
Mertie sekarang jadi murid SD paling tersibuk di Gallagher. Bahkan anak-anak menyebutnya punya kekuatan super untuk berpindah tempat. Karena baru saja Mertie terlihat ada di tempat lain, beberapa saat kemudian dia ada di tempat berbeda lagi.
"Bagaimana bisa Kak Cornelia melakukan semua ini dan tidak dirawat di rumah sakit karena kelelahan?!" kata Mertie.
"Itu karena aku menikmatinya ...." kata Cornelia.
"Katanya jika banyak mengeluh berarti itu menandakan bahwa kita mengerjakan pekerjaan yang tidak sesuai dengan hati kita." kata Mertie sudah merasakan bahwa dia tidak cocok dengan apa yang dilakukannya saat ini.
"Tidak ada pekerjaan yang tidak membuat mengeluh. Sesuka apapun kita pada pekerjaan pasti akan ada saatnya membuat kita mengeluh juga ... intinya adalah apa kau mampu melakukannya dengan baik, mampu menyelesaikannya dengan baik ... bahkan walau dengan mengeluh yang kau katakan itu menandakan kau berbakat dalam pekerjaan itu." kata Cornelia.
Mertie menatap Cornelia dengan tatapan kagum, entah bagaimana seorang anak kelas 3 SMP bisa mengeluarkan kata sebijak itu yang menggerakkan hati dan juga tekad di dalam dirinya, "Kalau dia tahu aku pernah mengerjainya ... bagaimana ya?!" tanya Mertie pada dirinya sendiri. Meski Mertie tidaklah terlalu mengerjai Cornelia berlebihan tapi tetap saja Mertie merasa tidak enak pernah menjadikan Cornelia sebagai targetnya.
FT3 memonitori terus kamera pengawas Mertie tapi belum mendapatkan apa-apa. Semenjak kejadian di Desa Kimber, protokol untuk tidak pulang malam diperpanjang. Jadi semuanya pulang lebih awal dan langsung menutup pintu rumah tanpa mengadakan perkumpulan dalam hal apapun itu. Walau tidak ada berita yang memuat tentang kejadian di Desa Kimber. Tapi pemerintah mulai tegas dalam menindaki hal itu.
Polisi juga masih berjaga dan berpatroli, bahkan Kayle juga sering keluar masuk desa yang dipasangi kamera pengawas Mertie itu. Kayle juga sepertinya memeriksa desa terdekat.
"Apa sebaiknya kita ke rumah duka?" tanya Teo.
"Memangnya kita siapanya? keluarganya bahkan tidak mengenal kita." kata Tom.
"Memangnya itu penting?! yang terpenting kan kita mengenal Lian ...." kata Teo.
"Mengenal? kau hanya mengenalnya dalam semalam saja ... bahkan dia tahu namamu saja tidak." kata Tom.
"Maksud Tom, tidak ingin kita dicurigai saja ... kau tidak ingat bagaimana kita ke pemakaman terakhir kali?" kata Tan mencoba membuat Teo mengerti kemarahan Tom.
"Apanya yang dicurigai? apa yang anak kelas 6 SD bisa lakukan? lagipula ... saat itu dan sekarang berbeda!" kata Teo masih tidak mau kalah.
"Dunia bukan lagi seperti itu! bahkan anak dua tahun saja sudah bisa masuk komunitas orang-orang yang terpintar. Menurutmu apa yang bisa dilakukan oleh anak usia 13 tahun di generasi sekarang? bahkan anak belum masuk TK saja sudah digunakan sebagai modus kejahatan ... dunia tidaklah sepolos yang kau pikirkan lagi dalam memandang anak kecil." kata Felix.
"Aku tidak bisa berbicara dengan kalian bertiga yang lebih mengutamakan otak dibanding perasaan! kalau Cain ada disini ... dia pasti akan memihakku!" kata Teo.
"Dia tidak ada DISINI!" teriak Felix dan Tom.
"Lagipula darimana kau tahu kalau Cain akan memihakmu? Cain sudah bukan Cain yang dulu lagi! dia kini seseorang yang telah membantai ribuan Setengah Sanguiber!" Tom emosi.
"Kau pikir Cain melakukan itu karena mau? dia juga terpaksa! bayangkan saja bagaiamana perasaan Cain yang harus melakukan sesuatu yang menentang prinsipnya sendiri?! bayangkan bagaimana tersiksanya Cain sekarang?! dan kita tidak tahu bagaiamana dia sekarang, tidak tahu dia dimana ... bahkan apa dia masih hidup pun kita tidak tahu." kata Teo.
"Hentikan! kalian semua mengatakan ini karena terlalu lelah saja. Tenangkan diri kalian semua dulu!" kata Tan.
Felix, Teo dan Tom pergi berlawanan arah. Tan hanya bisa menghela napas panjang ditinggalkan sendiri, "Aku juga lelah dan mengantuk sekali ... tapi kalau aku juga ikut-ikutan stres bisa-bisa akan terjadi perang selama aku tidur." kata Tan merasa terbebani karena harus terus menjadi penengah diantara mereka, "Rasanya aku sudah mau gila karena mereka bertiga ... tapi aku benar-benar merindukan Cain. Walau kalau ada dia, makin parah lagi ... hahh ...." tanpa Tan sadari dirinya tertawa.
***
Terlihat di lapangan sekolah Felix sedang berbicara dengan Banks. Teo yang sedang ada di atap, Tom yang sedang ada di dalam kelas ingin kesana tapi ....
"Pasti Teo akan kesana ...." kata Tom.
Begitulah mereka berdua akhirnya memutuskan untuk saling menghindar satu sama lain walau akhirnya itu akan membuat mereka ketinggalan berita.
Tan terlihat mulai mendekati tempat Felix dan Banks berada, "Jadi bagaiamana perkembangan Osborn?" tanya Tan memberi Felix jus apel dari Vending Machine.
"Tahu darimana kau kalau aku suka apel?" tanya Felix.
"Aku tahu kau suka apa dan tidak suka apa Felix! kau saja yang tidak tahu apa-apa tentangku! sudah wajar kan, kita sudah 3 tahun kenal." jawab Tan dengan nada jengkel.
"Santai saja ... kenapa kau jadi emosi begitu?!" kata Felix heran.
"Memangnya hanya kalian yang boleh marah-marah?! aku tidak boleh, begitu?!" kata Tan membuat.
Felix terdiam mendengar Tan yang meninggikan suaranya itu bahkan Felix jadi lupa kalau minuman di mulutnya belum ditelan.
"Osborn masih dalam keadaan baik-baik saja masih belum memperlihatkan perbedaan jelas dari hari pertama observasi. Penyakit yang dideritanya sudah jelas bahwa menyerang sistem pernapasan dan bisa menular. Tanaman yang ada di dalam perisai sepertinya juga mengalami hal yang sama walau masih gejala awal." Banks mengulangi lagi laporannya pada Tan yang sudah dijelaskan pada Felix tadinya.
"Jadi apa benar penyakit itu Pesmoresnon?" walau ragu tapi tetap Tan tanyakan.
"Tidak ada penjelasan mengenai penyakit Pesmoresnon, maka dari itu di buku ramuan pengobatan tidak memuat resepnya karena Pesmoresnon hanya terdaftar sebagai penyakit menengah saja tidak ada penjelasan lebih lanjut. Biasanya jika tidak ada obatnya sekalipun, setidaknya ada ramuan untuk mengurangi rasa sakit atau memperlambat penyakit itu ... tapi untuk Pesmoresnon tidak ada sama sekali." kata Banks.
"Apa baru kali ini ada penyakit yang tidak ada obatnya sama sekali?" tanya Tan.
"Mundebris dikenal sebagai dunia tanpa batasan kekuatan ... juga dunia tanpa kemustahilan. Maka dari itu tidak ada juga batasnya soal penyakit, selalu saja akan ada penyakit baru yang tidak diketahui ... tapi tidaklah mustahil untuk menemukan obatnya. Bisa jadi ini hanyalah penyakit baru saja ... dan tidak ada sangkut pautnya dengan Pesmoresnon itu." kata Banks tetap memilih meluaskan pikirannya, tidak hanya fokus pada satu saja.
Felix melirik Banks, "Bukankah itu terlalu berlebihan untuk menipunya ...." kata Felix dalam hati.
Banks menyadari dirinya tapi setelah sudah mengatakannya, "Saya pamit undur diri dulu, Yang Mulia ... Tuan Muda." Banks buru-buru pergi.
"Aku tidaklah bodoh Felix ... berhentilah bersekongkol dengan Banks untuk menipuku. Walau begini ... aku sudah membaca banyak buku tentang ilmu kesehatan Mundebris." kata Tan.
"Di Mundebris tidak terhitung jumlahnya dan selalu ada ahli ramuan seperti Banks yang bersusah payah untuk menemukan ramuan penyembuh. Tidak ada yang mustahil untuk Mundebris ... pasti akan ada obatnya." kata Felix.
"Kapan ini akan terjadi Felix?" tanya Tan setelah Felix ingin berdiri.
"Apa maksudmu?" tanya Felix.
"Kau tahu betul apa maksudku?!" kata Tan.
"Mungkin akan aku jawab saat musim dingin tahun depan." kata Felix.
"Apa-apaan maksudmu itu ... aku tahu kalau kau itu bisa melihat masa depan Felix." kata Tan sebal.
"Makanya ...." kata Felix mulai meninggalkan Tan, "Aku hanya bisa melihat masalah di masa depan jika masalah di masa depan yang kulihat sudah terjadi. Jadi ... aku hanya bisa menjawabmu saat itu sudah terjadi." kata Felix dalam hati.
...-BERSAMBUNG-...