UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.482 - Arti Memiliki



Ada lampu kecil yang terlihat terpasang diatas batu di pinggir sungai. Lampu dengan cahaya yang sangat redup, bahkan dari teropong hanya terlihat seperti kunang-kungan saja. Bisa dikatakan cukup teliti atau sebenarnya beruntung, Tom bisa melihat itu.


Batu yang berada di pinggir sungai itu, Tom kira harta karunnya tinggal langsung bisa diambil di pinggir sungai. Tapi ternyata masih perlu perjuangan lagi.


Tepat di tengah-tengah bagian ujung air terjun ada kotak yang sudah jelas kalau itulah tujuan utama mereka, yakni harta karun yang telah lama dicari-cari itu. Sayangnya, tidak semudah itu untuk mendapatkannya, karena arus air sedang sangat deras. Kotak harta karun itu juga terlihat dipasangi jebakan agar tidak mudah untuk diambil.


"Memangnya guru mengira kita ini tikus?!" kata Teo mengomel karena melihat jebakan seperti untuk perangkap tikus itu. Kotak harta karun seperti umpan keju dan mereka adalah tikus yang putus asa ingin mengambil keju di dalam perangkap itu.


"Setidaknya tikus itu bodoh, mereka tidak tahu kalau ada jebakan dari umpan keju itu. Tapi kita ... yang jelas-jelas manusia, tahu kalau itu jebakan tapi tetap memaksa untuk masuk ke dalam perangkap secara sengaja. Lucu sekali ...." kata Demelza menertawai dirinya sendiri saat ini tapi tawanya membuat perasaan Tiga Kembar, Osvald dan Mertie menjadi tidak enak.


"Kita bisa mengambilnya dengan cepat! seperti di film kartun yang aku bintangi." kata Teo.


"Kau main film?!" Demelza dengan wajah menyindir.


"Tom and Jerry." kata Teo membuat Demelza tidak bisa berkata-kata lagi.


"Bagaimana bisa mengambil dengan cepat?! kau tidak lihat arus air yang deras ini?! baru turun saja, kita pasti sudah terseret air ke bawah." kata Mertie.


"Sebuah keberuntungan kalau kita bahkan bisa menyentuh jebakan itu ...." kata Tom.


"Sangat mudah sebenarnya mengambilnya dengan Tellopper, tapi ... sekali lagi situasi tidak mendukung." kata Tan melihat Osvald dan Demelza, kalau saja hanya ada Mertie pasti bisa dilakukan. Tan juga baru begitu merasakan bagaimana besarnya peran dan manfaat dari Telloppernya setelah tidak bisa melakukan sesuatu yang sebenarnya Tellopper bisa lakukan dengan mudah untuknya.


"Ada kamera pengawas disana! untuk kalian ketahui saja!" kata Felix baru muncul kembali lewat Jaringan Alvauden.


"Maksudmu guru-guru sedang mengawasi kita sekarang?!" tanya Tom.


"Iya." sahut Felix singkat.


"Memang, kita harus melakukan ini dengan cara normal." kata Tan pasrah.


"Kita pancing?!" tanya Osvald.


"Kotak itu berat, kalau salah sedikit saja ... kalian gagal mengambil kotak yang ada di dalam jebakan dalam sekali tarik maka tidak akan ada kesempatan kedua lagi untuk mendapatkan kotak harta karun." kata Felix kembali memperingatkan.


"Sepertinya jebakan itu dirancang untuk menghancurkan kotak harta karun kalau kita gagal mengambilnya dengan sekali tarik. Walaupun berhasil lepas dari jebakan akan langsung terbawa arus sungai juga dan tidak bisa dijamin keselamatannya kalau jatuh dari air terjun." kata Tom menjelaskan setelah mendengar perkataan Felix dan memperhatikan susunan jebakan itu.


"Jadi, ya atau tidak sama sekali. Para guru mau kita tidak boleh gagal, harus berhasil hanya dalam sekali percobaan." kata Mertie.


"Mustahil ...." kata Demelza.


Tan, Teo, Tom dan Osvald mengelilingi area untuk melihat apa ada yang bisa digunakan untuk membantu mengambil kotak harta karun itu. Mertie dan Demelza masih di pinggir sungai sambil memandangi kotak harta karun yang daritadi merayu untuk datang dijemput. Tapi mereka belum menemukan cara untuk mendekati kotak harta karun itu.


Tan, Teo dan Tom mengira kalau melihat sesuatu saat berkeliling akan mendapatkan ide tapi tidak ada ide yang mempunyai keberhasilan 100%. Tiga Kembar dan Osvald memang tidak kembali dengan tangan kosong melainkan membawa kayu panjang, ranting dan dahan pohon. Hanya saja untuk digunakan bagaimana, belum bisa dipastikan.


"Oh, tidak! anak-anak yang lain sudah datang kembali!" kata Demelza heboh mengintip dari samping puncak air terjun berada.


"Jangan berisik! anak-anak yang dibawah bisa dengar ...." kata Mertie.


"Bahkan dengan kita berenam, tidak bisa bertahan di dalam air karena kekuatan kita masih lemah dan tubuh kita yang pendek. Kalau orang dewasa mungkin saja bisa ...." kata Tan masih membayangkan ide-ide dikepalanya sekaligus sudah menjakankannya seperti simulasi.


"Aku punya ide, tapi kalian pasti tidak akan suka." kata Teo membuat yang lainnya kaget. Semua mata kini tertuju pada Teo.


"Apa itu?! kita lakukan saja sesuai yang kau sarankan." kata Tan.


"Kenapa menurutmu kami akan membencinya?!" tanya Tom heran.


"Karena aku akan melakukan ini!" kata Teo mulai berdiri dan berjalan perlahan menuju tebing yang mengarah ke bawah air terjun berada. Awalnya Tan dan Tom mengira kalau Teo hanya sedang meninjau situasi.


Tapi ternyata Teo terlihat menarik napas dalam membuat Tan dan Tom panik karena akhirnya sadar apa yang akan dilakukan Teo. Tan dan Tom berlari untuk menghentikan tapi sudah terlambat. Teo sudah berteriak keras seperti menggunakan seluruh suara yang dimilikinya, "DI ATAS SINI!!!"


Tan dan Tom baru menutup mulut Teo setelah anak-anak di bawah sudah melihat mereka.


"Hahh ...." Tan dan Tom hanya bisa menghela napas merelakan harta karun yang bisa dimiliki oleh mereka bertujuh saja. Tapi saat ini ada sekitar 20 anak yang sedang menuju ke tempat mereka berada saat ini.


"Dasar bodoh!" kata Demelza memaki.


"Sekarang, aku tidak terlalu tertarik lagi memiliki harta karun yang akan dibagi banyak itu ...." kata Mertie.


"Hei ... ayolah! kalian ini kenapa?!" kata Osvald melihat kekecewaan dimana-mana.


"Harta karunku ...." kata Demelza hanya bisa menggenggam dari jauh tanpa bisa menyentuh.


"Hanya karena kita yang pertama menemukannya, belum tentu itu sudah menjadi milik kita. Daritadi kita tidak melakukan apa-apa dan hanya bisa melihat dari kejauhan saja. Harta karun itu bukan milik kita karena belum berada di tangan kita. Dan selamanya tidak akan menjadi milik kita atau bahkan tidak akan ada yang memilikinya kalau kita gagal mengambil dalam sekali percobaan. Jadi, aku memilih pilihan kedua ...." kata Teo.


"Pilihan kedua apa?! tunggu ... memangnya apa yang pada pilihan pertama?!" tanya Osvald.


Mereka tidak sempat untuk terkesan dengan kata-kata mutiara Yang Mulia Trayvon lagi karena tidak lama lagi anak-anak yang lain akan segera sampai disana.


"Pilihan pertama, hanya terus menatap harta karun yang tidak akan pernah menjadi milik kita." jawab Teo.


"Pilihan kedua?!" kali ini Demelza yang bertanya.


"Mengambil harta karun itu dan menjadikannya milik kita." jawab Teo dengan menyeringai.


"Caranya?!" tanya Mertie.


"Bukankah inti dari perburuan harta karun adalah kerja sama tim. Ayo kita ambil harta karun itu bersama-sama!" kata Teo bersamaan dengan anak-anak lainnya juga sudah sampai, "Aku lebih memilih untuk membagi-bagi harta karun yang kita miliki dibanding hanya menatap harta karun yang tidak bisa kita miliki." sambung Teo yang disambut senyuman oleh mereka semua.


...-BERSAMBUNG-...