
Felix dan Cain memberi semua jaketnya untuk menyelimuti Gina dan tidak berhenti memegang tangan Gina. Seperti yang diketahui Cain memiliki tangan yang hangat begitupun Felix walau tak sehangat tangan Cain juga ikut memegang tangan Gina dan terus menghembuskan napasnya untuk membuat tangan beku Gina bisa berubah hangat.
"Kita melewatkan berapa hari?" Felix takut jika sudah melewatkan hari pelatihan dan khawatir jika ada korban baru lagi.
"Tidak melewatkan hari sama sekali, Tuan Muda!" kata Goldwin.
"Aku tidak bisa menggunakan Jam Junghans karena identitasku bisa terbongkar jadi Goldwin memasang jam sakunya pada gerbang sebelum masuk Mundclariss ...." kata Cain.
"Siapa disana?!" teriak petugas keamanan.
Felix dan Cain langsung mengambil jaket masing-masing yang masih menyelimuti Gina untuk menghindari kecurigaan. Goldwin dengan cepat membuat garis pelindung untuk Cain dan Felix agar tidak kelihatan.
Petugas keamanan yang langsung tiba, terkejut melihat wajah yang akhir-akhir ini terus dilihatnya hanya lewat foto.
"Anak kedua yang hilang itu!" kata Petugas Keamanan.
"Cepat panggil ambulance dan polisi, aku akan memanggil perawat sekolah untuk pemberian pertolongan pertama!" kata Petugas Keamanan lain.
"Dia dingin sekali!" Petugas Keamanan langsung membuka jas dan menyelimuti Gina.
"Dia akan baik-baik saja kan?" tanya Cain.
"Harus baik-baik saja! kita sudah susah-susah menyelamatkannya ... dia harus baik-baik saja!" jawab Felix.
"Tapi hipotermia menyebabkan suhu tubuh turun dengan drastis, jantung, otak dan organ penting lainnya tidak dapat bekerja optimal. Akibatnya akan terjadi berbagai gangguan kerja organ dan fungsi tubuh secara keseluruhan pun ikut menurun. Aku takut terjadi hal yang buruk dengannya ...." kata Cain khawatir.
"Kau ini khawatir tapi tetap menjelaskan secara terperinci seperti buku saja ...." kata Felix jengkel.
Cain juga tidak menyadari dirinya sendiri berbicara seperti itu dan mulai menertawakan dirinya sendiri. Felix yang melihat itu hanya bisa ikut memaksakan tersenyum karena kekhawatirannya semakin menjadi-jadi dengan masa depan yang dilihatnya kini semakin memungkinkan bisa saja terjadi karena bertemu Alvauden Iriana tadi, yang bisa saja yang akan membunuh Cain.
Felix yang mulai mengingat Cain yang tubuhnya terpotong-potong itu, langsung menampar dirinya sendiri, "Hal itu tidak akan terjadi ... tidak! tidak boleh terjadi!" katanya dalam hati.
"Kau kenapa?" tanya Cain.
"Goldwin, kau bisa dengan mudahnya bisa berteleportasi ke Istana Leaure kan?" tanya Felix.
"Tentu saja Tuan Muda! tapi batas saya cuma bisa dua kali jadi hanya untuk pulang pergi saja ...." jawab Goldwin.
"Kau dan batasmu ... Ck!" Cain dengan mengejek.
"Bawa Cain ke Istana Leaure untuk belajar dan latih dia cara bertarung serta menggunakan pedangnya!" kata Felix menghentikan Goldwin yang ingin membalas ejekan Cain tadi.
"Tapi dia tidak punya pedang ... maksudku ada sih tapi hanya gagang saja ...." akhirnya Goldwin bisa membalas ejekan Cain.
"Dia punya pedang Alvauden sekarang!" kata Felix.
"Ehhem!" Cain berdehem sambil tersenyum usil kepada Goldwin.
"Pedang Orogla kah?" Goldwin terlihat berharap.
"Kalau tidak salah dengar, begitu yang dikatakan iblis disana tadi ...." kata Felix.
"Ada apa dengan ekspresi itu?" tanya Cain.
"Belum cukup dia adalah generasi kedua pemilik jam jughans dan sekarang memiliki pedang terkuat sedunia ...." kata Goldwin dalam hati.
"Aku mengandalkanmu ...." kata Felix memegang kepala Goldwin seperti tahu apa yang sedang dikhawatirkan oleh Goldwin saat itu.
***
Bulan Maret pun tiba dan final semesterpun berlalu serta siswa/siswi baru sudah datang. Sekolah Gallagher kini sangat ramai dengan anak SD, SMP dan SMA yang berlalu-lalang. Anak SD yang lulus dari Gallagher berlagak jadi bos dan sombong dengan anak baru. Merasa sangat bangga diri dan merasa dirinya yang berkuasa karena lulusan Gallagher. Sedangkan untuk tingkat SMA semuanya dari luar Gallagher jadi tidak ada sistem superior inferiority complex.
Gina yang telah berhasil diselamatkan tidak membuat Felix dan Cain senang sama sekali karena Gina menjadi tidak normal dan terus mengigau ketakutan. Gina keluar dari sekolah untuk menerima perawatan mental. Anak-anak yang lain malah terus menyumpahi Gina yang menjadi gila karena masih tidak bisa melupakan kelakuannya bersama dengan Geng Halle.
FCT3 sudah masuk kelas 4 SD dan beruntung mereka bisa satu kelas bersama. Dari kelas satu Cain dan Tiga Kembar tidak pernah satu kelas kecuali Teo dan Tom yang sekelas di kelas tiga.
Dea yang awalnya tidak sekelas dengan mereka, keesokan harinya langsung masuk kelas yang sama berkat kekuasaan ayahnya.
Felix tetap sebangku dengan Cain, begitupun Teo dan Tom yang duduk dibangku depan Felix dan Cain sedangkan Tan duduk dengan Dallas yang berasal dari kelas yang sama dengan Felix dan Cain serta mantan ketua kelasnya dulu. Tapi kini Tan yang jadi ketua kelas dan Dallas yang jadi wakilnya, mereka berdua duduk tepat disamping Felix dan Cain. Dea sendiri mau tidak mau harus duduk bersama Mertie karena duduk tepat dibelakang Felix dan Cain.
Dea menggambar garis menggunakan Correction Tape, "Jangan lewati garis ini atau aku akan membunuhmu!" kemudian menulis sebuah kontrak peraturan duduk sebangku bersama yang berbunyi 'Dilarang mengganggu satu sama lain, Dilarang mencuri barang, Dilarang tidur diatas meja, Dilarang berisik, Dilarang berbicara, Dilarang bertanya, Dilarang mengganggu Felix.'
"Kenapa sekalian tidak melarangku bernapas?!" kata Mertie yang dengan terpaksa menandatangani perjanjian itu.
Cain akhir-akhir ini sering pulang balik Istana Leaure, menjadikannya selalu mengantuk di sekolah karena kelelahan terus berlatih. Bukan hanya melatih fisik tapi juga melatih otak. Pelatihan Goldwin tidak main-main tapi Cain tidak merengek sama sekali dan terus mengikuti latihan oleh Goldwin itu. Entah kapan tiba waktunya bertemu Alvauden Iriana kembali tapi saat bertemu Cain harus sudah siap dan harus pertama kali menyerang untuk langsung membunuhnya.
Felix sering mendatangi Cain untuk melihatnya berlatih tapi tidak sampai menyapa karena melihat Cain begitu bekerja keras takut jika mengganggunya. Jadi Felix kebanyakan menghabiskan waktu bersama Banks di Desa Navaeh atau di Istana Emerald, rumahnya.
Baik itu Felix dan Cain mereka berdua bekerja begitu keras sebagai Caelvita dan Alvauden juga tak lupa bekerja keras sebagai siswa sekolah dasar tentunya.
Tan yang awalnya tidak mencurigai apapun tapi mereka berdua yang selalu saja tidur jika waktu istirahat bahkan melewatkan makan siang hanya untuk bisa tidur membuat Tan tidak punya pilihan lain selain mengikuti mereka berdua diam-diam.
Malam harinya di Rumah Daisy saat Felix dan Cain sudah memastikan Tiga Kembar tidur dengan Felix yang membaca pikiran mereka satu persatu tapi yang bisa didengar hanyalah ngigauan tidak jelas.
"Aku tidak bisa mendengar apa-apa dari Tan!" kata Felix lewat pikiran pada Cain.
"Bukankah dia memang tipe orang yang begitu bahkan sangat tenang jika tidur ...." kata Cain.
Akhirnya mereka meninggalkan Tan dan tidak mengkhawatirkan Tan sama sekali. Tapi itu menjadi kesalahan terbesar Felix dan Cain yang tidak memikirkan kemungkinan bahwa Tan belum tidur.
Saat Felix dan Cain mulai memasuki gerbang masing-masing Tan melihat kejadian itu. Tan dengan jelas melihat Felix dan Cain perlahan menghilang dari depan matanya setelah bertukar sapa.
"Sampai ketemu nanti!" kata Cain.
"Berlatih yang keras!" kata Felix.
"Mereka ... apa yang sedang terjadi? bagaimana bisa?!" Tan tidak berhenti mengucek-ngucek matanya dan kembali ke kamar mencari keberadaan Felix dan Cain untuk memastikan dia tidak sedang berhalusinasi. Bisa saja Felix dan Cain sedang tidur tapi keberadaan mereka berdua tidak bisa ditemukan dimanapun.
...-BERSAMBUNG-...