
Teo melangkah menaiki tangga meninggalkan belakang panggung dan menuju bagian tengah-tengah panggung pertunjukan. Dengan hanya mengeluarkan kepalanya ditirai, "Aku hanya sekedar mengintip ...." kata Teo mengundang tawa penonton.
"Memangnya ada yang mengintip dengan sangat kentara begitu?!" seru Penonton.
"Em ... Pengintip ... yang percaya diri!" sahut Teo dengan sombongnya.
Sudah biasa dari pertunjukan Teo dan Tom pasti selalu saja terkesan lebih mengarah ke genre komedi.
"Kalau ada Cain, dia pasti tidak bisa tampil karena terus tertawa." kata Tan dalam hati mengingat lagi kenangan bersama Cain.
Sketsa cerita mulai terlihat berlangsung dengan Teo yang memakai baju biasa dan membawa tas kemudian mengeluarkan kertas yang merupakan formulir pendaftaran masuk ke sekolah Gallagher. Formulir itu diberikan pada Demelza yang akting sebagai bagian penerimaan siswa(i) baru.
Setelah itu Teo meninggalkan panggung dan digantikan oleh Tan yang memakai pakaian sama juga menyerahkan formulir pendaftaran.
Suara tawa yang daritadi ditahan mulai terdengar keras karena adegan itu. Demelza yang sebagai staf penerima murid baru terlihat akting kebingungan menerima formulir pendaftaran.
"Apa ini yang namanya dejavu?!" kata Demelza.
Setelah Tan turun panggung, kali ini Tom yang datang dengan memakai baju yang sama. Bahkan yang sudah lama sekelas dengan mereka dari kelas satu juga tidak bisa mengenali siapa yang baru saja naik dan siapa yang baru saja pergi. Karena wajah mereka yang sama persis dan gaya rambut yang juga sama ditambah lagi pakaian mereka yang sama.
"Kau ini mengerjaiku ya anak muda?!" kata Demelza memulai aktingnya, "Daritadi terus saja membawa formulir pendaftaran, cukup satu saja!"
"Hanya satu kok yang saya bawa ...." kata Tom tidak seperti akting karena natural memang kepribadiannya yang tenang dalam segala situasi.
"Kalau kurang kerjaan, jangan menjahili orangtua! dosa tahu?!" kata Demelza memaklumi keisengan itu dan menyuruh Tom untuk pergi.
Kali ini anak laki-laki dengan baju yang sama datang lagi membawa formulir. Demelza menghempaskan kertas ke panggung, "Aku sudah membiarkanmu tapi kau mengulanginya lagi. Dasar anak nakal! aku tidak akan dengan mudahnya melepaskanmu kali ini. Jangan harap kau bisa masuk lulus sekolah disini, formulirmu saja akan aku langsung ku gagalkan!"
Tapi anak-anak laki itu membuka tudung jaketnya, ternyata itu adalah Osvald.
"Ow, astaga ... orang lain rupanya ... pakaian kalian sama sih ...." kata Demelza mengumpulkan kertas yang tadi dibuangnya dengan canggung.
"Seperti itulah bagaimana Tan, Teo dan Tom mendaftar di Gallagher. Dikiranya mereka sedang menjahili staf penerimaan murid baru padahal mereka hanya datang terpisah-pisah. Bapak ingat betul bagaimana staf mengeluhkan hal itu dan malu juga disaat bersamaan setelah memeriksa baik-baik isi formulir mereka yang ternyata mereka memiliki nama yang berbeda dan memang punya saudara kembar." Pak Egan menambahkan narasi saat mereka menyiapkan bagian selanjutnya.
"Seperti itulah juga bagaimana kami bisa berteman dengan Osvald. Saat acara penerimaan murid baru, Osvald menyapa kami katanya dia kena masalah waktu memasukkan formulir pendaftaran karena memakai pakaian yang sama dengan kami." kata Teo.
"Jangan bilang ... katanya aku sudah datang tiga kali menyerahkan formulir ternyata tiga orang dengan wajah yang sama itu adalah kalian." kata Osvald.
"Maaf, jadi kau yang kena masalah ...." kata Tan merasa bersalah pada kesalahan yang sudah lama terjadi itu.
"Sudah kejadian 5 tahun yang lalu juga, lagipula itu juga adalah kenangan yang tidak bisa terlupakan." kata Osvald.
"Kalian ini! sempat-sempatnya mengobrol saat menyiapkan bagian selanjutnya ...." kata Demelza.
Pakaian dan properti kali ini disiapkan oleh pihak sekolah. Tinggal masing-masing kelompok datang dan memilih sesuka hati. Memilih mana yang cocok untuk skenario mereka. Alasan dari penyiapan itu, katanya sebagai hadiah terakhir untuk perpisahan perkemahan di tingkat SD.
Bagian kedua dimulai dari Osvald yang naik kepanggung dan Tiga Kembar juga ikut bergabung membuat barisan. Ceritanya sama persis seperti yang barusan mereka bicarakan. Bagaimana pertemuan pertama Osvald dan Tiga Kembar.
Kemudian Demelza yang naik ke atas panggung dengan properti mobil mainan dan keluar dari mobil dengan cara memamerkan semua yang dipakainya bermerk mahal.
"Wah ... apa-apaan dia?! semua yang kupakai saat ini bahkan tidak sebanding dengan harga satu sebelah sepatunya." kata Teo membuat semua penonton tertawa.
Begitulah kesan pertama mereka pada Demelza. Saat membuat skenario Demelza sempat protes, "Memangnya aku begitu?! aku hanya keluar dari mobil dan berjalan seperti orang lain pada umumnya ... memangnya apa yang salah dari itu?!"
"Mau bagaimana lagi?! kesan pertama kami tentang kau ya begitu ...." kata Osvald.
Demelza menerima saja sketsa adegan itu karena tidaklah seburuk itu, "Baiklah ... lagipula itu hanya akting juga."
"Em ... iya akting ...." gumam Teo membuat Demelza tersinggung.
(Kembali ke masa sekarang)
Bagian kedua telah selesai, mereka bersiap lagi untuk bagian selanjutnya. Sementara Pak Egan membantu dengan narasi yang dilebih-lebihkan, "Begitulah kesan pertama ... bertemu orang baru, teman baru. Bukankah pertemuan pertama itu adalah kenangan yang paling berkesan. Bapak jadi penasaran bagaiaman cerita dari kelompok lainnya."
Felix yang merupakan siswa pindahan baru muncul saat kelas 3, jadi untuk sekarang dia hanya bersantai saja sambil menunggu giliran. Padahal bagian ketiga barulah untuk kelas 1, jadi Felix baru muncul pada bagian kelima.
"Kau baru muncul di bagian tengah-tengah ... enak sekali ya anak pindahan!" kata Demelza karena Felix hanya melakukan pertunjukan setengah dari yang mereka lakukan, tidak harus semua bagian diikuti, "Awas saja kalau kau salah dialog, padahal cuma punya sedikit bagian daripada kami!"
Felix tidak merespon dengan keluhan Demelza itu. Osvald dan Tiga Kembar agak heran juga bagaimana Demelza tidak takut pada Felix padahal anak-anak lain biasanya takut pada Felix.
"Kau tidak takut pada Felix?!" bisik Osvald.
"Takut apanya?! Felix hanya terlihat suram dan jutek begitu tapi dia sangat baik." kata Demelza.
"Hahh?! maksudmu?!" Osvald bingung dengan pernyataan Demelza itu.
"Adalah ... kau tidak perlu tahu." kata Demelza.
"Kalau dipikir-pikir memang, dia selalu saja membicarakan Felix disaat anak-anak lain sudah berhenti membicarakan itu." kata Osvald dalam hati. Osvald yang dekat dengan Tiga Kembar tidak membuatnya bisa dekat juga dengan Felix. Karena kepribadian Felix yang sulit diajak bicara, seperti yang dikatakan Demelza kalau melihat wajah Felix saja akan membuat niat untuk menyapa hilang dalam sekejap.
"Pasti sulit menjadi siswa pindahan, beradaptasi dengan lingkungan baru dan yang lebih utama adalah rumah baru ... yaitu panti asuhan baru. Ide yang bagus, mereka membuat tema seperti ini untuk pertunjukan, jadi aku bisa tahu bagaimana kehidupan sekolahnya ...." kata Seseorang dari jauh memandangi Felix yang sendirian di belakang panggung berada diantara pakaian yang tergantung dan banyak properti lainnya.
...-BERSAMBUNG-...