UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.414 - Tidak Berjalan Sesuai Yang Dipikirkan



Tan memaksakan dirinya untuk merawat Teo padahal dirinya sendiri juga sedang tidak baik-baik saja. Bahkan sebuah keajaiban dia bisa bangun dan duduk.


"Sepertinya disini adalah tempat terburuk di dunia Zewhit ini!" kata Tom yang langsung disetujui oleh semua.


"Apa dia akan baik-baik saja?!" tanya Osvald.


"Tentu saja dia akan baik-baik saja, aku pernah terluka tapi saat bangun tidak ada yang terjadi. Ini hanyalah ilusi saja ...." kata Demelza.


"Itu berlaku hanya untukmu dan Osvald. Untuk kami tidak!" kata Tom membuat Demelza yang tadi berpangku tangan dan berbicara dengan sombongnya mulai mendekati Teo.


"Jadi, apa dia akan mati?!" tanya Demelza.


"Jangan mengatakan hal yang buruk!" kata Osvald.


"Tidak, kami bertiga punya antibodi tapi bagaimanapun juga akan butuh waktu lama." kata Tan sudah menyiramkan banyak ramuan pada punggung Teo.


"Antibodi?!" tanya Osvald.


"Pokoknya begitulah ... ceritanya panjang!" kata Tom tidak bisa menceritakan bahwa dia melakukan kontrak dengan kelabang yang ada di Mundebris. Hewan yang membuat dirinya dan kedua saudaranya tersiksa karena harus merasakan racun kontrak tapi berkat itu juga mereka jadi punya antibodi segala jenis racun. Memang jika diceritakan tidak akan masalah karena akan dilupakan juga oleh Osvald dan Demelza tapi dilihat darimanapun bukan saatnya bercerita.


Tom, Osvalda dan Demelza kembali memeriksa seluruh ruangan mencari jalan keluar. Sedangkan Tan berbaring di dekat Teo yang telah dibuat tertidur. Tan memberikan ramuan anti nyeri tapi masih tidak cukup karena Teo tetap saja kesakitan jadi tidak ada pilihan selain membuatnya tertidur.


Suara tawa dan music box menggema sangat menyeramkan membuat mereka tidak bisa tenang lagi dalam mencari karena ketakutan.


"Sepertinya disini!" kata Osvald yang kembali menemukan pintu keluar.


"Inilah kenapa kita sulit menemukannya ...." kata Tom melihat sudut atap ruangan.


"Bagaimana kita bisa naik kesana?!" tanya Demelza.


"Kalian mundurlah!" kata Tom memunculkan Sesemax nya dan melemparkannya ke atas hingga atap itu runtuh.


"Okey, jadi bagaimana kita bisa naik kesana?!" Demelza masih bersikukuh dengan pertanyaan yang sama.


"Kau duluan!" Osvald menawarkan punggungnya untuk diinjak.


"Walau begitu, kau itu pendek! tetap kita tidak akan bisa sampai di atas sana! bahkan jika kau menggendongku di pundakmu." kata Demelza.


"Siapa bilang aku akan menggedongmu?!" kata Osvald membuat Demelza malu sendiri tapi disembunyikan.


"Minggir!" kata Tom yang datang setelah mengambil seuatu dari dalam tasnya.


Suara tawa dan music box itu semakin terdengar keras, "Cepat! lakukan saja! apapun itu!" teriak Demelza.


"Sabar!" balas Tom masih memasang sebuah alat di sebuah tali.


"Apa itu akan bisa tertahan di atas sana?!" Osvald meragukan.


"Tentu saja!" sahut Tom dengan percaya diri.


Tom membuat dua cara untuk naik ke ruangan selanjutnya. Satu tali untuk dirinya, Osvald dan Demelza yang tidak terluka sementara tali lainnya dibuat agar bisa membawa Tan dan Teo dengan nyaman naik ke atas juga.


"Aku sempat lupa kalau kau ini ahli simpul ...." kata Osvald.


"Akan lebih baik jika Teo juga sadar ...." kata Tom mengangkat Teo untuk naik ke simpul tali seperti tandu yang telah dibuatnya.


"Kau duluan!" kata Osvald memberikan tali.


"Tidak, kau duluan!" kata Demelza menolak.


"Tidak usah gengsi! aku mengalah karena kau itu ... perempuan!" kata Osvald beberapa detik kemudian baru menyelesaikan kalimatnya.


"Kau mengalah karena kau ingin menjadi laki-laki terhormat tapi kau baru saja menyinggung perempuan. Memangnya kenapa kalau aku perempuan?! kenapa aku harus duluan?! kau pikir aku ini lemah karena perempuan?!" kata Demelza mengomel.


"Aku hanya mencoba bersopan santun saja ...." kata Osvald jadi tidak enak.


"Tidak perlu di dunia palsu ini, lagipula aku tidak akan naik duluan. Bagaimana kalau ada sesuatu di atas sana, lebih baik kau yang duluan kan!" kata Demelza.


"Aku akan membawa Teo duluan, tunggu sebentar!" kata Tom pada Tan.


Tan hanya bisa menjawab dengan anggukan sementara Osvald dan Demelza masih sibuk adu mulut dan tidak ada yang mau naik duluan.


"Diam!" teriak Tom yang sudah daritadi mencoba sabar tapi saat dua saudaranya terluka, dirinya jadi sensitif dan tidak bisa menahan emosi lagi. Karena hanya dirinya yang bisa diandalkan sekarang, "Siapa saja, cepat naik! sebelum ada yang masuk kesini, aku tidak bisa berjanji bisa melindungi kalian semua. Jika kalian terluka, itu hanya akan kalian rasakan saat ini dan saat bangun semuanya akan hilang. Tapi berbeda dengan kami, kami bisa saja mati disini! jadi, kalau ada yang ingin kuutamakan, aku akan memilih saudaraku!"


"Baiklah, aku duluan!" kata Osvald mengalah, untuk pertama kalinya dia melihat Tom dengan ekspresi dan nada suara seperti itu.


"Apa yang terjadi?!" Demelza merasakan ada getaran di lantai dan dengan cepat lantai di ruangan itu hancur.


Tom dengan cepat memegang Tan dan meraih tali yang ada pada Teo. Kini mereka bertiga bergelantungan dibawah Teo yang sedang tidur sementara luka Tan terbuka lagi karena berusaha keras memegang tangan Tom.


"Bertahanlah!" teriak Tom pada Tan yang terlihat sangat kesakitan.


"Kalau kau mau berceloteh lagi soal kau yang perempuan, aku akan melepaskanmu!" kata Osvald yang langsung meraih tangan Demelza untuk diselamatkan. Berkat itu, Demelza tidak terjatuh.


Tali yang dipakai oleh Tom itu memang kuat tapi yang jadi permasalahan adalah waktu. Semakin lama mereka bergelantungan semakin lelah juga.


"Kalian bertahanlah!" teriak Tom.


"Aku hampir mencapai batasku!" kata Osvald.


"Jangan berani kau melepaskanku!" kata Demelza mengancam.


Untuk terus mempertahankan Demelza agar tidak jatuh saja sudah sebuah keajaiban apalagi untuk memanjat naik ke atas, Osvald tidak mungkin bisa melakukan itu. Tali untuk menarik agar Teo keatas tertarik sangat tinggi dan Tom tidak bisa meraihnya sementara ada Tan.


"Apa ini akhrinya ...." kata Osvald.


"Lagipula, kita mungkin akan bangun setelah ini ...." kata Demelza yang juga sudah lelah berpegangan pada Osvald. Osvald memang memeganginya tapi terkadang Osvald tidak sengaja melepaskan pegangannya karena kelelahan. Maka dari itu Demelza lah yang terus memegang tangan Osvald tapi sekarang sudah mulai kelelahan dan ingin menyerah juga.


"Tidak, belum waktunya ... kalau kalian terjatuh, tubuh kalian akan terluka atau patah. Pasti kalian akan tersiksa lama karena belum saatnya bangun." kata Tom yang memberi semangat baru pada Osvald dan Demelza.


"Siapa tahu yang dibawah sana ada matras yang sudah disiapkan ...." kata Osvald tidak percaya, dirinya punya harapan seperti itu.


"Jangan mimpi!" kata Demelza.


"Tunggu! bisa jadi, itu tidaklah mustahil! kalian lupa, kita ada dimana ... kita di dunia pikiran!" kata Tom.


"Menurutmu itu akan berhasil?!" tanya Demelza.


"Jangan tanya aku! itu tergantung kalian! karena kalian yang memikirkannya!" kata Tom sarkastik.


"Tapi ... kita tidak bisa melihat apa yang ada dibawah bagaiamana bisa kita membayangkan sesuatu untuk diubah?!" kata Osvald, "Aku akan memikirkan tempat tidur yang empuk!" sambung Osvald mendahului Demelza memilih.


"Dasar, tidak kreatif!" kata Demelza.


"Tom ...." Tan dengan suara pelan.


"Ya?!" sahut Tom.


"Lepaskan aku!" kata Tan.


"Apa?! tidak! kita tidak tahu apa yang ada di bawah sana, bisa saja kau berhasil mendarat tapi situasi di bawah sana tidak jelas dan kau sedang dalam kondisi tidak sehat." kata Tom tidak meremehkan Tan yang jelas-jelas bisa mendarat dengan baik dari ketinggian tapi itu juga harua didukung oleh visual yang baik pada tempat pendaratan. Itu semua berkat latihan keras selama ini tapi untuk bisa dilakukan harus dengan kondisi fisik yang sehat dan kondisi ruangan yang seharusnya terang.


"Aku tidak apa-apa ...." kata Tan melepaskan pegangan tangannya pada Tom.


"Tidak! jangan Tan! aku mohon ...." kata Tom.


Tapi Tan dengan paksa melepaskan tangan Tom dan dirinya mulai terjatuh.


"Tan!" teriak Tom panik.


Osvald dan Demelza juga panik dan langsung menutup mata membayangkan masing-masing cara agar Tan bisa jatuh dengan aman.


...-BERSAMBUNG-...