
Aroma shampo Cain yang Felix cium mengingatkannya dengan aroma darah yang ia cium tadi. Pelukan Felix makin erat hingga Dokter Mari turun dari mobil dan bertanya, "Ada apa ini? kau kenapa Felix?"
Dokter Mari mencoba melepaskan pelukan Felix tapi kini Cain yang memeluk lebih erat dan berbisik di telinga Felix, "Apa kau baru saja melihat masa depan?"
"Kau melihatnya?" bisik Felix khawatir.
"Tadi matamu sempat kulihat tapi gelap sekali ... tidak jelas ...." kata Cain yang membuat Felix lega.
Dilepasnya pelukan Cain dan dilihatnya mata hijau Felix lagi tapi sudah kembali normal.
"Kalian ini kenapa?" Dokter Mari mulai jengkel diabaikan.
"Dokter harusnya menenangkan ... bukannya ikutan rusuh!" Cain mencibir.
Saat Cain dan Dokter Mari mulai saling teriak tidak jelas, Felix merasakan ada yang sedang mengawasinya, "Lia kah? tapi kenapa dia bersembunyi begitu kalau memang Lia atau Alexavier lain?"
Tak lama kemudian Dokter Mari menarik paksa Felix masuk ke dalam mobil, "Aku bisa sendiri!" keluh Felix.
Diperjalanan Felix tidak berhenti memandang Cain dan tiga kembar satu persatu saling bergantian, "Apa aku bisa menghentikan masa depan itu? karena Cain keturunan Viviandem mungkin takdirnya bisa diubah seperti Verlin tapi mereka bertiga? Nenek Alviani yang tidak bisa mengubah takdirnya dan bagaimanapun dihindari akan terjadi juga ... aku harus bagaimana? bagaimana caranya aku bisa menolong mereka semua? bagaimana aku bisa menghentikan takdir mengerikan itu ... terlihat mereka agak tinggi dari sekarang, kapan itu akan terjadi?"
Sampai di depan sekolah, tiba-tiba hujan turun saat matahari sedang bersinar terang membuat Felix kaget disaat yg lain langsung memakai tas masing-masing untuk dijadikan payung dan berlari memasuki gerbang sekolah. Felix yang hanya diam saja langsung berlari berlawanan dari mereka. Ia berlari dengan sekuat tenaga menuju tempat pertemuan seperti yang Nenek Alviani katakan, "Taman .... sejam, aku hanya punya waktu satu jam," diaturnya alarm jam tangannya.
Matahari bersinar terang sekali dan hujan juga turun deras sekali membuat pewarna rambut Felix kini luntur, perlahan rambut hijaunya muncul. Tidak ia hiraukan dan terus saja berlari sampai melewati stasiun kereta bawah tanah ia terhenti sejenak karena melihat sosok Alger lagi, kini ia berdiri dipinggir peron dengan kereta datang sangat cepatnya, "Alger!!!" tapi kereta itu tidak menyakitinya sama sekali dan hanya lewat menembusnya, "Hahh?" Felix berlari ke arahnya, "Alger?" benar saja anak 5 tahun yang ikut meninggal dalam kebakaran Panti Asuhan Helianthus kini berdiri dihadapannya. Felix berlutut menyamakan tinggi badannya dengan Alger untuk berbicara, "Kau benar Alger?" ingin Felix memeluknya tapi banyak orang disana, saat ini berbicara saja dengan angin semua orang saling berbisik.
"Kak Felix bisa melihatku? kukira waktu itu aku hanya berhalusinasi melihat kak Felix berlari ke arahku ... padahal orang lain kini tidak bisa melihatku ...."
"Apa yang kau lakukan disini? bagaimana bisa ...." Felix tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa Alger sebenarnya sudah meninggal.
"Aku tahu sudah meninggal kak ... dan sekarang sepertinya aku menjadi hantu tapi saat yang lain langsung terbang pergi meninggalkanku waktu kebakaran itu, aku ditinggal sendiri dan tidak tahu harus kemana? tapi tanpa kusadari aku sudah ada disini ...."
Felix melihat sekeliling, "Apa insting hantu memang harus ke tempat ramai?" tanyanya dalam hati, "Alger, apa kau suka berjalan menembus orang lain?"
"Iyya!" jawab Alger ceria.
Ingin Felix bawa dan ikut tinggal di panti tapi juga mencemaskan anak panti nantinya kalau dihisap terus menerus energi kehidupannya, "Kau suka tinggal disini?"
"Tidak ... apa aku bisa ikut kak Felix?"
Dia baru ingat kalau harus cepat-cepat ke taman, "Alger ... tunggu kak Felix disini ... kak Felix segera kembali ...." didudukkannya Alger di bangku dekat kucing yang sedang menjilati bulunya, "Kucing!" kata Alger riang.
"Jangan kemana-kemana! kakak akan segera kembali ... untuk sementara bermain dengan kucing ini dulu yah ...." Alger hanya mengangguk tidak memerhatikan Felix karena matanya kini tertuju pada kucing berbulu putih yang juga sedang memandangi Alger.
Felix berlari lagi dan hampir menghabiskan waktu saat bersama Alger tadi, "Pakai gelangmu Felix!" kata seorang perempuan yang berasal dari dalam dirinya lagi.
"Sang Caldway?"
"Tidak ada waktu, pakai gelangmu sekarang!" perintahnya lagi.
Gelang ia lepas tadi saat mobil akan menuju pusat kota yang banyak orang berlalu lalang karena tidak sanggup mendengar banyak pikiran sekaligus, "Tapi ...." Felix ragu memasangnya.
"Cepat!!!" teriak perempuan itu lagi.
"Memang awalnya akan sulit tapi tugas kita memang untuk mendengar suara agar bisa menolong yang butuh pertolongan ...."
"Bagai ... mana car ... a ... nya?"
"Ayo berdiri, Nenek Alviani akan meninggal sebentar lagi!"
"Tapi ...."
"Kau bisa melakukannya Felix! kau bahkan jauh lebih kuat dariku!"
Telinga Felix berdenging membuatnya kesulitan menjaga keseimbangan saat berjalan tapi ia paksakan dan berusaha sekuat tenaga menuju taman disaat hujan masih saja derasnya walau begitu hangat karena matahari bersinar begitu terang.
Susah payah Felix untuk melihat punggung dari Nenek Alviani yang terlihat kini memakai payung berwarna biru dan duduk sendirian ditaman.
"Nenek Alviani?"
"Kau sudah datang?" Nenek Alviani berdiri dan memayungi Felix tapi Felix menolak dan mendorong kembali payung itu, "Jangan mengasihani manusia yang tidak lama lagi akan meninggal ... lebih baik mengasihani dirimu yang bisa sakit karena hujan-hujanan begini, kau masih harus hidup dan merasakan beratnya terkena flu ...." kata Nenek Alviani disertai senyuman tipisnya.
"Apa nenek punya cucu perempuan yang berambut hijau sepertiku?"
"Namanya Iriana ...." setelah mengatakan itu angin kencang mulai datang dan payung yang dipegang Nenek Alviani kini terbang entah kemana. Felix segera memegang tangan Nenek Alviani untuk berlindung tapi langsung dihadang oleh sebuah makhluk setinggi lima meter dengan wajah seperti tupai dengan tangan yang seperti memiliki sayap saat mendarat tadi. Tubuhnya seperti manusia besar dengan memakai pakaian zirah, hanya saja berbulu merah muda dan membawa tongkat yang dibagian atasnya terlihat lambang pusaran udara yang saling terhubung.
"Hormatku pada Caelvita yang ke-119!" kata makhluk itu sambil berlutut, "Perkenalkan saya adalah Daemonienti dan nama saya Aloysius ...." kini ekspresinya berubah dengan memasang senyum miring dan mulai terbang dan mendarat lagi dengan menghunuskan tongkatnya hendak menusuk Nenek Alviani tapi gelang Felix berubah menjadi rantai berwarna ungu dan merah meliliti Aloysius hingga tak bisa bergerak.
"Sang Caldway? ba ... gaima ... na bi ... ss ... aaaaa?" kini Aloysius berteriak kencang menimbulkan angin semakin kencang tapi rantai itu juga semakin erat melilitinya hingga mengoyak tubuh dan darah jingga menetes dari tubuh Aloysius.
Felix yang masih memegang rantai yang terhubung dengan gelangnya, "Kirim dia ke Penjara Neraka terdalam!" kata perempuan dari dalam dirinya lagi, "Bagaimana caranya?" tanya Felix mendengar alarm jam tangannya berbunyi sambil panik melihat Nenek Alviani tersungkur ke tanah, "Hah? Nenek Alviani?!"
Mata hijau Felix bersinar begitupun rambutnya diikuti kukunya yang hanya bersinar dimalam hari juga ikut bersinar, "Kukirim kau ke Proferce! Penjara Terdalam di Neraka!" Kilat petir langsung menyambar Aloysius dan lubang hitam muncul dimana Aloysius berdiri langsung menjatuhkannya kedalam lubang yang bisa dirasakan sangat panas itu. Rantai yang berasal dari gelang Felix kini ikut masuk ke Neraka Proferce. Dilihatnya gelang pemberian Sang Caldway yang baru kemarin dipakai tapi sudah menghilang. Tongkat Aloysius dilihat Felix dengan penuh amarah dan langsung terbakar oleh pijaran api hijau hingga menjadi debu.
Hujan berhenti dan sinar matahari langsung menyengat mengenai kulit dan seseorang yang sangat mirip dengan Cain hanya saja lebih tinggi dari Cain dan rambutnya berwarna putih bukan pirang lagi kini melambaikan tangan sambil tersenyum. Sesaat Felix teralihkan tapi akhirnya ingat Nenek Alviani. Segera Felix langsung meminta tolong tapi Nenek Alviani sudah tidak bernapas lagi dan denyut nadinya tidak bisa dirasakan lagi.
"Ternyata Nenek Alviani akan meninggal karena serangan jantung, bukannya meninggal oleh Aloysius ... tapi bagaimanapun ia akan meninggal juga ... Cain, Teo, Tom, Tan ...." Felix menangis lagi.
"Maaf Felix, aku memanfaatkanmu untuk menyelamatkan Nenekku agar tidak harus meninggal dibunuh oleh Aloysius ...." kata suara perempuan itu lagi.
"Iriana? tolong aku ... katakan! bagaimana aku bisa menghentikan masa depan mengerikan itu?!" isak Felix.
Saat mengusap air matanya, Felix membuka matanya dan kini langsung berada di tempat berbeda, yang tadinya siang kini berubah jadi malam ... bukan lagi di taman tapi di depan sebuah gerbang besar dipenuhi permata safir bersinar terang. Tiba-tiba sebuah cahaya muncul dari tubuh Nenek Alviani yang dipangkunya.
"Katakan padanya untuk sementara tinggal dulu disini menunggu ...." kata Iriana
Terbentuklah tubuh Nenek Alviani dari cahaya itu dan Felix menyampaikan perkataan Iriana dan ketika Felix mengedipkan mata tiba-tiba kini ia kembali ke taman dan sinar matahari langsung menyilaukan matanya, "Jadi alamat yang diberikan Lia dari Alvauden memang benar ... ada rumah Verlin di taman ini tapi di Mundebris!"
Segera para pejalan kaki yang lewat melihat Felix dan Nenek Alviani langsung menelepon Ambulance.
Nenek Alviani dibawa masuk ke dalam Ambulance dan dilihatnya lagi orang yang mirip Cain tadi diantara kerumunan pejalan kaki sambil mengedipkan mata.
...-BERSAMBUNG-...