo dalam hati hanya bisa tersenyum kecut tidak bisa membantah juga.
Penumpang dalam satu bus tidak mengharuskan semuanya harus satu kelas. Bisa dicampur karena sudah diabsen sebelumnya di lapangan. Lagipula acara perkemahan bukanlah acara kelas tapi seluruh kelas 6. Reuni dari teman sekelas yang terpisah sebelumnya, semuanya bisa berkumpul bersama di perkemahan sekolah.
Disaat anak-anak lainnya sibuk bermain dan bercanda, Tan yang duduk berdampingan dengan Felix dan Teo yang duduk bersama Tom lebih memilih tidur.
"Perjalanan panjang, kalian akan kelelahan kalau sampai ...." kata Tom memberi saran.
"Hanya 4 jam juga ...." Osvald tidak mengerti kenapa Tom berlebihan begitu.
"Ow, cemilan kesukaan Felix lagi!" seru Tan yang duluan memperlihatkan pada Felix yang ada tepat dibelakangnya.
"Cepat bergerak!" kata Felix malas mengantri lama di depan gerbang masuk.
Giliran Felix yang maju untuk diberi bingkisan cemilan selamat datang, "Hem?!" Felix bingung karena diberi banyak, "Cukup satu saja!" Felix mengembalikan bingkisan cemilan yang lain dan hanya mengambil satu. Tapi kembali dikejar oleh pegawai pengelola perkemahan, sehingga Felix hanya bisa pasrah menerima kemurahan hati itu.
"Sepertinya dia menyukaimu ...." kata Teo.
"Menyukai apanya?! baru pertama kali bertemu juga." kata Felix.
"Apa dia ya?! pemilik perkemahan ini?! dia baik denganmu karena tahu kau siapa." kata Tom.
"Namanya Ed, tidak ada yang aneh dengannya?!" tanya Teo setelah kembali melihat papan nama staff perkemahan itu.
"Aku sudah mencoba segala macam cara mengerjai dan mengejutkannya tapi tidak ada yang mempan. Auranya memang ada sedikit Aluias tapi lebih kecil dari punya Cairo." kata Felix.
"Jangan geer! lihat!" kata Tan membuat mereka berbalik semua, terlihat Ed memang murah hati membagi-bagikan bingkisan cemilan. Teo dan Tom kemudian tertawa dan berbalik menertawai Felix.
Anak-anak kelas 6 terlihat memuji perkemahan kali ini yang bukan perkemahan biasa seperti sebelumnya tapi lebih ke Glamping. Tidak perlu lagi mendirikan tenda susah-susah seperti perkemahan sebelumnya. Tapi bisa langsung beristirahat di atas kasur empuk di dalam tenda yang hangat dengan perapian disediakan juga.
"Aku ingat bagaimana Cain membuat tenda hampir rusak karena tawa anehnya." kata Tan tertawa mengingat kenangan saat perkemahan sekolah waktu kelas 3. Perkemahan waktu kelas 4, Cain masih ada tapi kelas 5 Cain sudah tidak ada jadi mereka lebih memilih tidak ikut juga. Kali ini mereka terpaksa ikut karena bagaimanapun ini adalah perkemahan terakhir sebagai siswa SD.
Mereka diberi waktu istirahat selama satu jam kemudian berkumpul di lapangan. Kali ini kabut tidak ada tapi cuaca masih tetap dingin seperti biasanya. Bagi anak-anak lain belum bisa terbiasa dangan suhu dingin disana tapi Felix dan Tiga Kembar sudah terbiasa. Mertie dan anggota timnya juga sudah tahu bagaimana menggunakan persiapan untuk melawan cuaca dingin disana.
Semua siswa(i) kelas 6 dibagi menjadi kelompok kecil dengan beranggotakan 5-6 orang.
"Kita sudah 4 orang, tinggal cari satu atau dua orang lagi ...." kata Tom.
"Bagaimana dengan kelompok Dunia Zewhit." kata Teo.
"Osvald dan Demelza maksudmu?!" Tan tertawa mendengar kelompok yang diinginkan Teo untuk dibentuk.
"Baiklah, tidak masalah ... perkemahan sekolah kan memang layaknya seperti reuni, kita anggap saja reuni dari Tim Mimpi Buruk." kata Tom.
"Mereka tidak ingat juga sih, tapi ... tidak apa-apa!" kata Teo.
Kelompok yang terbentuk dimaksudkan untuk membuat pertunjukan saat acara malam nanti.
"Kau tidak akan membuat lubang di panggung lagi kan?!" kata Teo yang tiba-tiba muncul disamping Mertie yang sedang melihat-lihat panggung.
Mertie tertawa mengingat bagaimana dia mengerjai Felix waktu perkemahan saat kelas 3 dulu, "Kau pikir mudah melakukan itu semua dulu?!" wajah Mertie berubah kesal karena sadar kalau Teo bukannya sekedar bercanda saja dengan ucapannya itu tapi lebih ke arah meledek.
"Kau lihat bekas lukaku ini, semua karena kau tahu?!" Teo memperlihatkan bekas luka di dagunya.
...-BERSAMBUNG-...