UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.486 - Hanya Ingin Menang



Kotak harta karun itu dengan cepat diikat oleh Felix dengan tali yang dibawanya sehingga setelah memberi tanda. Dari pinggir sungai banyak yang langsung menarik kotak itu bersama-sama.


Masih dengan suara musik yang terus mengalun tapi volume diturunkan, suara Pak Egan dengan microphone mulai terdengar, "Selamat, kami ucapkan pada Angkatan 89 Gallagher yang memenangkan perburuan harta karun terakhir di masa SD kalian yang berharga ini. Perburuan kali ini, dirancang hanya bisa dilakukan jika semuanya ikut berpartisipasi. Mungkin kalian sudah tahu kenapa kakak kelas kalian tidak ada yang menceritakan bagaimana pengalaman perkemahan mereka saat akan lulus. Itu semua karena perburuan terakhir harus dirahasiakan, hanya bisa dimenangkan jika kalian semua bekerjasama. Baru lagi terjadi, selama 5 tahun ... akhirnya ada lagi angkatan yang memenangkan perburuan harta karun. Angkatan kalian ternyata punya ikatan persaudaraan yang lebih kuat dari yang kami bayangkan."


"Jadi, walau kita berhasil tadinya ... tetap tidak akan menang?!" kata Demelza seperti ingin mengeluarkan makian tidak lama lagi karena kesal mengingat semua perjuangannya daritadi.


"Tapi, hebat juga ... biasanya dengan bahaya dan resiko seperti ini. Semua anak-anak kebanyakan memilih mundur dan menyerah. Aneh sekali kalian tetap maju tanpa takut sama sekali ...." kata Pak Egan saat dua kelompok yang berhasil naik ke permukaan.


"Itu karena ada kami pak ...." kata Teo dalam hati sambil tersenyum pahit.


"Semuanya karena kami yang terus mendorong yang lainnya agar tidak menyerah. Kami hampir saja membuat mereka terluka karena keegoisan kami. Kami ini petarung, tapi mereka hanya anak biasa yang kami libatkan. Terkadang, kami benar-benar tidak tahu diri ...." kata Tan juga menyesal dalam hati.


"Kau sudah tahu dengan ini kan?! makanya kau pasif sekali dalam membantu kami. Karena pada akhirnya kau juga akan mengkhianati kami." kata Tom pada Felix.


"Kalian pasti tidak akan bersemangat lagi kalau tahu yang sebenarnya. Perburuan kali ini harus dilakukan bersama-sama satu angkatan. Dan dari pertama aku memberi petunjuk kalian seperti tidak akan mengalah sedikitpun. Jadi, aku tidak bisa berbuat apa-apa ... tapi kau agak berlebihan menyebutku berkhianat." kata Felix agak tersinggung.


"Jadi, hadiahnya bagaimana pak?! apa dibagi rata semua murid satu angkatan?!" tanya Dallas.


"Hadiah kali ini lebih spesial dari yang kalian bayangkan. Sulit untuk menyatukan satu angkatan bersama-sama melakukan ini. Makanya jarang yang bisa menang, itu juga sebabnya mengapa kakak kelas kalian tidak memberitahu soal ini. Karena ingin kalian gagal seperti mereka ...." kata Pak Egan.


"Spesial?!" tanya Osvald.


"Bagi yang akan lanjut di Gallagher, diberi beasiswa selama tiga tahun masa SMP. Sedangkan yang lanjut di luar, akan lulus diterima dimanapun mendaftar, sekolah akan membantu untuk itu." jawab Pak Egan.


Sorakan dan tepuk tangan mulai terdengar lagi, musik yang memacu adrenalin itu kembali ditinggikan volume suaranya untuk merayakan malam kemenangan itu.


"Jadi, aku tidak perlu belajar sampai rasanya mau mati untuk ujian masuk SMP ... aku bisa beristirahat dan bersantai sekarang menikmati masa-masa terakhirku di SD." kata salah satu Anak yang akan lanjut sekolah di luar negeri sudah lama tersiksa menyiapkan diri.


Aliran arus sungai yang deras seperti neraka tadinya itu berubah menjadi pemandangan yang indah. Dengan semua murid angkatan 89 melompat-lompat karena bahagia dipinggir sungai. Kembang api di area perkemahan terlihat banyak menghiasi langit saat ini. Pemandangan yang lebih indah lagi dilihat dari atas puncak air terjun. Lampu penerangan dimatikan agar mereka bisa menikmati kembang api.


"Selamat atas kelulusan kalian, aku ucapkan lebih awal ...." kata Cain yang memandang dari atas pohon.


"Aku tahu kau ada diatas sana ...." kata Tanaman Leaure.


"Berisik!" kata Cain berdecak kesal dan menghilang.


"Apa-apaan dia?! tidak berterimakasih ataupun meminta maaf setelah menebang pohon asal-asalan." kata Tanaman Leaure sebal.


Semuanya kembali ke area perkemahan dengan perasaan aneh. Antara terharu dan juga canggung, karena mereka tidaklah sedekat itu sebenarnya untuk saling bekerjasama.


"Bagaimana kau meyakinkan mereka?!" tanya Tan.


"Kau menyalakan lampu sehingga semuanya bangun atau membuat pengumuman langsung?!" tanya Teo penasaran dan menebak-nebak berdasarkan apa yang akan dilakukan jika itu dirinya.


"Disaat kalian semua sibuk mencari petunjuk saat permainan petak umpet, aku menaruh surat disemua tenda yang tidak mengetahui soal perburuan harta karun kali ini." kata Felix akhirnya mengungkapkan apa yang dilakukannya saat permainan petak umpet.


"Apa yang kau tulis?!" tanya Tan.


"Bukankah sudah jelas ...." kata Tom sudah menebak.


"Aku katakan yang sebenarnya." kata Felix singkat.


"Jadi, kitalah yang tidak tahu apa-apa ... yang tahu soal perburuan harta karun adalah yang bodoh. Sementara yang tidak tahu apa-apa tahu segalanya dan hanya datang setelah menurut mereka sudah waktunya untuk bergabung." kata Teo tertawa seperti orang gila.


"Mereka hanya tinggal mencelupkan sendok menikmati makanan pada masakan yang sudah susah payah kita buat." kali ini Tan juga ikut tertawa.


"Bisa tidak, kalian berhenti ...." belum selesai kalimat Felix sudah dihadiahi lemparan baju basah oleh Tom tepat diwajah.


"Bukankah, kita semua mendapatkan yang kita mau. Apa masalahnya?!" kata Felix merasa tidak adil diperlakukan seperti itu.


"Diam, kau!" Tiga Kembar bersamaan.


Untuk kali pertama, Felix tidak bisa berkata-kata karena melihat Tan, Teo dan Tom semarah itu. Beberapa detik kemudian Tiga Kembar kembali tertawa keras membuat Felix ngeri sendiri dan keluar dari tenda.


Semuanya tidur setelah mengganti pakaian, tapi tidak lama karena pagi kembali menyapa. Osvald ditarik paksa oleh Demelza untuk ke tenda Tiga Kembar. Tan, Teo dan Tom yang masih dalam keadaan setengah sadar dipaksa bangun.


"Jangan kemana-mana!" kata Demelza memperingatkan Felix yang duduk di depan tenda tapi terlihat akan pergi saat dirinya datang.


Demelza menyiapkan kamera dan memegang piala, "Ayo, semuanya senyum!" piala populer dimenangkan oleh kelompok mereka. Para fans dari sosial media meminta foto perayaan kemenangan dengan wajah baru bangun tidur.


Demelza yang telah mendapatkan apa yang dimau, langsung pergi juga seperti tidak ada yang terjadi.


"Aku bahkan belum sempat melihat pialanya ...." kata Tan masih mengucek-ngucek matanya.


"Mana kulihat pialanya?!" teriak Teo tapi Demelza asyik dengan smartphonenya tidak mendengarkan apapun disekitarnya.


"Pialanya!!!" kali ini bukan hanya Teo tapi Tan dan Tom ikut berteriak.


"Apa?!" Demelza berbalik.


"Sini aku lihat pialanya!" kata Teo.


"Makanya buat akun sosial media, lihat gambarnya di sana." kata Demelza kembali pergi.


"Auh, kepalaku ...." Teo memegangi tengkuknya karena stres pagi-pagi.


Suara tawa Iriana terdengar, "Ada apa?!" tanya Felix.


"Mereka hanya kompetitif dan suka menang. Bukannya pelit tidak mau berbagi harta karun." kata Iriana.


"Aku tahu ... itu karena keadaan selalu menekan mereka untuk kalah. Setidaknya dengan situasi dimana mereka bisa menjadi manusia biasa, mereka tidak ingin kalah." kata Felix.


"Nikmatilah, ini akan menjadi liburan terakhirmu sebelum menjadi Caelvita Resmi. Setelah ini bersiaplah, karena hanya akan ada hal buruk yang datang." kata Iriana.


"Aku juga tahu tanpa kau perlu memberi tahu ... harusnya kalau mau kau katakan, katakan saat sudah diperjalanan pulang. Aku masih mau menikmati moment ini tapi sudah kau kacaukan." kata Felix.


"Ah, maaf ...." kata Iriana yang terdengar tidak ada rasa bersalah sama sekali.


...-BERSAMBUNG-...