
"Kau yakin?!" tanya Tan bingung sendiri karena sudah memikirkan soal bujukan apa yang akan diucapkannya tapi Felix malah duluan mengajaknya.
"Tapi kita buat persiapan dulu!" kata Felix.
"Okey!" sahut Tiga Kembar bersamaan langsung menurunkan tas masing-masing dan sibuk melakukan sesuatu tanpa bersuara lagi. Mereka senang karena Felix berubah pikiran sebelum dibujuk.
Persiapan mereka tentu saja tidaklah cocok untuk turun kedalam lubang yang tidak diketahui resikonya apa itu. Mereka hanya menyiapakan perlengkapan untuk melawan iblis di perkemahan.
"Asrama tidak akan menghubungi panti, kan?!" kata Tan agak cemas.
"Kau ini selalu saja terlalu banyak mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu." kata Tom sebal.
Karena ingin berjaga di lokasi perkemahan, mereka harus izin pulang ke panti supaya tidak harus ikut absen malam. Akan sulit kalau harus bolak-balik lokasi perkemahan dan sekolah hanya untuk absen padahal jarak perjalanan tidaklah dekat. Tan jadi parnoan, takut kalau apa yang ditakutkannya terjadi. Mereka dicari di panti tapi tidak ada disana dan membuat seisi panti jadi panik mencari keberadaan mereka.
Saat acara perkemahan sekolah diadakan, pembelajaran tidaklah dilaksanakan. Hanya pemberian materi pelatihan untuk menjaga diri dan menjaga lingkungan saat sudah ada di lokasi, itupun tidak wajib diikuti secara langsung tapi dapat diikuti secara online dari rumah sambil mempersiapkan perlengkapan untuk berkemah. Sehingga perkemahan terasa seperti liburan pendek atau liburan khusus dari sekolah, kabar bahagia sekaligus solusi bagi Felix dan kawan-kawan yang kesulitan melakukan misi dan menjalani kehidupan normal secara bersamaan.
"Setidaknya malam ini kita tidak perlu lagi bertemu mesin absensi menyebalkan itu." kata Teo yang sangat tidak suka karena mesin itu seperti merenggut kebebasannya untuk makan lebih lama, mengobrol lebih lama, melakukan hal lainnya. Mesin absensi serasa seperti cambuk yang membuatnya berlari dengan paksa atau seperti alarm bahwa kehidupannya sebagai Alvauden akan dimulai.
"Bagaimana kalian sudah siap?!" tanya Felix.
"Ayo!" Tan memunculkan Telloppernya.
"Jangan mengharapkan aku akan melindungi kalian! jaga diri kalian masing-masing, mengerti?!" Felix menekankan.
"Mungkin kami tidak bisa melindungimu tapi kalau soal menjaga diri, tidak perlu kau ragukan. Kau pikir kami hanya berjalan di tempat tanpa berkembang?!" kata Tom terdengar tersinggung tapi sebenarnya hanya ingin terdengar meyakinkan.
"Kalau mau berdebat, lakukan sekarang! setelah turun, tidak boleh ada suara lagi!" kata Felix.
"Kau tidak sadar ya?! daritadi kaulah penyebab perdebatan!" kata Teo kesal.
Tan memanjangkan Telloppernya sehingga menancap di pinggir lubang dekat permukaan kemudian Tellopper memanjang membentuk dirinya menjadi seperti tangga.
"Disaat seperti ini aku iri kau punya Tellopper ...." kata Teo.
"Sssssst!" Tom memperingatkan agar diam.
"Apa kau bilang?! coba katakan sekali lagi!" kata Winn.
"Ssssssst!" Teo menghindar dengan cara licik.
"Aku punya banyak kelebihan daripada dia, tahu?!" kata Winn masih kesal tapi Teo seperti pura-pura tidak dengar.
"Terlalu rapi, terlalu bersih ... aneh sekali!" kata Tan.
Berulang kali Tan membuat Tellopper membuatkan tangga untuk mereka berempat. Setelah panjang Tellopper mencapai batas maka dilanjutkan lagi dengan memendekkan Tellopper yang dipakai dari atas untuk dipanjangkan lagi kebawah, begitu seterusnya.
Tom sudah mencatat bagian kedalaman yang membuat drone rusak untuk diperiksa. Bagian kedalaman pertama yang membuat drone rusak mereka semua singgah untuk memeriksa dengan teliti tapi tidak ada keanehan yang ditemukan.
"Ini tandanya ...." Tom sudah menyimpulkan.
"Ada sesuatu yang bergerak disini." kata Felix sudah bersiap dengan pedangnya membuat pencahayaan semakin terang dengan cahaya hijau Tellopper ditambah lagi pedang Caelvita Felix.
"Sesuatu atau seseorang ...." kata Tom.
"Apa maksudnya?!" tanya Teo.
"Bisa tidak kau berpikir dulu!" balas Tom.
"Kalau mau bertengkar, kalian kembali naik sana!" kata Tan sibuk mengatur Tellopper tapi kedua saudaranya sama sekali tidak mengerti.
"Dengan rusaknya drone dari berbagai kedalaman yang berbeda-beda dan saat diperiksa saat ini tidak ada yang aneh seperti gas beracun atau apalah ... maka dapat disimpulkan kalau ada sesuatu atau seseorang yang bergerak merusak drone." kata Tom pada akhirnya menjelaskan juga dengan suara pelan. Tapi sepelan apapun suara, semuanya menjadi besar di dalam lubang itu.
"Kalau ada yang meminta tolong pasti sudah daritadi kita bisa mendengarnya dengan memanfaatkan gema ini." kata Teo setelah menyadari dari suara Tom yang sudah dipelankan tapi tetap terdengar besar.
"Maka dari itu, aneh ... bagaimana bisa aku tidak mendengar apapun." kata Felix.
"Maka dari itu kau sangat ingin turun, ya?!" kata Teo mengerti perasaan Felix saat ini.
"Tentu saja, Felix pasti memang ingin menyelamatkan korban yang jatuh ... tapi aku mengenalnya dengan baik. Felix tidak akan mengambil resiko kalau tahu tidak akan bisa menyelamatkan siapapun terlebih lagi kalau kami bersikeras akan ikut. Tidak mendengar suara meminta tolong menandakan kalau tidak ada yang selamat tapi jika tidak bisa berteriak sekalipun dan hanya dengan suara sekecil apapun itu Felix pasti bisa dengar. Kalau tidak terdengar suara meminta tolong atau setidaknya suara pelan yang merintih kesakitan mungkin bisa dianggap kalau tidak ada yang selamat. Tapi setidaknya harus ada suara lainnya yang terdengar, suara apapun itu ... mau itu suara kendaraan yang rusak, jatuh atau ada bagian kendaraan yang jatuh atau apapun itu lah ... pasti ada saja suara yang bisa didengar. Tapi tidak ada ...." Tom terus berpikir sampai-sampai hampir jatuh kalau tidak ditahan oleh Tan yang membuat Tellopper menjadi bentuk lain dengan cepat untuk menolong Tom.
"Kau ini sedang memikirkan apa?!" Tan emosi karena harus membentuk Tellopper dengan bentuk lain secara darurat, "Apa yang akan kau lakukan kalau aku tidak merespon cepat?!"
"Kan, kau bisa menyelamatkanku. Apa yang menjadi masalah?!" kata Tom.
"Kau yang melarang kami berisik, tapi kau juga yang berisik sekarang." kata Teo meledek Tan.
Awalnya Felix bingung dengan mereka yang selalu saja bisa bercanda dan bertengkar padahal dalam situasi yang menegangkan atau dalam situasi mempertaruhkan hidup dan mati. Tapi karena sudah terbiasa, maka Felix tidak heran lagi.
"Ada yang aneh!" kata Tom membuat semua langkah mereka terhenti, Tellopper juga berhenti membuat tangga.
"Apa?!" Teo melihat sekeliling mengira dirinya melewatkan sesuatu.
"Tidak terasa panas." sahut Tom.
"Hahh?! lalu?! memangnya ada apa dengan itu?!" kata Teo heran.
"Benar juga ...." kata Tan mulai paham apa yang dimaksud Tom.
"Normalnya kalau ada yang menggali, apalagi sedalam ini yang dekat dengan inti bumi. Sudah pasti suhu akan panas dan kita tidak bisa turun lebih dalam lagi." kata Tom.
"Tidak ada batu permata juga ...." kata Teo yang hanya memikirkan bagian itu dalam pelajaran.
"Aku rasa, aku tahu apa yang ada di bawah sana." kata Felix merasakan hawa dingin yang familiar semakin mereka turun.
"Kau tahu?!" tanya Tiga Kembar bersamaan.
"Apa berbahaya?!" tanya Tan dengan cepat.
"Sangat berbahaya! kita harus menutup lubang ini secepatnya!" kata Felix membuat Tiga Kembar panik.
"Apa?! dengan apa?! bagaimana?!" Teo kebingungan karena tahu Felix tidak akan mengatakan itu jika benar tidaklah berbahaya.
Felix melompat turun terjun bebas setelah yakin apa yang ada di bawah sana.
"Felix?!" teriak Tiga Kembar bingung harus melakukan apa.
"Naiklah kembali ke atas untuk mencari cara menutup lubang ini!" teriak Felix sudah terdengar jauh dibawah.
Tapi Tan, Teo dan Tom tidak ada yang menurut. Semuanya juga melompat turun mengikuti Felix.
...-BERSAMBUNG-...