
Felix yang tidak mengenal semua anak sangat dirugikan karena tidak tahu siapa pemilik suara itu.
"Jika Cain yang mendengar, dia pasti tahu siapa yang berbicara tadi ...." Felix merasa sangat menyesali kepribadiannya yang kurang membuka diri untuk berteman.
Sementara Cain masih kelihatan asik mengobrol, Felix berjalan keluar dari lapangan basket. Satu-satunya cara adalah menunggu diluar melihat siapa saja yang keluar, sehingga bisa diikuti untuk dihentikan.
Cain yang melihat Felix, langsung menghentikan leluconnya bersama anak lain dan mulai mengejar Felix.
"Ada apa?" tanya Cain meraih bahu Felix.
Felix dengan sengaja membuat Cain bisa membaca pikirannya. Tapi sayangnya suara orang tadi tidak terekam oleh pikiran Felix dan Cain tidak bisa menebak siapa.
"Hai Felix!" sapa Dea dari jauh dengan memeluk sebuah botol minuman sambil berlari.
Felix dan Cain hanya bisa menghela napas kesal karena pembicaraannya jadi tertunda.
"Kau pasti tidak bisa tidur kan?!" kata Dea memberi botol minuman yang dibawanya, "Ini susu coklat hangat, akan membuatmu jadi tidur nyenyak!"
"Ahaha ... terimakasih!" kata Cain cepat-cepat menerima botol minuman itu agar Dea bisa cepat pergi juga.
"Ini bukan untukmu!" kata Dea mengambil dari tangan Cain dan memberi Felix langsung. Tapi Felix mengembalikan itu pada Dea.
"Baiklah! kau bisa minum sedikit ... tapi untuk kau ingat ini punya Felix!" Dea memberi botol minuman pada Cain padahal tadinya dia merebut dari tangan Cain. Cain tercengang tidak habis pikir.
"Dia mau kita tidur nyenyak padahal harus begadang!" kata Felix saat Dea sudah jauh dan mengambil botol minuman dari tangan Cain dan meletakkannya di lantai.
"Sudah jelas jika ada yang mengatur kejadian hilangnya Magdalene dan kini ada orang lain yang mengetahui bahwa kejadian saat Magdalene hilang itu diatur?" Cain bingung dengan kemunculan tiba-tiba orang yang tidak dikenal tadi atau bisa saja keduanya adalah orang yang sama. Bisa saja ia melakukan hal tadi hanya untuk membuat bingung. Cain juga ingin jika itu hanyalah kecurigaan saja dan berharap pelakunya adalah Setengah Sanguiber atau Iblis bukan teman sekolahnya.
"Mungkin saja memang ada yang bersimpati pada Magdalene sehingga menyimpan dendam soal itu ...." kata Felix.
"Mungkin itu adalah seseorang yang dekat dengan Magdalene!" kata Cain.
"Jadi kita sudah mempersempit pelaku dengan mengurangi Kak Cornelia. Karena suara yang kau dengar tadi adalah suara laki-laki ...." kata Cain.
"Memang ada lebih baiknya mempersempit pelaku tapi kita juga tidak boleh lengah dan tetap harus mengawasi semua kandidat!" balas Felix.
"Apa yang kalian lakukan di luar sini?" tanya Slade, kakak kelas anggota tim pelatihan osis yang akan mengabsen anak laki-laki.
Mau tidak mau Felix dan Cain harus kembali ke dalam. Lampu mulai dimatikan dan Felix membuka lebar pendengarannya untuk mendengar suara sekecil apapun itu. Cain mulai berpura-pura memeluk Felix dan membaringkan kepalanya diatas punggung Felix. Itu dilakukan agar bisa melihat dengan jelas siapa yang bergerak ke luar pintu.
Tapi waktu berlalu dan tidak ada yang keluar dari pintu sama sekali. Felix dan Cain yang sangat suka tidur bahkan tetap semangat berjaga. Cain iri melihat tiga kembar yang terlihat sudah tidur nyenyak. Felix memandangi jam tangannya sudah menunjukkan jam tiga pagi dan saling pandang dengan Cain.
Beberapa saat kemudian terdengar suara hentakan dan mulai ada yang berteriak keras membuat semua anak jadi terbangun.
"Tolong! aku tidak bisa bergerak!" teriak anak itu.
Felix dan Cain yang pertama menuju asal suara itu dan langsung tercengang dengan pemandangan yang dilihatnya. Lampu dinyalakan dan terlihat semakin jelas ada seperti sebuah benang berwarna merah dari segala arah mengikat tubuh anak itu.
Anak yang lain berpikir dia sedang ditindih oleh hantu jadi tidak bisa bergerak dan mulai memanggil bantuan.
Terkuak sudah fungsi darah Cain yang sepertinya menghentikan seseorang melakukan kejahatan. Tapi ada kejutan lainnya lagi, anak yang terikat itu adalah seseorang yang sangat dikenalnya.
"Dallas? kau tidak apa-apa?" tanya Pak Egan mulai menggerak-gerakkan tubuh Dallas.
"Aku tidak percaya jika Dallas adalah pelakunya!" kata Cain.
"Dia adalah kandidat pertama yang dipilih Mertie, sangat memungkinkan jika dia adalah orang yang kita cari dan dia punya banyak waktu untuk mempelajari dan mengenal cara kerja Mertie karena dia adalah korban pertama!" kata Felix.
"Tidak! ini tidak benar Felix! tidak mungkin pelakunya adalah Dallas!" Cain masih tidak percaya.
"Sama saja kau tidak mempercayai kekuatanmu sendiri, tidakkah kau lihat benang darahmu ini yang bersusah payah menahan Dallas untuk bergerak!" kata Felix berusaha menyadarkan Cain.
"Belum tentu! kita tidak tahu betul fungsi dari darahku ini! bisa jadi ada hal lain ...." kata Cain mencoba menyangkal.
Cain menutup matanya dan tak lama benang yang mengikat Dallas putus satu per satu.
Felix untuk pertama kalinya juga tidak terlalu bersikeras membantah Cain karena yang didengarnya tadi suara yang berbeda. Jelas-jelas ia tahu betul suara Dallas dan suara pikiran tadi terasa berbeda dengan yang ia dengar. Tentu itu menandakan dari kelas lain karena Felix terasa asing dengan suara itu. Tapi dengan bukti benang darah itu, Felix mulai goyah lagi dan mulai mencurigai Dallas.
"Satu-satunya cara adalah mencari pemilik suara itu!" Felix bertekad.
Cain juga tidak rela jika benar Dallas adalah pelakunya.
"Suara yang kudengar itu jelas bukan teman sekelas kita tapi rasanya juga tidak terdengar asing setidaknya pernah kudengar sekali lah ... pernah ku dengar sebelumnya ... tapi siapa?" kata Felix.
Anak-anak mulai diperintahkan untuk kembali tidur dengan dijaga oleh wali kelas laki-laki yang ikut tidur di dekat pintu. Dallas yang ingin diantar pulang menolak, katanya akan lebih mengejutkan orangtuanya pulang jam segini. Lagipula ia tidak terluka sama sekali. Tapi yang tidur berseblahan dengan Dallas mulai menjauh karena takut jika terkena hal sama. Akhirnya Dallas tidur diapit oleh wali kelas.
Pada jam lima subuh terdengar bunyi bel sekolah serta tim pelatihan osis yang datang membangunkan. Tapi Felix dan Cain bahkan sudah bangun sebelum dibangunkan karena memang tidak tidur sama sekali.
Kalau tadi malam adalah pelatihan dengan materi, saat ini adalah pelatihan mental. Dengan jam tidur yang kurang karena pelatihan materi dan dibangunkan subuh-subuh adalah bentuk pelatihan untuk melatih mental bersiap dalam membuat proposal atau laporan kegiatan saat memasuki osis nanti dan harus bangun pagi untuk menyiapkan kegiatan. Sebenarnya jam empat sudah ingin dibangunkan tapi karena kejadian yang menimpa Dallas akhirnya diundur mengingat ini masihlah pelatihan.
Barisan para kakak kelas dengan suara yang keras dan wajah yang menyeramkan sudah bersiap menatar. Tapi masih dalam tahap wajar, ini hanya bertujuan agar nanti pada saat mengikuti pelatihan sesungguhnya mereka sudah tidak kaget dan siap mental.
Peserta pelatihan mulai disuruh berlari mengelilingi lapangan.
"Kau ada kegiatan apa nanti? setelah pelatihan ini?" tanya seseorang pada Tan.
Felix yang mendengar itu langsung berhenti berlari dan ditinggal oleh barisan.
"Ada apa?" tanya Cain.
"Suara itu ... Parish!" kata Felix dengan wajah kaget.
"Parish? lalu Dallas apa?"
...-BERSAMBUNG-...