
Felix, Zeki dan Verlin hanya duduk berjaga di tengah lapangan sambil waspada dengan suara dan cahaya sekecil apapun itu. Meski dengan hujan deras, tidak mengurangi tekad mereka tetap disana mengawasi.
Hujan seperti tidak ada niat untuk berhenti apalagi mengurangi jumlah volumenya. Terus konsisten dengan hujan deras yang sama tanpa ada pengurangan. Air hujan terasa seperti biji jagung jika mengenai kulit sampai-sampai membuat kulit terasa sakit.
"Semoga tidak ada yang datang ...." kata Verlin terus berharap.
"Jangan berharap! aku ini pembawa sial! dan saat ini adalah situasi yang sangat-sangat sial. Mustahil aku beruntung tidak ada yang datang ...." kata Felix.
"Kau pesimis sekali!" kata Zeki.
"Baru kali ini ada yang memaki dirinya sendiri." kata Verlin heran.
"Yang kukatakan adalah fakta ...." kata Felix.
Dan benar, Felix sial juga malam itu. Kilatan petir aneh muncul, pada umumnya petir berasal dari langit tapi kali ini terbalik karena muncul dari tanah naik ke atas.
"Itukah suarnya?!" tanya Verlin disaat Felix sudah berlari, "Oh ...." Verlin akhirnya berlari juga.
"Kau pakai suar yang mahal rupanya." kata Zeki yang mendahuluinya berlari padahal Zeki yang terakhir bergerak.
Zeki yang duluan sampai ditempat suar muncul tepatnya disamping kiri luar pagar sekolah, "Ow ... kau yang datang! hem ... siapa lagi namamu?!" kata Zeki.
"Kau sedang bercanda ya?!" kata Iblis menebas banyak batu yang merupakan suar yang ditaruh oleh Felix berjejeran tanpa putus.
"Kau sendirian?!" tanya Felix tiba dibelakang Zeki.
"Saya bukanlah tipe yang suka bekerja dalam tim, Yang Mulia." kata Iblis itu menyeringai tapi terlihat muncul kembali suar dari arah lain, "Tapi ... malam ini menjadi pengeculian."
"Kau sedang membuat lelucon?!" kata Verlin.
"Sejak kapan kau jadi pengecut Ditte?! biasanya kau selalu bekerja sendirian karena kalau tim mu mengacau kau malah menghabisinya sendiri dan pada akhirnya kau selalu saja pulang sendiri dari melaksanakan misi." kata Zeki.
"Aku akan kesana!" kata Felix memberi kode Verlin untuk ke arah lainnya juga.
"Hem ... sepertinya benar kalau kau itu selalu sial!" kata Verlin memaksakan tersenyum dan mulai berlari.
"Karena apapun yang terjadi, aku harus menangkap kedua Zewhit yang ada di dalam sana." kata Ditte.
"Apa kau tidak percaya diri melakukannya sendiri sampai-sampai harus main keroyokan begini?!" kata Zeki mencongkel batu yang merupakan suar dengan pedangnya dan melemparnya pada Ditte.
Tapi Ditte hanya diam menerima petir itu. Suar petir dari batu itu memang sangat berguna untuk dilihat dari jauh tapi efeknya tidak merusak karena hanya petir palsu. Ditte tertawa di dalam petir itu.
"Aku main keroyokan?! yang benar saja?! aku masih punya harga diri untuk tidak melakukan itu. Aku hanya membawa lawan seimbang, tiga lawan tiga." kata Ditte langsung menyerang Zeki dengan berlari keluar dari suar batu petir yang masih belum berhenti menyambar itu.
Zeki sudah bersiap dan menduga akan hal itu karena dirinyalah yang mengatur strategi itu. Saat Ditte menyerang, langsung Zeki melemparkan batu suar petir itu tepat di mata Ditte.
"Aaaaaaa!" teriak Ditte kesakitan, memang petir yang keluar tidaklah berbahaya tapi jika batu masih utuh dan petirnya belum keluar menandakan ramuannya masih ada di dalam batu dan berbahaya jika terkena langsung.
"Kalau begitu ...." Zeki mengenai kaki Ditte dan keluarlah darah berwarna jingga, "Kau masih berdarah saja ... padahal sudah menjadi Zewhit."
"Kau sendiri juga begitu ...." Ditte membuka matanya sebelah dengan paksa untuk melukai Zeki juga.
Zeki tergores sedikit dibagian wajahnya dan langsung mundur setelah melihat mata Ditte mulai pulih.
"Tapi bedanya kau bisa langsung sembuh sedangkan aku tidak. Sangat tidak adil!" kata Zeki.
"Itu karena kau Zewhit Manusia, kaum manusia hidup saja sudah lemah apalagi setelah menjadi Zewhit lebih lemah lagi. Kau harusnya sadar kalau kekuatanmu berasal dari gelar Alvaudenmu dan saat ini sudah bukan generasimu lagi ... kau hanya bisa bertahan karena latihanmu selama ini. Kau tidak bisa lagi mengandalkan kekuatan Alvaudenmu!" kata Ditte.
"Kalau kau menyiratkan aku harus bergabung denganmu ... sepertinya itu tidak akan terjadi! lebih baik aku mati sebagai mantan Alvauden terhormat daripada mati sebagai anti Caelvita!" kata Zeki menggertakkan giginya menahan emosi.
"Tidakkah kau pernah berpikir untuk mempercayai Efrain?! kau kan lebih mengenalnya daripada aku! yang dilakukannya bukanlah hal salah." kata Ditte.
"Dan kau yang kukira lebih mengenalku, ternyata aku salah ...." kata Zeki kembali menyerang Ditte saat luka di kaki Ditte kembali tertutup.
Sementara Verlin bertemu dengan Juro 2020, Felix sendiri akhirnya mengetahui juga siapa lawannya yakni Wadi Si Daemonimed peringkat 6 dari 10 Daemonimed terkuat.
"Sepertinya semua yang datang adalah Quiris kepercayaan Efrain dan yang paling kuat." kata Felix mengeluarkan pedang Caelvita dan Ruleorumnya.
"Jadi, Yang Mulia sudah bisa memunculkan pedang Ruleorum juga?!" tanya Wadi dengan tersenyum dan memunculkan juga kedua pedang seperti gading yang dimilikinya.
Verlin disisi lain merasa tulangnya sudah seperti remuk bahkan belum diserang oleh Juro 2020 tapi melihat punggung Juro yang terkenal sangat keras dan sering mematahkan tulang yang berani melawan Juro. Rasanya Verlin sudah kalah sebelum bertarung.
Verlin menelan ludahnya dan tertawa pahit membayangkan bagaimana masa depannya bahkan tanpa perlu melihatnya dengan kekuatan Hyacifla sekalipun sudah jelas bagaiamana nasibnya nanti.
"Kau terlihat sangat sehat ... bagaimanapun juga kau adalah Juro generasi baru ya!" kata Verlin memaksakan tersenyum.
"Sepertinya kita bukanlah lawan yang cocok ...." Juro merasa menyesal karena dirinya adalah tipe petarung sedangkan Verlin bukanlah tipe patarung tapi pemakai Isvintria. Itupun sudah tidak sekuat seperti dulu lagi dan biasanya hanya bisa menggunakan Isvintria disaat telah terkena serangan Isvintria juga sementara Juro 2020 pasti tidak akan menyerang menggunakan Isvintria. Bisa disimpulkan Juro adalah musuh alamiah Verlin.
"Mati aku!" kata Verlin dalam hati dan mulai tertawa keras.
Disisi lain Zeki dan Ditte yang sudah lebih lama bertarung dibanding Felix dan Verlin.
"Bahkan untuk melawan Efrain saja kau sudah tidak bisa dengan keadaan seperti ini!" kata Ditte memegang kerah Zeki dan dipaksa berdiri kemudian ditendang.
Zeki sempat kehilangan kesadarannya, saat membuka mata dia sudah berada di antara kerumunan harimau.
"Hahh ... aku sudah bersusah payah menghindari ini dan malah jadi babak belur tapi pada akhirnya aku tetap masuk kesini. Kalau tahu begini lebih baik aku asal serang saja!" kata Zeki kesal sendiri dan mulai melompat naik ke atas bertemu dengan Tan yang sedang menatapnya heran dan tersenyum kecut pada Zewhit Badut sebagai tanda permintaan maaf karena tidak bisa berkomunikasi dengannya kemudian kembali keluar menemui Ditte kembali.
Zewhit Badut tadinya hanya terlihat heran dan bingung apa yang terjadi tapi perlahan setelah Zeki mulai keluar darisana Zewhit Badut mulai tertawa keras dengan bahagia tapi perlahan tawa itu berubah menjadi sangat menakutkan membuat Tan dan Demelza otomatis merinding. Tanah juga bergetar seperti gempa bumi, semua wahana permainan juga bergerak dan ada yang mulai rusak.
"Apa yang terjadi?!" Tan mulai panik, padahal masih sedang memikirkan bagaiamana Zeki bisa masuk ke dalam sana tapi kali ini menyelamatkan diri dulu adalah yang paling penting.
...-BERSAMBUNG-...